
Setelah selesai Dzuhur, semua nya menyantap makanan yang masih ada. Mereka semua duduk berkumpul teras Mushalla.
Aruna memberi kode pada ustadz Ali. Kalau ia ingin bicara. Ali membalas kode Aruna dengan isyarat mata menunjuk kearah kebun bunga di samping Mushalla. Aruna segera bangkit, dan berbisik pada Suminten kalau dia permisi.
Aruna sudah berdiri di tempat yang Ali isyaratkan
"Assalamu alaikum," sapa Ali datang bersama Nurul istri nya.
"Wa alaikum salam ustadz," jawab Aruna.
"Ada apa Aruna?" Tanya Ali.
"Ada yang mau saya tanyakan Ustadz," lirih Aruna
"Silahkan," jawab Ali.
"Pak ustadz... saya ditanya Kak Aan, tapi saya tidak tahu apa pertanyaan itu, bagaimana bisa saya menjawab nya ustadz..." lirih Aruna.
"Apa pertanyaan Aan?" Tanya Ali.
"Apa ya...?" lirih Aruna sambil berfikir.
"I miss you...?" Tanya Nurul.
"Bukan..." lirih Aruna, Aruna masih berfikir.
"Ana uhibbuka Fillah... ku mencintaimu karena Allah," Nurul bersenandung.
"Makasih kak Nurul... suara Merdu kak Nurul buat otak aku encer," seru Aruna.
"Terus apa pertanyaan Aan...?" Tanya Nurul.
"Hem... lupa sih lengkap nya tapi gini... Aruna... apa ya...?, mari mi?" ucap Aruna sekenanya
"Ooh... Will you marry me?" Tanya Ali.
"Nah itu tepat sekali pak Ustadz!!!" Seru Aruna.
Ali langsung memasang Wajah marah, Nurul ingin tertawa, melihat mimik wajah Ali pura pura marah.
"Artinya jelek pak ustadz," ringis Aruna, dia takut melihat wajah marah Ali.
"Andika Tama Shiddiq!!! kemari!!!" Teriak Ali.
Aan yang sedang santai bicara dengan Jago dan Jojo permisi undur diri, lalu dia berlari kearah Ali yang memanggil nya.
Aruna semakin takut mendengar teriakan Ali.
__ADS_1
Dia langsung memeluk Nurul, Nurul dengan senang hati menerima pelukan Aruna.
"Aaa... jangan keras keras ya..." lirih Nurul membantu sandiwara Ali.
"Assalamu alaikum Ustadz," lirih Aan yang sudah sampai.
"Wa alaikum salam," jawab Ali dan Nurul.
Aan heran melihat wajah Ali nampak marah, dan melihat Aruna yang menangis dipelukan Nurul.
"Ada apa pak Ustadz...?" Tanya Aan.
"Aan...!!! kamu tahu dari mana Aruna berasal?" Bentak Ali. Ali melepas peci putihnya lalu melipat nya.
"Apa maksud pak ustadz ? saya tahu. Dan Saya tidak perduli dari mana asal Aruna," jawab Aan.
"Pukk!!! pukk!!! pukk!!!" pukulan dari lipatan peci Ali mendarat di bahu Aan.
"Kamu tahukan Aruna dari desa..? dia cuma tamat SMP! SMP di desa jarang ada yang mengajarkan bahasa inggris secara menyeluruh!!" bentak Ali.
Ali menarik nafas kasar dan menghembuskan semua nya sekaligus.
Aan meringis menahan rasa karena sisa pukulan Ali.
tidak sakit, tetapi kaget.
Aan mulai faham apa maksud Ali. Dia tersenyum sambil menggaruk kepala nya.
"Lamar dia dengan bahasa yang dia mengerti "lirih Ali. Ali melepas tawa nya, karena dia lelah menahan nya dari tadi.
Aruna mendengar Ali mengikik melepas pelukan nya pada Nurul. Aruna menatap Ali, sungguh mengherankan, tadi marah, sekarang tertawa.
Aan mengangguk, dia mengahadap pada Aruna yang berdiri di samping Nurul.
"Aruna... "Will you marry me" artinya... mau kah kamu menikah dengan ku," kata Nurul sambil mentoel hidung Aruna
"Haaa???" Lirih Aruna tidak percaya.
"Apa cuma itu jawaban nya...? dari tadi aku bertanya jawaban nya juga Haa!!!," Seru Aan
"Kau orang cerdas yang bodoh!!!" Bentak Ali.
"Apa sulit nya melamar dengan bahasa yang dia mengerti..." lirih Ali.
"Baik Ustadz..." seru Aan.
Aan mendekati Aruna.
__ADS_1
"Aruna..."
"Salah! lamar sana sama bapak nya!!! Aruna sudah tahu kamu melamar nya," seru Ali.
"Baik pak ustadz.." jawab Aan.
"Kemana kamu..?" Tanya Ali melihat Andika berjalan ke arah Mushalla.
"Ngelamar Aruna ke abah Wahyu...!!!!" Teriak Aan Sambil berjalan ke arah Mushalla. Hingga semua orang mendengar kata kata Aan
"Aruna... mari kita berkumpul ke sana," lirih Nurul.
Mereka berjalan kembali menuju Mushalla.
Aan sudah duduk di hadapan Wahyu dan Suminten.
"Bah... saya boleh ikutan panggil bapak dengan sebutan abah...?" Tanya Aan.
Suminten dan Wahyu mengangguk.
"Bah... abah tahu kan... saya mencintai anak abah sejak lama. Saya ingin melamar anak abah menjadi istri saya," lirih Aan. Peluh Aan mengucur di wajahnya, berapa kali sudah Aan menghusap dengan tangan nya.
"Kami terserah Aruna nak Aan. Abah sama umak sangat suka sama nak Aan, berkat pertolongan Nak Aan kami bertemu dan berkumpul kembali dengan putri kami, juga bertemu dengan putra kami," lirih Wahyu.
"Umak juga sangat suka sama nak Aan," lirih Suminten
"Aruna...?" kata Wahyu menatap ke arah Aruna yang hanya diam.
"Apakah abah sama umak bahagia jika Aruna menerima lamaran ini?" Tanya Aruna.
"Sangat..." lirih Suminten dan Wahyu bersamaan.
"Bismillah... Aruna siap jadi Istri kak Aan.
Tapi Aruna tidak akan bisa sehebat Maya, Aruna tidak kenal Maya. Tapi Aruna yakin Maya sosok yang luar biasa," jawab Aruna.
"Alhamdulillah..." seru semuanya.
"Alhamdulillah..." pekik Aan
"Aruna... jadilah dirimu sendiri, Maya yah Maya. Kamu yah kamu," lirih Aan.
"Bisakah kita lanjutkan pernikahan ini?" Seru Sibki
"Suli!!! apa kamu bodoh? Aruna adik kamu!" Bentak Jojo.
"Pak... lanjutkan pernikahan ini... Kumohon, tapi yang nikah Aruna sama Aan!" Seru Sibki.
__ADS_1
"Ini terlalu cepat!!!" Jawab Aruna dan Aan bersamaan.