TIRAI KEHIDUPAN SANG CEO

TIRAI KEHIDUPAN SANG CEO
Bab 49 Melawan Marcho eps. 2


__ADS_3

“Baiklah saya akan mengambulkan permintaan Anda, asal jangan melukai wanitaku," ucap Alexander mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, yang dikira adalah sebuah Handphone tetapi...


Dooorr!!!


Alexander melepaskan sebuah tembakan tepat mengenai lengan Marcho, semua anak buah Alexander berpencar dan terjadilah saling baku tembak antara kedua kelompok geng tersebut, saling serang dan suara tembakan saling bersahutan. Mina menangis ketakutan ia masih ditarik mundur oleh anak buah Marcho yang masuk ke dalam gudang. Alexander terus melayangkan serangan sambil mencari keberadaan Mina yang masih ditawan, Jhon dan anak buah yang lain membantu melindungi Alexander, untung Alexander memakai rompi anti peluru sempat beberapa kali serangan balik dari mantan anak buahnya yang berkhianat dan memilih Marcho, mereka juga adalah penembak jitu, hampir saja mengenai badan dan melukai Alexander.


Doooor!


Dooorrr!


Abraham datang bersama beberapa orang yang membantu menyerang Marcho dan anak buahnya, Alexander tercengang, “Sejak kapan kamu bisa menggunakan senjata?” tanya Alexander. “Sudahlah nanti saja saya jelaskan lebih baik Anda selamatkan Nona Mina, biar mereka saya yang hadapi,” jawab Abraham sambil terus menembak ke arah Marcho, Suara tembakan bersahutan memecah kesunyian malam, “Aku akan membantumu!” ujar Gorgio di samping Alexander. “Terima kasih,” ucap Alexander, “Tidak apa, anggap saja ini permintaan maaf dariku untuk menebus kesalahpahaman yang terjadi diantara kita dan selamatkan wanitamu!” sahut Gorgio lalu menarik tangan Alexander menyusup ke dalam gudang, berkat Gorgio yang mengetahui seluk-beluk gudang rahasia milik Marcho ini, mata elang Alexander menelisik ke berbagai tempat di gudang ia mencari dimana kira-kira Mina disembunyikan. Berkat Gorgio Alexander bisa menemukan Mina yang berada di lantai atas gudang yang hampir mirip dengan tempat persediaan minyak ini, banyak terdapat drum bekas. Mereka berdua dihalangi oleh beberapa anak buah Marcho.


“Cepat selamatkan dan bawa wanita itu pergi! aku akan menghadapi mereka,” bisik Gorgio.


Alexander pun menuruti perkataan Gorgio sambil menangkis berbagai serangan ia berusaha mendekati Mina dan melepaskan ikatannya. Namun tiba-tiba dari arah belakangnya, “Alexander Awass!” pekik Mina, dengan sigap Alexander menghindar ternyata ada Harto yang mencoba memukulnya dari arah belakang menggunakan besi panjang.


“Kenapa Anda melakukan ini Pak Harto? Begitu teganya Anda mengkhianati kami, sedangkan Anda adalah orang yang saya anggap sudah seperti keluarga sendiri,” imbuh Alexander.


“Hahaha, itu hanya Kakekmu saja yang terlalu bo*doh percaya denganku, tidak sia-sia aku mempelajari kemampuan memasak hanya untuk mengelabui kalian semua selama ini,” ejek Harto.


“Anda benar-benar sangat keterlaluan! Tidak cukupkah Kebaikan-kebaikan dari almarhum kakekku dulu menolong Anda?” murka Alexander menatap nyalang kepada Harto.


“Seharusnya sudah dari dulu kamu dan Kakek tua mu itu aku habisi!” ketus Harto.


“Kenapa? Apa alasannya?” tanya Alexander berang.


“Hahaha, biar ku ingatkan siapa aku,” cakap Harto ingin kembali memukulkan tongkat besi itu kepada Alexander.

__ADS_1


Alexander berhasil menghindarinya lagi, dan berkata, “Memang siapa kamu sebenarnya?”


“Mungkin aku harus memukul kepalamu kembali agar kamu bisa mengingat siapa aku!” bentak Harto terus melayangkan tongkat besinya agar mengenai Alexander.


