
Bisnis Saman semakin hari semakin melesu. Kini dia harus menjual rumah pribadinya. Aruna tengah membantu Saman membereskan barang-barang Saman yang ada di rumah itu untuk di bawa ke rumah tinggal mereka. Saman tengah sibuk di luar, sedang Aruna sibuk di kamar Saman memasukan beberapa berkas yang menurut Saman itu penting.
Plakk!
Sebuah map terjatuh ke lantai. Aruna segera memungutnya. Saat dia mengambil map itu beberapa foto terjatuh dari dalam map tersebut.
"Laily?" Mata Aruna seketika membulat sempurna, saat melihat perubahan wajah Laily sebelum dan setelah pasca operasi. "Laily dia adalah Linda adik Saman?" Tubuhnya gemetaran mengetahui siapa Laily.
"Ya Allah … aku menikah dengan .…" Aruna menutup mulutnya menyadari siapa Saman.
"Aruna …." terdengar samar suara Saman memanggilnya dari luar.
Aruna segera menyimpan laporan tentang Laily alias Linda kedalam tasnya. Dia segera berjalan keluar dengan Santai.
"Iya ada apa?"
"Sudah selesai?" tanya Saman.
Arun hanya menganggukkan kepalanya. "Aku mohon jangan jual rumah ini, kita cari cara lain untuk menyelamatkan bisnis kamu," ucap Aruna.
"Tapi …." Saman bingung, sudah terlalu banyak bantuan yang mertuanya beri padanya. Jalan terakhir adalah menjual rumah ini.
"Kasian Linda jika dia pulang dia tidak punya tempat kembali, ku dengar kalian sudah menjual rumah orang tua kalian dan toko bunga." Aruna memandangi wajah Saman, reaksi Saman tampak aneh, ketika Aruna menyebut nama Linda.
Saman terdiam mendengar nama Linda disebut. Aruna berusaha menahan ledakkan yang timbul dalam dirinya. "Aku ingin pulang sendiri, biarkan aku naik taksi," ucap Aruna.
"Aku akan antar."
"Ku mohon selesaikan urusanmu," pinta Aruna.
Saman pasrah Aruna tetap pergi meninggalkan dia. Aruna mencegat sàlah satu taksi yang lewat. Selama perjalanan menuju rumah, Aruna tidak bisa lagi menahan air mata yabg sedari tadi ingin tumpah, Aruna melepaskan semuanya, dab terus menangis mengingat nasib Aan yang hanya korban, sama sepertinya. "Kak Aan ... maafkan aku ...." Aruna berusaha menahan suaranya. Sesampai rumah, Suminten heran melihat Aruna nampak kacau, dan langsung memeluknya.
"Mak …." Aruna melepaskan semua sesaknya di dalam pelukan Suminten.
"Ada apa?" Suminten tidak mengerti, kenapa Aruna terus menangis.
"Makkk, Deli--" Sibki tidak jadi bicara, ketika melihat Aruna menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Suminten.
"Aruna kenapa mak?" tanya Sibki.
Suminten hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Bisakah kita ketempat ustadz Ali …." pinta Aruna pada Sibki.
"Tentu … ayo aku antar," jawab Sibki.
"Makkk, jika Saman datang jangan bilang kalau kami ketempat ustadz Ali," pinta Aruna.
"Umak mengerti," jawab Suminten.
"Si kembar bisa ikut kak?" tanya Aruna.
__ADS_1
"Tentu, ayo bawa mereka juga, umi Fatma dan Nurul pasti sangat bahagia ketemu mereka," ucap Sibki.
Setelah bersiap mereka semua segera pergi ketempat ustadz Ali. Selama perjalanan hanya canda ria si kembar yang mengisi perjalan mereka. Sedang Aruna tenggelam dalam duka dan penyesalannya yang tidak ada akhirnya, karena menikahi penjahat yang sesunguhnya. Lama membelah jalanan akhirnya mereka Sampai di rumah Nurul.
"Assalamu alaikum," salam Aruna.
"Wa alaikum salam, subhanallah … Aruna …" umi Fatma sangat girang melihat Aruna dan ketiga anaknya datang berkunjung.
"Umi .…" Aruna kembali menangis kedalam pelukan umi Fatma.
"Ada apa ini? Ayo masuk dulu," ucap umi Fatma.
Aruna dan ketiga anaknya masuk ke rumah Nurul.
"Kak Nurul dan Ilham mana umi?"
"Oh ada … itu Ilham sedang tidur siang."
"Umi … selama ini kak Aan di fitnah, kebodohan kami--" Aruna terisak tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
"Apa maksud kamu?" tanya umi Fatma.
Aruna memberikan laporan operasi plastik adik Saman Linda yang berubah menjadi Laily.
"Astaghfirullah … Laily, dia Linda?"
Aruna berusaha menahan tangisnya, hanya bisa menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan umi Fatma.
