Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 144 Extra Part


__ADS_3

Di rumah Ali.


Setelah semua selesai di kerjakan Ali, Nurul dan Safta berangkat menuju rumah sakit untuk mengunjungi Elna. Sesampai di rumah sakit mereka berjalan cepat menuju kamar perawatan Elna.


Didepan pintu kamar Elna.


"Berhenti!!!" Pinta Ali.


"Kenapa bi?" Tanya Nurul.


Ali langsung menetralkan sesuatu, " sudah, ayo masuk," ajak Ali.


Nurul yang masuk lebih dulu.


"Astaghfirull!" Nurul kaget melihat Elna terbaring di lantai tanpa busana. Ali dan Safta langsung berbalik ketika melihat keadaan itu sekilas. Nurul langsung berlari menarik sprai yang ada, dan menyelimuti Elna.


"Safta, kamu keruangan perawat, laporkan kejadian ini," pinta Ali.


Nurul dan Ali tidak berani menyentuh Elna, setelah perawat datang Elna di angkat kembali ketempat tidurnya. Dia di periksa beberapa perawat.


Elna mulai sadar.


"Apa yang terjadi El?" Tanya Nurul.


Elna membuang wajahnya ke arah lain, air matanya terus mengalir.


Elna tidak menjawab siapapun yang bertanya padanya. Hingga para perawat menyerah dan meninggalkan ruangan Elna.


"Darah?" Ali melihat bercak darah di lantai.


"Jarum infus dilepas begitu saja, kemungkinan darah itu berasal dari bekas selang infus itu" ucap salah satu perawat yang masih memeriksa Elna.


Ali membuka mulutnya ingin bicara.


"Tadi malam saya gelisah sus, saya tidak sadar melepas selang infus yang menancap," potong Elna. Elna sadar akan kelebihan Ali, dia tidak mau Ali mengatakan hal yang mungkin bisa dia tangkap.


Melihat Perawat pergi, Ali langsung buka suara. "Apa yang terjadi?"


"Saya di perkosa." Seketika tangis Elna pecah.


"Bagaimana bisa? Ini rumah sakit." Nurul tampak hancur melihat kesedihan Elna.


"Saya tidak tau ustadzah, saya sudah berteriak semampu saya, tapi tidak ada seorangpun yang mendengar." Tangisan Elna semakin pecah.


"Kita lapor polisi," seru Ali.


"Jangan! Saya ingin meminta pertanggung jawaban orang itu, saya mengenal dia, dia melakukan ini karena balas dendam," ringis Elna.


"Kalau dia tidak mau?" Tanya Nurul.


"Saya akan tanggung sendiri, karena ini balasan dari kejahatan saya," ringis Elna.


Nurul menangis sambil memeluk Elna. "Maafkan kami, seharusnya tadi malam kami kemari," ringis Nurul.


"Ini ganjaran bagi saya ustadzah, saya membuat Manda menderita, sekarang," Elna menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Nurul.


"Kami tahu kamu bersalah, tapi tidak juga harus menghukum kamu seperti ini," ringis Nurul.


***


Beberapa hari di Rumah Sakit akhirnya Elna bisa pulang, lebam pada wajahnya juga mulai memudar.


Dua bulan sudah kejadian itu berlalu. Elna mendatangi rumah Ali.


"Assalamu'alaikum ustadz,"


"Wa alaikum salam, Elna?" Nurul langsung menyambutnya.


"Ustadzah, apakah ustadz atau ustadzah bisa menemani saya ke rumah Sibki? Saya ingin minta maaf secara langsung dan juga ada hal yang ingin saya tanyakan mengenai kejadian malam itu."


"Tentu, kita akan ke rumah Sibki sekarang," seru Ali.


Mereka betiga juga Ilham anak Ali dan Nurul segera menuju kediaman Sibki.


***


Di teras rumah Jojo nampak asyik dua orang sedang bercanda, tawa keduanya hilang saat melihat sosok Elna turun dari mobil bersama Ali, Nurul dan Ilham.


"Assalamu alaikum," salam Ali, Nurul dan Elna.


"Wa alaikum salam," jawab Manda dan Sibki.


"Silahkan duduk," Sibki memecah kecanggungan.


Mereka semua duduk di kursi yang ada di teras rumah Jojo.


"Aruna mana?" tanya Nurul.


"Masih diseberang ustadzah, dia belum kesini," jawab Manda.


"Abi, umi kerumah Aruna ya, pasti Ilham senang kalau main sama Dena, Deli dan Rayyan," ucap Nurul.


"Iya," jawab Ali.


