
Pemeriksaan radiologi dari rumah sakit swasta di Singapura menunjukkan bahwa gejala yang memburuk dari Alexander mengalami pendarahan epidural dari otaknya, Perdarahan epidural adalah perdarahan yang terjadi diantara bagian dalam batok kepala dengan selaput otak. Perdarahan epidural termasuk kasus kegawatdaruratan di bidang bedah saraf yang bila dibiarkan akan menyebabkan pergeseran otak yang akan mengakibatkan kematian. Penanganannya dengan operasi kraniotomi yang paling efektif dalam menyelamatkan nyawa pasien.
Dari operasi lanjutan sudah sebulan Alexander berada di rumah sakit Singapura belum juga menunjukkan kesadarannya, para dokter mulai gelisah dan menyerah dengan keadaan berharap ada keajaiban yang membangunkan Alexander dari komanya.
...****************...
Dua bulan berlalu setelah peristiwa itu, sedangkan Mina ia masih enggan pergi bekerja, ia masih ketakutan akan kejadian yang menimpanya, diculik dan disiksa membuatnya sedikit trauma dengan tempat sunyi. Bu Yanti selalu menemani anak perempuannya ini, sambil memberikan kekuatan agar Mina bisa pulih dari kepanikan yang dihadapi. Abraham tiap minggu bolak-balik dari Singapura dan Indonesia untuk mengurus perusahaan dan menjenguk Alexander, tak lupa ia selalu memberikan kabar pada Mina agar gadis itu tidak berlarut-larut menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Alexander.
“Apakah ada kemungkinan ia bisa sadar dalam waktu dekat Dok?” tanya Abraham dengan seorang Dokter saraf yang terkenal di Singapura.
“Kita hanya bisa berdoa berdasarkan operasi kraniotomi berjalan lancar dan seharusnya ia sudah siuman, detak jantung dan lain-lain semuanya berfungsi normal tetapi entah kenapa sampai sekarang ia masih belum juga bangun? Mungkin Anda bisa berbuat sesuatu yang dapat merangsang otaknya agar cepat sadar,” jelas Dokter lelaki itu.
“Merangsang otaknya?”
“Iya merangsang otaknya, dengan cara mengingatkan hal-hal bahagia dari kehidupannya dulu atau menceritakan tentang kekasihnya, biasanya otak akan merespon dengan cepat apa yang ia dengar, dan memberikan pengaruh kuat terhadap tubuh,” tutur Dokter yang bername tag Revan di dadanya itu.
“Baiklah, terima kasih banyak Dok atas sarannya akan saya coba nanti,” ujar Abraham.
“Sama-sama Tuan, jangan sungkan untuk konsultasi tentang pasien pada saya sebab, keselamatan dia adalah tanggung jawab saya,” sambung Dokter itu kemudian keluar dari ruangan VVIP Alexander.
“Sampai kapan kamu harus terbaring seperti ini Alexander? Perusahaan masih membutuhkanmu dan ingatlah Marcho dan anak buahnya masjh belum tertangkap,” lirih Abraham duduk di samping hospital bed Alexander.
“Oh ya, tiap hari Mina menelpon ku dan dia selalu menanyakan tentangmu, bagaimana aku harus menyampaikan keadaanmu ini padanya?” sambung Abraham lagi.
Jari kiri Alexander bergerak merespon ucapan Abraham, hal itu membuat Abraham terkejut dan langsung memanggil Dokter Revan.
__ADS_1
“Syukurlah, masa kritis Tuan Alexander sudah terlewati, kita akan fokus pada kesembuhannya, terus jaga dia dan jangan terlalu memaksanya untuk mengingat sesuatu yang susah,” ujar Dokter Revan setelah memeriksa Alexander.
“Mengingat sesuatu yang susah? Maksudnya bagaimana Dok?”
“Iya seperti cidera di kepala Tuan Alexander juga bisa mengakibatkan amnesia ringan sementara waktu, efeknya bisa pula ia hanya mengingat orang-orang dari masa lalunya saja atau ia mengingat peristiwa lampau,” ucap Dokter Revan.
“Oh begitu, baiklah Dok terima kasih banyak,” sahut Abraham.
“Apakah ini akan menjadi masalah yang rumit lagi?” gumam Abraham bingung.
Abraham harus kembali ke Indonesia untuk mengurus perusahaan dan banyak berkas yang lumayan terbengkalai beberapa bulan ini gara-gara isu dan juga kejadian yang menimpa Alexander.
Mina, tetap diminta menjadi sebagai asisten kantornya. Berlahan Mina mulai ceria lagi, meski masih ada kesedihan di hatinya, Alexander belum juga siuman, setiap kali Mina menanyakan perihal Alexander pada Abraham, semakin itu pula Abraham menghindari dan mengalihkan pembicaraan, Abraham bungkam akan keadaan Alexander di Singapura.
...****************...
“Apa? Jadi Pak Harto adalah pembunuh Ayah Gorgio? Dan selama ini ternyata menyamar sebagai kepala pelayan, bagaimana Anda bisa yakin?” cetus Abraham kaget mendengar cerita dari Alexander.
“Ya, seperti itulah dan menghantui mimpiku, orang yang selama ini mengejar-ngejarku sampai aku tidak berani tidur adalah Harto pembunuh berdarah dingin, yang membunuh Ayah Gorgio, Tato dari tangan kirinya bergambar macan tutul dan itu sama persis seperti tato orang yang memegang senjata menembak Ayah Gorgio,” papar Alexander yang masih duduk bersandar di hospitals bed.
“Pantas ia selalu memberi Anda obat, sepertinya obat itu memang diracik agar membuat Anda kehilangan ingatan tentang kejadian itu, sebab dulu aku pernah ingin memberimu obat resep dokter tetapi, malah tidak diperbolehkan, yang lebih parah kita semua percaya dengan dia,” duga Abraham.
“Ceritakan semuanya pada Gorgio!” pinta Alexander.
“Apakah kamu masih ingin mempercayainya setelah apa yang ia lakukan terhadapmu?”
__ADS_1
“Apa yang telah Gorgio lakukan padaku?”
‘Astaga sepertinya ia memang kehilangan separo ingatannya,’ batin Abraham tepuk jidat sendiri.
“Ingat jangan pernah memberitahu siapapun tentang pulihnya aku di sini!” perintah Alexander.
“Kenapa begitu?”
“Tidak apa, aku hanya tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalahku,” jawab Alexander.
“Lalu bagaimana jika Ayahku menjengukmu?” tanya Abraham.
“Aku akan tetap berpura-pura koma.”
“Astaga lalu bagaimana dengan Mina, kebohongan apa lagi yang harus kukatakan dengannya?”
“Mina, Siapa Mina?” tanya balik Alexander.
“Sungguh, Anda tidak mengingatnya Tuan?”
“Iya, siapa dia? Aku hanya ingat ada sekelompok orang menyerangku, bayangan Harto memukulku, seketika itu aku tidak ingat apa-apa lagi,” imbuh Alexander.
Bersambung....
Wadiaaaw, Gimana perasaan Mina, kalau Alexander tidak mengingatnya lagi?
__ADS_1
sambil nunggu up mampir ke rekomendasi karya milik teman saya ini ya.