
Seorang pemuda yang terbaring di kasur, keringat bercucuran di dahinya walau mata terpejam badannnya yang atletis bergetar hebat, “Aaaaaaa....” teriakannya menggema memenuhi ruangan, ia terbangun dengan nafas tersenggal diliriknya di tepi ranjang, sebuah gelas berisi air putih, ia ambil dan teguk sampai habis. Bayangan akan kejadian-kejadian mengerikan itu terus terekam dalam memory otaknya, membuatnya tak pernah tidur tenang selama dua puluh empat tahun, mungkinkah karma atas segala perbuatannya selama ini? Entahlah yang pasti semakin ia mengingat itu semua semakin sakit kepala.
...****************...
Jam Barker berbunyi tanda segala aktifitas harus segera di laksanakan, Alexander mengambil selai untuk roti bakarnya sebagai sarapan pagi ini. Dan mengunyahnya dengan cepat, ia malas sekali jika menunggu kakek tua itu,
“Alex hari ini kita Hongkong, pesawat jet sudah siap,” ucap Abraham datang
“Iya, ayo...kita berangkat,” sahut Alex
Alex tahu bahwa nenek Widya dan sang kakek akan ke meja makan ia sudah berangkat ingin pergi, omelan nenek Widya sempat ia dengar.
“Dasar tak tahu sopan santun, bukannya nunggu orangtua sarapan bersama dan pamit, ini malah main, pergi saja,” ketus nenek Widya
“Sudahlah Bu, ini masih pagi malah sudah ngomel, mungkin memang Alex harus berangkat pagi sekali,” bela Kakek Thomas
“Alah, bela aja terus cucumu itu, kenapa gak serahkan aja semuanya sama Candra anak kita sendiri,” sambung Nenek Widya
“Perusahaan Hwang Group tidak akan bisa besar seperti sekarang tanpa ke geniusan anak itu, aku lebih mempercayakannya pada Alex,” ucap Kakek Thomas
“Apa? Kamu lebih mengutamakan anak kampung itu dari pada anakmu sendiri?” Ucap Nenek Widya sengit
“Dia cucuku, dan ingatlah Widya, Candra itu anakmu bukan anakku!” Ujar Kakek Thomas berang, memang sebenarnya ia menikahi Widya hanyalah demi menutupi aib keluarga Brotomo alias bosnya dulu karena Widya hamil dan saat resepsi pernikahan mempelai lekakinya tidak hadir dan kabur keluar negeri. Maka Thomas diminta untuk menggantikan calon mempelai lelaki tersebut dengan iming-iming menjadi direktur di perusahaan keluarga Brotomo, walau akhirnya ia harus terpaksa meninggalkan istri dan anaknya yaitu Sukma dan Adelia kecil.
Perdebatan dan pertengkaran seperti itu sudah biasa bagi Alex, ia sudah muak di rumah yang mirip neraka itu, ia besarkan tanpa kasih sayang orang tua, meskipun ada kakeknya tetapi, kakeknya hanya bisa menuntutnya untuk menjadi anak yang cerdas dan serba bisa. Berbeda sekali dengan Candra pamannya yang sedari kecil memang anak kesayangan Nenek Widya namun Candra selalu kalah dengan Alex ia masih tidak bisa menyaingi ke geniusan dan ke popularan Alex. Mungkin karena perkara itu pula Nenek Widya begitu membencinya.
...****************...
Terbang dengan begitu cepat dan tingginya Boeing Business Jet 787 mengudara di langit kota B, di dalamnya seorang pemuda fokus dengan tablet dipangkuannya,
“Jadi...Tuan Lauw Yeng ingin bertemu?” Alex memulai percakapan.
“Iya, Tuan Muda, mereka menawarkan diri untuk menjadi investor pada perusahaan kita, sebab keberhasilan Tuan Muda dalam mengembangkan program ETO,” jelas Abraham
__ADS_1
“Bagus, siapkan kontrak ekslusif kita pada mereka dan jangan lupa syarat fantastis dari saya,” perintahnya .
“Baik, tuan akan saya siapkan”
Drrrrtt!
Drrrrtt!
Ponsel Abraham berbunyi, panggilan dari orang kantor.
“Hallo, iya ada apa?” Abraham menjawab panggilan ponselnya sambil berpaling dan sedikit menjauh dari Alex
“Bagaimana bisa?” Tanya Abraham panik, terdengar jawaban dari sebrang telpon secara samar-samar tak jelas.