Nurul pamit, setelah pamit dia langsung berjalan menuju rumah Aruna.


"Maafkan aku Manda," ringis Elna.


"Kami semua sudah lama memaafkan kamu," jawab Manda.


"Penyiksaan yang aku alami karena guna-guna yang aku kirim, dan guna-guna kembali lagi padaku, kedua orang tuaku marah, usaha kami selama ini gagal, hingga mereka memukuliku tanpa ampun, mereka rugi besar, mobil yang di beli bapak hasil dari menjual warisan, lenyap begitu saja untuk membayar dukun itu, bapak dan ibu menyiksaku, jangankan dapat untung, mereka malah kehilangan mobil," Elna menangis. "Maafkan aku, bapak dan ibu sangat berharap aku menikah dengan pria yang mapan," ringisnya.


"Andai aku tahu kak Sibki--"


"Tidak Manda, Sibki orang baik, wanita seperti kamulah yang tepat mendampingi dia." Elna langsung memotong perkataan Manda.


"Kami semua memaafkanmu, tapi maafkan juga kami," Manda dan Elna berpelukan.


Elna melepaskan pelukan mereka.


"Manda, kamu tahu dimana rumah Ifin sekarang?" Tanya Elna.


"Lebih satu bulan ini aku mencari tahu kemana Ifin, aku beberapa kali datang ke desa kamu Manda untuk mencari Ifin, tapi hasilnya nihil," ucap Elna.


"Apakah Ifin?" Ali menyela.


Elna menganggguk, tidak terasa butiran bening terlepas semakin deras dari matanya teringat kejadian malam itu.


"Aku tidak tahu, tapi kak Sofyan yang tahu, ada apa kamu mencari Ifin?"


"Malam yang sama saat resepsi pernikahan kamu dan Sibki, Elna diperkosa orang, yang memerkosa Elna membuat dinding goib, sehingga dia bisa melancarkan aksinya malam itu, sekencang apapun dia berteriak tidak ada yang mendengarnya, kami pagi harinya menemukan Elna di lantai dengan keadaan yang sangat--" Ali menahan ucapannya.


"Kenapa Ifin melakukan hal itu? Dia orang baik," ringis Manda.

__ADS_1


"Dia balas dendam, dia marah karena perbuatanku padamu," Elna terus menangis. Perlahan Elna menceritakan kejadian malam itu.


Flash back.


"Siapa kamu?"


"Ifin? Mau apa kamu Fin malam-malam begini kesini?"


"Balas dendam padamu El,"


"Manda sudah memaafkan aku, lihat keadaanku sembuh karena mendapatkan maaf dari Manda."


"Itu terlalu mudah, kamu harus mendapatkan ganjarannya dan merasakan sedikit penderitaan Manda," Ifin mencabut selang Infus Elna kasar hingga darah keluar dari nadi Elna.


"Aww," rintih Elna, dia meraih kerudungnya dan membalut bekas infus yang mengeluarkan darah.


Ifin melepas ikat pinggangnya dan menurunkan celananya.


"Ifin!!! Jangan nekad kamu," Elna panik.


Ifin menariknya hingga Elna tersungkur di lantai. Dia menarik pakaian Elna kasar hingga pakaian yang di pakai Elna sobek.


"Tolong!!!!" Teriak Elna, dia kalah kuat melawan Ifin.


Ifin terus menyerangnya.


"Akkkkkkk" Teriak Elna Ifin merenggut mahkotanya dengan kasar.


"Sakit bukan? Ini penderitaan Manda lebih dari satu bulan, tapi lebih sakit penderitaan Manda," ucap Ifin penuh kemarahan sambil menghumjam keras melakukan aksinya kasar.


Elna pingsan karena perbuatan Ifin padanya.


Selesai menuntaskan aksinya Ifin meninggalkan Elna yang sudah tidak sadarkan diri.


Flash back off.


Manda tidak bisa bicara, dia langsung memeluk Elna lagi.


"Aku akan tanya Sofyan," Sibki mengetik pesan di ponselnya menanyakan alamat Ifin.


"Kenapa kamu tidak lapor polisi? Bukannya waktu itu semua bukti kuat?" Tanya Manda.


"Aku ingin tanggung jawab dari Ifin,"


"Dia benci padamu karena jahat pada Manda, bagaimana kamu yakin Ifin mau bertanggung jawab?" Tanya Ali.


"Walaupun tidak, aku akan mengurus anak ini sendiri," ucap Manda.


"Kamu hamil?" Tanya Ali, Manda dan Sibki.