Alexander mulai tersadar, situasi ini mirip seperti mimpi-mimpi yang ia temui setiap malam, “Aaaakh...!” Alexander memegang kepalanya yang terasa pusing ia berdiri sempoyongan, dan Harto yang melihat Alexander lengah ia langsung memukulkan sebuah besi panjang ke kepala Alexander. Na'as Alexander tidak dapat menghindarinya lagi, dan ia ambruk tak sadarkan diri seketika darah mengalir deras dari kepalanya.


Mina yang melihat langsung kejadian didepan matanya berteriak histeris, “Tidaaaak ... Alexander!”


Suara sirene mobil polisi terdengar, para polisi bersenjata lengkap mulai mendatangi lokasi dan mengepungnya tetapi, Marcho dan Harto sudah lebih dulu kabur melarikan diri, hanya beberapa anak buahnya tertangkap.


Abraham datang bersama Ayahnya, segera menolong dan menyelamatkan Alexander serta Mina yang masih disekap.


Ninuninu!


Ninuninu!


“Bertahanlah Alexander!” pinta Mina sesegukan.


...****************...


Sudah tiga hari Alexander terbaring lemah di rumah sakit, masih belum ada tanda-tanda ia sadar pasca operasi.


“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Mina dan Abraham yang ikut menemani ke rumah sakit.


“Saya menyarankan agar dia dibawa ke Singapura untuk ditindaklanjuti lagi sebab, alat medis MRI di rumah sakit ini belum begitu memadai, bukti CT scan menunjukkan dari patah tulang tengkorak lumayan parah, dan itu berpengaruh pada aliran darah di dalam otak,” jelas Dokter bedah saraf bernama Selvia.


“Baiklah dok, kami akan melakukan apapun yang disarankan oleh dokter untuk Tuan Alexander, saya harap Anda bisa mendampingi dalam urusan pengobatan ke Singapura,” pinta Abraham.

__ADS_1


“Tentu saya akan ikut membantu,” ujar Dokter Selvia.


“Terima kasih banyak dokter,” ucap Abraham dan Mina pamit dari ruang Dokter Selvia.


Abraham dan Mina saling bergilir menjaga dan mendampingi Alexander, karena Jhon Ayah Abraham tidak dapat kuasa melihat keadaan Alexander yang ia anggap seperti anaknya sendiri itu. Jhon juga mengalami luka-luka akibat kejadian kemarin. Dialah yang akan bertanggung-jawab karena melapor pada polisi dan harus memberikan keterangan atas saksi mata kejadian itu.


Mina menatap sendu Alexander yang terbaring dengan banyaknya, alat bantu pernafasan, kepalanya masih terikat perban tebal.


“Elu lelaki yang kuat Zai, elu harus bisa kembali seperti dulu,” isak Mina, ia tidak bisa menahan air matanya keluar dari pelupuk mata.


“Gue mohon sadarlah,” sambung Mina lagi sambil memegang tangan Alexander yang dingin.


Namun Alexander mengalami kejang-kejang, dan itu menimbulkan kekhawatiran Mina dan Abraham, “Dokter ... Dok toloong!” pekik Mina.


Dokter dan para perawat langsung menyuruh Mina dan Abraham keluar dari ruangan rawat Alexander, untuk ditangani.


Namun alhasil Alexander tak mampu ditanggani oleh dokter dan tenaga medis di rumah sakit di negeri ini, ia harus segera dibawa ke rumah sakit Singapura untuk menjalani operasi lanjut dan pengobatan yang lebih intens.


“Izinkan, aku ikut kalian,” mohon Mina pada Abraham.


“Jangan Mina, aku tahu kamu mengkhawatirkannya tetapi, biarkan aku saja yang menjaganya, do'akan saja ia baik-baik saja dan segera pulih, cepatlah pulang bersama anak buah ku yang akan mengantarkanmu balik ke kampung untuk sementara waktu aman!” larang Abraham.


Mina tak berani membantah lagi, terpaksa ia menuruti perkataan Abraham.


Bersambung....


Yuk mampir juga di sini.

__ADS_1



__ADS_2