
Setelah urusan di majelis selesai, Sibki segera melajukan mobil menuju pulang ke rumah orang tuanya. Sesampai di rumahnya Sibki malah kaget melihat Suminten, Mastia, Jojo dan Wahyu kerepotan, karena si kembar tiga mengamuk.
"Ada apa ini?" tanya Sibki.
"Si kembar mencari mama mereka," jawab Suminten.
"Astaghfirullah, baiklah aku akan cari tahu kemana pengantin busuk itu sembunyi." Sibki sangat kesal.
"Pengantin busuk?"
"Ya iyalah busuk, kan tidak baru lagi," ucap Sibki. Dia meraih ponselnya dan menelpon beberapa orang.
"Kemana kita harus mencari indung nih bocah," ringis Sibki kesal.
"Kenapa?" tanya Mastia.
"Aan tidak di rumah yang di majelis ataupun rumahnya di komplek." Sibki semakin pusing melihat si kembar tiga terus menangis.
"Tanya ustadz Ali," pinta Suminten.
"Iya benar, tanya ustadz Ali, andai kita tahu begini gak bakalan misahin si kembar sama Aruna," ucap Wahyu berusaha menanngkan si kembar.
Sibki langsung menelpon ustadz Ali.
"Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam ustadz, ustadz minta bantuannya."
"Ada apa? Kenapa suara anak-anak menangis sangat jelas?"
"Ekornya Aan mencari indungnya, Aan dan Aruna tidak ada di rumah mereka, kemana kami harus mencari mereka ustadz?"
"Coba kamu cari di villa Aan yang ada di perkebunan, nanti aku kirim alamatnya," ucap Ali.
"Baik Pak ustadz, terima kasih."
"Assalamu'alaikum Sibki,"
"Wa'alaikum salam ustadz."
Panggilan telepon ber akhir.
"Bagaimana Sibki?" tanya Mastia.
"Nah ini dia alamat villa Aan, semoga mereka di sana," seru Sibki.
"Kenapa diam, ayo kita siap-siap ketempat Aan, kasian si kembar," pinta Sibki.
Semua orang segera menyiapkan keperluan mereka dan keperluan si kembar.
"Apa kita memang harus menginap? Kenapa tidak mengantar si kembar saja?" tanya Wahyu.
"Menginap atau tidak urusan nanti bah, yang penting persiapan dulu," jawab Sibki.
Setelah semua orang selesai berkemas, Sibki dan yang lainnya segera menuju villa Aan, dalam mobil Sibki ada Suminten, Wahyu, Dena dan Deli. Sedang dalam mobil jojo ada Mastia dan Rayyan. Mobil mereka melaju ber iringan menuju villa Aan.
***
Di rumah tahanan.
Para mantan dukun yang mendekam di penjara berkumpul di lapangan, karena ada acara di lapangan itu.
__ADS_1
"Ustadz yang mengantar kita ketempat ini tadi datang," ucap Darnawan.
"Kenapa dia datang? Dia ingin menertawakan kita?"
"Tidak, ustadz itu mau memberi kita pekerjaan, karena dia merasa merenggut pekerjaan kita, bagaimana keputusan kalian?" tanya Darnawan.
"Apa dia sehat? Kita semua menyerang dia, tapi dia malah mau memberi kita pekerjaan,"
"Bukan cuma itu, dia mencabut tuntutannya, dengan syarat kita tidak mengulangi perbuatan kita," terang Darnawan.
"Kita bebas?"
"Tidak semudah itu, hukuman tetap namun tidak seberat tuntutan awal yang mereka layangkan," jawab Darnawan.
"Maafkan aku, karena aku kita semua berada di sini "Darnawan memandangi wajah-wajah rekannya.
"Jika lepas dari sini, aku berjanji akan mencari nafkah dengan benar, sebelumnya aku malas bekerja namun aku ingin banyak uang, alhasil aku terjun dalam dunia mistis ini, ustadz itu memberi kita kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan kita, aku akan terima bantuanya."
"Aku juga."
"Aku juga."
"Aku juga." seru rekan yang lainya.
"Aku baru ngeh! Ternyata ustadz itu mengerti tabi'at buruk kita, kita semua malas bekerja keras, namun pengen punya banyak uang dengan cara yang mudah, tadi dia bilang, jika kita semua mau bekerja keras menguras keringat, dia bantu memberi pekerjaan buat kita semua," ucap Darnawan.
"Terima saja tawaran ustadz itu, setidaknya anak istri kita tidak kelaparan walau kita terkurung di sini," seru yang lainnya.
"Bukan cuma itu, kita akan di beri modal buat usaha, yah usaha yang tepat untuk kita jalankan di balik jeruji ini," ucap Darnawan.
