
“Silakan! Tetapi tuntutan Anda akan percuma karena Anda bukanlah anak kandung Tuan Thomas, dan seorang anak tiri tidak berhak mendapatkan harta warisan meski sepersenpun, saya yakin Nyonya Widya paham itu, sedangkan Alexander adalah cucu, darah daging dari Tuan Thomas maka ia lebih berhak atas segalanya,” tukas Mr. Peter dengan tegas memperlihatkan bukti akurat tes DNA dari Kakek Thomas dengan Candra dan juga tes DNA dengan Alexander.
“Ah sial!” umpat Candra kesal.
Alexander tersenyum puas, dan kini ia mendapatkan haknya secara resmi sebagai Ketua Hwang Group.
...****************...
Shireen melakukan perintah dari Candra, ia menemukan kata sandi brankas rahasia saat bos Peter meletakkan dokumen penting lainnya, karena letaknya bersebrangan dengan meja kerjanya, ia menaruh kaca kecil dari pantulan cermin itulah ia dapat mengetahui berapa kode brankas Peter. Dan tak lupa ia menukar surat wasiat itu dengan surat wasiat yang telah Candra siapkan.
“Ini surat yang kamu perlukan.” Shireen menyerahkan selembar map berisi surat wasiat Thomas.
“Wah, Terima kasih sayang kerja bagus,” ucap Candra tertawa senang.
“Sesuai janji, setelah kamu diangkat jadi Ceo kamu harus memutuskan hubungan dan membatalkan pertunanganmu dengan anak walikota itu,” kata Shireen.
“Kalau aku tidak mau bagaimana?”
“Candra, apa maksudmu tidak mau?”
“Hahaha, B*doh kau Shireen, kau hanyalah alat permainanku,”
“Berengs*k kau Candra,” maki Shireen. Ketika Shireen ingin merebut kembali map surat wasiat dari tangan Candra.
Doorr!
Tubuh Shireen ambruk, ia tewas ditembak oleh Candra.
...****************
...
Alexander kembali pulang ke Villanya, mulai sekarang ia tidak akan tinggal lagi di rumah utama lagi karena rumah itu untuk nenek Widya. Malam ini sejuta bintang menghias langit kelam, bulan sabit malu-malu menampakkan dirinya, seusai makan malam Alexander menikmati latihan di basecampnya, teringat bahwa ada sesuatu yang kemaren di berikan oleh dr. Chiko.
Ia merogoh saku celananya rupanya kertas itu masih ada, berlahan Alexander membaca,
‘Kepada Cucuku Tersayang Alexander Thomas, jika kamu membaca surat ini mungkin aku sudah tidak ada lagi di sisimu, maafkan aku selama ini terlalu keras mendidikmu, aku hanya berpesan tolong jaga Hwang Grup dan aku serahkan semua aset dan jaringan kelompokku untuk kau pimpin, percayalah dengan Jhon dan anaknya. Mereka adalah pengikut setia, maaf jika masa kecilmu kurang bahagia karena tidak ada orangtua di sisimu, percayalah aku menyayangimu lebih dari siapun, aku tidak bermaksud memisahkanmu dengan Ayahmu tetapi justru ingin melindungi kalian, orang-orang yang mencoba merusak hubungan kekeluargaan antara kita, saat usiamu tiga tahun orangtua angkatmu pun meninggal, percayalah bukan aku yang menyebabkan itu semua, tetapi itu berdasarkan perintah dari isteriku Widya dan Candra yang menginginkan kamu mati. Ketika umurmu lima tahun ingatkah akan sebuah kejadian yang menimpamu saat itu dua hari sebelum Natal tiba, aku menemui mantan sopirku yang ternyata adalah Ayah Gorgio, sungguh bukan aku pula yang telah menembaknya dan menyebabkan tewas, tetapi anak buah Marcho yaitu Ayah kandung dari Candra yang merupakan pemimpin geng macan tutul. Mereka mengirim Tio, Ayah Gorgio untuk menjadi mata-mata dan mengetahui bahwa aku memiliki seorang cucu yaitu dirimu, saat itu pula mereka terus mengusik ketenanganku dengan mengincarmu, makanya aku tidak mau kamu menjadi salah paham, jangan biarkan mereka juga mengusik hidupmu Alexander. Aku bahagia jika disisa umurku kamu tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri dan berjiwa pemimpin, maafkan aku yang terlambat menemukan Bapakmu, Cucuku... jangan pernah menangis dan menyesali semua yang telah kita lewati, berbahagialah dengan caramu sendiri, tidak akan lagi yang mengekangmu, bawalah Hwang Group menjadi perusahaan nomor satu dunia seperti impianmu, kelak aku sudah tiada, percayalah Kakekmu ini akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, salam sayang dari Kakekmu, tertanda Thomas.’