“Ada apa Abraham?” Tanya Alex Binggung
“Gawat Tuan Muda, ternyata perusahaan kita sedang dalam masalah sistem program ETO kita di retas,” tutur Abraham cemas
“Tidak mungkin program ETO dapat di sabutase, ah bercanda mu kurang asyik Abraham,” ujar Alex tertawa
“Permirsa sekarang saya berada di depan perusahaan Hwang Group Corprotion, namun sampai sekarang belum ada pernyataan resmi dari ketua ataupun perwakilan dari perusahaan mengenai masalah yang terjadi pada sistem keamanan ETO seperti yang kita ketahui sekarang bahwa sistem program keamanan ETO nomor satu di negeri ini mengalami pembobolan, akibat dari insiden ini yaitu beberapa pihak mengalami kerugian dan kerusakan atas kejadian ini terutama keamanan beberapa rumah warga sipil yang juga berhasil di bobol perampok karena sistem operasi ETO mengalami sabutase, bahkan keamanan kepolisian yang menggunakan sistem ETO juga ada yang berhasil di bobol, alhasil beberapa narapidana lepas dan kabur, maka dari itu keputusan pemerintah setempat semua pihak yang menggunakan sistem ETO di cabut, dan tidak boleh digunakan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, Demikian laporan dari saya....” papar Reporter TV tersebut mengakhiri acaranya
“Cepat kita segera balik ke perusahaan!” perintah Alex sambil menghempas tablet, dan remuk hancur karena injak-injak olehnya
''Siapa yang sudah berani bermain denganku?” Murka Alex benar-benar tak bisa menahan emosinya.
...****************...
Pesawat mendarat ke gedung pencakar langit betuliskan Hwang Group Corprotion, langkah kaki cepat dan tegap masuk menyelusuri area perusahaan dan langsung menuju ruang kontrol programmer,
“Semuanya minggir jangan ada yang menyentuh apapun,” teriak Alex kepada seluruh karyawan yang berada di ruangan tersebut.
Semua karyawan dan staf pun langsung minggir kesamping dan ia mengambil alih untuk duduk di depan server komputer besar yang terpajang di ruangan itu, mata Alex langsung menatap tajam layar-layar monitor, tak ada yang luput dari mata elangnya yang memindai satu persatu komponen-komponen program ETO, semua program ETO mengalami gangguan, semuanya memberikan peringatan warning.
__ADS_1
Alex mencoba mengamati setiap source code banyak sekali ditemukan Bug dalam program ETO, jari-jari tangan Alex mulai mengotak atik keyboard seakan mencari sesuatu, setelah sekian jam ia duduk mencoba mengakses ASCII atau American Standard Code for Information Interexchange. Istilah dalam programming ini merupakan sebuah standar internasional yang berupa kode huruf dan simbol. Ada simbol dan angka rahasiakan yang di masukan Alex pada komputer,
Muncullah tiba-tiba sebuah nama terpampang besar AXY pada semua layar monitor, dan semua program ETO kembali normal seperti sedia kala.
Para karyawan dan staf yang menyaksikan merasa terkagum-kagum dengan ke geniusan Alex, yang mampu memecahkan masalah.
Keadaan kembali normal program keamanan ETO dapat diakses dan diaplikasikan dengan baik tanpa gangguan, akhirnya Alex dapat bernafas lega, namun ia masih penasaran dengan siapa yang mencoba-coba mengusiknya.
“Bukankah tadi ada namanya AXY, siapa dia? Rupanya dia lawan yang hebat juga,” gumam Alex dalam hati iya mengakui lawannya kali ini cukup tangguh.
“Siapa yang menjadi kepala bagian dari ruangan ini?” Tanya Alex tegas, semua diam dan seseorang pun cepat melangkah mendekati Alex.
“Sa-saya Pak, saya kepala bagian dan penanggung jawab disini,” ucap pria yang berusia kurang lebih empat puluh tahun.
“Untuk sekarang program masih bisa mengunakan Backbone, namun kita harus tetap memantau DHCP tetap stabil,” kata Alex menjelaskan sambil menyentuh pundak si kepala bagian.
Backbone adalah saluran atau koneksi berkecepatan tinggi yang menjadi lintasan utama dalam sebuah jaringan.
DHCP alias Dynamic Host Configuration Protocol yaitu protokol yang digunakan utnuk memudahkan penyebaran IP Address secara otomatis ke perangkat lainnya.
Kalau tidak menggunakan DHCP maka konfigurasi IP harus dilakukan secara manual pada setiap komputer.
“Ba-baik pak akan kami kontrol selalu,” ucap kepala bagian itu gugup. Kemudian Alex berlalu pergi kearah ruang kerjanya.
Di ruang kerja, Alex termenung di kursi CEO ia masih memikirkan siapa gerangan orang dibalik AXY yang menyerangnya, pasti bukanlah orang sesembarangan. Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunannya.
“Ya, silakan masuk!”
“Pak, para wartawan menunggu anda diruang konferensi pers untuk mengkalirifikasi atas kejadian tadi,” ujar Angelia sekretaris kantornya
“Iya, silakan suruh Abraham atur segalanya!” perintah Alex dengan wajah datar.
“Baik Pak, permisi,”
__ADS_1
‘Oh, Iya kemana Abraham dari tadi? Aku tidak melihat setelah turun dari pesawat,’ gumam Alex lirih.