"Balas dendam Ifin berhasil, dia berhasil membuat harga diriku tercoreng karena hamil tanpa suami, aku memang jahat, tapi kenapa balasannya seperti ini?" Elna terus menangis.


"Laporkan saja ke polisi El, aku yakin Ifin tidak akan bertanggung jawab," lirih Manda.


"Tidak Manda, biar aku tanggung semua kepedihan ini jika dia tidak mau," jawab Elna.


"Ini alamat Ifin." Sibki memberikan handphonenya pada Ali.


"Kita antar Elna kesana," seru Manda.


"Baik, El kita ke rumah Ifin sekarang," seru Sibki.


"Ustadz?" ucap Manda.


Setelah mobil Sibki pergi Ali segera menghidupkan mesin mobilnya, mobil Ali melaju perlahan menuju rumah Suminten. Dia berkumpul di rumah Suminten. Setelah merasa cukup, dia, Nurul dan Ilham putra mereka pamit pulang.


****


Di kediaman Ifin.


Nampak Ifin bersantai di teras rumahnya.


Dalam mobil Sibki.


"Ifin tidak seaqidah dengan kita, sapa dia dengan salam biasa," ucap Manda.


Elna dan Sibki mengangguk. Mereka bertiga keluar dari mobil bersamaan.


"Pagi Fin," seru Manda.


Wajah Ifin langsung terlihat marah melihat sosok wanita yang berjalan bersama Manda dan Sibki.


"Fin boleh kami masuk?" Tanya Sibki.


Ifin diam, dia bangkit dan membuka lebar pintu rumahnya.


Mereka semua masuk kerumah Ifin.


"Fin, Elna hamil," ucap Manda.


"Aku tidak akan bertanggung jawab," ucap Ifin sinis.


"Fin, kenapa kamu tega melakukan hal ini, harga diri Elna hancur karena ini," ringis Manda.


"Impas!" Seru Ifin.


"Apa kamu Tuhan? Seenaknya kamu menghakimi orang," bentak Manda.


"Kamu yang bodoh, orang jahat dimaafkan begitu saja, enak saja dia tidak dapat ganjaran apa-apa," seru Ifin.


"Tapi perbuatan kamu keterlaluan Fin," ucap Sibki.


"Masih besar penderitaan Manda, tapi dia sudah tahu bagaimana sedikit penderitaan Manda," Ifin menatap sinis Elna.


"Cara mencintai kamu salah El, aku juga mencintai Manda, tapi memastikan Manda bahagia walau tidak denganku, itu wujud cintaku, tapi kamu! Kamu menyakiti Sibki lewat Manda," ucap Ifin.


Diskusi berjalan alot, Ifin tetap kekeh menolak menikahi Elna, walau tahu kalau saat ini Elna tengah hamil karena perbuatannya. Mereka pulang dengan perasaan hancur.


"Maafkan kami El," ringis Manda.


"Ini salahku, andai aku tidak jahat semua ini tidak akan terjadi," ringis Elna.


"Aku akan pindah ke desa lain, aku tidak sanggup mendengar hujatan warga karena aku hamil tanpa suami, aku ikhlas, ini ganjaran buatku" Elna berusaha menahan tangisnya.


***


Empat bulan setelah pernikahan Sibki dan Manda.


Mereka semua kehilangan jejak Elna, mereka tidak bisa lagi membantu Elna, karena Elna hilang begitu saja.


Di rumah Sibki.


Manda nampak pucat.

__ADS_1


"Kamu sakit?" Sibki panik.


"Tidak tahu kak, tapi kepalaku sangat pusing," ringis Manda.


"Bawa Manda ke Rumah Sakit nak, pasti dia stres memikirkan Elna," usul Mastia.


Setelah bersiap mereka berdua menuju Rumah Sakit.


Di Rumah Sakit.


Manda tengah diperiksa dokter. Namun bukan keterangan yang mereka dapat, Manda disuruh periksa ke dokter kandungan. Dengan sabar Sibki mendorong kursi roda Manda menuju ruangan dokter kandungan.


Dia hampir bertabrakan dengan sepasang suami istri yang baru keluar dari ruangan dokter kandungan.


"Aan, Aruna?" ucap Sibki dan Manda bersamaan.


"Waw kalian kemari, sayang ... sepertinya kecebong kakakmu mulai berfungsi," ejek Aan.


"Ngapain kalian di sini?" ucap Sibki.


"Kami akan jawab, tapi setelah pemeriksaan Manda," jawab Aruna.


Aan dan Aruna duduk di kursi yang berjejer yang terletak di depan ruangan dokter. Sedang Manda dan Sibki masuk kedalam ruangan dokter itu.


