
Mina kembali ke meja kerjanya, ia memastikan bahwa Abraham ada di ruangannya.
Tok! Tok! Mina mengetuk pintu ruang Abraham.
“Ya masuklah!” ucap Abraham dari dalam.
“Permisi Pak, ini adalah berkas-berkas penting yang Anda butuhkan untuk pergi ke China hari ini,” ujar Mina menyerahkan beberapa map kepada Abraham.
Abraham menyambut dan membaca sekilas berkas-berkas tersebut, ia tersenyum puas tidak ada yang perlu di revisi, sejauh ini kinerja Mina bagus makanya ia masih mempertahankan.
Mina masih menundukkan kepalanya, Abraham seakan mengerti apa yang menjadi kegelisahan Mina.
“Ada yang mau kamu tanyakan?” tanya Abraham.
“Itu anu Pak...,” Mina ragu untuk menanyakan perihal Alexander.
“Mengenai Alexander tadi, saya meminta maaf atas perlakuannya yang tidak sopan, karena sebenarnya dia mengalami amnesia sementara sebab benturan yang ada di kepalanya pasca operasi kemarin,” jelas Abraham.
“Apa... amnesia? Astaga pantas saja ia tidak mengenaliku,” lirih Mina menjadi iba dengan Alexander.
“Baiklah Pak, kalau tidak ada perihal lain lagi ini semua sudah saya siapkan dan jadwal keberangkatan Anda ke China jam sembilan sudah dikonfirmasi,” sambung Mina lagi.
“Ya, terima kasih padahal saya berharap kamu bisa menemani saya ke sana,” ujar Abraham.
“Ma-af Pak, tetapi tugas kuliah dan lainnya sedang menumpuk,” tolak Mina halus.
Bagaimana mungkin ia mau menerima tawaran itu, bisa-bisa satu perusahaan gempar lagi karena Mina ikut menemani Abraham untungnya ada sekretaris pribadi beliau Elisa namanya, yang lebih berperan.
“Kalau begitu bisakah kamu membantu menjaga Alexander?” pinta Abraham.
“Ma-maksudnya gimana Pak?”
“Alexander berada di apartemen milik saya, saya khawatir dia akan kesusahan sendiri di sana, dulu kamu juga adalah orang yang dekat dengan dia, siapa tahu nanti dia akan kembali ingat denganmu,” anjur Abraham.
‘Wah benar, ini kesempatan untuk menjahili Alexander,’ ucap Mina dalam hatinya tertawa riang.
“Baiklah Pak, nanti saya akan bantu mengurusnya,” sahut Mina.
...****************...
“Pemirsa, kabar internasional mengejutkan datang dari Bandar narkoba terbesar se-asia, ia ditangkap di bandara internasional airport ingin menuju ke Paris dan bahkan melalui jalur laut trjaring razia yang diketahui adalah para anak buah Marcho yakni pimpinan Geng Macan Tutul mereka membawa beberapa orang gadis, mereka terjerat kasus perdagangan wanita, untuk menjadi budak **** dan pekerja malam tentunya ini menjadi kejahatan berskala internasional, demikian berita terkini kami sampaikan...,” ucap presenter TV itu.
__ADS_1
Alexander yang mendengar hanya menatap TV dengan senyum mengembang, sebenarnya penangkapan Marcho tak lepas dari usaha Jhon dan Gorgio yang terus mencari keberadaan mereka dan menggusut tuntas perkara ini, agar pihak berwajib tidak menutup mata. Malam setelah kejadian teror Bom di Villa, Jhon terbang ke Selandia Baru menemui beberapa anggota Harimau Putih yang di sana dan meminta bantuan agar bisa mencari, mengejar dan menangkap Marcho beserta anak buahnya. Ternyata usaha mereka berhasil memancing Marcho dalam mengungkap sindikat penjualan para wanita, narkoba hingga senjata api.
Tingnong!
Tingnong!
Suara bel dari luar membuyarkan lamunan Alexander, “Astaga siapa yang bertamu sore begini, bukankah Abraham sudah pergi ke China?” gumam Alexander.
Ia berdiri untuk melihat monitor CCTV apartemen, nampak seorang gadis sedang menunggu di depan.
Clek! Alexander membuka pintu.
“Hai...!” sapa gadis itu tersenyum.
“Kamu... cewek mes*m? Ngapain kamu ke sini?” tanya Alexander sewot.
“Saya ke sini ditugaskan oleh Pak Abraham untuk membantu dan menemani Anda selama berada di sini,” ucap gadis itu yang tak lain adalah Mina.
“Apa...? Gak usah, saya bisa sendiri,” ucap Alexander.
