
Dua jam sebelum ia mencari sinyal virus AXY, Alexander menyempatkan dirinya untuk menelpon Abraham melalui telpon umum di Tiongkok, ” Hallo Abraham?” kata Alexander. “ Ya Hallo , siapa?” jawab Abraham. “Ini aku Alexander,” ungkap Alexander. “ Oh Tuan Muda, Anda di mana sekarang? Dan bagaimana keadaan Anda,” cecar Abraham. “ Hei tenanglah! Dengarkan aku baik-baik dan simak semua perintahku, Aku sedang di Tiongkok dan ternyata virus AXY ini kuat di sekitar sini, sepertinya memang berasal dari daerah ini,” tutur Alexander dari telepon. “Lalu apa yang harus aku lakukan Tuan?” tanya Abraham. “Suruh Mina mengendalikan program ETO di perusahaan, setelah itu tunggu saja aba-aba dariku, aku akan menggunakan cara untuk menghancur virus AXY itu dan aku harap kalian bisa bekerjasama dengan baik,” jelas Alexander. “Baiklah Tuan Muda, akan saya laksanakan,” balas Abraham.
...****************...
Pemakaman jenazah Junaidi telah selesai, Alexander menuju villanya ia masih bersedih atas kehilangan Bapaknya, tak banyak kenanggan yang terlukiskan karena berpisah dalam waktu yang begitu lama. “Apakah Anda tidak ingin menjenguk Kakek Anda Tuan Muda?” tanya Harto seorang pelayan pribadi di villa ini.
“Untuk apa saya menengoknya?” tanya Alexander cuek. “Beliau terus menanyakan Anda Tuan Muda,” ujar Harto.
“Ah sudahlah, aku sudah tidak percaya lagi dengan Kakek tua itu, sudah banyak kebohongan yang ia sembunyikan,”sanggah Alexander kemudian langkah cepat menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya sepertinya Alexander masih meratapi kepergian Bapaknya, ia sangat kecewa dengan Kakeknya yang menyembunyikan keberadaan Bapaknya selama ini.
Jhon yang mengetahui bahwa Alexander pulang ke villa, ia segera menemui Alexander. Tak ingin Tuan Besar terus menyebut nama Alexander dan mencari-carinya, “Sungguh kamu tidak ingin tahu kondisi Kakekmu?” tanya Jhon saat ia melihat Alexander asyik berenang di Villa siang ini.
“Untuk apa ia mencariku? Apakah ia belum puas telah menghancurkan hidupku?” cetus Alexander pada Jhon.
“Anda pasti salah paham Tuan Muda,”
“Sudahlah Jhon, aku sudah tahu semuanya,” ucap Alexander.
“Apa maksudnya Tuan Muda?”
“Aku sudah tahu bahwa Kakek lah yang telah membunuh orangtua Gorgio,” ucap Alexander menatap tajam.
“Ti-tidak Tuan Muda, di mana Anda mendapatkan informasi itu?”
Alexander menghembuskan nafas kasar, “Elah, tidak usah banyak mengelak lagi, aku sudah tahu bahwa kalian memiliki sebuah komplotan mafia dan sengaja melakukan penyekapan terhadap Bapakku untuk memisahkan aku dengan dia, puas kalian menghancurkan kehidupanku hah?”
“Tidak begitu Tuan Muda Anda salah sangka, justru sebenarnya Tuan Besar selalu mencari keberadaan Pak Junaidi, ia berbesar hati ingin meminta maaf padanya atas segala perlakuannya pada menantu dan anaknya dulu, perlu Anda ketahui yang sebenarnya terjadi, dari dulu Tuan Besar selalu memberikan perhatian pada putrinya yakni Ibu Anda, namun sepertinya ada orang lain yang tidak menyukai hal itu, mereka sengaja membuat pertikaian agar Adelia, Ibu Anda dan Bapak Junaidi menjadi salah paham dengan Tuan Besar, ternyata Nyonya Widyalah yang menyuruh anak buah untuk menghancurkan usaha Bapakmu," jelas Jhon.
“Lalu bagaimana bisa Bapakku ada bersama kalian?"
__ADS_1
“Saat kami ingin menjemputnya dulu di perkampungan itu ternyata ia sudah hilang, semenjak itu pula Tuan Besar terus mencari keberadaan Pak Junaidi tetapi, tidak ada jejak dan data yang ia tinggalkan, sampai kemaren kami mendapatkan informasi dari rumah sakit Tiongkok bahwa seseorang warga dari Indonesia mengalami kritis, memerlukan operasi transplantasi hati yang cocok, dan kami mencocokkan semua data dan identitas serta Tes DNA barulah kami yakin bahwa itu adalah Junaidi Bapak Anda Tuan, mendengar itu Tuan Besar langsung bersemangat ia ingin sekali bertemu Junaidi dan meminta maaf padanya. Namun sepertinya takdir berkata lain Tuan Muda, saya yakin beliau juga sangat terpukul atas meninggalnya Bapak Anda," tutur Jhon lagi.
