Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 34* Ma'af kan Aku


__ADS_3

"Maafkan aku," ucap Ali yang baru datang, namun dia jelas mendengar pembicaraan mereka sebelumnya.


"Maafkan aku ... karena aku belum bisa membebaskanmu dari siluman iblis itu,


Aku pernah bilang, aku tidak bisa melakukan nya karena kau tidak se aqidah, sekarang ... kamu sudah islam, namun aku masih belum bisa melakukan nya. Maaf kan aku ..." lirih Ali.


"Aku masuk islam karena ke inginan dari hatiku. Bukan karena aku ingin pengobatan dari anda," jawab Aruna.


"Aruna belum bebas? Bukannya kamu sering ngeruqyah Aruna?" Tanya Fatma.


"Iya umi ... tapi hal inti ... harus yang menjadi suami Aruna yang melakukan nya," jawab Ali.


"Nikahi Aruna kak ..." seru Nurul.


Aruna dan fatma kaget dan menganga mendengar ucapan Nurul.


"Maaf Nurul ... aku tidak bisa," jawab Ali lembut.


"Aku juga ngga mau. Aku rela begini selamanya dari pada memainkan status pernikahan yang sakral." jawab Aruna tegas.


"Aruna benar, tidak baik mempermainkan status pernikahan. Aku mohon jangan pernah berpikir dan meminta aku untuk menikah lagi dengan wanita manapun. Karena hanya kamu Nurul yang aku cinta," lirih Ali.


"Aawww ... ohhhhh hoooo ... suit-suit ..."


pekik Aruna memecah suasana


"Apaan sih Aruna kamu teriak teriak gitu," kata Salha yang baru datang dari dapur membawa makanan yang sudah matang.


"Salha ... kata ustadz I love you ..." lirih Aruna

__ADS_1


"Ke kamu ...?" Tanya Salha.


"Masya ALLAH ... ke kak Nurul!!! cantik ...!!!" gerutu Aruna.


"Salah dengar kali kamu ... biasanya sih ... 'Ana uhibbuka Fillah' kali ..." seru Salha.


"Hem seperti itulah pokok nya," jawab Aruna sambil membantu Salha menghidangkan makanan.


"Entah siapa yang beruntung mendapatkan dua anak perempuan umi yang masih sendiri ini," lirih Fatma yang sedari tadi hanya tersenyum melihat Aruna dan Salha.


"Kapan sarapan nya yah ..." gerutu Nurul.


"Hem ... ada yang kehabisan tenaga karena fitnes tadi malam sepertinya," goda Aruna.


"Buggh!!!" Nurul memukul bahu Aruna. Aruna tersenyum.


"Akan ku balas kau nanti," bisik Nurul, Aruna membalasnya dengan senyuman mengejek.


Ali memimpin do'a. Selesai ber do'a mereka menyantap makanan yang tersedia.


***


Tidak ada angin, tidak ada hujan entah kenapa Andika pulang ke rumah besarnya, yang dijaga Suminten dan Wahyu. Andika berdiri mematung memandangi foto pernikahannya dengan Maya.


Perasaan nya kacau, dia masih sangat mencintai Maya, namun kenapa rasa cinta untuk wanita lain juga tumbuh dan mulai memenuhi hati nya.


"Permisi tuan ... ini kopi nya." kata Suminten


"Tuan kenapa?" Tanya Suminten lembut.

__ADS_1


"Aku hanya merasa mengkhianati istri ku, entah kenapa ada wanita asing yang mengisi hatiku, walau kami belum saling kenal," lirih Aan.


"Maaf tuan ... istri anda kan sudah meninggal, dia pasti mau tuan melanjutkan hidup tuan dengan kebahagiaan baru," jawab Suminten.


"Tapi istri saya meninggal dengan cara yang tidak wajar bi Sumi, dia seperti di guna-guna orang," lirih Aan.


Suminten memeluk erat nampan yang dia pegang, dia tidak kuasa menahan rasa sakitnya. Terbayang nasib yang di alami anak yang selama ini dia besarkan, yang mendapatkan segala penyiksaan dari warga desa.


"Bik Sumi ... bik Sumi kenapa?" Tanya Aan.


"Anak saya ..." lirih Suminten.


"Anak bik Sumi juga meninggal dengan tidak wajar?" Tanya Aan.


"Bukan ... seseorang pasti mengguna-guna anak saya. Setiap kali anak saya menikah, pasti suami nya mati dimalam pertama mereka. Anak saya tidak memakai apa apa ..." tangis Suminten pecah.


"Di mana anak bik Sumi?"


"Anak saya ... 'anak saya disiksa warga desa, Anak saya di bakar hidup hidup, namun karena hal aneh dalam dirinya, dia tidak tersentuh api sedikitpun.


Akhir nya warga desa mengikat nya, dan melempar anak saya ke sungai," lirih Suminten, ia berusaha menahan tangis nya, namun air mata nya tidak bisa di bendung. Jika teringat perbuatan warga desa pada Aruna.


Sungguh sakit hati Suminten jika terbayang kembali bagaimana warga desa meng eksekusi Aruna,


"Apa sebab itu bapak dan ibu pergi dari desa kalian?" Tanya Aan


Suminten mengangguk dan bersaha menghapus air mata nya yang terus menetes di pipi nya.


"Kami tidak mampu lagi tinggal di desa kami tuan. Sungguh sangat menyakitkan melihat setiap orang di desa itu. Mereka menyiksa dan menghukum Anak saya. Anak saya juga tanpa mereka hukum sudah tersiksa, dia tidak pernah jadi pengantin sesungguhnya ..." ringis Suminten.

__ADS_1


"Maaf tuan ... saya terbawa suasana," lirih Suminten dan menghapus air matanya kembali. Lalu permisi pamit ke dapur untuk melakukan pekerjaan lain nya.


Sedang Aan kembali memandang foto pernikahannya dengan Maya. "Maafkan kaka sayang, entah kenapa perempuan itu sangat mudah masuk ke hati kaka," gerutu Aan.


__ADS_2