
“Hei tunggu! Jelaskan dulu dari mana kamu mendapatkan pena gue dan dari mana juga elu tahu nama kecil gue hah?” cegat Alexander.
Mina tidak menanggapi ucapan Alexander, ia sangat kesal dengan terus berjalan menuju arah parkir, Alexander membuntuti dibelakang merasa di cuekin, “Hei apa kamu budek?” tanya Alexander emosi.
“Pikir aja sendiri,” cetus Mina.
“Eh kok elu yang sensi sih? Sudah sewajarnya gue tanya, karena gue gak ingat apa-apa.”
“Kenapa dari sekian banyaknya masalah kenapa elu malah gak ingat gue?” tanya Mina dengan mata berkaca-kaca, sebisa mungkin ia menahan genangan air di pelupuk mata.
Melihat mata indah itu hati Alexander menjadi sakit, ‘Duh, kenapa binar matanya bikin jantung gak karuan gini?’ batin Alexander.
“Ya mana gue tahu, gue baru ketemu elu hari ini,” elak Alexander.
“Ya sudah, gue mau pulang,” rajuk Mina menerobos hujan.
“Astaga itu berbahaya, Hei bocah!” teriak Alexander tenggelam dalam deru suara hujan.
...****************...
Mina pulang ke kost dalam keadaan basah kuyup, “Astaghfirullah, Mina elu kenapa jadi main hujan-hujanan begini?” tanya Mega saat membukakan pintu untuk sahabatnya.
“Huhuhu, Alexander benar-benar menyebalkan, ia tidak kenal gue lagi,” raung Mina.
“Cup... cup udahlah, jangan ditangisi wajar dia gak ingat elu karena dia amnesia seperti yang elu ceritakan,” bujuk Mega.
“Tetapi kenapa cuma gue yang dia gak ingat sih? Apa gak ada sedikit aja terlintas ingatannya tentang gue?”
“Ya mungkin karena problem yang berat selama ini dia hadapi Mina, jadi secuil ingatan antara elu dengan Zaini atau Alexander gak akan membekas, kecuali elu punya kenangan indah dengan dia dulu,” tutur Mega gemas.
Mina baru kepikiran sampai situ, “Oh iya ya, kok gue jadi sensi gini ama dia, padahal dia udah nolongin gue waktu itu, huhuhu...,” sambung tangis Mina.
“Sudahlah mandi dulu dan ganti baju elu! Gue gak mau tidur bareng elu kalau elu masih cenggeng!” perintah dan ancam Mega.
“Iya bawel,” desis Mina.
...****************...
__ADS_1
Keesokan harinya, Alexander sengaja menunggu Mina di Perusahaannya, sedari tadi malam ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan Mina,
“Sini elu, gue mau bicara!” Alexander menarik tangan Mina dari lobi.
“Lepasin Tuan, Malu dilihat oleh orang lainnya,” protes Mina mencoba melepaskan cengkalan tangannya dari Alexander.
“Enggak mau, ikut gue sekarang!” titah Alexander. Mina hanya pasrah, para karyawan dan karyawati bingung melihat tingkah keduanya, Alexander membawa Mina ke lantai atas perusahaan yang mana itu adalah lapangan mini helicity miliknya.
“Elu sebenarnya siapa gue sih?” tanya Alexander.
“Emang kenapa? Gue bukan siapa-siapa elu,” kilah Mina.
“Oh ya? Asal elu tahu Pena ini adalah pena pemberian kakek gue dan itu gue kembangkan dengan teknologi, dan ini hanya satu-satunya di dunia atas nama lisensi gue sendiri, pena dengan teknologi canggih yang mampu mendeteksi segalanya, harganya mencapai seratus juta dollar,” jelas Alexander.
“Apa... seratus juta dollar?” Mina langsung terkejut.
‘Tahu begitu berharga kenapa gak gue jual dari dulu?’ ringis Mina dalam hatinya seketika jiwa misquennya meronta.
“Iya, dan gue gak mungkin mau menyerahkan ini kesembarang orang,” ungkap Alexander.
“Jadi... elu bawa gue ke sini cuma buat tanyain hal itu?”
“Tinggal jawab apa susahnya sih?” geram Alexander.
“Begini ya Tuan Alexander, kita tidak ada hubungan apa-apa dan kamu memberikan Pena itu sebagai hadiah untukku saat Anda mengaku sebagai Zaini yang sedang mencari Bapak kandung Anda sendiri,” jelas Mina.
“Sungguh? Kita tidak mempunyai hubungan?” tanya Alexander memastikan.
“Terserah kalau gak percaya,” pungkas Mina hendak berbalik badan pergi.
Namun Alexander langsung sigap menangkap tangannya dan membawa Mina dalam pelukkannya.
“Lepaskan!” Mina berontak dalam dekapan Alexander, walaupun sebenarnya ia merasa nyaman.
“Gue gak akan lepasin sebelum elu jawab, elu suka sama gue tidak?” bisik Alexander.
Sebetulnya malam itu Alexander ingin mengejar Mina yang telah pergi jauh naik motor, saat hujan deras mengguyur tubuhnya Alexander ambruk tak sadarkan diri, ia ditemukan oleh Jhon datang diwaktu yang tepat. Alexander mengingat semua kejadian yang telah ia lewati sampai ia harus mempertaruhkan nyawa demi orang yang ia sayangi.
__ADS_1
Mina hanya menundukkan kepala tak berani menjawab, Alexander mengendurkan pelukannya,“Ah mungkin kamu lebih menyukai Abraham dari pada aku,” tuduh Alexander.
“Bu-bukan begitu,” sela Mina cepat.
“Bukan begitu apanya?” potong Alexander.
“A-aku memang menyukaimu tetapi kita memang tidak mempunyai hubungan,” ucap Mina jujur.
“Jadi kamu mau ingin hubungan yang seperti apa Mina?” tanya Alexander menatap tajam Mina.
Mina menjadi salah tingkah ditatap seperti ini, “Elu sudah ingat siapa gue?”
“Tentu gue ingat dengan wanita cerewet dan tukang rajuk seperti elu ini,” lirih Alexander gemas.
“Tega, elu ya Pura-pura amnesia!” Mina memukul-mukul kesal dada bidang Alexander.
“Eh aduh, gue bukannya pura-pura amnesia, setelah elu ninggalin gue malam tadi diparkiran gue langsung pingsan,” ucap Alexander.
Mina langsung berhenti meninju-ninju ke dada Alexander, “Apa elu pingsan? Apakah ada yang sakit?” tanya Mina cemas meraba-raba kepala Alexander.
“Iya yang sakit ini,” ujar Alexander menunjuk dadanya.
“Idih elu mah kege-eran,” sahut Mina.
“Hahaha, bener elu sukanya gue bukan Abraham?” goda Alexander lagi.
“Tau ah,” rajuk Mina.
“Mina... sesuai kata gue waktu itu, gue beneran suka dan cinta sama elu,” ungkap Alexander serius.
“Jadi... maukah kamu menjadi isteriku? Will You Marry Me?” tegas Alexander melamar Mina.
Mina yang menahan senyum malu-malu, kemudian mengangguk mengiyakan.
Happy Ending....
Maaf 😥 para readers mungkin cukup sampai di sini saja dulu kisah Alexander, Terima kasih kepada kalian yang setia menunggu cerita ini.
__ADS_1
Dukung author kembali di Novel berikutnya dengan judul MENCURI ISTERI TETANGGA, jangan lupa like, comment and Votenya untuk semangat author.
Wassalam...