Namun Mina langsung menerobos masuk ke dalam, “Saya harus memastikan Anda selalu minum obat, itu pesan dari Abraham,” sambung Mina.
Alexander mengusap rambutnya kasar, ia dari dulu anti yang namanya asisten perempuan. Alexander mengambil handphonenya rencana menelpon Abraham tetapi, nomor yang dituju tidak dapat dihubungi.
Mina yang membawa makanan dari kostnya dan menyiapkan di meja makan, “Makanlah, ini adalah makanan kesukaan Anda, ayam masak rica-rica, tumis kangkung dan tempe balado!”
“Apa, aku disuruh makan beginian? Sejak kapan aku suka makanan berminyak dan bersantan begini?” protes Alexander.
“Gak usah banyak tanya, kalau gak mau makan ya sudah, aku bawa pulang saja,” ucap Mina kembali menyusun toplesnya.
“Eh jangan, iya ya nih gue makan, cerewet ah,” ujar Alexander langsung menarik piring berisi lauk itu.
‘Hemmz, ngiler juga kan elu,’ kesal Mina dalam hatinya.
Perut Alexander memang lapar, sedari tadi sudah keroncongan, seharusnya ia bersyukur Mina datang dan memberikan makanan, seseorang seperti Alexander memang terbiasa hidup dilayani.
Selesai makan, Mina langsung menyodorkan obat sesuai resep dokter, untuk Alexander minum, “Nih cepat minum!”
Alexander langsung meminum dan meneguknya, Mina merasa tugasnya sudah selesai ia tak ingin berlama-lama dan bersikap canggung bersiap ingin pulang.
“Kamu mau kemana?” tanya Alexander.
__ADS_1
“Ya, mau pulanglah masa iya gue nginap disini juga gak etis banget,” jawab Mina.
“Siapa juga yang berharap elu nginap di sini bocil, elu yakin mau pulang hari hujan begini?” Alexander ngikutin gaya bicara Mina.
...****************...
Hari sudah menunjukkan jam setengah tujuh malam, dan cuaca sedang hujan deras. Mina melihat ke sisi jendela, apartemen dilantai tingkat empat puluh lima yang mewah milik Abraham ini, memang memiliki jendela kaca transparan. Karena waktu magrib telah tiba Mina mengambil mukena dari dalam tasnya dan ia melaksanakan shalat fardunya dengan khus'u, Alexander hanya memperhatikan dengan seksama, sampai selesai Mina mengerjakan ibadahnya, tetapi nampaknya belum ada juga tanda-tanda hujan akan teduh.
Mina melirik Alexander yang duduk asyik dengan gadget ditangannya, “Aku akan pulang,” pamit Mina.
“Tunggu, bagaimana kamu bisa pulang dengan hujan deras seperti ini?” cegah Alexander.
“Tetapi tidak baik kita berdua berlarut-larut di sini,” tukas Mina.
“Tenanglah aku tidak bernafsu dengan bocil sepertimu,” ujar Alexander.
Mendengar itu mata Mina melotot, menatap tajam kearah Alexander. Bukannya kemarin sebelum hilang ingatan Alexander begitu mengejar-ngejarnya, dan rela memutuskan hubungan pertunangan dengan Alecia.
‘Bukan berarti gue kege-eran ya? Tetapi nyata dia begitu bucin dengan gue kalau bukan karena kasihan dia amnesia dah gue pites nih orang,’ batin Mina greget.
“Idih, siapa juga yang mau sama elu, Tuan sok kecakepan, gue numpang dulu sampai teduh nih hujan.” Mina duduk di sofa sebrang Alexander.
Sambil menunggu hujan teduh, Mina mengeluarkan tugas kuliahnya, ia akan mengisi waktu mengerjakan itu.
Namun Alexander malah berseru, “Hei, di mana kamu mengambil pena saya? Kamu mencuri ya?”
“I-itu... anu.” Mina gagap mau menjelaskannya bingung harus dari mana.
“Cepat katakan di mana kamu mengambilnya!” ucap Alexander mulai curiga.
Mina menjadi serba salah dan berkata, “Kamu sendiri yang memberikannya padaku.”
“Tidak mungkin aku memberikan barang berhargaku kesembarang orang,” ketus Alexander.
“Terserah kalau kamu tidak percaya, nih aku kembalikan saja Penamu Zaini.” Mina memberikan pena itu dan berjalan ke luar apartemen.
“Hei, tunggu bagaimana kamu tahu nama kecilku?” tanya Alexander lagi kebingungan.
Mina tidak menghiraukan, ia terus berjalan masuk ke lift dan menuju parkir sepeda motornya.
Bersambung....
__ADS_1
Rekomendasi novel baru dari teman saya sini mampir juga ya.