Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 132, Extra Part Sibki Arunaku.


__ADS_3

Keleng menatap Aan begitu lekat, ada sesuatu yang Keleng tangkap dari pemuda itu. "Ada sesuatu yang mengarah padamu," ucap Keleng.


"Oh tidak, aku tidak rela Arunaku," ringis Aan.


"Bukan pada istrimu, tapi padamu."


Plakkk!


Keleng memukulkan sarungnya ke kepala Aan,


"Awhh," ringis Aan.


"Selamat, untung kamu seorang yang taat, hingga guna-guna itu tidak mengenaimu, hanya mengincarmu, namun saat kamu lemah iman, maka hal buruk akan masuk," ucap Keleng.


Keleng mengambil sebotol botol air mineral yang bersusun di belakangnya.


"Campurkan air ini dengan air bersih, mandikan menantumu yang menjadi korbanku itu." Keleng memberikan sebotol air mineral pada Wahyu.


"Apakah kami sudah selesai?" tanya Aan.


"Sudah, Manda pun bebas, hanya menunggu pulih," jawab Keleng.


"Bagaimana organ in--"


"Tenang Wahyu, semua akan sembuh seperti sedia kala," sela Keleng memotong ucapan Wahyu.


"Baiklah, kami permisi pulang," ucap Aan.


"Tidak baik kalau kalian pulang sekarang, Wahyu kamu masih punya kenalan kan di desa Sebuku Naju? Bermalamlah dulu di sana, pagi-pagi baru kalian pulang, ada yang mengincar kalau kalian pulang malam-malam," usul Keleng.


"Kami memang berniat bermalam lagi di desa Sebuku Naju, abah pasti sangat rindu desa itu," ucap Aan.


"Baguslah," ucap Keleng.


"Kalau begitu kami pamit," ucap Jojo.


"Tanda orang yang mengguna-guna Manda, kaki kirinya akan pincang dan mengalami hal yang sama seperti Manda, ups ... maksudku, dia akan terkena penyakit kulit yang sama, saat Manda sembuh, Manda akan sembuh total jika engkau minta dia mandi dengan air itu," ucap Keleng.


"Terima kasih," ucap Aan.


"Saat dia mengaku dan meminta maaf, baru penyakit kulit pelaku itu hilang," ucap Keleng lagi


"Itu tanda yang sangat jelas mbah, terima kasih.


"Wahyu, maafkan aku," ucap Keleng lirih.


"Itu memang pekerjaanmu, aku tidak apa-apa, kamu mau membebaskan itu sudah cukup," Wahyu menepuk bahu Keleng.


"Jasamu karena menolongku yang lemas di sungai tidak akan aku lupakan Wahyu," ucap Keleng.


Wahyu tersenyum dan memeluk Keleng.


"Kita sudah tua Keleng, berusahalah menolong orang dalam kebaikan," ucap Wahyu sambil menepuk bahu Keleng.


"Kami permisi," ucap Aan.


Aan, Jojo dan Wahyu meninggalkan rumah Keleng dengan perasaan bahagia karena Manda bisa bebas. Mereka melanjutkan perjalanan pulang, namun bermalam lebih dulu di desa Sebuju Naju sebelum pulang ke kota.


Sesampai di rumah Jago mereka segera istirahat. Jago menyambut mereka dengan senang hati.


"Bagaimana tujuan kalian?" tanya Jago


"Alhamdulillah, tujuan kami tercapai, mantu kami bebas," jawab Jojo.


"Kalau begitu istirahat, perjalanan pulang kalian masih panjang," usul Jago.


"Abah …." Alis berteriak histeris, saat melihag Wahyu. Sangat bahagia setelah sekian tahun, akhirnya bisa bertemu lagi.


"Nak Alis," ucap Wahyu.


Alis memeluk Wahyu, "kangen sama Abah, sama umak, sama Aruna ...." ucap Alis.


Perlahan Alis melepaskan pelukannya pada Wahyu. Pandangan matanya tertuju pada Aan. "Ada a'a ganteng." Alis menyapa Aan.


"Apa kabar Lis?" sapa Aan.


"Baik a'a."


"Aruna kirim salam buat kalian," ucap Aan.


"Salam balik ya a'a, nanti ajak atuh Aruna sama si kembar main ke sini," pinta Alis.


"Insya Allah, jika saya sudah libur, kan perlu waktu lama untuk menempuh perjalanan ke sini," jawab Aan.


"Danu mana Lis?" tanya Jago.


