Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 32* Malam Pengantin


__ADS_3

Awas Jomblo baper!


🔞🔞🔞


*****


Ternyata ponsel Nurul tertinggal di meja makan. Ide gila Aruna muncul.


"Bolehkah aku mengantarkan ponsel kak Nurul?" Tanya Aruna.


Semua orang mengangguk. Aruna dengan semangat berjalan menuju kamar Nurul.


'Tok tok ...'


Mendengar suara ketukan pintu membuat jantung Nurul semakin berdebar hebat. "Masuk!" ucap Nurul.


Melihat sosok Aruna yang ada diatara pintu, membuat Nurul menghembuskan napasnya, dia merasa lega, karena bukan Ali yang datang.


"Ehem ... dikira habibi qalbiy nya ya kak?" goda Aruna, saat melihat wajah Nurul yang nampak kaget melihat kedatangannya.


"Apaan sich ...." jawab Nurul.


"Emmm ... iya deh ... aku ngerti kalau aku di usir, aku kemari cuma nganterin ponsel kakak yang ketinggalan di meja doang!" Aruna memberikan benda pipih persegi panjang itu pada Nurul.


"Makasih ya Aruna ...." Nurul menerima ponsel yang Aruna berikan.


Aruna mengedipkan sebelah matanya dan mengancungkan jempolnya, menanggapi ucapan Nurul. Lalu segera keluar dari kamar Nurul.


Dengan langkah kaki yang begitu santai, Aruna keluar dari kamar Nurul dan kembali ke dapur berkumpul kembali dengan umi Fatma, ustadz Ali dan Salha.


Sorotan mata umi Fatma begitu penuh selidik. "Kamu pasti ngerjai Nurul lagi?" Tanya umi Fatma, saat melihat Aruna baru kembali.


"Emm ... enggak umi ...." jawab Aruna santai.


"Terus ... kenapa lama?" Tanya umi Fatma.


"Emmm anuu ... kak Nurul cuma pesan minta panggilin a'a Ali ...." ucap Aruna.


"Uhukkkk!" Ali yang tadi minum kesedek air, karena kaget mendengar ucapan Aruna, kalau Nurul memanggilnya. Ali menatap tajam Aruna, tanda meminta kejelasan Aruna. Aruna biasa saja menanggapi sorot mata Ali, ia mengangkat piring bekas makan mereka menuju westafel.


"Kalau nggak percaya nggak apa-apa ... ngga ada untungnya juga buat aku." Aruna berlalu begitu saja sambil membawa tumpukan piring ke dapur.


Umi Fatma berusaha menahan senyumannya, dia sangat tahu kalau Aruna bohong, namun kebohongan Aruna sangat membantu pengantin baru yg masih malu-malu itu menjadi lebih dekat.


"Aku permisi umi mau bantu Aruna nyuci," ucap Salha, dia segera menjauh dari meja makan dan menyusul Aruna.

__ADS_1


"Oh ... umi juga mau istirahat, umi capek, umi permisi ya Ali," ucap umi Fatma.


Ali tertinggal seorang diri di meja makan. Mau tidak mau Ali masuk kekamar istrinya, Nurul. Karena semua orang sudah meninggalkan meja makan.


Di kamar ...


"Assalamu alaikum," salam Ali.


"Wa alaikum salam." jawab Nurul.


Keduanya sama-sama berusaha menahan dentuman irama jantung, saat sepasang mata saling tatap. Nurul segera menundukkan pandangan matanya, sedang Ali, langsung mengalihkan pandangannya sambil menutup pintu kamar.


Ali berusaha santai, melangkahkan kaki menuju tempat tidur, padahal kakinya begitu gemetaran, dia duduk disisi tempat tidur yang satunya sambil melepas pecinya dan dia letakan di meja kecil yang ada didekat tempat tidur Nurul, sedang Nurul duduk disisi satunya, mereka saling membelakangi. Keduanya saling diam.


Ali bingung harus apa, Ali berusaha membuka pembicaraan mereka. "Kata Aruna kamu memanggilku, ada apa?"


"Apa? Aku tidak meminta Aruna apa apa," jawab Nurul.


"Astaghfirullah ...." ucap keduanya bersamaan, membayangkan kelakuan iseng Aruna.


"Apakah kata Aruna benar? Tentang do'a-do'a mu buatku?"


Sedang di sebelah sana Nurul diam, meremas jari jemarinya menahan malu. Bingung menjawab pertanyaan suaminya.


"Kalau tentang aku yang menyebutmu dalam do'a ku, itu benar," ucap Ali.


Nurul masih duduk membelakangi Ali, dia terus memejamkan matanya, antara malu pada Ali, bahagia karena bisa menikah dengan seorang yang sering dia sebut dalam do'a, dan geram serta kesal pada Aruna. Nurul membuka kedua matanya, dentuman irama jantungnya semakin menguat, saat melihat sosok Ali sudah berdiri tepat di depan matanya.


Senyuman indah terukir di wajah Ali. "Mau kah kamu sholat sunnah dua rakaat berjamaah denganku?" Tanya Ali lembut.


Nurul menganggukkan kepalanya. Ali merasa lega, itu isyarat Nurul siap melayaninya lahir batin sebagai istri.


