Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 96. Rencana Berhasil


__ADS_3

Di tengah acara yang tengah berlangsung komplotan orang yang menyusun rencana jahat mereka ada di setiap sudut rumah Aan dan Aruna. Sepasang Mata itu terus mengawasi Aruna. Dia tersenyum melihat Aruna mencari-cari pengasuhnya. Dia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada chat groupnya.


"Sekarang!!!"


***


Di salah satu sudut...


Laily tersenyum Aan masuk perangkapnya, dia terus berjalan dan Aan terus mengikutinya.


"Brukkk" Seseorang menabarak Aan.


"Maaf..." seru orang itu. Namun tangannya mengambil dompet Aan. Sekejap mata dompet itu berpindah pada tangan yang lain.


Rekan yang menerima dompet Aan segera memasukan foto Maya almarhumah istri Aan dan mengeluarkan foto Aruna, namun dia terkejut memang ada foto Maya di balik foto Aruna. Dia segera menyerahkan dompet Aan pada rekan yang lain.


Aan terus fokus mengikuti Laily. Dia sangat penasaran kenapa Laily sangat mirip dengan Maya.


"Maaf pak... apakah itu dompet anda?" seru seseorang menepuk bahu Aan.


Aan menoleh ke arah yang orang itu tunjuk.


"Oh iya benar, terimakasih..." seru Aan. Dia melanjutkan kembali mengikuti Laily.


Laily berada di belakang rumah Aan sambil menerima telepon.


"Laily… dia beberapa langkah lagi sampai padamu," seru seseorang di seberang telepon.


Laily pura-pura berbalik.


"Tuan..." Laily langsung memutuskan panggilan teleponnya.


Aan diam tidak menanggapi.


"Maaf tuan, di dalam berisik makanya saya keluar untuk menelpon, tapi Rayan sama neneknya kok," seru Laily.


Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Aan.


"Silahkan tuan,"


"Ikut saya..." pinta Aan.


Aan dan Laily berjalan menuju gudang yang terletak di belakang rumah Aan, disaat yang sama Aruna berada di balkon kamarnya memantau dari atas. Senyumnya hilang melihat Aan dan pengasuhnya berjalan ke arah gudang.


***


"Bagus Laily… rencana kita berhasil," seru orang itu melihat Aruna yang nampak sedih di atas balkon sana. Dia semakin tersenyum melihat Aruna yang berlari di ikuti beberapa orang.


Aan dan Laily masuk kedalam gudang itu, supaya pembicaraan mereka tidak terganggu orang yang lalu lalang di luar sana. Rekan Laily yang lain langsung menahan pintu gudang dari luar.


Di dalam gudang….


"Apa kamu punya saudara?" Tanya Aan.


"Tidak tuan," jawab Laily.


"Kamu kenal dengan Maya?"


"Maya?" Laily menyeringai.


Aan mengambil dompetnya lalu mencari foto Maya.


"Ada apa tuan?" Tanya Laily.

__ADS_1


"Lihat... wanita ini sangat mirip denganmu," seru Aan.


Laily melihat pesan yang masuk pada ponselnya.


"Sekarang!!!"


"Owh... itu... ini bukan wajah asliku, nanti aku akan buka wajah asliku," seru Laily sambil menyimpan ponselnya.


"Apa maksud kamu?"


"berapa bulan ya? aku lupa aku menajalani operasi plastik agar mendapat wajah ini," seru Laily.


Aan mudur karena Laily mulai melepas kancing bajunya satu per satu.


"Apa yang kamu lakukan!" Bentak Aan.


"Melakukan tugasku," jawab Laily.


Laily meng acak-acak rambutnya membuat Aan semakin heran. Aan segera berlari ke arah pintu gudang, namun pintu itu tertahan dari luar. Laily mendekap Aan erat dari belakang.


"Ternyata wajahmu saja yang mirip Maya, tapi sifatmu tidak!!!" Bentak Aan.


Laily mengoles salap pemberian dukun itu ke hidung Aan sehingga Aan kehilangan keseimbangan. Laily mengetok pintu gudang tiga kali, orang di luar yang menahan pintu sedari tadi segera pergi. Laily melepas pakaian Aan dan pakaiannya, dia segera menarik tubuh Aan agar menidihi dirinya. Dengan susah payah karena Aan tidak sepenuhnya pingsan, hanya saja dia tidak bertenaga melawan Laily.


Laily selesai mengatur posisi Aan dan dirinya seolah bercinta.


"Brakkk" pintu gudang terbuka.


