TIRAI KEHIDUPAN SANG CEO

TIRAI KEHIDUPAN SANG CEO
Bab 31 Kematian Junaidi


__ADS_3

“Saat ini Kakekmu sedang ada di sana, apa kamu tidak ingin mencoba menemui Ayahmu sebelum ia meninggal?” ujar Gio lagi. Membuat Alexander pergi berlari keluar dengan tergesa-gesa untuk segera menemui Ayahnya.


“Semoga aku masih sempat berjumpa denganmu Bapak,” gumam Alexander berlari buru-buru mencari taksi.


...****************...


Langkah yang tergesa-gesa Alexander berlari secepatnya menuju jalan raya dan halte, tetapi karena jam sudah menunjukkan pukul tiga dinihari waktu Tiongkok setempat, tak banyak taksi dan bus yang lewat di jalan raya terlihat sepi. Namun ternyata nasib baik bergantung pada Alexander ada sebuah taksi yang singgah di sampingnya dan seseorang penumpang turun, Alexander melihat itu langsung menaiki taksi itu dan berkata, “Kita ke rumah sakit YG yang ada di tengah kota,” pinta Alexander pada sang sopir taksi.


Sesampainya di rumah sakit, kebetulan Alexander melihat Kakeknya dan Jhon sedang masuk kesalahan satu ruangan UGD VVIP, ia yakin bahwa itu ruang bapaknya tetapi ia heran mengapa Kakeknya begitu banyak membawa anak buahnya, Alexander mendekat ia bisa mendengar percakapan Kakeknya dan Dokter, “Bagaimana kondisinya?” tanya Kakek Thomas. “Kondisinya sedang kritis, kami masih belum menemukan transplantasi hati yang cocok untuknya,” jelas Dokter.


Alexander yang berdiri mematung di depan ruang UGD, tak kuasa menahan rasa emosialnya saat mengetahui bahwa Bapaknya sedang terbaring tak berdaya, “Ya Ampun Bapak,” seru Alexander langsung menghampiri Junaidi yang terbaring lemah dengan alat bantu di tubuhnya. Saat Alexander mendekati Bapaknya, “Astaga Alexander kenapa kamu di sini?”tanya Kakek Thomas terkejut, namun Alexander tak menghiraukan pertanyaan Kakeknya ia fokus menatap Junaidi yang terbaring lemah, “Bapak, ini Zaini Pak, Zaini mohon bertahanlah!”


Entah mengapa Junaidi yang koma seakan mendengar suara Alexander alias Zaini anaknya itu, tetapi jantungnya tiba-tiba melemah, “Oh tidak... Bapak,” ujar Zaini, dokter yang ada pun langsung menanggani dengan sigapnya. “ pada Tuan mohon maaf silakan Anda semuanya keluar dari ruangan ini dulu ya, biarkan dokter melakukan tindakan,” ucap Seorang Perawat perempuan.


Mereka pun keluar ruangan, terlihat Alexander begitu mengkhawatirkan Bapaknya, “Sejak kapan kamu berada di sini hah?” tanya Tuan Thomas, “Memang kenapa hah, apakah Anda takut jika saya mengetahui semuanya?” tanya balik Alexander sinis. “Apa maksud kamu berpura-pura meninggal Alexander? Dan apa yang sedang kamu rencanakan?” cetus Tuan Thomas, belum sempat Alexander menjawab seorang dokternya yang bertugas menangani Junaidi keluar dari ruangan UGD, semua menanti kabar, “Maaf wahai para Tuan, nyawa Pak Junaidi tak bisa diselamatkan.


Mendengar itu Alexander terduduk lesu, padahal bertemu dengan Bapaknya adalah hal yang paling ia tunggu-tunggu untuk melepaskan rindu seorang anak kepada orang tuanya tetapi malah Tuhan berkehendak lain, Mereka kembali terpisahkan oleh Takdir.


“Ini semua pasti karena ulah Kakek ‘kan sudah menyekap dan menganiaya Bapakku?” tuduh Alexander.

__ADS_1


“Tenanglah Alexander! Kami tahu kamu bersedih tetapi bukan Tuan Thomas yang melakukan ini,” bela Jhon.


“Cuih... Kalian sengaja ‘kan melakukan ini agar Aku terpisah dengan Bapak, dasarnya kalian berhati iblis,” sahut Alexander.


Tuan Thomas yang duduk di kursi roda miliknya mendengar jelas pembelaan dari Jhon namun siapa sangka ia tiba-tiba juga ia merasakan kesakitan pada area dada, “Aaaaa...,” ucap Tuan Thomas sambil memenganggi dadanya yang sakit. “Ya Tuhan, Tuan Besar penyakit Anda kambuh,” ujar Jhon cemas melihat Tuannya terkulai lemah.


...****************...


“Hahaha, Sandiwara telah dimulai kalian sudah memainkan peran dengan baik,” ucap Marcho, mengetahui bahwa intruksinya kepada Gorgio untuk mengadu domba Thomas dan Alexander telah berhasil.


“Lalu apalagi langkah kita selanjutnya Ayah?” tanya Candra.


“Te-tapi, surat itu ada di notaris,” sangkal Candra.


“Kamu itu beg* atau apa sih? Kamu bisa mengambil hati Thomas saat ini dan menyuruhnya untuk mengubah Hak Waris, aku yakin setelah kematian Junaidi Alexander pasti tidak akan mau percaya lagi dengan si Thomas,”


“Wah ide Ayah benar-benar cemerlang dan Ayah genius,” puji Candra diiringi senyum sungging dari Marcho yang penuh percaya diri dengan rencananya.


...****************...

__ADS_1


Meninggalnya Junaidi membuat Alexander alias Zaini sangat terpukul, tetapi setidaknya ia masih bisa melihat Bapaknya disaat-saat terakhirnya. Sedangkan Tuan Thomas di rawat di rumah sakit karena penyakitnya kambuh. Dengan pesawat jet pribadi Alexander membawa jenazah sang Ayah, untuk melakukan pemakaman Junaidi di sebelah makam ibunya, di perkampungan tempat tinggal Junaidi dulu,“Maaf Zaini Pak, Zaini datang terlambat menemukan Bapak,” isaknya.


Bersambung...



Wanita mana yang mau hamil tanpa memiliki seorang suami?


Terlebih jika ia masih berstatus sebagai seorang pelajar SMA.


Tentu hal itu bagai mimpi buruk bagi wanita yang menanggungnya.


Dan, hal itu tengah di alami oleh Rosa. Seorang pelajar SMA yang akhirnya hamil akibat rayuan gombal pacarnya.


Pacar yang di anggap memberi warna cerah di hati dan harinya. Justru malah menorehkan warna gelap.


Rosa jatuh sejauh-jauhnya.


Lalu, apakah yang harus dilakukan Rosa dalam menghadapi masalahnya?

__ADS_1


__ADS_2