
“Benarkah Tuan Muda tidak mau saya temani?” tanya Abraham memastikan sekali lagi.
“Benar Abraham, elu kontrol saja perusahaan, dan ingat jangan sesekali menghubungi gue! Karena gue mau liburan kali ini jangan diganggu, apalagi tentang perjodohan, gue mau tenangkan diri dulu, kecuali urusan mendesak!” Ucap Alex sambil mengambil koper dan tas jinjingnya.
“Jika Kakek anda menanyakan kabar bagaimana?” tanya Abraham kembali.
“Astaga, Abraham elu sudah berapa lama kerja dengan gue, hah? Kita sudah bersama dua puluh tahun lamanya, masa hal seperti ini saja elu gak paham sih? Bilang saja kalau gue lagi di Hongkong liburan, gak bisa diganggu beres kan?” geram Alex.
“Ok, deh paham,” ucap Abraham segera tak ingin Alex menjadi marah.
Tibalah mereka di sebuah bandara internasional, pesawat tujuan Hongkong sebentar lagi akan melakukan jadwal penerbangan.
“Kenapa anda tidak memakai pesawat pribadi saja Tuan?” Abraham sambil menyerahkan koper Alex.
“No ... gue gak mau, gue liburan pengen bebas tanpa terbebani sebagai seorang big bos, apalagi harus diawasi oleh Kakek Tua itu,” jawab Alex tersenyum tipis.
“Baiklah selamat berlibur Tuan, dan segera hubungi saya,kalau terjadi apa-apa,” ucap Abraham menyampaikan salam perpisahan.
“Elu tenang saja Abraham, elu selalu kaku dan formal begini, ya sudah by ya.” Alex melambaikan tangganya ke udara dan di balas juga oleh Abraham yang tersenyum.
Dua puluh tahun bersama bukanlah waktu yang sebentar untuk Abraham memahami sisi karakter berbeda dari seorang Alexander. Abraham yang merupakan anak dari Jhon yaitu asisten pribadi Kakek Thomas, Abraham sedari kecil selalu bersama Alex, bersahabat dan menemani kemanapun Alex pergi, sehingga Alex tak pernah merasa canggung jika di luar urusan perusahaan, mereka seperti adik dan kakak yang saling berbagi dan saling menjaga.
Untuk memastikan dan mengantar Alex yang pergi di balik ruang waiting room dan masuk ke pesawat. Barulah Abraham beranjak untuk pergi.
“Berita terkini, pemirsa bahwa pesawat LucyJ445 mengalami troblem saat mengudara menuju Hongkong berada di ketinggian seribu kaki dari permukaan laut, hal ini mengakibatkan pesawat LucyJ445 mendarat darurat di atas laut, sekarang upaya pencarian korban akan terus berlanjut, karena di ketahui penumpang kursi VVIP 05 adalah seorang Ceo Muda dari Hwang Group Corporation bernama Alexander Thomas El Farizi belum juga ditemukan, sekian laporan dari saya Reporter Alina dari MTC TV.”
Tit! Televisi di ruang tamu di matikan, “Jadi... Alex pergi ikut penerbangan itu?” tanya Kekek Thomas pada Abraham. “I-Iya Tuan,” jawab Abraham gugup. “Astaga... se-segera kalian lakukan pencaharian, kerahkan semua orang-orang kita,” perintah Kakek Thomas. “Ba-baik Tuan,” ujar Abraham berlalu pergi segera melaksanakan perintah. “Astaga... kenapa kepalaku pusing sekali? Aaaakh...” jerit Kakek Thomas, “Ya ampun sayang, apa yang terjadi?” Pekik Nenek Widya yang baru datang menyadari suaminya mulai hilang kesadaran. “Ayo nyonya kita bawa Tuan ke Rumah Sakit,” ujar Jhon yang menyaksikan dari tadi.
__ADS_1
Di ruang UGD VVIP
“Apa sebenarnya yang terjadi sama Bapak tadi Jhon?” tanya Nenek Widya cemas dengan keadaan suaminya.
“Begini Nyonya, Tuan sedang mendengar berita bahwa Pesawat yang di tumpangi Tuan Muda Alexander mengalami kecelakaan saat terbang menuju Hongkong,” jelas Jhon.
“Apaa... jadi berita itu benar?” sela Candra yang datang tiba-tiba.
“Huhuhu... Candra Ayahmu,” tangis Widya pecah saat anaknya datang menghampiri.
“Bagaimana keadaan Ayah, Bu?” tanya Candra.
“Ayahmu sekarang berada di dalam dan di tangani oleh dokter,” jawab Widya.
“Semoga Ayah baik-baik saja Bu, bagaimana Jhon apakah berita itu benar?” tanya Candra menatap Jhon mengernyitkan keningnya.
‘Bagus, berarti tak susah payah aku membinasakan anak itu,’ gumam Candra dalam hatinya merasa sangat senang mendengar berita tersebut.
...****************...