"Akkkkkkk...!!!" Teriak Aruna ketika matanya melihat pemandangan yang ada dalan gudang itu. Laily segera medorong Aan dan meraih pakaiannya. Sedang Aan mencoba mengumpulkan tenaganya.


Laily segera meraih pakaiannya karena yang lain juga datang ke gudang itu. Laily terus menunduk mendengari pertengkaran mereka.


Setelah pembicaraan yang panjang Laily diperbolehkan ustadz itu pulang. Laily langsung mengirim pesan pada rekannya. "Rencana berhasil"


***


*****


( kembali pada Saman)


Saman kini tengah di rumah sakit, luka bacokan dari Salsa lumayan dalam sehingga membutuhkan waktu lama untuk pemulihan. Di rumah sakit Jojo dan wahyu yang menemaninya.


Di rumah Sibki.


Aan berlari ke dalam rumah Sibki untuk melihat keadan Aruna.


"Apa hubungan Aruna sama Gurdi?" tanya Aan.


"Gurdi kaka Victor suami pertama Aruna, kaka ipar Aruna yang mati di bunuh istrinya," jawab Suminten dingin.


"Wanita itu istri Gurdi," seru Aan. Aan memberikan laporan penyelidikannya.


Aruna dan Suminten menatap ke arah Salsa.


"Wanita siluman..." seru Salsa. Salsa tertawa terbahak-bahak karena misinya gagal membunuh Aruna.


Tidak berselang lama petugas kepolisian datang membawa Salsa.


"Dia tahanan yang ada di rumah sakit jiwa yang melarikan diri," seru polisi sambil membawa Salsa yang terus-terusan tertawa.


******


"Aku ingin ke rumah sakit menjenguk Saman," seru Sibki.

__ADS_1


"Aku ikut…" pinta Aruna.


"Si kembar?" Tanya Sibki.


"Pergilah… umak sama ibu yang jaga," jawab Suminten.


Aan tidak di perdulikan semua orang. Penghianatan Aan membuat hati semua orang sakit tidak cuma Aruna.


***


Aruna dan Sibki pergi ke rumah sakit menjenguk Saman. Setelah menelpon bapaknya Sibki segera menuju ruangan yang di maksud Jojo.


"Assalamu alaikum…" sapa Aruna dan Sibki.


"Wa alaikum salam…" jawab semua yang ada di dalam.


Aruna dan Sibki berjalan ke arah Saman yang berbaring miring karena punggungnya terluka.


"Aruna? Sibki?" Seru Saman begitu bahagia melihat Aruna datang menjenguknya.


"Bagaimana keadaan kak Saman?" Tanya Aruna.


"Alhamdulillah… baik," jawab Saman.


"Terimakasih… kaka sudah melindungi saya," lirih Aruna.


"Setiap orang akan melakukan hal yang sama Aruna," jawab Saman.


Aruna menunduk.


"Aruna… aku bukan mengusirmu tapi… pulanglah… bayi-bayimu butuh kamu," lirih Saman


Aruna menggeleng.


"Apa karena Aan?" Tanya Jojo.


Aruna mengangguk.


"Maaf pak… melihat wajahnya Aruna semakin sakit," lirihnya.


"Kamu pulang sama bapak dan abah… Saman biar aku yang jaga," seru Sibki.


"Sibki benar… kamu pulang ke desa bapak, Wahyu… kamu dan istrimu juga ikut, kasian Aruna," pinta Jojo.


"Jika itu membuat Aruna tenang aku setuju," jawab Wahyu.


"Abah saja yang mengambil barang ke rumah Aan. Hati Aruna sakit bah melihat rumah itu," Air mata Aruna menetes.


"Maafkan abah dan umak, seharusnya kami memberitahu kamu kalau Laily dan almarhumah Maya bagai pinang di belah dua, abah dan umak tahu, tapi kami…"


"Sudah abah… setidaknya Aruna tahu kak Aan mencintai Maya lebih dari apapun, melihat wanita yang mirip Maya dia…" Aruna menghapus air matanya.


"Ayo… kita mulai dari awal," lirih Jojo.


Aruna, Wahyu dan Jojo pulang. Mereka bersiap pindah ke rumah Jojo.


***


Sibki dan Saman...


"Saman… kamu yakin melindungi Aruna hanya karena semata ingin melindunginya?"


"Eh… kamu bilang Aruna adik kamu, tapi kenapa aku baru tahu?" Saman merubah topik pembicaraan.

__ADS_1


"Saman… jawab pertanyaan ku," lirih Sibki.


__ADS_2