Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 107. Janda


__ADS_3

Suminten dan Wahyu segera berjalan cepat menuju rumah Jojo.


"Assalamu alaikum!" teriak Suminten, dia sungguh panik.


"Wa'alaikum salam, ada apa Minten, kenapa wajah kamu panik?" tanya Mastia.


"Saman kecelakaan, mobil yang dia tumpangi ringsek. Di jalanan yang dia lalui tiba-tiba ada pohong tumbang dan menimpa mobilnya."


"Astaghfirullah, tunggu sebentar," Mastia berlari ke dalam rumahnya.


"Sibki … Sibki!" Teriak Mastia.


"Ada apa bu malam-malam teriak," ucap Sibki.


"Saman kecelakaan cepat urus jenadzahnya di Rumah Sakit," pinta Mastia.


Kedua mata Sibki melotot, dia langsung mengambil dompet dan kunci mobilnya. Dia langsung berlari ke kamar Aruna.


"Aruna!" Teriak Sibki.


"Jangan teriak nanti si kembar bangun," bisik Aruna.


"Cepat bersiap kita ke Rumah Sakit," pinta Sibki.


"Linda?"


"Bukan! Saman, dia kecelakaan, ayo cepat," seru Sibki.


Aruna panik, dia langsung meraih tasnya, dia dan Sibki berlari menuju mobil mereka.


"Abah ikut saja," pinta Sibki.


"Tidak, abah di sini saja menyiapkan semuanya," jawab Wahyu.


Aruna dan Sibki langsung menunju Rumah Sakit. Sibki mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit tujuan mereka. Aruna dan Sibki masuk kekamar Mayat untuk memastikan itu Saman. Salah satu perawat membuka kain penutup mayat itu.


"Astaghfirullah …." Aruna dan Sibki sangat terkejut melihat keadaan jasad Saman.


Aruna terus mendekati jasad Saman.


"Kami memaafkan semua perbuatan kak Saman, kak Aan juga sudah memaafkan kita semua, maafkan aku kak Saman … selama jadi istri kakak, aku bukan istri yang baik," ucap Aruna lirih.


Setelah semua urusan selesai Aruna di ambulan bersama jasad Saman, sedang Sibki mengikuti dengan mobilnya.


Keadaan rumah Jojo sudah ramai pelayat. Semua sudah disiapkan Jojo dan Wahyu. Saat ambulan datang semua warga sigap membantu menurunkan jenadzah Saman. Sibki langsung mengabari ustadz Ali tentang musibah yang menimpa Saman.


***


Suasana duka sangat kental di kediaman Jojo. Aruna hanya membisu di samping jasad Saman, Sambil.memangku Rayan, sedang Suminten memangku Deli dan Mastia memangku Dena.


"Kasian yaa, masih kecil jadi yatim," ucap salah satu pelayat.


"Hati-hati kamu kalau bicara, si kembar tiga itu anaknya pengusaha, Saman cuma ayah tiri mereka," sela yang satunya.


Keadaan sangat hening sampai proses penguburan Saman pun tidak ada kata-kata yang keluar dari seluruh anggota keluarga.


***


Tiga hari sudah Aan di luar negri menemani pengobatan Linda. Akhirnya operasi berjalan lancar, namun Linda kehilangan wajah aslinya. Wajah Linda masih dibalut perban. Namun karena operasi selesai Aan dan Safta kembali pulang ke tanah air.


Linda pasrah dengan wajah baru yang akan dia miliki nanti. Dia sangat marah karena Saman, dia kehilangan wajah aslinya.


***

__ADS_1


Hari demi hari terus berlalu. Status janda kini di sandang Aruna lagi. Sebulan sudah kematian Saman, kini suasana tenang kembali. Seperti biasa Aruna menjalankan rutinitasnya belanja pada paman yang berjualan keliling di area rumah Jojo. Mata-mata ibu-ibu di sana memandangi sinis dirinya.


"Jadi janda lagi nih," sindir salah satu warga yang ada di sana.


"Iya, jadi Janda lagi …, tapi sekarang iddahnya lama, tahan nggak ya .…" ejek yang lainnya.


Aruna diam membisu, hanya fokus dengan apa tujuannya. Selesai belanja dia langsung pulang ke rumah.


Sambil memasak, air matanya terus menetes. Entah kenapa ucapan para tetangga sangat menyakiti hatinya.


"Kenapa?" tanya Suminten lembut.


"Apa salah janda mak?" ringis Aruna.


"Gak ada yang salah sayang, hanya nasib mereka yang memang tergaris jadi janda."


"Andai Aruna bisa memilih, Aruna juga mau mak punya suami satu untuk selamanya, tapi …."


"Sabar sayang, kuatkan hati kamu." Suminten memeluk erat Aruna.


