Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 110 Ikhlas?


__ADS_3

Aan masih berada di kantor ustadz Ali.


"Itu bukan kata-kataku Aan, tapi kata-kata Aruna yang disampaikan Sibki, aku dan Sibki pernah meminta dia untuk kembali padamu sebelumnya, tapi kami mendapat jawaban itu, sekarang aku melamarkan dia untuk sahabatku, aku yakin dia bisa menerima sahabatku, secara dia tidak bisa menolak karena aku atau karena Nurul," ungkap Ali.


"Ya Allah …" ringis Aan.


"Aan aku akan menikahkan mereka malam ini, di sini," ucap Ali.


"Ya Allah … adakah yang lebih indah dari ini? Ihklas! Kata yang singkat, tapi menjalaninya …." Wajah Aan masam mendengar kalau ustadz Ali akan menikahkan Aruna dengan orang lain, dari salah satu sahabat Ali.


"Assalamu'alaikum ustadz," salam Safta dan Ilyas.


"Wa'alaikum salam," jawab Ali, sedang Aan masih merundung nasibnya yang akan kehilangan Aruna kedua kali.


"Pak ustadz, teman-teman kita dari beberapa kabupaten dan beberapa kota sudah datang," ucap Safta.


"Alhamdulillah, jamu dulu mereka di rumahku, oh ya Nurul dan Umi pinta untuk pindah ke rumah bekas Sibki dulu, gak enak aku, semua temanku laki-laki, kalian layani mereka," pinta Ali.


"Baik pak ustadz," Safta dan Ilyas segera pergi dari kantor ustadz Ali.


"Aan, tolong malam ini bawa uang cash, aku takut kalau-kalau aku butuh bantuanmu," pinta Ali.


"Pak ustadz mau kemana?" tanya Aan.


"Mau memeriksa apakah calon Aruna sudah datang," jawab Ali.


"Aku ikut," ucap Aan dengan semangat.


"Ayo, tapi jangan bacok!" ledek Ali.


"Insya Allah tidak pak ustadz, saya belajar ikhlas, walau sebenarnya saya masih tidak rela untuk melepaskannya," ucap Aan.


"Lebai!" balas Ali.


Mendekati sore hari orang-orang di majelis Mahabbah semakin banyak, entah datang darimana, rumah-rumah milik majelis yang berada di lingkup majelis pun mulai dipenuhi teman-teman Ali.


Tidak lama dua buah mobil memasuki halaman komplek majelis taklim, saat penumpangnya turun ternyata Aruna dan umak abahnya, juga sikembar tiga dan Sibki, sedang di mobil satunya Jojo dan Mastia.


"Aruna, umak, ibu kalian bersama si kembar diminta ustadz Ali istirahat di rumah kontrakan aku dulu," ucap Sibki.


Aruna, Suminten dan Mastia menggendong anak-anak Aruna menuju kost an Sibki dulu, di mana di sana sudah ada Nurul dan umi Fatma. Sedang Sibki mengikuti mereka dengan menjinjing tas keperluan mereka.


Aan semakin sakit melihat kedatangan Aruna dan orang tuanya, membuatnya yakin, pernikahan Aruna dan teman Ali akan dilaksanakan malam ini.


***


Setelah sholat Ashar semua orang masih berkumpul di mushalla majelis itu.


"Safta, laporan dan izin sudah di dapat?" tanya Ali.


"Sudah pak ustadz," jawab Safta.


******

__ADS_1


Di kontrakan Sibki.


Aruna menagis dalam pelukan umi Fatma.


"Aruna tidak pantas umi …." ringisnya.


"Aruna, bukankah kamu sudah lihat video tadi? Jangan merendah, ini demi menyelamatkan Deli, kamu sayang Deli kan?" tanya Nurul.


Aruna mengangguk.


"Kalau kamu sayang terima pernikahan ini demi Deli, Dena dan Rayyan, walaupun Deli yang paling di utamakan untuk pernikahan ini," ucap Nurul.


"Tapi aku--"


"Sudah tidak ada tapi-tapi pilihan Ali yang terbaik!" sela Suminten.


Aruna tidak diberikan hak untuk menolak, dia pun pasrah malam ini harus menikah lagi.


***


Selesai sudah sholat magrib Sibki, Safta dan Ilyas juga yang lainnya sangat sibuk menyiapkan konsumsi untuk semua orang. Untung saja tiga Bodyguard Aan di tugaskan Aan untuk membantu mereka.


Tidak terasa isya pun kini sampai waktunya. Semua orang menjalankan ibadah sholat isya berjamaah. Selesai sholat isya berjamaah semua yang laki-laki keluar dari mushalla. Sedang Aruna, tiga anak kembarnya, Suminten, Mastia, Nurul, umi Fatma juga Ilham anak Ali dan Nurul diminta Ali masuk kedalam mushalla. Setelah semua yang di minta masuk pintu mushalla mereka kunci dari luar.


"Ingat semuanya kita jangan melawan, cukup hindari senjata tajam mereka," seru Ali.


Perkatan Ali barusan membuat suasana mencekam.


