Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 61* Terbongkar


__ADS_3

Salha merasa sangat bahagia, tidak pernah selama ini dia bisa sedekat ini dengan Aan. Bahkan tidak sebentar tapi lama. Berduaan di mobil, menyusuri jalanan, makan malam di restoran. Luar biasa kebahagiaan Salha, sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Aan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Nurul, karena malam ini ia diminta Ali menginap. Aan dan Salha sama sama turun dari mobil, Aan mengambil baju gantinya di kursi belakang. Lalu dia melangkah bersama Salha menuju rumah Nurul. Baru melangkahkan kaki di teras rumah Ali sudah membukakan pintu rumah menyambut mereka.


Setelah melangkah memasuki teras rumah Nurul, seketika bulu kuduk Salha berdiri. dia menyentuh kalungnya, memastikan kalung dari mbah Qiweh masih ada. Kalung itu masih ada. Hanya khasiatnya saja yang hilang, tanpa Salha sadari.


Setelah mengucapkan salam, dan Ali menjawab salam mereka, mereka semua masuk ke rumah Nurul.


"Shepps ...." Selintas bayangan putih melintas pada penglihatan Salha. Dia semakin merinding melihat bayangan tadi.


"Apa Maya marah ya? Melihat aku dengan suaminya?" Lirih hati Salha.


"Aan ... aku mau bicara dulu sama kamu, kita ngobrol di dalam, oh ya ... kalian sudah makan?" Tanya Ali.


"Sudah Ustadz," jawab Salha.


"Oh ... Salha, kalau begitu kamu istirahat saja, kamu pasti lelah," seru Ali.


Ali dan Aan duduk di kursi tamu, sedang Salha masuk ke kamarnya. Salha duduk di sisi tempat tidurnya, perasaan nya sungguh tidak enak.


"Apa ini karena tadinya aku terlalu bahagia ya?" Gumam Salha.


"Shatttttssss!" Sosok putih itu sangat nyata bagi pandangan Salha, wajanya memang benar-benar Maya.

__ADS_1



Sosok itu menghadap Salha yang duduk di pinggir tempat tidur,


"Ma--Ma--Mam--Maaaya ...." mulut Salha bergetar, sosok Maya sangat jelas di hadapannya.


"Salha ... apa salahku?" Kata sosok itu,


"Pergi! Pergi kamu Maya ...." Teriak Salha.


Ali, Aan, Nurul dan Fatma kaget mendengar teriakan Salha dari dalam kamar itu.


Mereka segeraberlari menuju kamar Salha. Salha tidak menyadari kedatangan Nurul, Fatma, Ali dan Aan. Dia hanya fokos dengan halusinasinya.


"Aku akan pergi ... jika kamu mengakui perbuatanmu dan meminta maaf pada semua orang yang menyayangi ku," sahut sosok yang hanya bisa dilihat Salha .


"Aku tidak mau! Aku tidak mau mengaku kalau aku yang nyantet kamu! Aku menyantet kamu, karena kamu mengambil laki-laki yang selama ini aku cinta! Aku ngga mau! Kamu yang salah bukan aku! Kamu yang ambil Aan dari aku!" Teriak Salha.


Mereka berempat yang melihat dan mendengar langsung kata-kata Salha hanya bisa menutup mulut mereka dengan telapak tangan mereka masing-masing, perasaan mereka hancur, ternyata Salha yang dianggap Maya sahabat tega membunuhnya dengan jalan halus. Hanya karena cinta buta Salha.


Sosok putih yang tadi nya berwajah Maya, berubah menjadi seram, seperti wajah hantu Valak.


__ADS_1


Salha menjadi semakin ketakutan, karena sosok Maya yang menjadi seram itu berusaha mencekiknya. Salha merasakan sosok itu mencekik lehernya.


"Bab--baik Maya, aku akan minta maaf pada suami dan keluargamu," lirih Salha.


Salha merasa sosok itu sudah melepaskan cekikannya. Namun sosok itu terus meneror Salha.


"AWAS SAJA SALHA, JIKA KAMU TIDAK MENGAKU DAN MEMINTA MAAF, AKU TIDAK SEGAN MEMBAWA MU KE ALAMKU ," KATA SOSOK ITU YANG HANYA BISA DI DENGAR SALHA.


"Shet ...." sosok itu muncul lagi tiba-tiba, hingga Salha pingsan karena ketakutannya.


Ali, Aan, Fatma dan Nurul kembali ke kamar mereka membawa perasaan hancur dihati mereka. Sedikit pun tidak pernah menyangka, kalau Salha yang disayangi Maya dan mereka sayangi sekejam itu hanya demi ambisi nya.


Aan bermalam di kamar yang biasa di tempati Aruna hanya bisa menangis dalam hati, dia sungguh tidak menyangka, apakah dia mampu memaafkan Salha, andai orang lain, Aan akan berusaha memaafkan.


Sedang Fatma menangis sejadi-jadinya di kamarnya, sambil memeluk foto Maya.


Sedang Nurul, dia tenggelam dalam dada suaminya, dia menumpahkan kesedihannya dalam pelukan Ali, suaminya.


"Kecurigaan kita ternyata benar Aa, Nurul harap besok Salha angkat kaki dari rumah kita ini, Nurul nggak mampu serumah dengan pembunuh adik kesayangan Nurul Aa ...." isak tangisan Nurul.


"Iya sayang ... kita istirahat dulu sayang ... ini malam yang berat," lirih Ali.


Mereka semua membawa duka mereka ke alam bawah sadar mereka, berharap terbitnya mentari besok pagi mengobati luka batin mereka.

__ADS_1


__ADS_2