"Sudah temani Sibki antar barang, lupakan hujatan orang, mereka hanya bisa menghujat, semangat jalani hidup demi ketiga anak-anakmu."


"Iya mak, Aruna pamit, Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikum salam." jawab Suminten.


Keseharian Aruna sekarang membantu Sibki mengantar hasil panen kebun mereka ke beberapa restoran. Hari ini mereka mengantar hasil panen ke Restoran Ananda.


"Aruna, kamu ini lucu, punya kebun sendiri beli sayur di tempat Mamang," ucap Sibki, matanya fokus menyetir mobil yang dia bawa.


"Sengaja kak, sekalian bantu Mamang."


"Iya deh, asal kamu bahagia."


Aruna kamu kedalam menemui manajernya, sekarang manajernya perempuan anak yang punya Restoran ini, jadi kamu mudah kok ber interaksi sama dia," pinta Sibki.


"Iya kak," jawab Aruna. Aruna melangkahkan kakinya memasuki restoran tersebut. Baru satu langkah rasanya ada yang membuat hatinya bergetar. Dia menghentikan langkahnya.


"Tenang Aruna, ini hanya gugup, okey … lanjut," ucapnya.


Aruna mendatangi meja pelayan.


"Siang … emm bisa bertemu Nona Ananda?" tanya Aruna.


"Ada perlu apa bu?"


"Saya dari perkebunan yang mengantar beberapa pasokan," jawab Aruna.


"Sebentar, saya akan tanya miss Nanda dulu,"


Pelayan itu pergi, tidak lama dia kembali lagi.


"Bu ... mari ikut saya, kebetulan manajer kami sedang menyambut tamu specialnya," jawab pelayan itu. Aruna mengikuti langkah kaki pelayan itu.


"Maaf miss Nanda, ini yang dari perkebunan."


"Owh … ayo bu mari gabung sama kami," ajak Nanda.


Aruna mematung melihat siapa sosok yang ada di samping perempuan yang bernama Ananda. Kedua mata Aruna beradu pandang dengan tamu special Nanda.


"Bu atau apa ini saya panggilnya?" Pertanyaan Ananda mengejutkan Aruna.


"Aruna saja miss," jawabnya.

__ADS_1


"Owh, ayo silahkan duduk." Ananda mempersilakan tamunya duduk.


Ananda merubah arah pandangannya pada tamu-nya. "Yakin Pak Andika gak masalah saya selesaikan ini?" tanya Nanda.


Aan menggeleng dan tersenyum.


"Owh … baiklah, kalau begitu saya lanjut sama Aruna dulu," pinta Nanda.


"Ini catatan yang masuk Aruna?"


"Owh sebentar saya tanya kakak saya dulu," Aruna meraih ponsel dalam tasnya dan langsung menelpon Sibki. Aruna menyalakan speaker agar Nanda mendengar penjelasan Sibki.


"Okey semua jelas, saya cek ini dulu," ucap Nanda.


Aan melempar senyumnya pada Aruna, karena Aruna masih memakai ponsel pemberianya dulu.


Aruna salah tingkah, menyadari Aan terus memandangi dirinya, dia pun memilih memainkan ponselnya.


Tlink!


Notif pesan berbunyi.


Test!


Aan.


Kedua bola mata Aruna melotot memandang ke arah Aan.


Pesan masuk lagi. "Aku kira kamu ganti nomer."


Aruna tidak membalas pesan Aan, namun pesan itu masuk lagi.


Trink!


"Kamu selalu cantik."


Trink!


"Maaf aku lupa kalau istri orang."


Aruna menatap tajam ke arah Aan.


Trink!


"Hei istri orang, jangan menggodaku."


Aruna menaruh ponselnya, karena Aan yang berada didepan matanya selalu mengirimi dia pesan via aplikasi hijau.


"Wah, Aruna pasti kamu sibuk ya, ponsel kamu teriak melulu," sela Nanda.


"Maaf miss Nanda, ini saya silent bunyinya." Aruna langsung matikan notif semua di ponselnya.


"Saya sedang mengatur pernikahan ini sama Pak Andika, makanya Anda saya suruh ke sini, kalau menunggu aku sama Andika selesai kamu kasian lama nunggu," ucap Nanda.


"Menikah?" Aruna memandang ke arah Aan.


"Iya, nanti ada kok undangannya buat kamu sekeluarga," ucap Nanda.


Aruna meraih ponselnya dan langsung mengirin pesan pada Aan.


"Selamat kak, akhirnya kakak bisa menempuh hidup baru, aku bahagia kakak bisa melanjutkan kehidupan kakak."


Aan membaca pesan yang masuk pada ponselnya. Lalu dia memandangi wajah Aruna. Aruna tersenyum padanya. Aan menggeleng dan berusaha menahan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2