Baaammm! Pintu mobil taksi di tutup oleh pemuda yang memakai kacamata, topi, sedang menjinging sebuah tas kecil ditangan kanannya. “Apa benar ini alamatnya?” gumamnya pelan.
Ia terus berjalan, menelusuri perkampungan ini, rupanya suasana pedesaan masih terasa, ia masih tak menemukan pemukiman warga, harus berjalan sekitar seratus meter lagi dari jalan setapak ini agar bisa sampai ke tempat tinggal warga. Ia hanya melihat beberapa orang mengendarai sepeda motor dan para warga yang sedang berada di sawah. Akhirnya ia menemukan sebuah rumah yang terletak di ujung perkampungan ada beberapa pohon bambu di sekelilingnya dan juga rumah itu nampak sangat tak terawat dan penuh semak belukar, tetapi bangunannya masih terlihat kokoh.
“Ah, sepertinya harus benar-benar di renovasi, agar layak huni,” liriknya kembali menatap nanar rumah kosong tersebut.
Tiiit... tiiiit! Suara klakson dari sebuah kendaraan roda dua berbunyi.
__ADS_1
“Hei Nak, kamu sedang mencari siapa?” tanya lelaki tua kurus itu.
“Saya mencari Pak Junaidi, benarkah ini rumahnya kan?” tanya balik pemuda berkacama itu. “Oh iya benar ini rumah Pak Junaidi, tetapi Mas ini siapanya Pak Junaidi,” tanya lelaki tua itu penasaran, “Oh perkenalkan saya Zaini Pak, saya anak dari Pak Junaidi yang tinggal di sini.” Ungkap pemuda itu sambil menunjuk rumah kosong tersebut.
“Oh ini anak Pak Junaidi? Saya Pak RT di sini, saya juga pernah dengar kalau Pak Junaidi memiliki seorang putra, tetapi katanya di adopsi orang kota,” tutur lelaki tua itu.
“Bapak kenal dengan Bapak saya?” tanya Zaini yang merasa ada titik terang pencariannya.
“Saya sangat kenal dengan Bapakmu, tetapi semenjak kejadian itu dulu... Bapakmu sampai sekarang belum diketahui dimana keberadaannya,”
“Kejadian apa Pak? Apa yang terjadi dengan Bapak saya?” Zaini nampak cemas dan binggung.
“Hayoo, kamu ikut ke rumah Bapak saja, ini sudah mulai gelap, biar besok saja kita bersihkan bersama rumah Ayahmu ini,” ajak Pak RT itu dan Zaini pun turut serta ikut.
...****************...
Satu jam sebelum pesawat lepas landas, tanpa sepengetahuan Abraham Alex menemui seseorang yang juga berada di dalam pesawat, ia menjadi mata-mata tangan kanan dari Alexander yaitu Antonio, “Bos, sepertinya memang ada yang ingin mengusik perusahaan anda,” ujar Antonio. “Iya saya sudah tahu, saya ingin kamu menggantikan posisi saya pergi ke Hongkong dan ingat tetap selidiki di mana Prof. Gio,” pinta Alexander sambil melepaskan kaca mata hitam dan jasnya untuk dipakaikan kepada Antonio, “Ini yang bos pinta.” Antonio menyerahkan secarik kertas, “Kamu yakin ini Alamatnya?” tanya Alex sambil mengamati kertas tersebut, “Tentu bos, anda tidak perlu meragukan kemampuan saya,” ujar Antonio.
“Iya-iya, ini kamu bawa saja koper dan pasport saya, ingat kamu harus bisa mengelabui semua orang, agar seakan-akan kamu adalah saya,” perintah Alex kepada Antonio. “Baik bos, akan saya laksanakan,” ucap Antonio menurut. “Bagus saya harus menyelinap keluar dari sini sebelum penerbangan terjadi.” Alex menyusup keluar pesawat tanpa ketahuan dibantu dengan Antonio yang lihai dalam membuat situasi aman terkendali. Perakawan Antonio tubuh atletis tinggi dan juga tampan membuatnya mirip persis sekali dengan Alex. Bahkan usia mereka tak berbeda jauh, ha inilah yang membuat orang maskapai tak menaruh curiga.
Alex sedikit tegang ketika mendapati, Abraham belum juga berangkat pulang, setelah pesawat yang di tumpangi oleh Antonio pergi menuju Hongkong barulah Abraham beranjak pergi dan Alex merasa lega, kini ia mencari taksi agar segera pergi dari bandara, “Anda mau ke mana Pak?” tanya sopir taksi saat Alex masuk ke dalam mobilnya. “Bawa saya ke alamat ini Pak!” Alex menyerahkan selembar kertas pemberian dari Antonio tadi berisi sebuah alamat jalan Xxx.... Dan mobil taksi meluncur laju membelah jalanan.
Bersambung...
...****************...
Hai teman-teman happy reading, Aku mau promosiin nih karya Author favorit aku banget yaitu Mama Reni, novel Mama Reni rekomendasi banget bagi kalian yang suka dengan romansa rumah tangga yuk kepoin dong punya Mamaku 😘
__ADS_1