TIRAI KEHIDUPAN SANG CEO

TIRAI KEHIDUPAN SANG CEO
Bab 37 Sang Ahli Waris


__ADS_3

Selesai acara pemakaman, Jhon berbisik pada Alexander, “ Dr. Chiko ingin bertemu dengan Anda.”


“Mengapa ia ingin menemuiku?” tanya Alexander.


“Tidak tahu, pokoknya ia berpesan ingin bertemu berdua dengan Anda Tuan Muda,” jawab Jhon.


“Kalau begitu suruh ia atur pertemuannya di mana terserah!”


“Baiklah Tuan Muda akan saya sampaikan.”


Siang ini sesuai janji Alexander menemui dr. Chiko di ruangannya . “Selamat pagi dr. Chiko,” sapa Alexander. “Selamat pagi juga Tuan Alexander, mari silakan duduk!” balas dr. Chiko ramah. Alexander pun nurut duduk di sofa tamu, “Langsung saja ke intinya apa yang ingin Anda bicarakan,” ucap Alexander, “Hahaha, ternyata benar rumor selama ini bahwa Anda adalah orang yang cuek dan tanpa basa basi Tuan Muda,” canda dr. Chiko.


“Kalau Anda menyuruh saya datang ke sini hanya untuk menilai pribadi saya...,”


Melihat Alexander ingin beranjak berdiri dr. Chiko terkekeh dan langsung menyela, “Iya-iya bagaimana saya berani membuang waktu Tuan Muda yang berharga, saya hanya menyampaikan tentang Kakek Anda, sebelum beliau meninggal sepertinya sudah mempunyai firasat akan meninggalkan Anda dan keluarga,” jelas dr. Chiko.


“Maksudnya bagaimana dok?” tanya Alexander penasaran.


“Satu jam sebelum Kakekmu kejang dan mengalami sesak nafas, seorang rekan kerjaku melihat para bodyguard makan di kantin dan mengatakan bahwa Candra datang untuk menemui Kakekmu,”


“Astaga Candra?”


“Iya, aku tidak mau ikut campur tetapi, rasa nuraniku memberanikan diri untuk mengatakan ini padamu, dan satu hal lagi ini...,” dr. Chiko menyerahkan selembar surat yang ditulis tangan.


“Apa ini?”


“Ambil dan baca saja nanti, sudah kukatakan bukan bahwa Kakekmu seperti sudah memiliki firasat, dan memintaku untuk menyerahkan ini padamu”


“Oke, Terima kasih atas informasinya dr. Chiko, senang bisa berjumpa dengan Anda,” pamit Alexander.


...****************...


Alexander masuk kedalam mobil yang sudah ditunggu oleh Abraham. “Anda mau ke mana lagi Tuan Muda?” tanya Abraham.


“Antar saya ke villa dan kamu urus dulu masalah kantor,” pinta Alexander.


“Baik Tuan Muda.” Abraham melajukan mobilnya menuju villa.


Di Villa Alexander, Jhon dan Harto telah menunggu, baru saja Alexander keluar dari dalam mobilnya. Jhon datang menghampiri, “Tuan Muda, ada pengacara Peter mencari Anda,” ucap Jhon.


“Pengacara Peter, pengacara pribadi Kakek?” tanya Alexander memastikan.


“Ya Tuan, sedari tadi ia sudah menunggu Anda,” jawab Jhon.

__ADS_1


Alexander mengangguk dan melangkah masuk ke villa, ia melihat nampak seorang lelaki berkisar antara umur empat puluh tahunan duduk menunggunya. “Hallo Mr. Peter,” sapa Alexander. “Hallo juga Tuan Muda Alexander,” balas Peter menjabat tangan Alexander.


Alexander hanya beberapa kali pernah bertemu dengannya saat itu Kakeknya mengadakan pertemuan dengan beberapa firma hukum untuk menjadi pengacara perusahaan salah satunya adalah Mr. Peter ini, tentu ia tidak asing lagi bagi semua orang karena ia menjadi lawyers terkenal nomor satu di kota ini dengan tarif mahal dan juga terpercaya, “Katanya Anda sedang mencari saya? Ada apa Mr. Peter?” tanya Alexander.


“Anda sudah mengetahui kan kalau saya ada pengacara pribadi yang ditunjuk oleh Tuan Thomas,” ujar Mr. Peter.


Alexander mengangukkan kepalanya.


“Menurut saya, Anda harus mengetahui ini Tuan Muda,” sambung Mr. Peter kembali menyerahkan sebuah rekaman dari ponselnya, seorang perempuan sedang mengobrak-abrik meja mencari sesuatu dan membongkar paksa brankas rahasia di suatu kantor.


“Siapa dia?” tanya Alexander.


“Dia adalah assisten saya namanya Shireen, dia telah menukar surat wasiat ahli waris dari Kakek Anda,” ungkap Mr. Peter.


...****************...


Di sebuah kamar hotel.


“Shireen aku punya tugas untukmu,” ucap Candra membelai rambut Shireen, mereka telah melewati malam pergulatan p*nas mereka di sini.


“Apa itu?” tanya Shireen yang memeluk manja Candra.


“Kamu harus menukar surat wasiat Ayahku yang berada di tangan Mr. Peter!”


“Bagaimana bisa aku mengambilnya? Itu berada di brankas rahasia milik Mr. Peter, kalau ketahuan aku bisa kena pecat, ” tolak Shireen.


