
Keadaan majelis kembali hening. Beberapa rekan Ali langsung pulang, karena tugas mereka selesai. Hanya tinggal sedikit orang yang tersisa.
"Alhamdulillah … semua urusan dengan para paranormal itu selesai, ayo kita habiskan urusan malam ini dengan akad nikah Aruna dengan temanku," sela Ali sambil mengedipkan matanya.
Glegggg!
Aan seketika membisu.
"Ayo semua kita kedalam mushalla, akad nikah ini kita adakan secara keagamaan saja," ajak Ali.
"Ayo An, bukankah kamu sudah ikhlas?" tanya Ali.
Sibki langsung membuka pintu Mushalla yang tadinya mereka kunci. Ali dan lainnya masuk kedalam Mushalla berkumpul dengan kaum hawa dan anak-anak yang bersembunyi di sana.
"Bagaimana Ali?" tanya Fatma.
"Alhamdulillah untuk kali ini selesai, kita akan usahakan menuntut mereka dengan tuntutan yang paling berat, supaya memberikan efek jera bagi mereka semua." jawab Ali.
"Kita bisa pulang ke rumah kita 'kan abi?" tanya Nurul.
"Bisa, semua sudah aman."
"Bagaimana anak-anak?" tanya Ali.
"Mereka semua senang, apalagi Ilham yang jarang berteman, sekarang punya tiga teman Al-hasil dia tepar karena belum biasa keramaian," ucap umi Fatma sambil membelai pucuk kepala anak Nurul yang tertidur di pangkuannya.
"Kalau si trio kembar ini biang rusuh ustadz, gaduh rumah kalau mereka belum merem(berpejam mata)," ucap Sibki.
"Alhamdulillah, kalau semua baik-baik saja," ucap Ali.
"Assalamu'alaikum ustadz,
"Wa'alaikum Salam," jawab semua
"Ini pak ustadz, paket nasi kotak sama kue dari catering sudah sampai," ucap orang yang datang membawa beberapa bok makanan.
"Alhamdulillah sudah datang, kamu gabung sama kita," pinta Ali.
Orang itu pun duduk bergabung dekat Jojo dan Wahyu, juga beberapa teman Ali yang akan menginap, karena rumah mereka jauh.
"Assalamu alaikum," sapa seseorang.
"Wa alaikum salam," jawab semua orang.
Semua teman Ali langsung menyambut orang itu, bergantian menyalami tangan orang tersebut dan menciumi tangannya.
"Alhamdulillah … ini calon pengantin pria kita sudah datang," sambut Ali.
Aan langsung menatap tajam ke arah orang yang baru datang tersebut.
__ADS_1
Ali dan orang itu sama-sama saling cium tangan bergantian.
Ya Allah … tangannya diciumi semua rekan ustadz Ali dan juga ustadz Ali? Dia pasti seperti ustadz Ali. Apalah aku dibanding dia, selamat Aruna, kamu mendapat suami seperti ustadz Ali," lirih hati Aan.
"Kenalkan ini temanku, ustadz Hasan Al-Ghifari," seru Ali.
Sibki, Jojo dan Wahyu bergantian menyalami ustadz teman Ali tersebut. Aan yang paling akhir bersalaman dengan orang ustadz Hasan.
"Semoga pernikahan ustadz kedepannya langgeng dan selalu dalam lindungan Allah," ucap Aan sambil meyalami Hasan.
"Aamiin .…" jawab Hasan.
Aan melirik ke arah Aruna, namun Aruna fokus dengan ketiga anak kembarnya.
"Masya Allah …, ini kembar?" tanya Hasan. Dia langsung mendekat ke arah si kembar.
"Iya ustadz," jawab Aruna singkat.
Ustadz Hasan menciumi anak-anak Aruna bergantian.
"Subhanallah …." ucap Hasan sambil membelai pucuk kepala Dena, Deli dan Rayyan.
"Ayo semua kita persiapkan akad nikahnya, biar kita semua bisa istirahat," sela Ali.
"Ustadz … apakah tidak ada cara lain selain menikah? Saya malu pak ustadz kalau harus menikah lagi," sela Aruna.
"Aruna … kamu tahu apa kelebihan Deli?" tanya Ali.
"Aruna … penyerang yang kini di gelandang ke kantor polisi itu mengintai Deli. Mereka inginkan kelebihan Deli, kelebihan Deli bisa menguntungkan juga bisa berbahaya. Kelebihan dia … jika dia mengucapkan sesuatu dari hati hal baik ataupun buruk maka itu terjadi, misal … dia kesal pada seseorang, lalu dia mengatai orang itu monyet, maka orang itu jadi monyet."
