
Mina terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan mata, seakan baru tersadar ia tertidur tidak berada di dalam kostnya, “Aaaaaa...,” teriak Mina ketakutan. Abraham yang berada diluar langsung masuk ke kamar, “Ada apa?” tanya Abraham panik. “Pa-Pak Abraham, Sa-saya ada di mana?” tanya Mina gagap. “Kamu ada di Apartemen saya,” jawab Abraham santai, “Ke-kenapa saya ada di Apartemen Anda?” tanya Mina kebingungan, Abraham mendekat dan menjentikkan jarinya ke arah dahi Mina. “Coba kamu ingat-ingat apa yang sudah kamu lakukan?”
“Aduh, sakit Pak! Astaga...!” Mina berdiri sambil membekap mulutnya sendiri mengingat kejadian kemaren malam, “Pak, ternyata Tuan Candra...,” sambungnya lagi, langsung disela oleh Abraham, “Kamu itu bod*h atau bagaimana? Masih untung aku cepat datang, bisa-bisa kamu sudah dimakan oleh para bed*bah itu, .”
“Te-tapi Pak_ Tuan Candra itu sudah janji katanya mau bantu cari Bapaknya Zaini,” sanggkal Mina tak mau disalahkan. Abraham semakin mendekatinya dan membuat Mina tersandung kasur dan terduduk, Abraham berkata lirih, “Cukup, kamu itu hampir dijebak oleh si Candra berengs*k itu! Dan satu hal lagi jangan panggil aku Pak, aku bukan Bapakmu paham?”
Mina hanya mengangguk manyun, ‘Kenapa Pak Abraham bawel sekali sih?’ gerutu Mina kesal ia menghentakkan kaki ke lantai.
Melihat itu Abraham hanya mengulum senyum, dan kembali memasang wajah datar mengajak, “Ayo sarapan, nanti aku antar kembali kamu ke kost.” Dengan langkah guntai malas Mina mengikuti ajakan Abraham, di meja makan sudah tersedia dua piring omelet dan dua cangkir air. Mina memakan habis omelet yang berlapis dengan nasi goreng didalamnya itu dengan lahap karena memang dari sore kemaren ia belum makan, “Aa-akheem Pak, maksudnya...?” jeda Mina memulai percakapan dan memberanikan diri menatap Abraham. “Apa? Panggil aku Mas Abraham jika diluar Perusahaan,” timpal Abraham, “Uhuuuk... uhuk...,” Mina yang meminum air susu langsung tersedak, dan hampir saja air yang ia teguk itu menyambur ke arah Abraham. “Minaa...,” geram Abraham. “Hehehe maaf Mas, terima kasih udah menyelamatkanku dari Tuan Candra, dan terima kasih juga atas sarapannya,” ujar Mina. Mendengar itu senyum mengembang di bibir Abraham, “Ayo aku antar ke kost bentar lagi jam masuk kerja,” ajak Abraham.
Waktu menunjukkan pukul 06:30 WITA. Masih ada waktu sekitar setengah jam bagi Mina untuk bersiap-siap ke kantor.
Baamm! Suara pintu mobil ia tutup, tak lupa terus mengucapkan terima kasih karena Abraham sudah mau mengantarkannya. Sedangkan Abraham sudah pergi meluncur jauh ke perusahaan, “Mina...? Ya ampun dari mana aja sih elu? Itu tadi siapa yang antar elu?” cecar Mega karena sahabatnya tidak pulang ke kost. “Duh gue mandi dulu ya, nanti deh aku jelasin, sekarang buru-buru,” ucap Mina, “Bener ya? Awas aja elu gak cerita!” ancam Mega.
...****************...
Di Kantin Perusahaan.
__ADS_1
“Apa...!” teriak Mega kaget saat Mina bercerita tentang kejadian tadi malam, ia menemui Candra dan di bawa pulang Abraham, “Huussttt... jangan teriak-teriak! Emang gue budek apa? Dan jangan sampai ada yang tahu hal ini,” bisik Mina tak enak ditatap para karyawan yang sedang makan di kantin juga melihat ke arah mereka berdua, Mina hanya menanggapi dengan senyuman dan anggukan sungkan.
“Jadi elu tidur di Apartemen Pak Abraham dan dia juga yang antarin elu ke kost itu tadi pagi?” tanya Mega, diiangguki oleh Mina, “Jangan-jangan Pak Abraham itu suka dengan elu Mina,” terka Mega.
“Hahahahaha mana mungkin Pak Abraham itu suka sama cewek kampung kaya aku ini,” kilah Mina.
“Ya, kan siapa tahu aja 'kan? Macam didrama-drama gitu Boss yang menyukai karyawannya,” ucap Mega, “Cukup itu hanya terjadi di dunia fiktif belaka,” sahut Mina, jam istirahat pun selesai. Terdengar bisik-bisik dari para karyawan yang turun dari kantin.
“Kasihan ya Pak Abraham padahal ini moment yang ia tunggu, tetapi Tuan Besar malah tidak bisa datang dan katanya pergi ke Tiongkok,” bisik Karyawan yang berada di lift yang sama dengan Mina dan Mega.
“Iya betul, hari ini hari yang ditunggu untuk pelantikannya sebagai CEO, tetapi malah tertunda,” sahut Karyawan disebelahnya juga. Mina dan Mega hanya saling pandang mendengar penuturan dua orang karyawan itu.
...****************...
“Hahahaha... rencana B harus berjalan dengan lancar,” pinta Marcho.
“Tentu, Ayah semuanya sudah sesuai rencana dan pelantikan Abraham sebagai CEO tertunda, ini keuntungan double bagi kita hahaha,” tawa Candra menggema.
__ADS_1
“Betul sekali, aku ingin melihat permainan selanjutnya bagaimana si Prof. Gio itu memerankan drama berikutnya pasti akan lebih seru,” ujar Marcho tersenyum sinis.
“Iya Ayah, dan pastinya hidup Alexander akan semakin kacau karena tahu pengkhianatan sahabatnya,” timpal Candra menuangkan Bir pada Ayahnya.
Cheeers! Mereka berpesta ria.
Bersambung....
Nah hayoo reader's gimana nasib Alexander? apa lagi yang direncanakan oleh Marcho dan Candra? Bagaimana dengan Tuan Thomas? ikutin terus ya karya ini jangan lupa dukung author biar tambah semangat nulisnya, Terima kasih.
...****************...
Pernikahan karena perjodohan antara Nala dan Reigha sedang terkoyak. Hubungan tanpa cinta itu terombang-ambing ketika Reigha kembali bertemu dengan masalalu yang cintanya sempat terhalang restu.
Nala merasa, usahanya selama ini berakhir sia-sia. Reigha sering berbohong dan diam-diam masih menemui Sandra, sesuatu yang harusnya tidak boleh dilakukan oleh Reigha yang sudah menjadi suami dari Nala.
__ADS_1
Mampukah Nala membawa kapal rumah tangganya berlayar di dermaga?
Atau justru kapal rumah tangganya harus tenggelam karena kalah dalam berperang?