
Suara corong mushalla dekat rumah Sibki terdengar keras membuat mata mata yang terpejam rapat membuka mata mereka, mendengar lantunan Tahrim subuh.
Aruna bangun, mata nya masih sembab karena terus menangis sebelum tidur nya. Aruna langsung mandi dan Wudhu. Dan keluar dari kamar mandi dengan baju yang baru dia pakai.
"Aruna Maafkan kaka..." lirih Sibki melihat Aruna baru keluar dari kamar mandi.
Namun Aruna hanya menunduk dan terus berlalu tanpa menghiraukan Sibki. Aruna menunaikan Sholat sunnat subuh dan sholat subuh di kamar nya, kemudian dia membaca surat Al-Waqi'ah dan membaca surah yasin. Lalu amalan yang pernah di berikan ustadz Ali.
Selesai semua tugas nya dia keluar kamar dan pergi ke dapur. Ternyata para pembantu Pak Jojo sudah memasak. Tadinya Aruna ingin membantu, tapi melihat Sibki juga ada di dapur Aruna kembali ke kamarnya. Namun langkahnya tertahan karena Pak Jojo berdiri di depan nya.
"Aku ingin bicara," kata Jojo.
Aruna segera mengikuti langkah kaki Jojo.
Mereka sudah duduk di kursi tamu, tidak lama Sibki dan Mastia bergabung duduk bersama.
"Hari ini kakak ku akan datang kemari. Mungkin sebentar lagi, beruntung dia masih di kota belum pulang ke desa, jadi kita akan sama sama ke tempat Ali. Sibki sudah meminta Ali menyiapkan Akad nikah kalian di sana secara Agama dulu." lirih Jojo.
Aruna menunduk, dia tidak punya muka untuk memandang Sibki maupun Ayah nya.
"Aruna... apa kamu setuju karena setelah nya kalian akan melangsungkan akad nikah disana?" Tanya Mastia.
"Aruna ikut apa saja yang menurut kalian baik," jawab Aruna masih menunduk.
Sibki berbisik kepada bapak nya, Jojo mengangguk.
"Aruna... jangan terlalu merasa sedih. Manusia tempat salah khilaf... jangan terlalu berduka kamu karena kekhilafan mu. Minta ampun dan taubat yang benar, insyha Allah kamu diampuni Allah." lirih Jojo
Namun Aruna tetap diam.
"Aruna silahkan kalau kamu mau kembali ke kamar," seru Jojo.
Aruna langsung pergi ke kamarnya tanpa suara dan terus menunduk.
"Pak... kok ke kamar...? ngga di suruh makan dulu?" Tanya Mastia.
__ADS_1
"Nanti diantar ke kamar nya, Aruna nggak bakal bisa makan kalau ada Sibki di sana." sahut Jojo.
"Weiih... bangga nya aku sama calon mantuku... udah cantik pemalu lagi, zaman sekarang hanya sedikit perempuan yang pemalu, yang banyak malu malu'in" lirih Mastia kegirangan.
Sibki dan orang tuanya sarapan di meja makan, sedang Aruna sarapan sendiri di kamar nya.
Sekitar jam 7 pagi, suara riuh terdengar di halaman rumah. Namun Aruna tetap betah di kamar yang ia tempati.
"Bu... kita berangkat sekarang...!!" Teriak Jojo dari luar
"Iya pak..." jawab Mastia.
"Aruna... yukk kita berangkat, itu sodara nya bapak sudah datang," Seru Mastia.
Aruna segera berdiri dan berjalan mengikuti Mastia.
Aruna terus menunduk hingga saudara Jojo dan keluarga nya tidak bisa melihat Wajah Aruna.
Kakak Jojo dan istri nya masuk mobil mereka bersama Mastia
"Aku nggak mau cuma berdua sama kak Sibki pak," sahut Aruna.
"Kalian nggak berdua... didalam mobil itu ada sepupu Sibki dan calon istri nya," sahut Jojo.
Aruna lega mendengar kalau dia tidak cuma berdua.
Mobil yang ditumpangi orang tua Sibki sudah jalan lebih dulu, Aruna berjalan menunduk menuju mobil itu. Aruna duduk bersebelahan dengan calon istri sepupu Sibki.
"Hei A' A' Aruna???" Lirih Wanita yang disebelah Aruna.
"Rasda...???
Kak Danu...???" Seru Aruna tidak kalah terkejut.
melihat wanita di sampingnya dan melihat pria di depan di samping Sibki.
__ADS_1
"Hei kalian saling kenal?" Tanya Sibki.
"Dia calon istri kamu Suli?" Seru Danu dan Rasda bersamaan.
"Yee aku nanya balik nanya... bukan nya jawab," seru Sibki.
"Rasda dan Kak Danu satu desa sama aku kak," jawab Aruna.
Flash back Warga desa meng eksekusi dirinya terbayang dibenak nya. Aruna tidak tahan dia turun dari mobil dan menangis.
"Danu pindah kamu kebelakang biar Aruna di depan sama aku," lirih Sibki.
Bukan cuma Danu yang turun Rasda juga ikut turun memastikan itu Aruna. Melihat Rasda turun Sibki sangat tahu bagaimana sikap Warga Desa pada Aruna lewat cerita Aruna dulu segera turun. Khawatir mereka berlaku buruk pada Aruna.
"Aruna...? Apa aku bilang, aku yakin kamu baik baik aja," lirih Danu tersenyum melihat Aruna.
"Suli... kamu yakin menikahi siluman ini...?, sudah banyak lho korban liang maut ini, seperti nya kamu cuma bunuh diri menikahi wanita ini," lirih Rasda.
"Danu... tolong kamu ajari calon istri mu jaga sikap, jangan menghina calon istriku Rasda!" Bentak Sibki.
"Tapi Rasda benar kak... aku nggak mau bunuh orang lagi..." pekik Aruna.
"Tidak benar... kita lawan sama sama siluman itu... kamu bukan siluman... yang siluman itu yang mengguna guna kamu! kita lawan sama sama, kaka rela membayar kebebasanmu dengan nyawa kaka," lirih Sibki.
Aruna semakin menangis mendengar kata kata Sibki.
Sedang Rasda sangat marah melihat bagaimana Danu memandang Aruna.
"Sudah... kita ke tempat Ustadz Ali. Kita resmikan hubungan kita... kamu pasti rindu sama umak dan abah bukan?" Lirih Sibki
Aruna mengangguk,
"Ayo... kamu duduk di depan... biar kaka semakin semangat," Seru Sibki.
Mereka masuk mobil, setelah semua masuk Sibki menghidupkan mesin mobil dan melajukan nya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1