“Oke, asal kamu menyetujui syarat satu syarat dariku,” timpal Shireen.


“Ck! Kamu mau apalagi bukankah semuanya sudah aku turuti?”


“Ya sudah kalau tak mau,” rajuk Shireen.


“Iya-iya aku janji akan memenuhi syarat darimu, cepat katakan!”


“Nah gitu dong, aku mau setelah aku berhasil menukar surat wasiat itu, kamu menjadikanku sebagai isteri tinggalkan pacarmu yang anak walikota itu,” pinta Shireen.


“Hemmmz, baiklah,” sahut Candra tersenyum licik.


Dari dahulu Candra memang dikenal sebagai lelaki yang banyak mengencani para wanita, jadi tak heran jika Shireen juga dengan mudah ia dapatkan.


...****************...


Hari yang dinanti telah tiba, semua keluarga Tuan Thomas telah berkumpul di ruang keluarga di rumah utama. Ada Candra, dan Ibunya serta beberapa orang saudara dari Nyonya Widya yang diminta menjadi saksi hari ini.

__ADS_1


Mr. Peter dan dua orang anak buahnya datang, karena semenjak Shireen menukar surat wasiat itu ia tidak pernah lagi datang ke kantor Peter, ia menghilang seakan ditelan bumi.


Tak berapa lama juga Alexander datang bersama dengan Jhon yang mendampinginya.


“Bagaimana apakah semua orang sudah terkumpul, apakah sudah bisa kita mulai sekarang?” tanya Mr. Peter.


“Iya Tuan Peter, silakan bacakan sekarang saja,”sahut Nyonya Widya.


Mr. Peter menatap tajam ke arah Alexander, sedangkan Alexander mengangguk dengan santai bertanda setuju.


“Baiklah, saya akan membacakan ini dan kalian simaklah! Kota T, Tanggal Enam Belas bulan Mei tahun Dua Ribu Dua. Saya yang bertanda tangan dibawah ini yakni Tuan Thomas, umur lima puluh tahun, pekerjaan Ketua Hwang Group Corporation, dengan ini menyatakan hak waris saya jatuh kepada pertama, Alexander Thomas El Farizi sebagai cucu saya menjadi Ketua Hwang Grup menguasai delapan puluh persen saham Hwang Group dan juga cabang Amerika menjadi miliknya, yang kedua kepada Widyatama, sebagai isteri saya mendapatkan dua puluh persen dari saham Hwang Group dan sebuah toko butik berserta isinya, demikianlah surat wasiat ahli waris ini saya tulis berdasarkan atas kesadaran dan hukum yang kuat, tertanda Thomas,” papar Mr. Peter dengan lantang.


“Tidak... tidak mungkin, ini pasti surat wasiat yang salah kenapa aku tidak ada?” protes Candra.


“Seperti itulah surat wasiat yang tertera Tuan Candra,” jawab Mr. Peter.


“Bagaimana ini berbeda dari surat wasiat yang telah ditukar itu?” bisik Nyonya Widya pada Candra anaknya.


“Aku juga tidak tahu Bu, kenapa berbeda? Katanya Shireen itu sudah yang aslinya yang dia ambil kemarin,” lirih Candra kebingungan.


“Kenapa? Kalian penasaran kenapa bisa surat wasiatnya berbeda dari yang kalian ambil bukan?” tanya Mr. Peter menatap tajam antara Candra dan Ibunya bergantian.


“A-apa maksudnya Anda Mr. Peter?” elak Candra gugup.


“Ditangan saya ini adalah surat wasiat yang asli dan ini telah dilegalisir berdasarkan tulisan tangan, stempel dan tanda tangan asli dari Tuan Thomas sedangkan yang diambil oleh Shireen yang ia kasih ke kamu itu hanyalah duplikatnya saja sebagai arsip ketikan ulang,” jelas Mr. Peter.


“Tapi ini tidak adil kenapa saya sebagai anaknya tidak mendapat sepersenpun? Saya akan tuntut balik ini,” sanggah Candra.


“Silakan saja! Tetapi tuntutan Anda akan percuma karena Anda bukanlah anak kandung Tuan Thomas, dan seorang anak tiri tidak berhak mendapatkan harta warisan meski sepersenpun, saya yakin Nyonya Widya paham itu, sedangkan Alexander adalah cucu, darah daging dari Tuan Thomas maka ia lebih berhak atas segalanya,” tukas Mr. Peter dengan tegas memperlihatkan bukti akurat tes DNA dari Kakek Thomas dengan Candra dan juga tes DNA dengan Alexander.


Bersambung....


Visual



...****************...


Mampir disini juga novel pencarian jati diri sesungguhnya seru lho!



Blurb

__ADS_1


Jangan ingin jadi aku, kalau menghadapi cobaanmu saja, kamu masih belum sanggup! Jangan iri dengan hidupku, jika kamu tidak bisa mensyukuri hidupmu! Kamu tidak pernah tahu bagaimana kerasnya kehidupanku. Tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan, mengajariku arti berjuang dan berkorban untuk berkompetisi meraih mimpi. Aku hanyalah seorang Nanditha, bukan kamu yang hanya cukup berkata, lalu semuanya tersedia sekejap mata.”_


_Bagaimana Nanditha menjalani lika-liku kehidupan agar bisa mewujudkan mimpi masa kecilnya?_


__ADS_2