Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 115


__ADS_3

Semua orang panik karena tidak tahu keberadaan Aruna saat ini.


Suminten dan Mastia langsung menangkap di kembar yang sedari tadi asyik bermain.


"Apakah Aruna di culik?" ringis Suminten sambil memeluk Deli.


"Ada apa ini? Kenapa kalian masih di luar?" tanya Sibki yang baru datang.


"Aruna hilang!" Ringis Mastia.


"Apa? Hilang?" ucap Sibki.


Brukkkk!!


"Awwhhh!" Ringis Sibki karena dia di dorong seseorang dari belakang.


"Adakah cara yang lebih baik selain yang tadi! Kenapa membawaku pergi dengan membekap dan membawa paksa aku!" Teriak Aruna sambil memukuli Sibki.


Sibki tertawa mengingat sepanjang perjalanan tadi Aruna memaki dirinya.


Semua tersenyum melihat penampilan Aruna, memakai dres sederhana namun terlihat Anggun.


"Kenapa kakak lakukan ini padaku?" Aruna memandangi baju dan riasan naturalnya.


"Kalau aku tidak menculik paksa dirimu, kamu tidak akan mau ke salon," sela Sibki.


"Aan … bagaimana dengan jerih payahku," goda Sibki.


Aan menunduk sambil memijat tengkuknya.


"Dia tidak hilang, tapi aku culik untuk mendandani dia," ringis Sibki sambil menahan serangan Aruna.


"Sudah Aruna, nanti hilang cantikmu," sela Nurul, dia menarik Aruna dari hadapan Sibki.


"Dia membuatku trauma kak Nurul, aku sangat ketakutan, aku kira aku di culik lagi." Wajah Aruna sangat kesal.


"Sudah .…" ucap Nurul.


"Mama …." ringis Dena, Deli dan Rayyan.


Aruna mendekati ketiga anaknya dan menciumi mereka bergantian.


"Papanya tidak?" goda Aan.


Semua orang menatap tajam ke arah Aan. Aan tersenyum dan membuang wajah ke arah lain.


"Aan, maafkan kami aku harap dengan kejutan ini bisa mengobati sedikit dari lukamu di masa lalu yang sangat besar, karena tidak mendapat kepercayaan dari keluarga," ucap Sibki, sambil menepuk bahu Aan.


"Ayolah kita mulai, tenaga ku hampir habis saat ku kira, dia balas dendam padaku." Aan sekilas melirik ke arah Aruna.


Semua orang menatap tajam Sibki. Sibki hanya membalas dengan senyuman. "Ayo kita mulai lagi semua dari awal," seru Sibki.


Semua orang masuk kedalam ruangan akad nikah. Sebentar lagi akad nikah Aruna dan Aan akan dilaksanakan. Semua orang menempati tempat mereka masing-masing. Para petugas KUA juga sudah menempati posisi mereka.


"Sudah lengkap semuanya?" tanya penghulu.


"Alhamdulillah sudah," jawab Wahyu.


"Ayo silakan saksi menempati posisi kalian."


Ali dan salah satu petugas KUA duduk di kursi saksi.


"Alhamdulillah, mari kita mulai sekarang akadnya," ucap Penghulu.

__ADS_1


Penghulu mulai mengucap kalimat awal sebelum ijab kabul.


Penghulu :


"Bismillahir rahmanirrahiim ... Andika Tama Shiddiq bin Shiddik Mubaraq. Aku Nikah kan Dan Aku Kawin kan engkau dengan Aruna Sumira binti Wahyu Jayadi, yang telah menyerahkan padaku sebagai wali nya, dengan mas sepuluh juta rupiah dibayar Tunai!!"


Saya terima nikah dan kawinya Aruna Sumira binti Wahyu Jayadi dengan mas kawin tersebut tunai! SAH!!!" Teriak Aan.


"Ulang!" ucap Ali dan saksi dari KUA berbarengan.


Aruna menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya, merasa malu dengan ulah Aan.


"Masya Allah, semangat sekali mempelai pria kita ini, baiklah, kita ulangi kali yang kedua," seru penghulu.


Penghulu :


"Bismillahir rahmanirrahiim ... Andika Tama Shiddiq bin Shiddik Mubaraq. Aku Nikahkan Dan Aku Kawinkan engkau dengan Aruna Sumira binti---"


"Saya terima nikah dan kawinya Aruna Sumira binti Wahyu Jayadi dengan mas kawin tersebut tunai!" Ucap Aan lantang.


"Masya Allah, semangatnya tolong disimpan buat nanti, saya belum selesai lho tadi," pinta penghulu.


"Kakak niat gak sih? Kalau gak niat batalin saja," protes Aruna.


"Kamu enak protes, coba kita tukeran tempat, kamu yang ucap akad, biar kamu rasa bagaimana ketegangan aku," ringis Aan.


