TIRAI KEHIDUPAN SANG CEO

TIRAI KEHIDUPAN SANG CEO
Bab 53 Alexander Comeback


__ADS_3

“Kurang ajar, dasar Harto gil*!” umpat Jhon.


“Sepertinya sudah tidak ada lagi bom tetapi kita harus tetap waspada, siaga satu untuk semuanya,” pinta Alexander.


Semua kembali normal, tetapi hati Alexander masih merasa kurang nyaman entah kenapa, mungkin masih terpikir karena Marcho dan anak buahnya masih belum juga tertangkap. Akhirnya Alexander pun tidak jadi ke Villa, ia memutuskan untuk tinggal sementara di apartemen Abraham.


“Besok aku akan ke kantor sebentar,” ucap Alexander setibanya di apartemen Abraham.


“Mengapa? Tenang saja urusan kantor sudah aku tangani,” ujar Abraham sambil membuka kulkas, meminum air dingin.


“Entahlah tiba-tiba aku kangen suasana kantor dan perlukah aku punya alasan untuk pergi ke perusahaanku sendiri?” tanya Alexander heran, ia duduk di ruang TV Abraham.


“Bukan begitu, menurutku lebih baik kamu istirahat saja di sini, besok juga aku akan ke China untuk kerjasama produk baru kita,” tutur Abraham.


Alexander terdiam sesaat, meski ia sekarang adalah pemegang saham tertinggi dan ditunjukkan sebagai ketua Hwang Grup tetap saja ia tidak ingin berpangku tangan hanya menikmati hasil.


“Apakah tidak ada niat Anda untuk pergi berlibur atau kemana saja?” usul Abraham.


“Tidak dulu untuk sementara aku akan tetap di sini sampai masalah dengan Marcho selesai, aku tidak ingin ia menganggu orang-orang di sekelilingku,” tukas Alexander.


“Teror mereka benar-benar sangat keterlaluan, lalu bagaimana kamu menghadapi awak media yang terus mempertanyakan tentang kelompok Harimau Putih? Dan aku penasaran siapa selama ini yang menjalankan perusahaan pertambangan emas dan nikel di eropa untuk geng Harimau Putih?” tanya Abraham serius.


“Sungguh kau belum tahu siapa?” tanya balik Alexander.


“Ya, aku tidak tahu,” jawab Abraham.


Alexander berdiri dari duduknya dan menunju kamar ia berkata, “Lebih baik kamu tidak usah tahu, nanti kamu malah ingin pindah ke sana, cukup kamu urus Hwang Group saja.”


“Eh, itu kamarku!” seru Abraham.


“Kamarmu, kamarku juga,” sahut Alexander langsung masuk ke kamar.


“Astaga, punya Bos kok begini sih,” gumam Abraham.


Memang kedekatan mereka sudah seperti saudara kandung itulah sebabnya Alexander sangat mempercayai Abraham dan Ayahnya. Sehingga ia sendiri tidak pernah sungkan untuk menunjukkan sisi karakter lain dari seorang Alexander.


...****************...


Mina melakukan pekerjaan kantor seperti biasa ia mendampingi Abraham dalam urusan kantor saja, menjadi sekretaris sangat menyita waktu apalagi dengan jadwal kuliahnya, ia benar-benar sibuk dan kelimpungan.

__ADS_1


Pagi ini ia datang lebih awal menyiapkan berkas untuk keperluan Abraham pergi ke China, ia sudah datang pukul tujuh pagi. Tepat pukul delapan jam masuk kantor semua karyawan, Mina sudah siap untuk mengantar berkas ke ruang Abraham, yang berada di sebelahnya.


Namun saat Mina membuka pintu ruang kantor Abraham, alangkah ia terkejut bukan kepalang, sosok seseorang di sana sedang duduk, sedangkan ia sedari tadi tidak melihat adanya Abraham masuk ke ruangan, biasanya selalu melewati dan menyapanya lebih dulu.


“Apakah orang ini maling ya?” pikir Mina tanpa babibu ia ingin melayangkan sebuah pukulan dari arah belakang ke orang itu.


Braak!!


Semua map dan berkas yang ia pegang berhamburan jatuh di lantai.


“Kamu ingin melukaiku dengan setumpuk map itu?” tanya lelaki itu mencekram erat tangan Mina yang hendak memukulnya.


“Aaakh, lepaskan!”pekik Mina.


Dia pun menegakkan kepalanya melihat sosok tinggi di hadapannya itu ternyata adalah Alexander.


