
“Mina diculik!” timpal Alexander.
“Apa diculik?” tanya Abraham terkejut.
“Iya ini saya dalam perjalanan menuju lokasi,” ujar Alexander.
“Share lokasi Tuan, saya akan segera menyusul ke sana,” ucap Abraham mematikan telponnya, dan ia menerima pesan dari Alexander tentang keberadaan Mina di mana, Abraham langsung beranjak menyusul.
Harto yang mengikuti Alexander, tetapi ia tidak bisa masuk ke dalam markas karena penjagaan yang ketat, Harto hanya memantau dari jarak sekitar lima ratus meter dari area markas Alexander, melihat iring-irangan mobil Alexander pergi secara tergesa-gesa, Harto menelpon Marcho, “Tuan, mereka menuju lokasi.”
“Bagus, terus saja ikuti mereka dan suruh Rudi nanti bergabung dengan kita,” perintah Marcho.
“Siap Tuan.”
“Marcho ... Marcho, keluar kamu,” teriak Alexander.
“Apakah begini cara seorang Tuan Muda Hwang Group menyapa yang lebih tua,” ujar Marcho keluar dari gudang markasnya bersama beberapa anak buah.
“Tenang Tuan Muda, tahan emosi dlu sekarang fokus selamatkan Nona Mina,” bisik Jhon disamping Alexander.
“Di mana Mina? Cepat serahkan Mina!”
“Tunggu dulu Tuan Muda, biarkan ia menjadi tawanan tercantik kami malam ini,” ucap salah satu anak buah Marcho.
“Hahahahaa...,” tawa Marcho dan anak buahnya.
“Kurang ajar kalian, apa mau kalian ha? Jangan libatkan orang yang tak bersalah dalam persaingan kita, ini aku bawa kaki tanganmu,” geram Alexander sambil menunjuk tubuh Gorgio.
“Hahaha, aku tidak menginginkan dia lagi silakan saja mau kau apakan! Dia tidak sebanding dengan negosiasi kita kali ini,” cetus Marcho.
“Apa yang Anda katakan Tuan, bukankah selama ini saya selalu menuruti kemauan Anda,” protes Gorgio pada Marcho.
“Hahaha, kau anak yang b*doh Gorgio, apakah menurutmu selama ini kami tulus mengasuhmu?” imbuh Marcho.
“Jadi... benarkah yang dikatakan oleh Alexander bahwa kalianlah yang telah membunuh Ayahku?”
__ADS_1
“Menurutmu bagaimana, siapa yang lebih kamu percayai sekarang?”
“Menurutmu bagaimana, siapa yang lebih kamu percayai sekarang?” ejek Marcho.
“Dasar bangs*t, Brengs*k kalian,” umpat Gorgio kecewa ia benar-benar menyesal telah mempercayai Marcho, dan terhasut menuduh Kakek Thomas.
“Hahahaha, bagaimana seru kan permainan drama kita?”
“Cukup Marcho! Sekarang apa mau kalian hah? Bebaskan Mina dia tidak tahu apa-apa tentang permasalahan kita,” bantah Alexander.
“Bawa gadis itu ke sini!” perintah Marcho pada anak buahnya.
Mereka pun membawa Mina dengan posisi tangan terikat dan mulut tertutup rapat.
Alexander tak tega melihatnya, ia ingin sekali merebut Mina dari tangan para anak buah Marcho, tetapi masih ditahan oleh Jhon. Kalau dilihat dari posisi, anak buah Alexander lebih banyak dari pada anak buah Marcho dan kekuatan senjata mereka lebih besar, maka dapat dipastikan Alexander akan berpotensi menang dalam pertempuran.
“Rudi kemarilah!” panggil Marcho.
Dan benar saja seseorang yang sedari tadi berdiri di belakang Alexander langsung menghampiri Marcho.
“Apakah ini masih belum jelas Jhon?” Marcho tersenyum kecut.
“Oh, jadi selama ini Rudi, kamulah yang menjadi mata-mata di kelompok kami,” terka Alexander langsung.
“Tepat sekali Tuan Muda, hahaha...,” tawa Marcho menggema puas ia melihat amarah dari sorot mata Alexander.
“Dasar manusia-manusia licik,” hardik Alexander.
“Ini belum seberapa Alexander, lihatlah siapa yang datang!” anjur Marcho.
Brouum!
Broouumm!
Sebuah mobil sport datang dari arah samping, dan turunlah seseorang dari dalam.
__ADS_1
“Hah, Pak Harto? Ngapain Anda di sini?” tanya Jhon. Belum sempat hilang keterkejutan pihak Alexander, Marcho langsung buka suara, dan merangkul Harto, “Hahahaha, selamat datang kembali Harto.”
“Jadi ... selama ini kalian bersekongkol? Astaga kepalaku sakit sekali!” ujar Alexander.
“Tuan, apakah tuan baik-baik saja?” tanya Jhon cemas, dengan kenyataan yang dihadapi oleh Alexander pasti mental Alexander tergoncang saat ini.
“Bukan hanya ini saja Alexander dan sekarang lihatlah kejutan satunya lagi!” ucap Marcho dengan senyum smrik.
Tiba-tiba sebagian anak buah dari Alexander berpindah barisan menuju bergabung dengan barisan anak buah Marcho, “Hei, kenapa kalian juga ikut-ikutan mengkhianati Tuan Muda?” gerutu Jhon.
“Kami tidak ingin Tuan Alexander yang memimpin Geng dan menjadi Ketua Hwang Group, kami hanya ingin Tuan Candra yang pantas mendapatkannya,” sahut salah seorang mantan anak buah Alexander.
“Huh sial, akan kupastikan kalian akan menyesal seumur hidup karena telah mengkhianati Tuan Muda.” Jhon tersulut emosi, “Mina diculik!” timpal Alexander.
“Apa diculik?” tanya Abraham terkejut.
“Iya ini saya dalam perjalanan menuju lokasi," ujar Alexander.
“Share lokasi Tuan, saya akan segera menyusul ke sana," ucap Abraham mematikan telponnya, dan ia menerima pesan dari Alexander tentang keberadaan Mina di mana, Abraham langsung beranjak menyusul.bagaimana ia bisa juga begitu tertipu dengan kelicikan Harto yang menyusup diantara anggota kelompok Harimau Putih.
“Hahahaha, akui saja permainanku lebih berkesan bukan?”
“Orang-orang licik dan pengkhianat seperti kalian semua harus menerima pembalasan yang setimpal dari segala perbuatan kalian ini,” berang Alexander sudah di ubun-ubun.
“Sudahlah Alexander jika kau ingin wanita ini selamat cabut gugutanmu terhadap Candra Anakku,” tawar Marcho.
Alexander menantap Mina yang menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menandakan supaya Alexander tidak setuju dengan permintaan Marcho itu.
“Baiklah saya akan mengambulkan permintaan Anda, asal jangan melukai wanitaku," ucap Alexander mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, yang dikira adalah sebuah Handphone tetapi...
Dooorr!!!
Bersambung....
Yuk baca juga cerita teman saya ini.
__ADS_1