Manda dan Sibki keluar dari ruangan dokter dengan senyuman yang lebar.


"Manda hamil," ucap Sibki bangga.


Aan dan Aruna tersenyum.


"Tunggu, kalian tadi juga ke dokter itu, apa Aruna?" Manda menerka.


"Part dua kami tengah tumbuh," Aan membelai perut Aruna yang masih kecil.


"Apa?" Wajah Sibki masam.


"Selamat!" Manda langsung memeluk Aruna.


"Iya, kamu juga, selamat ya ..." ucap Aruna.


"Memangnya cuma kamu yang bisa, kami juga masih bisa," seru Aan.


"Sudah, ayo kita pulang, kita beri kabar bahagia ini, mereka pasti bahagia saat mereka tahu mereka akan dapat cucu lagi dari kedua anaknya," seru Aruna.


Semenjak perpisahan mereka. Ikatan Aan dan Aruna semakin kuat. Kini kebahagiaan mereka makin memuncak saat mengetahui Aruna hamil lagi.


***


Di rumah Jojo.


Mastia dan Suminten memeluk Aruna dan Manda bergantian saat mendengar Aruna dan Manda hamil. Kebahagiaan begitu terasa dirumah itu.


"Terima kasih ya rabb, walau masa mudaku jahat, ternyata engkau memberiku kebahagiaan yang luar biasa di masa tuaku," ucap Jojo.


"Aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku sangat bahagia, pasukan kita akan nambah," seru Suminten.


"Aruna, punya kamu kembar lagi?" tanya Mastia.


"Enggak bu, kali ini cuma satu," jawab Aruna.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Aan melihat Aruna berjalan ke arah dapur.


"Aku pengen buah, aku ke dapur dulu," ucap Aruna.


Aruna pergi meninggalkan mereka semua.


"Kamu payah An, sudah lama menikah tapi baru sekarang jadi," Sibki menyindir.


"Enak saja, kalau kamu part satu nya bisa empat, boleh bilang aku payah. Kalau cuma satu, berarti kamu yang payah, lihat aku, sekali produksi langsung tiga," Aan menunjuk ke arah ketiga anaknya yang asyik bermain.


Wajah Sibki masam kalah bicara dengan Aan. Karena dokter bilang cuma satu yang ada di rahim Manda.


"Mau kemana kamu?" Tanya Sibki melihat Aan berjalan ke arah dapur.


"Kepo!!" Aan tetap berjalan kearah dapur.


Suminten dan Mastia tersenyum melihat kelakuan Sibki dan Aan.


"Aku juga mau ke dapur, ada buah apa saja didalam lemari es bu?" Tanya Manda.


"Ibu lupa nak, periksa saja sana," seru Mastia.


"Sini aku bantu," Sibki membantu Manda berjalan menuju dapur.


Setelah masuk dapur pemandangan yang dilihat membuat Sibki mual. Melihat Aan menyuapi Aruna potongan buah dengan mulut.


"Owh begini kelakuan kalian kalau di pojokan!" bentak Sibki.


Aan berhenti menyuapi Aruna dengan potongan buah yang ada di mulutnya, potongan buah itu dia makan sendiri.


"Kenapa? Iri bilang Bos? Ups aku lupa kalian masih baru pasti malu, beda kalau kami--" Aan mengejek Sibki.


"Malu? Enggak lah," seru Sibki.


"Enggak usah ngeles, kalian pasti masih malu-malu kucing, beda dengan kami," seru Aan.


"Kalau aku masih malu, ini gak bakalan jadi," Sibki membelai perut Manda.


"Kalian masih malu, kalian gak akan berani seperti ini," Aan menyerang bibir Aruna, mereka bersilat dalam dihadapan Sibki dan Manda.


"Siapa bilang aku malu, aku juga bisa," Sibki memojokkan Manda ketembok dan mulai ingin menyerang bibir istrinya, sebagai aksi balasan buat Aan dan Aruna.


Plakkkk!!!


Manda memukul bahu Sibki yang mencumbunya ditengah pintu dapur.


"Kamu yang enggak tahu malu!"


Sibki baru menyadari tatapan semua orang dari arah meja makan menatap tajam kearah dia dan Manda.


Wajah Sibki memerah menahan malu mencium istrinya didepan mata orang tuanya.


"Ku harap malaikat kecilku tidak melihat itu, kasian mata suci mereka ternoda!" Aan berlari menuju arah luar.


***


Melihat di ruangan itu tidak ada ada ketiga anaknya, Aan sungguh lega. "Oh … syukurlah pasukanku tidak di sini."


***


Tamat.


***

__ADS_1


__ADS_2