
“Oh begitu, pantas aku merasakan sakit dan kadang mengalami mimpi-mimpi aneh, besok aku akan mengangkat Abraham sebagai Ceo baru di perusahaan tolong kamu bantu siapkan segalanya.” Perintah Alexander.
“Baik Tuan Muda."
...****************...
Persiapan akan pengangkatan Abraham menjadi Ceo muda di Hwang Group adalah hari ini, para karyawan, dewan direksi serta para tamu undangan dan juga wartawan menunggu di ruangan konferensi pers. Mina dan teman-temannya juga ikut menyaksikan acara tersebut. “Astagfirullah itu Pak Abraham cakep banget ya,” kata Sisil melihat ke arah Abraham yang sedang menerima jabatannya. “Tapi lebih ganteng Tuan Alexander lihatlah! Iya kan Mina?” tanya Mega mengagetkannya. “Idih apaan sih kamu ga?” kilah Mina. “Habisnya elu dari tadi enggak kedip-kedip tu mata melihat Tuan Alexander, sangat jauh berbeda kan dengan pribadi Zaini, apa dia berkepribadian ganda ya?” Mega berspekulasi. “Huuusst... kita jangan gosipin Ketua, entar kita kena masalah,” bisik Mina mengingatkan. Mega langsung menutup mulutnya rapat, selesai acara Abraham menghampiri Mina yang asyik bergurau dengan teman-temannya. “Mina apakah kamu ada waktu?” tanya Abraham. “A-ada, Pak memangnya ada apa ya? Apakah perlu bantuan?” tanya balik Mina. “Malam ini apakah bisa aku temani aku untuk makan malam?” pinta Abraham di depan teman-temannya Mina yang sedari tadi senyam senyum.
“Ma-makan malam, ta-tapi Pak kenapa harus saya?” tanya balik wajah Mina bersemu merah menahan malu.
“Pokoknya nanti malam jam delapan aku jemput kamu di kost ya,” potong Abraham berlalu pergi.
“Cie... cie... yang mau diajak dating,” ledek Sisil.
Alexander yang berdiri tidak jauh dari mereka bisa mendengar percakapan antara Abraham dengan Mina dan candaan teman-temannya, ia lebih memilih cuek dan berjalan melewati mereka. Mina memicingkan matanya ingin menatap Alexander tetapi Alexander buang muka tak perduli, “Wow auranya Tuan Alexander begitu dingin dan angkuh,” gumam Mega.
...****************...
‘Huh, mentang-mentang sekarang dia jadi Ketua terus cuekin gue gitu nanya kabar kek, apa kek?’ gerutu Mina dalam hatinya. ‘Astaga kenapa gue jadi julid begini sih, mikirin dia emang gue siapa dia gitu harus minta perhatian dia? Sadar diri Mina elu kan cuma bawahan dia,’ sugut Mina kesal dengan udah berharap terlalu lebih bisa dekat dengan Alexander.
Mina galau dengan perasaannya sendiri ia begitu sebal karena dicuekin oleh Alexander, ‘Kalau dia bisa berpura-pura tidak kenal begitu dengan gue berarti gue juga gak akan pernah mau sapa dia duluan,’ pikir Mina.
“Elu kenapa sih Mina? Kenapa makanannya cuma diaduk-aduk begitu?” tanya Mega saat mereka menikmati makan siang di kantin kantor.
“Enggak apa-apa, lagi gak lapar aja,” jawab Mina memelas.
Tepat jam delapan malam sesuai janjinya Abraham menjemput Mina, dengan hati yang masih dongkol pada Alexander, Mina diam saja selama perjalanan. “Kok diam terus dari tadi? Biasanya ngoceh melulu,” ujar Abraham memulai percakapannya. “Eh, gak apa-apa kok Pak,” jawab Mina singkat.
Kruuukk!
Kruuukk!
Bunyi perut Mina berbunyi, Abraham tertawa geli, “Hehehe sabar ya sebentar lagi kita sampai kok,” ucap Abraham. Mina hanya menanggapi dengan senyum tipis betapa malunya ia, ‘Huh, gara-gara mikirin orang itu sedari tadi siang bikin gak mood makan,’ batin Mina memegangi perutnya yang perih.
__ADS_1
Kini mereka telah sampai di sebuah restoran mewah dan elit, bagi Mina ini baru pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke tempat makan seperti ini.
“Kok malah bengong sih? Yuk turun!” ajak Abraham membukakan pintu mobil untuk Mina turun. Mina pun menurut turun, mereka menuju meja makan yang telah di pesan lebih dulu oleh Abraham, dengan cepat Abraham mempersilakan Mina duduk di kursi yang sudah ia geser, Mina bersedia duduk di kursi itu dengan perasaan campur aduk.
“Duh, Pak jangan begitu saya jadi tidak enak,” ucap Mina tiba-tiba formal.
“Hahaaha, kan sudah kukatakan kalau di luar kantor jangan memanggilku Pak, kita kan sudah kenal dari kemarin,” balas Abraham.
