
Semua orang larut dalam hangatnya kebersamaan sore ini. Ilyas mendatangi Ali dan langsung berbisik pada Ali.
"Semua persiapan sudah siap ustadz," bisik Ilyas.
"Siapa saja yg akan bantu?" Tanya Ali.
"Sibki, saya dan beberapa murid Ustadz yang lain," jawab Ilyas.
"Mereka sesuai petunjuk ku kan? maksudku mereka sudah menikah? Oh ... maaf ... bukan membuat mu dan Sibki baper ... tapi kalo mereka juga sama seperti kalian aku takut Dzikir kita semua lemah," seru Ali.
"Sudah pak ustadz, pak Jojo dan pak Wahyu juga ikutan," jawab Ilyas.
"Oh ... berarti itu sudah lebih dari cukup, hemm kamu sama Sibki nggak usah ikut dzikir, kamu awasi keadaan saja, jangan sampai orang orang ikut nonton. Kasian Aan," lirih Ali.
"Kenapa tidak perlu ikut ustadz?" Tanya Ilyas.
"Aku takut ... selama berdzikir nanti pikiran kamu sama Sibki menerka nerka yang Aan dan Aruna lakukan dalam tenda. Tenda? hei ... apa kain putih tadi sudah ...?"
"Sudah pak ustadz ... cek aja disisi arus sungai ... lengkap kalee ...!!! kanvas tidur tipis, bantal ... selimut ... sarung ... tinggal eksekusi ustadz," lirih Ilyas mesem-mesem.
__ADS_1
Belum di tempati Aan dan Aruna saja Ilyas sudah bisa mengetahui apa yang akan terjadi didalam tenda yang mereka dirikan di tepi Aliran sungai.
"Heh ...!!! apa ku bilang ... pasti kamu menghayalkan seperti apa mereka di dalam sana nanti!" Seru Ali.
Ilyas senyum senyum. Baru kali ini dia menemukan pasangan pengantin ibadah menggauli pasangan di aliran Sungai. Pikiran Ilyas cuma "Apa mereka bisa?" Secara disaksikan oleh beberapa orang, sekalipun mereka tidak akan melihat langsung. Karena Ali membuat tenda pembatas.
"Hei cepat kamu suruh pengantin perempuannya ganti baju, dengan baju putih yang sudah di sediakan Aan di kantor ku, suruh juga mereka Wudhu lebih dulu. satu lagi, bilang pada mereka kita menunggu di sungai," perintah Ali.
"Siap ustadz!!!" Jawab Ilyas.
Ilyas segera menghampiri Aan dan Aruna.
Aruna sudah mengganti baju pengantin yang kenakan tadi dengan baju gamis putih yang ada di kantor Ali. Wajah nya juga sudah bersih dari make up, karena diminta Ilyas Wudhu sebelum ke sungai.
Aruna dan Aan berjalan ber iringan menuju Sungai..Pemandangan baru dilihat, ada dua tikar yang digelar tidak jauh dari sungai.
Danu, Rasda, Nima dan Jago berdiri dari jauh melihat pemandangan di sekitar sungai. Aruna berjalan dengan santai melalui mereka. Mata Danu sunguh tidak rela melihat pemandangan ini. Rasda sangat kesal, karena Danu tidak lagi memperdulikan nya. Apalagi sejak keluar dari rumah Ali, Danu semakin dingin pada nya.
Tidak seperti sebelum nya, Danu tidak pernah bisa lepas memandang Rasda. Namun sejak bertemu Aruna, Danu benar benar melupakan Rasda.
__ADS_1
Pandangan Aruna terfokus pada orang orang yang duduk lesehan di tikar. Disatu tikar, Suminten, Mastia, Nurul, dan umi Fatma. Di tikar yang tidak jauh Jojo, Wahyu dan beberapa murid Ali. Mereka duduk dengan Shaf melingkar.
Aruna heran kenapa Nurul senyum-senyum nakal pada nya. Namun Nurul digepok Umi karena menggoda Aruna. Sedang Suminten sangat cemas, bayangan saat Viktor meninggal saat melakukan ritual malam pertama mereka sangat jelas dibenak Suminten. Suminten sangat takut Aan akan bernasib sama dengan Victor, suami pertama Aruna.
"Sabar ... kita do'a kan anak kita. Semoga guna-guna yang di titipkan orang jahat pada nya bisa keluar. Agar anak kita bisa hidup dengan normal kembali," lirih Mastia memeluk Suminten. Hati Mastia juga hancur saat mendengar kisah kelam Aruna.
Sedang Ali berada di pinggir sungai sendiri.
Ali melambai ke Aan dan Aruna isyarat memanggil mereka kesana. Segera Aan dan Aruna berjalan mendekat pada Ali.
"Kalian sudah Wudhu ...?" Tanya Ali.
Aan dan Aruna mengangguk bersamaan.
"Bagus ... apa kalian tahu kenapa aku memanggil kalian kemari ...?" tanya Aan
Aan dan Aruna menggeleng sama-sama.
"Kalian harus Melakukan hubungan badan disana," lirih Ali. Ali menunjuk ke arah tenda yang di kelilingi kain putih.
__ADS_1
"Apa???" Seru Aruna dan Aan bersamaan.