TIRAI KEHIDUPAN SANG CEO

TIRAI KEHIDUPAN SANG CEO
Bab 30 Terkuaknya Virus AXY


__ADS_3

“Betul sekali, aku ingin melihat permainan selanjutnya bagaimana si Prof. Gio itu memerankan drama berikutnya pasti akan lebih seru,” ujar Marcho tersenyum sinis.


“Iya Ayah, dan pastinya hidup Alexander akan semakin kacau karena tahu pengkhianatan sahabatnya,” timpal Candra menuangkan Bir pada Ayahnya.


Cheeers! Mereka berpesta ria.


...****************...


Sementara itu mengetahui Tuan Thomas menunda acara pelantikannya sebagai CEO baru, membuat Abraham lesu. Ia benar-benar tidak semangat hari ini.


Mina yang menyadari hal itu mencoba memberikan dukungan dan semangat untuk Abraham, namun disalah artikan oleh Abraham yang mulai jatuh cinta dengan Mina.


...****************...


Gorgio yang tahu akan adanya rencana B ia pun bersiap melanjutkan permainan, ketika tahu yang mencarinya ke toko milik isterinya adalah Alexander.


“Wendy, nyalakan virus AXY di sekitar sini,” perintah Gorgio pada Wendy.


“Baik Pak,”


Wendy pun mencoba menyalakan virus AXY, sedangkan ponsel Alexander yang terhubung dengan sistem ETO pastinya akan dapat mendapatkan sinyal peringatan bahwa akan ada virus yang terdeteksi di dekatnya. Virus AXY ini memang menyerang jaringan portal melalui situs Web dan lain sebagainya maka dari itu sistem ETO adalah sistem aplikasi yang dirancang dapat menangkal virus tersebut.


“Astaga apa ini? Kenapa sinyal virus AXY kuat sekali?” kata Alexander menatap layar handphonenya.


“Apakah ia berada di sini?” tebaknya. Aku harus nyalakan GPS pencaharian.


Lalu Alexander pun bergegas pergi mencari titik temu tentang keberadaan virus AXY ini. Ia menelusuri jalan setapak nampak ada sebuah rumah tingkat yang berdiri lumayan besar, sambil membawa senjata api Alexander memasuki rumah tersebut.


“Mungkinkah ini tempatnya?” terkanya melirik kearah pintu.


Clik! Pintu rumah terbuka.


Kosong!


Gelap!


Begitulah yang ia lihat ketika Alexander masuk rumah dengan berhati-hati,


Shiit!


Sebuah pedang melayang hampir saja mengenai tubuhnya, dengan sigap Alexander dapat menguasai teknik lawannya ia pun mengeluarkan jurus The Dragon Claw sangat terkenal , gaya ini menggunakan teknik tangan terbuka yang digunakan untuk mengendalikan lawan untuk menyambar dan melempar.


Alexander tidak begitu jelas melihat siapa yang menjadi lawannya hanya ada penerangan lampu jalanan yang tembus lewat jendela rumah ini, samar-samar ia menebak orang yang menyerangnya kini mempunyai tinggi sekitar 160cm dan bentuk badan yang lumayan berotot seperti sudah terlatih ilmu bela diri sepertinya.

__ADS_1


Serangan demi serangan terus menghujam Alexander ia terus berusaha bertahan dan memenangkan pertarungan, ia menangkap seseorang yang menyerangnya ternyata adalah seorang pemuda berumur sekitar dua puluh tahun.


“Siapa kamu? Apakah kamu AXY itu?” cetus Alexander marah.


“Hahahaha, memang kenapa hah?” tanya pemuda itu tersenyum mengejek.


“Kurang ajar!” umpat Alexander.


Bugh! Bugh! Alexander kembali memukuli pemuda itu.


“Cepat katakan apa motifmu menyerang sistem ETO?” tanya Alexander membuang nafas kasar karena menahan amarahnya.


Pemuda itu menunjukkan sebuah ruangan tingkat atas yang ternyata adalah markas mereka.


Di dalam ruangan itu rupanya Gorgio telah menanti kedatangan Alexander. “Hah, Gorgio?” Alexander terkejut ia langsung mengenali sahabatnya itu.


“Iya ini aku, hallo sahabatku bagaimana dengan penyambutan ini sangat seru bukan?” ucap Gorgio.


Alexander mengepal erat tangan kanannya, seakan-akan ingin sekali ia layangkan tinju ke arah Gorgio tetapi, masih ia tahan, “Apa maksudmu melakukan ini semuanya Gio?”


“HaHahaha, kamu benar-benar bod*h Alex,” ejek Gorgio.


“Apa maumu Gorgio? Kenapa kamu melakukan ini, siapa yang menyuruhmu?” cecar Alexander geram.