"Di rumah Pak, anak-anak tidur, kata kak Danu aku saja yang kesini, agar ketemu abah," ucap Alis.


"Kami numpang lagi Lis di sini, besok kami lanjut pulang," ucap Wahyu.

__ADS_1


"Selamat istirahat ya abah dan semuanya, Alis pulang lagi, kasian kak Danu jagain anak-anak sendirian."


"Iya Lis, salam buat Danu," ucap Aan.


Alis mengangguk dan tersenyum. Dia kembali ke rumahnya dan Danu.


"Alis tidak disini Pak?" tanya Aan pada Jago.


"Danu dan Alis pengen mandiri sejak awal menikah, sekarang mereka sudah punya rumah sendiri," terang Jago.


"Ohh, pantas kami tidak ketemu pas kemaren," ucap Aan.


"Ya sudah, ayo istirahat, pasti kalian sangat lelah."


Mereka semua istirahat di rumah Jago.


***


Di rumah Sibki.


"Sibkiiii, ooh ... Sibki ku sayang ...." senandung Manda.


"Mak …." bisik Sibki memanggil Suminten. Tangannya mengusap tengkuk lehernya, bulu kuduknya berdiri mendengar senandung Manda yang terdengar begitu menakutkan.


Manda selalu bernyanyi dan berteriak asal-asalan, namun tiba-tiba diam seketika. Terkadang juga marah-marah, jika dia ingin berdua dengan Sibki tetapi ada yang lain. Susah di tebak. Suasana tenang sungguh sulit di dapat. Yang ada, hanya suasana tegang dan mencekam karena kelakuan Manda.


"Mak ...." panggil Sibki lagi.


"Ada apa?"


"Manda kok tiba-tiba diam?"


"Kita periksa," usul Suminten.


Sibki, Suminten Sofyan dan Tiar, segera mendekati Manda dan memeriksa keadaan Manda.


"Alhamdulillah dia masih bernapas," ringis Sibki.


"24 jam nyanyi terus mahkluk halus juga bisa capek," bisik Suminten.


"Kalau Manda diam aku jadi sedikit tenang, jujur mak, aku takut mendengar Manda menyanyi dan memanggil namaku terus menerus," bisik Sibki.


"Ibu juga ikut merinding," sela Tiar.


"Ya sudah, kamu tidur duluan, umak yang jaga, kita tidur gantian," usul Sumimten.


Sibki mengambil bantal dan selimut, lalu berbaring disalah satu sudut kamar, sedang Suminten berusaha jaga memberikan kesempatan Sibki untuk tidur sambil membaca Al-qur'an di samping Manda. Sedang Sofyan duduk di ruang tamu.


Jam menunjukan jam 01:00 Sibki terbangun.


"Maaf mak, aku kelamaan tidur," ucap Sibki.


"Tidak nak, ayo wudhu dulu, sholat, minta kesembuhan buat istrimu, juga kemudahan dan keselamatan untuk Aan, bapak dan abah yang menempuh perjalanan," ucap Tiar.


"Ibu?" ucap Sibki lirih.


Tiar hanya tersenyum, Sibki segera bangkit dari posisinya, setelah Wudhu, dia segera sholat, setelah Sibki selesai Suminten pun juga menunaikan sholat malam, kemudian merehatkan tubuh tuanya.


Giliran Sibki dan Tiar yang menjaga Manda.


Suminten dan Sofyan menuju tempat tidur masing-masing memejamkan mata mereka yang sedari tadi minta jatah berpejam.


***


Di desa Sebuku Naju.


Suara kokokan ayam dan teriakan alarm ponsel membuat mata Aan terbuka. Aan membangunkan Wahyu dan Jojo. Setelah membersihkan diri, mereka menunaikan sholat subuh berjamaah bertiga.


Selesai sholat, mereka segera membereskan semua barang-barang bawaan mereka.


"Sudah selesai beberes?" Sapa Jago.


"Sudah," jawab Jojo.


"Ayo kita sarapan dulu, perjalanan kalian sangat panjang," ucap Jago.


Mereka semua sarapan pagi bersama Jago dan istrinya. Setelah sarapan Danu, Alis dan kedua anak mereka datang juga kedua orang tua Alis. Bapak Alis langsung memeluk Wahyu dan Aan,melepas kerinduan mereka.


"Sudah mau pulang?" Sapa Alis.


"Sudah, ini kami mau berangkat, maaf ya Lis, Pak, bu, Danu, kami datang hanya merepotkan kalian," ucap Aan.