“Tetapi saya tetap tidak enak diperlakukan seperti ini, lain kali juga jangan lagi begitu di depan teman-teman saya Pak, nanti dikiranya saya kurang ajar sama Bapak,” ucapan Mina terhenti dengan datangnya seorang pelayan laki-laki yang membawa hidangan dan menyajikannya di atas meja.
“Sudah tidak perlu dipikirkan, cepat kamu makan sedari tadi cacing dalam perutmu meronta-ronta,” sindir Abraham tertawa geli.
Mina hanya mengangguk dan mulai menyantap makanannya, Mina menikmati makan malamnya dengan kenyang bagaimana tidak sedari tadi ia sulit menahan air liurnya karena hidangan yang begitu menggugah selera. Mulai dari hidangan pembuka seperti finger food, hidangan utama berupa Beef black pepper khas Tiongkok, dan juga makanan penutup yaitu dessert beku dan custard, “Apakah kamu menyukainya, ee... maksudnya makan ini?” tanya Abraham saat Mina menghabiskan makanannya. Mina menggangukan kepala karena mulutnya penuh dengan custard.
“Kamu semakin manis kalau lagi mode imut begini,” puji Abraham tersenyum geli, geleng-geleng kepala melihat muka Mina yang menurutnya lucu.
Uhuuuk!
Mina menjadi salah tingkah atas perhatian dari Abraham, “Begini saya mengajak kamu makan malam bukan tanpa alasan, saya merekomendasikan kamu untuk menjadi sekretaris saya bagaimana?” ungkap Abraham.
“Kenapa aku sih Mas? Aku kan hanya karyawan magang,” tanya balik Mina penasaran.
“Aku tahu itu, ini tawaran hanya berlaku sekali untukmu, lagian aku tidak akan meragukan kinerjamu, besok aku akan meminta izin pada Alexander untuk merekrutmu,” jelas Abraham.
“Tetapi aku kan masih kuliah Pak, eh maksudnya Mas,” sanggah Mina.
“Iya aku bisa menjamin kamu kuliahmu tidak akan terganggu dan aku akan membicarakan juga dengan pihak kampus tenang saja, kamu hanya perlu menjadi sekretaris yang mendampingi dan juga mengatur jadwalku di kantor selepasnya nanti akan dilakukan asisten pribadi,” usul Abraham.
“Oh begitu, iya deh aku mau Mas,” jawab Mina senang. ‘Kapan lagi coba dapat kesempatan begini? Lulus kuliah belum tentu dapat kerjaan' pikir Mina menerawang kesempatan karirnya.
“Udah selesai? Yuk kita pulang,” ajak Mina.
“Buru-buru amat emang kamu gak betah kalau jalan sama aku?” tanya Abraham sewot.
__ADS_1
“Ya ampun Mas, aku gak enak aja nanti jika ada dilihat kenalanmu atau ada teman-temanmu yang melihat kita makan di sini seakan-akan aku nanti lancang makan malam bersama Ceo,” kilah Mina sungkan.
“Hahaha, ya sudah sebenarnya aku tidak keberatan mereka melihat kita.”
“Hah?”
“Hahaha, yuk jalan!” anjur Abraham mengengam tangan Mina.
Saat mereka berjalan keluar tiba-tiba dari arah berlawanan Alexander dan juga Alecia keluar bersama. Abraham dan Mina terkejut karena Alexander juga berada ditempat ini, “Hallo Tuan Alexander,” sapa Abraham, sedangkan Mina hanya diam meremas jari tangannya, “Oh hallo juga Tuan Abraham kebetulan sekali kita berjumpa di sini,” balas Alexander dengan experesi datarnya. “Wah kamu sedang bersama siapa ini Abraham?” tanya Alecia kepo, “Oh ini namanya Rahmina dia nantinya akan menjadi sekretaris saya,” jelas Abraham. “Oh ya, sepertinya nampak muda sekali,” cetus Alecia. “Ya mungkin seperti itulah, mari Tuan Alexander dan Nona Alecia, kami permisi lebih dulu,” ucap Abraham. Ia paham sepertinya Mina tidak akan nyaman dengan situasi ini.
“Oh tentu silakan,” sahut Alexander.
Abraham merangkul pundak Mina menuntunnya untuk berlalu pergi, “Sepertinya mereka itu punya hubungan deh, tidak pernah Abraham dekat begitu dengan wanita,” timpal Alecia. Mendengar itu Alexander menghembuskan nafas kasar, mendengus kesal dan pergi meninggalkan Alecia berdiri sendiri.
Bersambung...
Hayoo gimana ini gaees Alexander kalah gercep dengan Abraham?
Visualisasi Rahmina
Visualisasi Alexander
visualisasi Abraham
Jangan lupa kasih dukungan ya untuk author like, comment dan Subscribenya karena itu penyemangat author happy reading.
...****************...
__ADS_1