“Entahlah siapa diantara kalian yang bersandiwara?”
"Terserah Anda Tuan Muda, mau percaya yang mana, tetapi jangan sampai Anda menyesal kembali Tuan Muda karena kepergian dari orang-orang yang Anda sayangi, sebab menurut Tuan Thomas hanya Andalah keluarganya satu-satunya, maka dari itu dia terus memintaku untuk membujukmu menemuinya, percayalah pada kami Tuan Muda jangan sampai Anda menyesali lagi kepergian dari keluarga Anda Tuan Muda," petuah Jhon sebelum pergi meninggalkan Alexander.
Alexander meremas ujung rambutnya secara kasar, ia prustasi mana yang harus ia percayai.
...****************...
“Hei Alex, dan Abraham awas hati-hati, kalian jangan bermain dekat ke jalan raya!" tegur Jhon.
“Iya,” sahut mereka berdua, begitu asyik berlari turun dari mobil langsung bermain bola, di lapangan sebuah tempat rumah ibadah.
“Mari Tuan, sepertinya Tio ada di dalam sana," ucap Jhon.
“Ayo kita temui dan suruh sebagian penggawal menjaga Alex dan Abraham," perintahnya.
Tanpa mereka ketahui anak buah geng macan tutul juga bersembunyi di balik rumah ibadah ini, mereka mengetahui rencana Thomas untuk menangkap Tio, target mereka membunuh Tio agar Tio tidak memberikan informasi kepada Thomas.
Pukul dua dini hari,
“Aaaaaa...,” jerit Alexander, mimpi itu kembali menghantuinya, ia seakan dikejar oleh seseorang. Padahal selama ini ia tidak pernah takut dengan apapun.
...****************...
“Bagaimana Jhon?" tanya Tuan Thomas.
"Dia tetap pada pendiriannya Tuan," jawab Jhon.
“Dia memang keras kepala persis Ibunya," ucap Tuan Thomas. Kini ia masih terbaring lemah di bangkar rumah sakit.
__ADS_1
“Saya sudah menceritakan yang sesungguhnya Tuan, saya tidak suka ia terus menuduh Anda dan menjadi berselisih paham kepada Anda,"
“Biarkan saja Jhon, anak itu sudah dewasa biarkan ia menenangkan diri sepertinya memang ada yang sengaja menghasutnya, agar ia semakin membenciku," ujar Tuan Thomas.
“Tetapi bagaimana ia tahu tentang kejadian delapan belas tahun yang lalu Tuan? Apakah ingatannya tentang kejadian itu sudah kembali? Sedangkan kita tidak pernah mengungkit kematian dari Pak Tio,”
“Pokoknya kamu tetap awasi dan jaga Alexander, aku hanya tidak mau pikirannya kembali terganggu," pinta Tuan Thomas.
“Baik Tuan," sahut Jhon.
Bersambung...
...****************...
Skuyy mampir ya, di cerita selanjutnya jangan lupa like, comment dan Vote buat Author biar semakin semangat nulisnya.
Rekomendasi hari ini:
Blurb:
Di balik diamnya seorang istri ada penyesalan yang sangat mendalam.
Zhia Valensia yang sudah merasa lelah dengan sikap sang suami akhirnya memilih untuk diam. Dia tidak peduli lagi dengan apa yang di lakukan suaminya dan memilih untuk mengejar karirnya kembali.
Rayyan Ardinata sosok suami yang masih suka kebebasan. Dia selalu menghabiskan waktunya dengan nongkrong bersama teman temannya. Hingga akhirnya dia terkejut dengan sikap istrinya yang akhirnya memilih untuk diam dan tidak perduli lagi dengan apa yang dia lakukan.
Hingga akhirnya Rayyan mengambil suatu keputusan besar. Dia membawa selingkuhannya ke runah besar mereka untuk melihat bagaimana istrinya.
Namun, Rayyan langsung saja terkejut ketika melihat reaksi sang istri ketika melihatnya sedang bercumbu di dalam kamar mereka.
__ADS_1
Mulai dari saat itu Rayyan langsung saja bertekat untuk merebut hati Zhia kembali.
Akankah Rayyan dapat meluluhkan hati sang istri yang telah mati?