Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 131, Extra Part Sibki. Lelah dan Lillah,


__ADS_3

Sore harinya Aruna pulang membawa beberapa map di tangannya dengan wajah masam menahan penat. Tidak lama ponselnya berdering.


"Assalamu alaikum kak," ucap Aruna lemah.


"Wa alaikum salam, bagaimana?" Tanya Aan.


"Maafkan aku, ternyata selama ini kaka sangat lelah," ringis Aruna.


"Maafkan aku, seharusnya tidak kamu yang mengurus, tapi harus kepercayaanku yang menerima semua berkas itu, maaf ya," ucap Aan lirih.


"Aku senang, setidaknya aku bisa membayangkan betapa lelahnya kaka bekerja selama ini, maafkan aku, aku mengira pekerjaan kaka mudah tinggal duduk santai sambil melihat pemandangan indah,"


"Lelah ku Lillah demi kebahagiaan semua anggota keluargaku, bagaimana urusan kantor?"


"Alhamdulillah semua lancar, kaka sudah sampai mana?"


"Mungkin sebentar lagi kami sampai di desa Pengkeh, kami istirahat sebentar tadi di rumah saudara bapak, kalo tidak salah pak Jago,"


"Owh, itu mertua Alis, orang tua Danu,"


"Oh iya, kok aku bisa lupa,"


"Ada ketemu Alis?"


"Tidak, di rumah pak Jago hanya dia dan istrinya,"


"Kaka jaga kesehatan, titip salam buat bapak sama abah,"


"Iya, kamu juga jaga kesehatan, maaf ya, pasti kaki kamu pegal,"


Aruna tertawa, karena dugaan Aan benar.


"Aku makin sayang sama kaka, kaka mengerjakan semua, tapi pulang tetap dengan senyuman di wajah kaka, sedang aku? Aku di bantu semua pegawai kaka, tapi aku tetap kewalahan, makasih kak sudah menjadi pahlawan dalam rumah tangga kita, aku baru bisa membayangkan betapa lelah dan stresnya kaka bekerja, setelah aku menjalani sedikit dari tugas kaka, aku baru mengerti betapa besar perjuangan kaka,"


"Berani sekali kamu memujiku, untung kita jauh, masalah kantor kamu yang sabar ya, itu dua hari lagi lho,"


"Pasti, kaka juga yang semangat disana,"


"Iya, kami melanjutkan perjalanan lagi, assalamu alaikum,"


"Wa alakum salam kak,"


Panggilan telepon Aan dan Aruna ber akhir.


"Aruna, baru pulang?" Sapa Mastia.


"Iya bu," Aruna melepaskan sepatunya, lalu meluruskan kakinya di sofa panjang.


"Masya Allah bu … ternyata berat banget tugas papa anak-anak, ini baru sedikit bu, biasanya lebih banyak berkas yang di bawa kak Aan pulang," Aruna meletakkan berkas yang dia bawa di atas meja.


"Amankan dulu berkas itu, kalau disini kerucilmu datang jadi bahan buat mereka main kapal-kapalan nanti," seru Mastia.


"Huuuh, ibu benar, permisi bu aku ke kamar dulu."


Dengan sangat berat Aruna menyeret kakinya yang pegal menuju kamarnya yang ada di rumah Mastia dan Jojo untuk mengamankan berkas pekerjaan Aan.


"Aruna … rendam kakimu di air hangat dan kasih sedikit garam," seru Mastia.


"Iya bu," jawab Aruna dari kejauhan.


Setelah meyegarkan diri Aruna bermain kembali dengan anak-anak yang lama dia tinggal karena membantu mengurus Manda.


***


Akhirnya Aan, Jojo dan Wahyu menemukan rumah mbah Keleng. Aan dan Jojo segera turun dari mobil menuju rumah Keleng. Sedang Wahyu tiggal di mobil istirahat meratakan pinggangnya yang sangat pegal karena terlalu lama duduk dalam mobil.

__ADS_1


"Tok tok tok tokkkk!!" Aan mengetuk pintu.


"Ada apa?" Seseorang membukakan pintu.


"Kami mau bertemu mbah Keleng," ucap Aan lembut.


"Ada apa?"


"Bisa kami bertemu mbah Keleng?" Ucap Jojo.


"Aku sendiri Keleng, kalian mau apa?"


"Kami ingin menebus semuanya," ucap Aan.


Keleng terdiam. Karena kalimat kunci langsung di ucapkan orang yang ada didepan matanya.


"Kami ingin menebus semuanya, tolong lepaskan gadis yang bernama Manda," ucap Jojo lirih.


Keleng melihat mobil yang tamunya bawa dan pakaian mereka.


"Aku tidak yakin kalian bisa," seru Keleng.


"Berapapun akan kami tebus, tolong …," pinta Aan.


"Baiklah, berapa kalian mampu?" Keleng menantang.


"Berapapun yang anda minta," jawab Aan santai.


"Satu miliar," ucap Keleng bangga.


"Bapak bawa uang berapa?" Tanya Aan ke Jojo.


"450 juta," jawab Jojo.


