
"Kak Nurul ... mereka orang tua kandung Aruna ...." ucap Aruna.
Gleggkkkk! Mendengar kata 'kandung' membuat Wahyu dan Suminten saling pandang, batin mereka bagai di sambar petir.
"Masya Allah ...." air mata Nurul bercucuran, menangis bahagia menyadari kebahagiaan Aruna. Karena dia sangat terharu, dia tahu selama ini Aruna merindukan kedua orang tuanya dan sekarang mereka bertemu.
"Ayo semua masuk ... kenapa hanya ngobrol di teras," seru Ali.
Mereka semua masuk ke rumah Ali, kecuali Ilyas, yang langsung permisi pulang.
Di dalam rumah mereka di sambut Fatma. Fatma juga menangis bahagia setelah mendengar semua cerita dari Aruna.
"Bu ... menetap saja di sini, di sini banyak rumah kosong, Aruna juga tinggal di bedagan milik majelis," usul Fatma.
"Tapi ... kami bekerja di rumah Tuan Andika," jawab Suminten lembut.
"Jangan panggil saya Tuan lagi, anggap saja saya seperti anak ibu dan Pak Wahyu," ucap Andika.
"Akh hemm!!" goda Ali
"A'a ...." tegur Nurul.
Andika tersenyum.
"Kalau ibu mau ... Ibu boleh tinggal di sini, saya juga punya lahan pertanian di sini, bapak dan ibu bisa bertani sambil mendalami agama di sini," usul Aan.
__ADS_1
"Tapi Tuan ...." Wahyu ragu.
"Mulai sekarang kalian bukan pembantuku, jadi jangan panggil aku Tuan," pinta Aan dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya.
"Terima kasih kak Aan ... abah sama umak di desa memang suka berkebun. Terima kasih banyak kak, sekarang Aruna bisa berkumpul umak abah di sini," ucap Aruna.
Sangat terlihat aura kebahagiaan di wajah Aruna, walau air mata harunya tidak bisa berhenti menetes membasahi pipi mulusnya. Mata, hidung dan area bibir Aruna terlihat merah, karena terlalu lama menangis. Tangis bahagia tentunya.
"Terima kasih nak Aan ... apakah kami bisa membalas walau hanya sedikit saja dari jasa-jasa anda?" ungkap Wahyu.
"Iya ... dengan apa kami bisa membalas jasa anda? walaupun tidak akan pernah lunas?" Aruna menambahi.
Aan terpana memandang kecantikan Alami Aruna. Dia tidak mendengar kata-kata Aruna barusan, dia terhipnotis dengan kecantikan Aruna.
"Menualah bersamaku dalam ibadah berumah tangga," ucap Aan.
Sedang Aruna menganga, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Nurul dan Fatma tersenyum, mendengar Aan melamar Aruna secara halus.
Suminten dan Wahyu saling pandang. Mereka bahagia Aan mengatakan perasaannya langsung. Namun mengingat kejadian sebelumnya yang menghampiri laki-laki yang menjadi suami Aruna, membuat mereka khawatir Aan juga mati jika menyentuh Aruna.
"Akkhhhhh hemm!!!" Suara batuk palsu ustadz Ali menyadarkan Aan dari khayalannya.
"Ini ... ngelamar apa ngegombal?" tanya Ali.
__ADS_1
"Haaa?" Aan tidak mengerti.
ditambah lagi melihat reaksi wajah Aruna, sebenarnya dia ingin tertawa melihat Aruna menganga, namun dia juga heran apa penyebab Aruna menganga dan mematung.
Nurul berjalan mendekati Aruna. Lalu menangkup perlahan dagu Aruna, agar mulut Aruna tertutup.
Perlakuan Nurul menyadarkan Aruna. dia menatap Nurul penuh tanda tanya. Nurul tersenyum.
"Tutup mulutmu ... aku tahu Aan ganteng, hingga kamu terpesona, aku takut lalat masuk ke mulutmu yang menganga," goda Nurul.
Semua masih diam karena perkataan Aan sebelumnya. Sedang Aan tidak sadar dengan perkataan sebelumnya.
"Aa ... sepertinya kita akan membayar lunas hutang kita pada Aruna," ucap Nurul bicara pada Ali
"Hutang?" Aruna semakin bingung.
"Kamu lupa ... karena kejailan kamu , kami menikah ...." sahut Nurul.
"Karena keisengan kamu ... aku masuk kamar istriku dengan wajah bodoh," tambah Ali.
"Dan kami akan membayar semuanya," ucap Ali dan Nurul bersamaan.
"Hei sudah ngobrol berdirinya ... umi pegal ...." sela fatma.
Semua orang segera duduk lesehan di lantai. Sedang Aruna dan Nurul segera ke dapur menyiapkan minuman. Selama di rumah Ali. Aan sedikitpun tidak merubah pandangannya ke arah Aruna. Saat Aruna akan balas memandang ke arahnya dengan cepat Aan merubah arah pandangannya.
__ADS_1
Semua orang tersenyum melihat tinggkah Aan, senang melihat Aan jatuh cinta lagi, namun juga kasihan, karena Aan tidak berani mengungkapkan perasaannya langsung.