“Apa salahku denganmu Gio? Selama ini, kamu sudah ku anggap seperti saudara,” ungkap Alexander.


“Hahaha itu memang tujuanku agar bisa memperdayamu,”


“Berengs*k kamu Gio,”


Bugh! Satu bogem mengenai pipi kiri Gio.


“Hahaahaha, terus hajar saja aku sampai mati dan kupastikan kamu akan menyesal dibayangi rasa sakit hati seperti yang dilakukan oleh kakek mu itu hahaha,” tawa Gio, ia malah senang berhasil memancing amarah Alexander.


“Kakekku... apa lagi maksudmu Gio? Katakan!” hardik Alexander.


“Iya semua ini gara-gara kakekmu yang delapan belas tahun lalu sudah membunuh Ayahku,” jelas Gio berang.


“Bohong! Kau pasti sedang memprank aku kan Gio,” sangkal Alexander tak percaya.


“Apakah semua ini terlihat seperti memprank Alexander?” tanya Gio meyakinkan, tersenyum sinis.


“Dan aku memang sudah merencanakan ini semuanya untuk membalas dendam akan kehilangan Ayahku yang telah ditembak oleh Kakekmu,” sambung Gio dengan nada marah.

__ADS_1


“Tidak... tidak mungkin,” bantah Alexander.


“Apa yang tidak mungkin bagi seorang Thomas seorang mafia dengan perdagangan senjata tajam ilegal, dan saham Hwang Group tertinggi diperoleh dari hasil tersebut,” terang Gio.


“Cukup Gio!” Alexander seperti syok mendengar hal ini karena ia benar-benar tidak tahu tentang perdagangan senjata ilegal seperti yang dibilang Gio, selama ini ia menduga Kakeknya memang kolektor senjata api berbagai jenis, tetapi bukan mafia seperti yang dituduh oleh Gio.


“Hahaha, itu benar Alexander kau saja yang tidak tahu bagaimana mungkin Tuan Thomas dapat membangun perusahaan Hwang Group dari keterpurukan tiga puluh tahun yang lalu?”


“Tidak... kau pasti hanya mengada-ada,” ucap Alexander.


“Aku tidak mengada-ada, coba saja kamu buktikan sendiri, datanglah ke rumah sakit swasta YG di tengah selatan kota, di sanalah Ayahmu Junaidi di sekap dan selama ini disembunyikan oleh Kakekmu sendiri,”


“Dusta! Kau hanya mengarang cerita, tidak mungkin Kakekku yang telah menyekap Bapakku selama ku ini,” bantah Alexander tak terima.


“Terserah jika memang kamu tidak percaya, aku hanya menginformasikan sebelum terlambat Ayahmu meninggal karena ulah Kakekmu, ia mengalami penyakit Kanker hati stadium lanjut,” timpal Gio.


Mendengar itu Alexander mengendurkan cekraman baju pada leher Gio, ia benar-benar terkejut apakah harus percaya dengan semua perkataan Gio.


“Saat ini Kakekmu sedang ada di sana, apa kamu tidak ingin mencoba menemui Ayahmu sebelum ia meninggal?” ujar Gio lagi. Membuat Alexander pergi berlari keluar dengan tergesa-gesa untuk segera menemui Ayahnya.


“Semoga aku masih sempat berjumpa denganmu Bapak,” gumam Alexander berlari buru-buru mencari taksi.


...****************...


Tiga jam yang lalu.


“Pancing ia agar menemuimu dan sampaikan saja jika memang ayahnya sedang sakit keras, dan aku akan menjebak Kakek Tua itu untuk datang ke sini dan buat Alexander menjadi berselisih paham dengan Kakeknya sendiri,” pinta Marcho lewat saluran video call milik Gio.


“Baiklah, akan saya lakukan,” ucap Gio. Berdasarkan atas rasa belas budinya kepada Marcho yang selama ini merawat dan menjaga ia dengan ibunya, apapun yang di perintahkan oleh Marcho Gio rela melakukannya walaupun harus mengkhianati sahabatnya.


Bersambung...


...****************...



Blurb


Menjadi seorang janda beranak tiga bukan tujuan hidup Arienka. Tapi takdir menggariskannya demikian. Dan dia tak bisa menolaknya


Sakit hati karena dikhianati sahabat dan kekasihnya membuat Putra menjadi bad boy. Tapi dia lalu falling in love at first sight pada mantan ibu gurunya saat reuni.


Sayangnya Arienka menolak cinta berondong tajir itu. Dia tak ingin kembali terluka.

__ADS_1


Mampukah Putra mendapatkan cinta Arienka?


__ADS_2