"Tidak sama sekali, lain kali datanglah, dengan senang hati kami menyambut kalian," ucap Jago.


Setelah berpamitan mereka bertiga melanjutkan perjalanan pulang.


"Salam buat Aruna," teriak Alis.


Aan mengacungkan jempolnya, Alis, Danu dan kedua orang tua Danu juga kedua orang tua Alis melambaikan tangan melepas kepergian tamu mereka.

__ADS_1


Di mobil.


"An, sudah telepon Aruna atau Sibki?" tanya Jojo.


"Astaghfirullah, belum Pak," jawab Aan.


"Kita tukeran, kamu telepon Aruna dan Sibki, biar Bapak yang nyetir, jangan lupa, tanyakan keadaan Manda saja, biar kabar kebebasan Manda menjadi kejutan," usul Jojo.


"Baik Pak."


Aan dan Jojo bertukar posisi.


"Maafkan abah, abah tidak bisa bantu menyetir mobil," ucap Wahyu.


"Abah pemandu kita," ucap Aan.


Aan langsung menelpon Aruna.


"Assalamu alaikum, kak ...." Salam halus itu terdengar dari ujung telepon sana.


"Wa'alaikum salam, kamu di mana?"


"Masih di rumah, ini bersiap kekantor kakak."


"Maaf ya ngerepotin kamu lagi, bagaimana keadaan kamu, anak-anak, dan ibu?"


"Alhamdulillah kami sehat dan baik-baik saja, bagaimana kakak, abah dan Bapak? Bagaimana tujuan utama kita?"


"Kami alhamdulillah baik dan sehat, tujuan utama kita mohon do'a-nya ya, biar semua lancar,"


"Aamiin, semoga semua lancar dan Manda bebas, kakak juga cepat pulang, aku rindu, satu bulan lebih kita berpisah," ringis Aruna.


"Insya Allah semua akan indah dan lebih indah karena perjuangan kita semua, ya sudah kakak mau melanjutkan perjalanan, hati-hati di sana, jaga kesehatan,"


"Kakak juga, hati-hati dan jaga kesehatan."


"Assalamu alaikum."


"Wa'alaikum salam," jawab Aruna.


Panggilan telepon dengan Aruna ber akhir, kini Aan menelpon Sibki.


"Assalamu'alaikum." Suara Sibki terdengar lemas.


"Wa alaikum salam, bagaimana keadaan Manda?"


"Dari tadi malam dia berhenti bernyanyi ataupun berteriak, dari tadi malam hingga kini dia masih tidur," jawab Sibki.


"Tapi dia baik kan?"


"Entahlah An, aku tidak tahu, bagaimana perjalanan kalian? Sudah ketemu rumah dukun itu?"


"Do'akan perjalanan kami lancar ya Sibki."


"Pasti An, aku selalu mendo'a kan kalian, terima kasih An,"


"Iya sama-sama, kabari kami keadaan Manda."


"Iya An, salam buat Bapak dan abah, assalamu'alaikum,"


"Wa alaikum salam," jawab Aan.


Panggilan telepon mereka berakhir. Aan menyimpan kembali ponselnya ke sakunya.


"Bagaimana keadaan Manda?" tanya Wahyu.


"Kata Sibki, Manda tidak lagi bernyanyi aneh ataupun berteriak memanggil namanya."


"Alhamdulillah Manda sepertinya mulai sembuh," sela Jojo.


"Semoga Pak, semakin semangat ini kita pulang nya pak," seru Aan.


"Iya bapak juga," seru Jojo.


"Semangat boleh, nyetir tetap hati-hati," ucap Wahyu, karena Jojo mulai mengebut.


"Astaghfirullah, lupa injak pedal gasnya kelewatan, terlalu semangat ini," ucap Jojo sambil menurunkan kecepatan laju mobilnya.


Mereka semua tersenyum melihat semangat Jojo yang membara.


"Iya semangat boleh, niat nolong Sibki agar jangan jadi duda eh ... malah bakal ada tiga janda jika kamu ngebut," sela Wahyu.


"Amit-amit ...." teriak Aan, sambil mengetukan jari kekaca mobilnya,"


"Iya, aku hati-hati, lagian aku masih pengen menimang cucu lagi, secara ketiga cucu kita sudah gede, mesti donwload ulang lagi ini mah biar ada yang bisa di timang," seru Jojo.


"Aku suka semangat Bapak," seru Aan.


Jojo terus mengemudikan mobilnya di bantu arahan oleh Wahyu. Sedang Aan mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2