"Aku menyesal telah berbuat jahat pada teman ustadz itu, tapi aku bahagia, andai kita tidak seperti ini, apakah kita akan bertemu ustadz sebaik dia?" Seru yang lainnya.
"Gila! Beberapa tahun ini aku tidak pernah menangis, lihat air mataku bocor."
Mereka semua tersenyum, ini pertama kalinya hati mereka tersentuh. Setelah acara selesai para mantan dukun itu kembali ke sel mereka masing-masing. Kecuali Darnawan, dia mendekati salah satu petugas.
"Pak sipir, bolehkan saya minta tolong teleponkan ustadz yang datang waktu itu?"
"Baik, kami akan telepon ustadz Ali,"
"Ustadz Ali?"
"Iya, namanya Ali, apa yang ingin kamu sampaikan?"
"Katakan sama ustadz, kami semua menerima bantuan beliau, juga … kalau tidak keberatan, utuslah pembimbing buat kami untuk mendalami agama selam di sini," pinta Darnawan.
"Dengan senang hati, masalah pembimbing untuk mendalami ilmu agama, disini juga ada yang mengisi dari pihak MUI,"
"Terima kasih Pak, tapi andai kata ustadz Ali bersedia mengutus seseorang pastinya …."
"Aku mengerti, silakan kembali ke sel Anda pak Darnawan, saya akan segera mengabari ustadz Ali."
*******
Di villa Aan.
Aruna memandangi pemandangan yang terhampar dari teras dekat kamar mereka.
"Ada apa?" Aan langsung memeluk Aruna dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Aruna.
"Aku rindu anak-anak," ringis Aruna.
__ADS_1
"Aku juga,"
"Kita pulang, aku tersiksa jauh dari mereka bertiga," Aruna memohon.
"Tidak, kumohon … tiga hari saja di sini, aku ingin melepaskan semua kerinduan ini tanpa ada gangguan, apalagi kakakmu si jomblo abadi itu kalau dia di sekitar kita, dia akan mengusili kita." Aan terus bermanja.
"Tapi …."
"Tidak ada tapi, kumohon … kita lama terpisah," bisik Aan.
Suasana menghangat karena kemesraan pengantin yang baru menikah tadi pagi.
"Aku sangat rindu mereka," rintih Aruna, "aku tidak sanggup menahan kerinduan pada anak-anak.
"Jangan sekarang kumohon …." pinta Aan. "Sekarang full time buatku," Aan semakin mendalami kegiatannya.
Gubrakkkk!!!
Suara lumayan keras terdengar dari luar.
"Apa itu?" Aruna terlihat panik.
"Kamu tetap di sini, biar aku cek," pinta Aan.
Aan langsung berjalan ke arah luar. Aruna sangat tegang menunggu Aan. Aruna mondar-mandir di teras kamar namun Aan tidak juga kembali. Perasaannya semakin tidak enak. Aruna memberanikan diri menyusul Aan keluar menuju ruang tamu villa itu.
"Kak Aan?" Ringis Aruna, dia gemetaran melihat Aan di sandera pria bertopeng yang menempatkan belati tepat di leher Aan. Sedang pria bertopeng lainnya juga memegang senjata tajam.
"Serahkan anakmu!" Bentak orang itu.
"Anakku? Jangan … anakku sudah bebas, dia tidak punya kelebihan apapun!" ringis Aruna.
"Serahkan anakmu atau suamimu ini mati!"
"Tolong, jangan sakiti anakku dan suamiku, ku mohon ...." tangis Aruna pecah.
"Cepat! Berikan anak itu pada kami!" Bentak orang itu.
"Jangan mendekat!" Teriak Aruna, karena salah satu pria bertopeng mendekat ke arahnya.
"Jika kami tidak bisa mendapatkan anakmu, mendapatkan dirimu juga boleh, secara …." orang itu terus mendekat.
"Jangan sentuh istriku!" Teriak Aan.
"Kalau kamu berontak lehermu putus, istrimu jadi janda lagi anak-anakmu jadi yatim," ancam yang lain.
Aruna panik karena salah seorang terus mendekat sambil mengacungkan belati yang dia pegang. Aruna berusaha merebut belati pria bertopeng itu, Aruna berusaha sekuat tenaganya merebut belati pria itu.
Mata Aruna melotot karena duel perebutan belati barusan.
"Aruna!" Teriak Aan, dia sangat panik melihat Aruna mematung dan bola matanya membelalak.
***
Bersambung,
***
Mohon Maaf ya readers, karena suasana mulai tidak enak karena pandemi, Author tidak bisa up rutin.
Author minta Maaf ya jika final nanti tidak seru. Author tidak bisa ber imajinasi lebih lagi, mohon pengertiannya ya readers ...😉
__ADS_1