"Itu sangat berbahaya pak ustadz, nasib saya sebelumnya saja sangat tragis," ringis Aruna memotong kata-kata ustadz Ali.
Suminten langsung memeluk Aruna, karena merasakan kepedihan yang sama teringat saat warga desa menghukum Aruna.
"Kelebihan Deli sangat beharga bagi dunia mistis, tapi sangat berbahaya bagi dunia umum, dua belenggu sudah lepas. Tinggal satu, yaitu pernikahan kamu, pernikahan ini bukan hanya memberimu imam dalam hidup kamu, tapi juga membebaskan Deli, setelah ini Deli tidak ada kelebihan lagi. Aruna … okey malam ini kita semua berhasil melawan semua yang menyerang kita, namun jika Deli masih memiliki kelebihan, orang-orang itu akan kembali untuk mengabil Deli." Ali menarik napas dalam berusaha meyakinkan Aruna untuk menikah lagi.
"Aruna … kebebasan Deli yang petama adalah, mengungkap rahasia besar, yaitu kejahatan Saman, Semoga Saman di ampuni," ucap Ali.
"Amiin …" jawab semua orang.
"Kedua … membebaskan dia yang tidak bersalah, Linda. Dia tidak bersalah, namun kehadirannya seperti bom yang menghancurkan yang selama ini kalian bina. Dan sekarang ayo tunaikan syarat yang ketiga agar Deli bisa jadi manusia biasa tanpa kelebihan," terang Ali.
"Bismillaah … demi kebebasan Deli, saya siap menanggung cemoohan dan hinaan semua orang ustadz," ucap Aruna, dia melirik kearah Aan.
"Alhamdulillah …" seru semua orang.
"Ayo semua kita siapkan," ucap Ali.
"Ustadz, walaupun akad nikah ini siri, tapi saya sudah siapkan surat ini," Hasan memberikan lembaran.
__ADS_1
"Masya Allah, ini cukup sebagai bukti untuk pasangan pengantin nanti," ucap Ali sambil membaca isi kertas yang di berikan Hasan padanya.
"Aan? Mau jadi saksi?" tanya Ali.
Aan mendekat pada Ali. "Apakah penderitaan saya masih kurang ustadz?" bisik Aan.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau jadi saksi pernikahan sahabat saya," ucap Ali.
"Hasan, kamu yakin dengan keputusanmu memilihku untuk menikahkan kamu? Secara kamu lebih dari saya," Ali memandang ke arah Hasan yang memangku Rayyan anak Aruna.
"Sangat yakin, untuk apa saya datang jauh-jauh? Kalau saya ingin menikah tanpa ustadz Ali, saya bisa menikah di KUA, resmi lho," jawab Hasan.
"Ya sudah, saya merasa tersanjung dipercaya ustadz Hasan untuk menikahkan beliau," seru Ali.
"Kalau begitu ayo kita ambil posisi masing-masing, Sibki dan siapa ini jadi saksi? Safta dan Ilyas masih di kantor polisi," ucap Ali.
Semua mata memandang ke arah Aan.
"Maaf … aku tidak bisa," ungkap Aan.
"Ini kesempatan luar biasa, pernikahan ustadz," sela Sibki.
"Maaf Sibki …" ucap Aan.
Aruna menatap sayu ke arah Aan.
"Ya Allah … kenapa dia memandangku," rengek hati Aan.
"Cuma satu orangkan?" Tanya Hasan memecah kecanggungan.
Ali mengangguk. "Maaf Ustadz, dari sekian banyak.orang pada tidak pede jadi saksi nikah pak ustadz," ucap Ali.
"Tidak apa-apa, saya faham … saya juga jarang berani jadi saksi, tapi saya sangat berterima kasih karena ustadz Ali mau menikahkan saya di sini."
Saya yang sangat tersanjung karena ustadz Hasan memilih tempat ini dan meminta saya yang menikahkan ustadz," ucap Ali.
"Panggilkan saja supir saya Fazar, biar dia yang jadi saksi pernikahan Saya," pinta Hasan.
"Baik ustadz saya akan panggilkan dia." Sibki langsung bangkit dari posisinya dan keluar mencari supir ustadz Hasan.
"Aan kamu mau kemana?" tanya Ali.
"Saya mau ketempat wudhu Pak ustadz," jawab Aan.
"Jangan pergi! Apalagi kabur! Kalau kamu tidak kembali aku pastikan kamu akan menyesal!" kecam Ali.
Aan tersenyum dan mengangguk. Dia pergi undur diri meninggalkan ruangan Mushalla itu.
****
__ADS_1
Bersambung ...
*****