"Bismillah ...." desah Ali, dia mendaratkan kecup*n halus di ubun-ubun Nurul, perlahan ciuman itu turuh, kebagian alis Nurul, hingga bibir Ali mendarat di bibir Nurul, dia mencumbu bibir Nurul lembut. Keduanya larut dalam persilatan lembut lidah mereka.


Ali menghentikan pertemuan bibir mereka. Berusaha menormalkan kembali ledakan perasaannya dan debaran jantung yang tidak menentu. "Ayo kita Solat sunnah dulu," bisik Ali, suaranya bergetar.


Nurul mengangguk pelan. Keduanya melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Mereka wudhu' bergantian. Nurul Wudhu lebih dulu, dia menyiapkan sajadah buat Ali, lalu menyiapkan sajadah untuk dirinya dan memakai mukenanya.


Pengantin baru itu kini melakukan sholat sunnah dua rakaat berjama'ah. Selesai sholat sunnah, Nurul mencium punggung telapak tangan suaminya. Sedang Ali, dia mencium pucuk kepala Nurul.


"Terima kasih karena menjawab cintaku dalam do'a mu," ucap Ali.


Ali membantu Nurul melepas mukena yang di pakai Nurul. Setelah mukena terlepas, tergerai rambut Nurul yang indah. Ali membelai rambut Nurul, dan merapikannya kesisi telinga Nurul.


"Subhanallah ... ratunya bidadari ...." ungkapan kekaguman Ali.

__ADS_1


Nurul tertunduk malu. Ali segera mengalihaka perhatiannya, tidak menyangka lisannya begitu lepas memuji kecantikkan istrinya. Dia merapikan sajadahnya, begitu juga Nurul, dia melipat mukena dan menyimpan kembali mukena dan sajadahnya pada tempatnya.


Nurul berlalu di samping Ali, namun, Ali langsung meraih tangan Nurul, lalu di dudukannya Nurul di sisi tempat tidur.


Ali membaca bismillah dan doa lain, lalu mengecup alis Nurul. Nurul hanya memejamkan matanya. Perlahan ciuman itu turun ke bagian wajah nurul, hingga ciuman itu berhenti di bibir Nurul, semakin lama semakin dalam, sedang tangannya menggerayang kemana-mana. Perlahan jemari Ali melepas apa yang Nurul pakai dan dia pakai tanpa melepas ciumannya. Nurul merinding saat tangan Ali terus menerus bermain manja padanya .


Ali menghentikan Aktivitasnya, "Apa kamu siap?" Tanya Ali.


Nurul mengangguk pelan.


"Maafkan A'a jika A'a terlalu menyakitimu," bisik Ali.


Nurul tersenyum, dia merasa hawa panas menjalar keseluruh tubuhnya. Nurur memberanikan diri dia mengangkat tangannya, lalu membelai wajah suaminya lembut dengan jemarinya. "Aku siap," ucap Nurul


Kegiatan terus berlangsung. Lama memberikan langkah awal agar nantinya Nurul tidak terlalu terkejut dengan kedatangan miliknya. Akhir nya Ali memasang ancang ancang untuk menggauli istri nya, dan ia ber do'a dalam hati :



Sesuatu tiba-tiba datang, perlahan dan semakin dalam. Nurul berusaha diam, tangannya mencengkram kuat apa yang dia pegang. Ali berhenti, menyadari istrinya merasa sakit akan kedatangan miliknya. Dia tersenyum. Melihat Nurul mulai santai, Ali melanjutkan kembali pergerakannya yang tertahan. Pergerakan yang dia mulai perlahan namun pasti.


***


Lama kelamaan, Ali mulai merasakan signalnya meninggi, karena lama bertamu di bawah sana, membuat sesuatu lepas dari kandangnya. Ali ber do'a dalam hati ketika intisari membuncah keluar.



Nurul semakin membisu, entah berapa kali dia merasakan puncaknya, mereka benar-benar mendalami puncak kegiatan mereka. Perlahan Ali melepas miliknya dari Nurul, ia berbaring di sisi Nurul denga napas yang tersengal.


Dan lagi ber do'a dalam hati.



Selesailah ritual malam pertama mereka.


Bagaimana mengungkapkan rasa bahagia ini? Ali sungguh bingung. Ali hanya menarik wanita yang terbaring disampingnya, masuk kedalam pelukannya. "Terima kasih karena mau menjadi istriku," ucap Ali diiringi napas yang masih memburu.


Ali melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah istrinya. sepasang bola mata itu bertemu. "Kenapa baru sekarang? Andai aku tahu perasaan kita bersambut, aku akan menikahimu lebih cepat," ungkap Ali.


Nurul membelai pipi suaminya, lalu menenggelamkan wajahnya dalam pelukan suaminya.


"Terima kasih ya Rabb, dari dulu aku mencintaimu, bahkan sebelum Aan menikah dengan Maya aku sudah jatuh cinta padamu, namun kamu terlalu istimewa buatku, ternyata ...." Ali semakin memper erat pelukannya. Perasaan bahagianya amat besar.


Nurul tidak bisa menjawab, wajahnya terus terasa hangat menahan rasa malu dan bahagia yang teramat besar, dia membalas pelukan suaminya, hingga mereka hanyut dalam tidur mereka. Karena Tenaga mereka terkuras melakukan ibadah malam pertama mereka.


Sulit di ungkapkan, seseorang yang selama ini disebut dalam do'a menjadi pasangan.

__ADS_1


*****


__ADS_2