"Maafkan kakak, Aruna, kakak berusaha menelepon kamu, tapi sepertinya Saman memblokir semua panggilan dari kami ke nomer kamu atau Sibki," ucap Nurul.
"Kak Nurul .…" Aruna melihat kearah Nurul yang berjalan ke arahnya.
"Kami harus bagaimana?" sela Sibki.
"Kita bicara baik-baik pada Saman," ucap Ali.
"Aan tidak membacok Saman malam itu, tapi Saman yang mengarahkan pisau itu ke perutnya," terang Ali.
"Ya Allah … kenapa sangat besar penderitaan kak Aan," Aruna semakin terisak mengingat malam itu, Aan melihat dia dan Saman tengah larut dalam pertemuan bibir mereka.
"Sabar Aruna …." umi Fatma memeluk Aruna dan berusaha menangkannya.
"Ustadz … sampaikan perminta maafan kami pada Aan," ucap Aruna.
"Kenapa tidak minta maaf sendiri?" tanya Ali lembut.
"Saya tidak punya wajah untuk bertemu kak Aan ustadz .…" jawab Aruna.
"Assalamu alaikum, ustadz!" Suara teriakan, terdengar suara itu begitu panik dari arah luar.
"Wa'alaikum Salam, ada apa Safta?" tanya Ali.
__ADS_1
"Ustadz … ada perempuan gila yang kami temukan di jalanan, wajahnya rusak tapi sepertinya dia juga maaf, di ganggu."
"Aku faham, ayo bawa dia ketempat biasa," ucap Ali.
Ali dan Safta meninggalkan rumah dan segera ke kantornya untuk membantu wanita gila yang kena gangguan tersebut. Sedang Aruna menggendong Deli dia berjalan ke arah sungai yang tidak jauh dari rumah Nurul. Rayyan di jaga oleh Sibki, sedang Dena di jaga umi Fatma.
Aruna duduk di bebatuan di pinggir sungai yang sangat bersejarah bagi dirinya, sungai yang membawa dirinya hingga sampai kesini, juga sungai yang membuatnya lepas dari penderitaannya. Mendengar suara gemuruh air yang deras semakin membuat hatinya sedih. Karena teringat di sisi sungai itu dia dan Aan memulai dari awal.
Deli yang ada dalam pangkuannya menghapus air matanya. Aruna berusaha tersenyum.
"Maafkan mama sayang … karena kebodohan mama kita terpisah dengan papa kalian." Aruna mencium halus pipi Deli.
"Mau mandi?" Aruna menanyai Deli.
Deli mengangguk.
Aruna melepaskan baju dan popok Deli, kini Deli hanya mengenakan celana biasa. Dia perlahan menuruni sisi sungai dan duduk di bebatuan disisi sungai sambil bermain air bersama Deli. Hatinya kembali bergetar teringat kenangan manis bersama Aan.
"Mama iklas sayang tidak disisi papa kamu lagi, asal kalian bertiga disisi mama selamanya, kalian buah cinta mama dan papa yang sangat beharga, semoga papa kalian mendapat wanita yang terbaik untuk jadi istrinya, bukan seperti mama yang bodoh dan jahil ini," Aruna membelai Deli yang asyik bermain Air.
Aruna terus membayangkan nasib Aan. "Mama akan berusaha ikhlaskan kalian, jika papa kalian menginginkan kalian, asal kami mendapat maaf dari papa kalian." Aruna terbayang, andai Aan menginginkan hak asuh ketiga anaknya.
Suara riuh dari atas sungai mengejutkan Aruna yang tengah asyik bermain air bersama putrinya. Dia langsung menggendong Deli dan segera meninggalkan sisi sungai itu. Deli menagis karena dia masih ingin bermain Air.
"Ada apa Ilyas?" tanya Aruna.
"Wanita itu mengalami gangguan jin yang sangat berat," ucap Ilyas.
Semua orang turun membawa wanita itu ke aliran sungai untuk di ruqyah.
"Kita pulang sayang …." Aruna berusaha menangkan Deli yang terus meronta ingin terjun ke air. Aruna mengambil baju Deli dan langsung meninggalkan aliran sungai tersebut.
Sedang ustadz Ali dan beberapa rekan ruqyahnya segera melakukan ruqyah pada wanita yang gila karena perbuatan seseorang.
***
"Umi … kami pulang … terima kasih atas segalanya, maafkan saya umi saya datang hanya saat sedih," ringis Aruna.
"Kamu apa-apaan sih … umi faham kamu sibuk. Kamu yakin pulang?"
"Iya Aruna, apa sebaiknya kalian disini saja?" usul Nurul.
"Lebih baik kami pulang saja umi, di sana masih ada rumah ibu," ucap Aruna.
"Ya sudah … hati-hati … ternyata Saman orang yang berbahaya."
"Iya umi, mulai sekarang Aruna akan hati-hati, Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam," jawab Nurul dan Fatma.
Aruna, si kembar dan Sibki meninggalkan rumah Nurul dan kembali pulang ke kediaman mereka.
__ADS_1