“A-aalexander...,” ucap Mina terbata-bata tidak percaya dengan sosok yang ia lihat di depannya.


Karena Mina merasa begitu merindukan Alexander dengan perasaan campur aduk, ia langsung berhambur memeluk Alexander, tetapi reflek Alexander malah mendorongnya dan Mina tersungkur di lantai.


“Hei, siapa kamu? Beraninya lancang menyentuhku!” tandas Alexander begitu kesal.


“Ada apa ini?” Abraham datang dari balik pintu, menolong Mina yang masih tergeletak di lantai.


“Karyawanmu ini lancang ingin memukul dan juga tiba-tiba memelukku,” ucap Alexander dengan wajah datar.


“Benar begitu Mina?” tanya Abraham.


“Ma-afkan saya Pak, saya kira dia maling karena masuk ke ruangan Anda tanpa sepengetahuan,” cicit Mina malu.


“Bagaimana bisa aku dikatakan sebagai maling? Kalau aku masuk ke ruanganku sendiri, dasar karyawan tidak tahu diri!” omel Alexander.


“Sudah, cukup Alex, Mina kamu bereskan ini dan kembalilah dulu ke ruanganmu ya!” timpal Abraham.


Mina pun keluar ruangan dengan air mata yang tak lagi bisa dibendung dan ia pergi ke toilet untuk menumpahkan semua tangisnya di sana.


“Huh, menyebalkan pagi-pagi sudah membuat moodku berantakan!” ketus Alexander.


“Justru dia tidak salah, Anda kan tahu saya sudah menjadi Ceo dan ini sudah menjadi ruangan saya? Wajar ia mengira Anda maling sebab dia adalah asisten saya yang bertanggung jawab penuh terhadap ruangan saya, dan kenapa pula Anda datang ke kantor pagi-pagi buta sekali tanpa memberitahu saya?” cecar Abraham tidak mengerti sikap Alexander.

__ADS_1


Benar pagi-pagi buta Alexander dengan memakai kaos oblong dan celana training milik Abraham yang ia pinjam di Apartemen, pergi ke kantor dengan niat ingin melihat sistem operasi ETO yang terhubung ke komputer miliknya di ruangan ini.


“A-aku hanya bosan di apartemen dan ingin sekali melihat suasana kantor,” kilah Alexander, ia pun menuju ruang pribadi miliknya di samping lemari agar mandi dan berganti pakaian.


“Astaga kenapa Tuan Muda jadi bobrok begini hadeeh?” keluh Abraham yang masih heran dengan tingkah Alexander.


...****************...


Mina masih berada di toilet, terlihat bahunya masih bergetar menahan tangis, “Kenapa dia tidak mengenaliku?” gumam Mina dalam isak tangisnya.


Dua orang karyawati masuk ke area toilet, mereka berdiri didepan cermin wasbak, terdengar bisik-bisik diantara mereka, “Eh, kamu lihat gak tadi itu? Ada Ketua Tuan Alexander, buseet dia ganteng dan cool banget,” ujar wanita yang rambutnya pendek sebahu sambil mengoles lipstik di bibirnya.


“Iya, aku juga lihat, benar-benar tipe idaman banget apalagi gayanya yang keren walaupun cuek tetapi, auranya karismatik sekali,” sahut wanita disebelahnya.


‘Oh jadi dia ke sini hanya untuk tebar pesona, malah pura-pura tidak mengenaliku, awas saja kau Zaini!” batin Mina.


Mina mengusap air mata yang meleleh di pipinya dengan kasar, lalu keluar dari dalam toilet. Ia juga ke depan wasbak merapikan kembali makeup dan dandanya.


Dua orang karyawati yang baru masuk tadi memandang sinis ke arah Mina.


“Enak ya? Gak usah susah payah lamar kerja, tahu-tahu sudah langsung diangkat jadi sekretaris,” sindir karyawati berambut pendek.


Gosip tentang hubungan antara Abraham dan Mina memang bergulir, sebab kecemburuan dari para karyawati perusahaan kepada Mina, yang secara eksklusif diangkat jadi sekretaris Abraham, tanpa seleksi. Hal itu membuat Mina semakin tidak nyaman bekerja, karena selalu ditatap sinis dan menjadi bahan gosip.


Namun Mina tidak menanggapi itu semua, ia ingin membuktikan dengan kerja kerasnya bahwa ia pantas untuk mendapatkan posisi ini.


Bersambung....


Visual





Yuk mampir juga di karya teman saya.


__ADS_1


__ADS_2