"Kalau sampai tujuh kali gagal kita mandiin dulu mempelai pria nya dengan air kobokan!!!" Seru Sibki.


"Sudah, mari kita ulang kembali, Pak fokus ya," pinta penghulu.


Aan mulai menjabat tangan penghulu lagi.


Penghulu :


Aan membisu, matanya menatap tajam ke arah penghulu. Penghulu berulang kali menyetakan tangan, namun Aan masih mematung.


Ali menggebuk bahu Aan.


"Bagaimana sah?" tanya Aan.


"Astaghfirullah," gerutu semua orang.


"Bagaimana mau sah! Mengucap akad nikah saja belum," Ali menggeleng.


"Kenapa kamu payah Aan!!!" Bentak Sibki dari belakang.


"Pa ah," ucap Rayyan.


(Payah)


"Papa itu payah!" ejek Sibki menunjuk Aan.


"Sudah tenang, kita ulang lagi," ucap penghulu.


Penghulu :


"Bismillahir rahmanirrahiim ... Andika Tama Shiddiq bin Shiddik Mubaraq. Aku Nikah kan Dan Aku Kawin kan engkau dengan Aruna Sumira binti Wahyu Jayadi, yang telah menyerahkan padaku sebagai wali nya, dengan mas sepuluh juta rupiah di bayar Tunai!!!!"


"Saya terima nikah dan kawinya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!!!" Ucap Aan tegas.


Ali melepas pecinya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aan … siapa kamu nikahi?" tanya Ali.


"Ada yang mau ganti posisi saya?" tanya Aruna.

__ADS_1


"Aruna, diamlah, kasihan Aan semakin gerogi," tegur Ali lembut.


"Bapak wudhu dulu, selesai wudhu baru Kita ulangi lagi, tolong santai, fokus dan menyimak, jangan menghayal yang sesudah ini," pinta penghulu.


Aan tersenyum kaku, entah mengapa pikirannya tidak karuan, karena luapan rasa bahagia yang menggebu. Aan berjalan mengikutu petugas KUA yang memandunya menuju tempat wudhu, selesai wudhu, Aan kembali lagi bergabung dengan semua orang yang menunggunya ditempat Akad.


"Mari kita mulai lagi."


Penghulu :


"Bismillahir rahmanirrahiim ... Andika Tama Shiddiq bin Shiddik Mubaraq. Aku Nikah kan Dan Aku Kawin kan engkau dengan Aruna Sumira binti Wahyu Jayadi, yang telah menyerahkan padaku sebagai wali nya, dengan mas sepuluh juta rupiah di bayar Tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinya Aruna Sumira binti Wahyu Jayadi dengan mas kawin tersebut tunai!" Ucap Aan tegas dan lantang.


"Bagaimana para saksi?"


"Sah!" Seru Ali dan saksi yang lainnya.


Prakkk!!!


Dua gelang tangan terlepas dari tangan Deli, Sibki langsung mentupi dengan kakinya karena gelang itu akan hilang kembali.


Ali menatap ke arah Deli, lalu ke arah Sibki, dia melempar senyumannya pada Sibki.


"Mak, lepas," bisik Sibki pada Suminten.


"Deli?" ringis Suminten.


Sibki mengangguk.


"Alhamdulillah, ringis Suminten.


Sedang di depan sana. "Alhamdulillah," ringis Aan.


Penghulu memimpin do'a. Selesailah akad Nikah Aan dan Aruna.


Setelah menikmati hidangan yang tersedia dalam kotak, mereka segera meninggalkan KUA tersebut.


Sibki menggendong Deli, Suminten menggendong Dena, sedang Mastia menggendong Deli.


"Kami ingin menyicil hutang kami karena turut andil dalam perpisahan kalian, Aan bawalah Aruna, biar anak-anak sama kami dulu," ucap Sibki.


"Tidak bisa! Aku belum pernah berpisah mereka," protes Aruna.


"Cuma sehari," ucap Sibki.


"Sehari? Apa cukup?" sela Aan.


"Seminggu! Pas! Tidak ada nego lagi," ucap Sibki.


"Kami pulang duluan," sela Suminten.


Aruna bersalaman dan memeluk umak juga ibunya, serta menciumi anak-anaknya. Hatinya sungguh tidak rela berpisah dengan anak-anak walau sementara.


****


Bersambung ...


****


Setelah ini Author pamit gak up dulu ya, Author benar-benar sibuk. Kalau kalian tekan tombol love itu, maka jika ada up notif akan masuk ke pemberitahuan ponsel kalian.


Izin hiatus sebentar ya, makasih semua yang sudah dukung karya ini.

__ADS_1


Salam buat kalian semua😉🙃


__ADS_2