
Pagi pagi Suminten dan Wahyu bertamu kerumah Aan. Aan kaget saat menjawab salam, ternyata Orang tua Aruna yang bertamu.
"Masuk bu Sumi pak Wahyu..." lirih Aan.
Suminten dan Wahyu masuk ke kontrakan Aan.
"Nak Andika. Kami kesini mau minta maaf... kami ngga bisa Menolak lamaran yang datang pada Aruna..." lirih Wahyu.
"Iya nak Aan... Aruna menerima lamaran orang lain. Kami bisa apa? padahal kami berharap benar Aruna mau menerima nak Aan," lirih Suminten
"Bapak... ibu... jodoh itu di tangan Tuhan. Yah... Aruna jodoh nya orang. . mau gimana lagi saya..." jawab Aan yang terus berusaha tetap tertawa menutupi kehancuran hatinya.
"Siapa pak calon suami Aruna..?" Tanya Aan.
"Tunggu pak saya menerima telepon dulu," lirih Aan. Aan berjalan ke luar rumahnya mengangkat teleponnya.
"Assalamu alaikum Sibki..." seru Aan.
"Wa alaikum salam Aan," sahut Sibki.
"Apa kabar...? gimana kabar ibu mu...? kata nya kamu pulang karena ibu mu sakit," seru Aan.
"Alhamdulillah... ibu sehat...! ini ibu sama bapak lagi perjalanan ke sana. Aku nikah hari ini, di majelis," Lirih Sibki.
"Subhanallah... ibu sembuh dapat istri lagi...!!!
Terus gimana kabar nya Aruna..? kata Ustadz dia sama kamu." seru Aan
"Iya ini Aruna sama sepupu aku menuju kesana. Aan... mau ya jadi saksi nikah aku," Sibki memohon.
"Hem... iya apa yang enggak buat kamu. Aku turut bahagia. Eh... kapan nikah nya?" Tanya Aan.
"Siang ini..." jawab Sibki.
"Hemmm siapa calon nya?"
"Aruna..." jawab Sibki.
"Ahh hahhaahhahahaaaaa... Aruna... Masya Allah..." seru Aan
"Apa??? Aruna???" Lirih Aan baru sadar.
__ADS_1
Hati nya langsung nyeri. Aan memegang dada nya yang terasa sesak. Dan mengelus nya perlahan.
"Iya... Aruna .. siang ini kami akan melangsungkan akad nikah! sampai ketemu di sana ya Aan, kami mau melanjutkan perjalanan lagi. Assalamu Alaikum," seru Sibki.
"Wa alaikum salam," lirih Aan lemas.
Aan langsung mengunci pintu rumah nya, perasaan nya hancur, dia benar benar lupa kalau Suminten dan Wahyu berada dalam rumah nya. Karena kabar ini sangat menggoncang jiwanya. Suminten dan wahyu tidak melihat ketika Aan mengunci pintu rumah.
Aan berjalan menuju arah makan Maya, membawa perasaan nya yang begitu sakit. Hatinya sungguh sangat sakit. Mengetahui wanita yang dia cinta selama ini akan menikah dengan temannya, hatinya nyeri bagai ditumbuk balok kayu.
"Lama banget nak Aan terima telepon... kita pulang aja mak," Seru Wahyu.
"Ayuk bah... kita juga harus bersiap... emak rindu sekali sama Aruna," seru Suminten. Mereka pun berjalan ke arah pintu.
"Zekc zekc zekc...!!!" suara gagang pintu berulang kali berusaha dibuka Wahyu.
"Yah... di kunci mak... gimana kita?" Tanya Wahyu.
"Yah... kita tunggu nak Aan kembali. Pasti nak Aan ada urusan penting yang mendadak, hingga lupa kalau kita ada dalam rumah nya, nanti kalo nak Aan tidak kembali juga sampai nanti siang, kita lewat jendela saja keluar nya," jawab Suminten.
Mereka duduk kembali, sambil menunggu Aan.
Aan tengah ziarah di makam istri nya Maya.
"Hehehee... seperti ini ya rasa nya? perasaan Ustadz Ali Saat mendengar kita menikah dulu...
Ustadz Ali tidak sempat menyatakan cintanya pada mu dulu..! tiba tiba dia harus meng ikhlaskan cinta nya, bahkan menjadi saksi nikah wanita yang di cintai nya.
"Tapi kaka bukan Ali sayang... kaka bukan Ahli agama seperti Ali. Bagaimana kaka bisa sabar, redha dan ikhlas dan menjadi saksi nikah wanita yang kaka cinta setelah kamu. Kaka tidak setabah Ali..." isak Aan, Aan memeluk batu nisan Maya.
"Aku sudah menduga kamu mengunjungi Maya," seru Ali.
Aan kaget.
"Ustadz..."
"Aku mau do' a dulu buat kiyai mertua kamu dan istri kamu," lirih Ali.
Aan diam lalu mengikuti Ali ber do'a.
Mereka selesai.
__ADS_1
"Kalau kau tidak bisa jadi saksi nikah Aruna.. aku akan carikan ganti..." seru Ali.
"Jangan Ustadz... aku tidak mau mengecewakan Sibki, bagaimanapun Sibki sangat baik padaku," seru Aan
"Kalau gitu ayo kita kembali, keluarga Sibki sudah datang. Sibki dan Aruna belum sampai kemari, hanya tinggal menunggu mereka saja akad akan dilangsung kan," seru Ali.
Aan dan Ali pergi dari makam Maya.
"Astaghfirullah hal ÁDZIIM... Pak Wahyu dan bu Sumi terkurung dirumah ku!!! aku lupa kalau tadi mereka didalam!!!" Pekik Aan.
"Astaghfirullah... Dikira mereka kamu mengurung mereka agar pernikahan ini batal!!!" lirih Ali.
Aan dan Ali berlari bersama menuju rumah Aan.
Perjalanan Sibki dan Aruna.
"Sebentar lagi kita akan sampai..." seru Sibki
"Aku tidak menyangka Aruna! kau benar benar menemani ku di meja akad nikah nanti," lirih Sibki.
Mereka sampai di majelis taklim Mahabbah.
"Lho... kok kerumah kak Nurul?" Tanya Aruna
"Kamu ganti baju dulu di sini, nanti kamu ke mushalla bersama Nurul dan umi. Kalo Danu sama Rasda nggak perlu turun, kita langsung ke kotrakan ku," lirih Sibki. Danu dan Rasda mengangguk.
Terlihat Nurul dan Fatma berdiri di depan rumah menanti Aruna. Aruna turun dari mobil Sibki.
Fatma dan Nurul langsung berlari menyambut nya.
Setelah Aruna turun, Sibki langsung melajukan mobil nya menuju kontarkan nya.
"Aruna... maafkan umi... maaf umi sempat menuduh mu," ringis Fatma. Sambil memeluk Aruna.
"Aruna yang minta maaf, selama ini Aruna merepotkan kalian semua," lirih Aruna.
Aruna masih berpelukan bersama Nurul dan Fatma.
"Umak sama Abah aku di mana kak...?" Tanya Aruna.
"Mereka sedang ke rumah Aan..." jawab Nurul.
__ADS_1
"Selesai sama Aan mereka pasti kemari... ayoo ke dalam, kita dandani kamu pake tepung," seru Fatma.
Aruna tersenyum. Mereka masuk ke rumah Nurul, untuk mendandani Aruna.