"Kalau kamu takut, kamu boleh kumpul sama istriku dan umi di dalam mushalla," sela Ali.


Aan diam dan kembali ketempat duduknya.


"Masih ingat instruksiku? Jangan melawan, hindari senjata mereka, cukup personel kepolisian yang bertindak," seru Ali.


"Baik ustadz," jawab semuanya.


"Ilyas, keluarkan manakein yang sudah kita kasih baju itu, letakkan di tengah-tengah," pinta Ali.


Yang tidak terlibat dalam acara ini semakin ketakutan melihat keadaan yang lain daripada biasanya.


"Sebenarnya ada apa ustadz?" tanya Aan.


"Beberapa orang yang terlibat dalam perampokan rumahmu dulu, mereka mengincar anakmu Deli, mereka merencanakan menculik Deli di rumah Jojo, namun aku sengaja memancing mereka kemari agar mudah menjerat mereka dengan hukum pidana yang berlaku, kamu tenang insya Allah Deli aman."


"Jadi semua ini?"


"Untuk melindungi Deli," jawab Ali.


"Masya Allah ustadz .…" ringis Aan. Aan langsung memeluk ustadz Ali.


Sudah sana kita gabung bersama yang lainnya, personel kepolisian juga sudah siaga, ayo kita siap-siap," seru Ali.


Belum berapa menit Ali dan Aan duduk datang segerombolan orang yang membawa sejata tajam. Mereka mengancam semua yang ada di sana dengan meng ayun-ayunkan senjata tajam mereka.

__ADS_1


"Jika tidak ingin ada pertumpahan darah, maka cepat serahkan anak itu!" teriak seseorang.


"Kenapa kalian ganggu kami? Kami hanya ingin melepaskan kelebihan anak ini," seru Ali.


"Justru kelebihan anak ini yang kami incar!" Seru yang lainnya.


"Cepat serahkan anak itu!" Teriak salah satu gerombolan itu.


Namun ustadz Ali dan rekan-rekannya hanya diam.


"Ambil saja anak itu! Jika ada yang melawan libas dia dengan senjata kalian!" Perintah yang lainnya.


Salah satu dari mereka maju mendekati yang mereka sangka itu anak kecil. Namun saat dia menyentuh targetnha, wajahnya terlihat sangat marah.


"Ki! Ini boneka!" teriaknya.


"Sialan! Berani-beraninya kalian mengerjaiku! Semua habisi mereka jangan tinggal satupun!" teriak seseorang yang di panggil Aki.


Serombolan orang itu mulai mendekati ingin menyerang Ustadz Ali dan para rekannya. Personel kepolosian yang berjaga sedari tadi langsung ambil tindakan.


"Berhenti atau kami tembak!" Teriak polisi.


"Lempar semua senjata kalian ke arah sana!" Teriak polisi lainnya.


"Bagaimana ini ki?"


"Turuti apa kata polisi itu, mudah bagi kita keluar dari penjara itu," perintah orang yang di panggil aki.


Semua gerombolan yang menyerang melempar semua senjata tajam merela ke sudut yang dimaksud polisi.


Setelah senjata tajam mereka lempar personel kepolisian segera memborgol mereka, namun sisanya terpaksa di ikat dengan tali, karena lumayan banyak orang yang menyerang.


"Komandan tunggu, sebelum dibawa netralkan dulu mereka, sebagian besar mereka mempunyai ajian," seru polisi yang tinggal dekat majelis itu.


"Biarkan mereka berjongkok di tanah lapang, saya dan rekan-rekan akan mengeluarkan ajian mereka," ucap Ali.


Semua penyerang saling pandang, sia-sia ilmu yang mereka kaji selama ini, karena akan di keluarkan paksa. Namun mereka pasrah, karena terlanjur terikat dan tidak bisa kabur.


Ali dan kawan-kawan sudah ambil posisi masing-masing mengeluarkan ajian para penyerang sebelum di gelandang ke kantor polisi. Semua anak buah tidak memakan waktu lama, hanya ketua mereka yang tidak cukup satu orang yang berusaha mengeluarkan.


Perlu waktu lama dan beberapa orang menangani ketua mereka itu, akhirnya semua kajian orang itu mampu mereka keluarkan. Semua penyerang dibawa oleh personel kepolisian ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Di ikuti Ilyas dan Safta juga pengacara yang di utus Aan untuk menjerat mereka semua dengan pasal yang berlaku.


Keadaan majelis kembali hening. Beberapa rekan Ali pulang, karena tugas mereka selesai. Hanya tinggal sedikit orang yang tersisa.


"Alhamdulillah … semua urusan dengan para paranormal itu selesai, ayo kita habiskan urusan malam ini dengan akad nikah Aruna dengan temanku," ucap Ali.


Glegggg


Aan seketika membisu.


"Ayo semua kita kedalam mushalla, akad nikah ini kita adakan secara keagamaan saja," ucap Ali.


"Ayo An, bukankah kamu sudah ikhlas?" tanya Ali.

__ADS_1


__ADS_2