"Kalau tidak sanggup pulanglah, lebih baik buat melanjutkan hidup kalian daripada menolong gadis yang sedang sakaratul maut," seru Keleng.


Keleng langsung terdiam.


"Kami mau menebus semuanya, kami mohon, nyawa gadis itu lebih berharga," Aan memohon.


"Dia menantu kami, kami mohon, perjalanan kami kesini sangatlah panjang, tolong, kasihani tubuh tua renta kami yang menempuh perjalanan sepanjang ini hanya untuk menantu kami," ucap Wahyu yang baru mendekat.


"Wahyu?" Keleng terkejut melihat sosok Wahyu.


"Eleng?" Wahyu tidak kalah terkejutnya.


Keleng langsung memeluk Wahyu.


"Selama ini aku mencari kamu, saat aku mendengar berita tentang putrimu yang jadi korban Dantor," ringis Keleng.


"Putriku baik-baik saja, dia sudah menikah dan punya tiga anak kembar, ini suaminya," Wahyu menepuk bahu Aan.


"Wanita yang jadi korban tulahku?"


"Dia menantu kami, kamu ingat anak pertamaku dengan Wila?"


"Ingat, wanita yang pergi bersama juragan membawa anak laki-laki kalian dan meninggalkan anak perempuan bersamamu." Jawab Keleng.


"Kehidupan tua kami bersahabat, dia Jojo suami Wila, kami hidup berdampingan," ucap Wahyu.


"Kamu memang laki-laki baik Wahyu, padahal dia jahat padamu, tapi …,"


"Itu masa lalu, semua orang berhak hidup lebih baik,"


"Aku semakin bangga padamu, aku juga jahat padamu saat kita masih pemuda memperebutkan Wila, tapi kamu malah menyelamatkan nyawaku, aku selalu berharap bertemu denganmu dan membantumu, terimakasih akhirnya aku di beri kesempatan bertemu denganmu."

__ADS_1


"Mbah, maukah anda menerima penebusan kami," lirih Aan.


"Aku mau, tapi aku terlanjur mengucap satu miliar," ucap Keleng.


"Satu miliar?" Wahyu kaget.


"Andai aku tahu kalau itu menantumu, aku akan meminta mahar seribu rupiah Wahyu." Ucap Keleng lemas.


"Kami mohon, lepaskan Manda, kami sanggup menebusnya," seru Aan.


"Mari kita masuk kedalam rumah," seru Keleng.


Tapi kami mengambil mahar dulu kemobil," ucap Aan.


Aan dan Jojo menuju mobil mereka dan mengambil uang yang mereka sembunyikan sembarang tempat di sudut-sudut mobil itu. Setelah semua di ambil mereka segera masuk kerumah Keleng.


Mareka semua duduk leseh menghadap Keleng.


"Mbah, ini satu miliar buat tebusan dan ini 100 juta khusus buat mbah," Aan menyodorkan uang kehadapan Keleng.


Mata Wahyu melotot melihat uang tunai sebanyak itu.


"Maafkan aku Wahyu, andai …,"


"Mbah, itu rezeki mbah, kami ihklas," Aan memotong ucapan Keleng.


"Bagaimanan dengan guna-gunaku, di kembalikan atau di cabut?"


"Di cabut dan dihilangkan saja," jawab Aan.


"Benar kami ingin hidup tenang," sambung Jojo.


"Kalian datang di saat yang tepat, andai terlambat satu hari, nyawa gadis itu taruhannya, Wahyu maafkan aku, aku tidak tahu kalau itu menantumu,"


"Tolong akhiri penderitaan menantu kami," pinta Wahyu.


"Tapi satu hal, kami ingin tahu manusia yang berhati busuk yang memperbuat ini pada Manda, setidaknya beri kami petunjuk mengenali orang itu," pinta Aan.


"Untuk apa? Untuk balas dendam?" Tanya Jojo.


"Tidak, untuk jaga-jaga pak," ucap Aan.


"Baiklah, aku akan melempar tanda siapa yang memintaku melakukan ini, sekarang izinkan aku melepas kirimanku," ucap Keleng.


Mereka semua diam membiarkan Keleng melakukan ritualnya. Mata mereka melotot melihat sebuah bungkusan tiba-tiba ada di depan Keleng.


Keleng membuka bungkusan tersebut dan membakar satu persatu isi bungkusan tersebut, terlihat foto Manda dan beberapa helai rambut yang berlilit di foto itu. Keleng selesai.


"Bawalah pulang foto ini, dan kubur rambut ini," pinta Keleng.


Aan langsung menerima foto dan rambut itu, memasukan dalam plastik dan langsung menyimpan kedalam tas nya.


"Menantumu bebas," ucap Keleng.


"Alhamdulillah …," seru Aan, Jojo dan Wahyu.


Mereka bertiga berpelukan bergantian.


"Wahyu kamu?" Keleng keheranan.


"Aku sudah lama muallaf Eleng, berkat pertolongan menantuku," seru Wahyu.


Keleng menatap Aan lekat.


"Ada sesuatu yang mengarah padamu," ucap Keleng menatap Aan.

__ADS_1


"Oh tidak, aku tidak rela Arunaku," ringis Aan.


__ADS_2