__ADS_1
Alexander terisak ia sangat terharu dengan pesan Kakeknya itu, Alexander berlari mencari Jhon, “Ada apa Tuan Muda?” tanya Jhon panik melihat Alexander.
Alexander memberikan surat Kakeknya pada Jhon, “Apakah semua cerita ini benar?”
“Benar Tuan Muda,” jawab Jhon setelah membaca isi surat itu.
“Aa-aakh, b*dohnya aku kenapa malah berprasangka yang tidak-tidak dengan Kakek? Aku terhasut oleh omongan Gorgio tanpa mencari tahu dulu kebenarannya,” sesal Alexander duduk tersungkur.
“Sabar Tuan, sebenarnya Marcho lah yang juga selama ini menyekap Bapak Anda,” ungkap Jhon prihatin dengan Alexander.
“A-apaa? Kurang ajar dari awal memang sepertinya mereka mencari gara-gara, kali ini tidak ada ampun bagi kalian,” geram Alexander penuh emosi.
“Tetapi kenapa aku tidak mengingat kejadian delapan belas tahun yang lalu?” tanya Alexander bingung.
“Karena saat Anda berlari ketakutan, Anda tersandung dan kepala Anda terbentur dinding kaca sehingga Anda mengalami gegar otak ringan, Tuan Muda,” jelas Jhon.
“Oh begitu, pantas aku merasakan sakit dan kadang mengalami mimpi-mimpi aneh, besok aku akan mengangkat Abraham sebagai Ceo baru di perusahaan tolong kamu bantu siapkan segalanya.” Perintah Alexander.
“Baik Tuan Muda,”
“Dan satu lagi terima kasih kamu dan Abraham begitu baik menjagaku dan kakekku selama ini, maafkan saya yang sempat mencurigai Abraham,” ucap Alexander.
...****************...
“Huh, si*l, kenapa Alexander begitu susah untuk dihubungi?” umpat Alecia.
“Hai cantik,” sapa Candra saat Alecia berkunjung ke rumah utama, ia pikir Alexander masih tinggal di sini.
“Huh, apaan sih kamu, apakah kamu tahu di mana keberadaan Alexander?” tanya Alecia pada Candra.
“Aku tidak tahu dan memang sejak meninggalnya si Tuan Thomas itu ia tidak pernah lagi datang ke sini,” ujar Candra.
“Ah, bisa frustasi aku kalau begini,” kata Alecia.
“Hahaha, bisa jadi ia sekarang bersama wanita kampung itu.” Candra memancing Alecia.
“Wanita kampung siapa maksudnya?”
__ADS_1
“Memangnya kamu tidak tahukah? Wanita yang akhir-akhir ini begitu dekat dengan Tuan Alexander,” cetus Candra.
“Mana aku tahu wahai Tuan Candra, karena aku terlalu sibuk dengan jadwal pemotretanku yang padat, tapi siapa wanita itu? Cepat katakan!”
“Dia adalah mahasiswi magang di perusahaan, namanya Rahmina,” timpal Candra.
“Apa... mahasiswi? Berani-beraninya ia ingin bersaing denganku,” geram Alecia.
“Aku bisa membantumu untuk memberi pelajaran kepada wanita itu,” tawar Candra.
“Oh ya, bagaimana caranya?”
“Kau harus mengikuti rencanaku begini...,” tukas Candra memberi tahu ide liciknya.
Bersambung....
Visualisasi
...****************...
Next pantau terus ya cerita selanjutnya, jangan lupa koment gimana biar krisan untuk author, oh ya jangan lupa mampir juga di karya temanku ini happy reading guys.
Blurb :
Janji hati Raditya dan Andhini, sampai pada kebahagiaan pernikahan, paska Andhini di wisuda mereka melangsungkan pernikahan mewah yang di cita-citakan.
Berjalannya waktu tak ada yang lain selain kebahagiaan dan kedua orangtua mereka yang bangga dengan keharmonisan rumah tangga anaknya, Tahun berganti, Andhini mulai gelisah dengan keadaan dirinya yang belum menunjukkan adanya perubahan di tubuhnya, Andhini menginginkan anak dan semua itu membuatnya begitu cemas hingga jatuh sakit.
Dalam keadaan sakit Andhini dirawat seorang perawat yang di ambil dari yayasan yatim-piatu bernama Karina. Dari kedekatan mereka timbul niat Andhini menjodohkan suaminya dengan Karina, dan menghasilkan satu kesepakatan diatas kertas.
Terkadang cinta memang tak ada logika, sanggup melawan arus dan menerjang rintangan apapun, apalah artinya kekayaan kalau tak memberinya kenyaman.
Apa Karina juga mau menerima tawaran untuk mengubah kehidupannya?
__ADS_1
~ Andhini : 'terkadang atas nama cinta seseorang harus rela berkorban, walaupun itu sesuatu yang sangat dicintainya.'
~ Raditya : sanggupkah aku menjalani apa yang diminta istri tercintanya? walaupun itu di luar kewajaran.'