Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 120. Ektra Part Sibki


__ADS_3

Sibki dan Manda menjalin komunikasi via telepon dan aplikasi chatting warna hijau, tiga bulan sudah keduanya memberi kesempatan untuk saling kenal.


Sibki semakin semangat pagi ini, karena dia yang akan mengantar Nurul mengisi pengajian singkat di sebuah mesjid di mana ada perkumpulan remaja hijrah dan salah satu perkumpulan itu ada Manda. Di mobil hanya ada Nurul dan teman barunya yang bernama Elna. Elna salah satu panitia yang membentuk perkumpulan remaja hijrah.


Kini Sibki sampai mesjid yang mereka tuju.


"Kak Sibki tidak ikut masuk?" tanya Elna.


"Tidak, hari ini 'kan khusus perempuan, biar aku di luar saja," jawab Sibki.


"Kami kedalam Sibki," ucap Nurul.


"Ustadzah, kalau khawatir Ilham mengganggu biar Ilham saya yang jaga di sini," ucap Sibki.


"Insya Allah Ilham pintar di dalam sana, assalamu'alaikum Sibki," ucap Nurul dan Elna.


"Wa'alaikum salam," jawab Sibki.


Sibki duduk di bemper depan mobil yang dia bawa menunggu pengajian singkat yang Nurul isi hari ini. Kedua bola mata Sibki seketika melotot melihat pemandangan di seberang jalan sana. Dia segera bangkit dari posisi duduknya dan langsung berjalan menuju seberang jalan itu.


"Ada apa ini?" tanya Sibki.


"Jangan ikut campur ini urusan pribadi!" Jawab pria itu.


"Ini juga urusan pribadi saya, kenapa kamu kasar pada Manda?" tanya Sibki lembut.


"Kak Ifin, tolong lepasin aku," rengek Manda.


Laki-laki itu masih mencengkram kuat lengan Manda.


"Kamu tuli? Manda meminta kamu lepasin dia," ucap Sibki santai.


"Aku bilang jangan ikut campur!" Seru orang itu.


"Aku tidak ingin ikut campur, tapi Manda calon istriku," gertak Sibki. Dia meraih tangan Manda yang satunya dan menarik Manda ke arahnya.


Sontak laki-laki melepas cengkramannya pada pergelangan tangan Manda.


"Apa itu benar Manda?"


Manda bersembunyi di belakang Sibki.


"Nanti akan kami kirim undangannya, bisakah calon istriku mengikuti pengajian yang sudah di mulai?" tanya Sibki.


Orang itu mematung tidak menjawab pertanyaan Sibki.


"Manda, ayo kesana, ustadzah Nurul sudah datang," sela Sibki.


Manda dan Sibki meninggalkan laki-laki yang masih mematung itu. Laki-laki itu masih menatap kepergian mereka, wajahnya menampakkan kekecewaan karena melihat Manda dan laki-laki yang menghampiri tadi terlihat akrab.


***


Sibki dan Manda berjalan santai menuju mesjid.


"Manda, kamu sudah punya jawaban atas lamaranku?"


"Aku belum dapat jawaban dalam istiqharahku kak, kalau kakak tidak sabar menunggu jawaban dariku, kakak boleh menjatuhkan pilihan pada wanita lain, secara kita tidak terikat, aku memberikan kebebasan pada kakak untuk menjatuhkan pilihan pada wanita lain."


"Aku akan menunggu jawaban kamu Manda," ucap Sibki.


Manda hanya tersenyum. "Assalamu'alaikum kak sibki," salam Manda, dia segera meninggalkan Sibki dan berjalan cepat menuju mesjid itu.


"Wa'alaikum salam," jawab Sibki.


***


Semenjak kejadian pagi itu, Sibki dan Manda mulai sering bertemu, ditemani Elna teman Manda. Kemana-mana mereka selalu bertiga. Manda, Elna dan Sibki. Sore ini mereka tengah bersantai di sebuah kedai jus.


"Bagaimana Manda? Apakah kamu sudah punya jawaban?" tanya Sibki.


"Jawaban? Jawaban atas apa?" tanya Elna.

__ADS_1


"Selama ini kami menjalani proses ta'arufan El, kamu tidak diberi tahu Manda?" tanya Sibki.


"Owh … ta'arufan kamu sama Sibki?" tanya Elna pada Manda.


Manda mengangguk dan tersenyum.


Elna tidak bisa menyembunyikan betapa terkejutnya dia mendengar kabar ini.


"Apa kamu sudah punya jawaban?" tanya Sibki pada Manda.


"Silahkan kakak tanya dengan kalimat yang lebih baik, aku punya jawaban hasil dari do'a-do'a ku," ucap Manda.


"Bismillah, Manda, bersediakah kamu menjadi makmum dalam sholatku, makmun dalam rumah tanggaku dan ber ibadah bersamaku dalam ikatan suami istri?" tanya Sibki, wajah Sibki jelas terlihat gugup.


"Bismillah, ana siap," jawab Manda.


"Alhamdulillah," ringis Sibki.


Mereka bertiga sama-sama menunduk.


"Aku akan mengenalkan kamu pada keluargaku, besok bagaimana?" tanya Sibki.


Manda mengangguk.


"Kak Elna mau menemani lagi?" tanya Manda pada Elna.


"Tentu saja," jawab Elna.


Mereka segera menghabiskan makanan mereka dan segera pulang ketempat masing-masing.


***


Setelah mengantar Manda dan Elna pulang, Sibki langsung pulang ke rumahnya. Setelah sampai dia langsung berlari masuk kedalam rumah.


"Assalamu'alaikum," salam Sibki.


"Wa alaikum salam," jawab semua orang.


"Kalau di lihat kakak sangat bahagia, apa kakak menang togel?" tanya Aruna.


"Husss ngawur kamu!" bentak Sibki.


"Terus apa?" Tanya Aruna.


"Wanita yang beberapa bulan menjalani ta'aruf bersamaku, dia menerima lamaranku," ungkap Sibki.


"Alhamdulillah, akhirnya gelar jomblo akan segera dilepas," ledek Aruna.


Siminten dan Mastia memeluk Sibki.


"Kapan kami bisa bertemu dengan calon istrimu?" tanya Suminten.


"Besok mak, besok dia akan kesini."


"Kebahagiaan ini yang ibu tunggu selama ini," ucap Mastia.


***


Keesokan harinya.


Jojo dan Wahyu sengaja tidak pergi ke perkebunan, karena akan menyambut calon menantu mereka. Didalam rumah Sibki ada Aruna, Suminten, Mastia juga pembantu Suminten dan pembantu Mastia.


Tidak lama mobil Sibki datang. Mereka semua kecuali Aruna, segera menuju teras untuk menyambut calon istri Sibki.


Sibki berjalan santai bersama Manda dan Elna.


"Assalamu'alaikum," salam Sibki, Manda dan Elna.


"Wa'alaikum salam," jawab semua orang.


"Masya Allah, keduanya cantik, apa keduanya ini calon mantu ibu," tanya Mastia.

__ADS_1


"Ibu, jangan buat anakmu jadi calon jomblo lagi," rengek Sibki.


"Yang mana nih calon kamu," tanya Suminten.


"Yang pakai kerudung coklat mak," jawab Sibki.


Semua mata memandang ke arah Manda. Manda dan Elna segera salim pada Mastia dan Suminten.


"Ayo kita masuk, kita ngobrol di dalam," ajak Mastia.


Mereka semua segera masuk kedalam rumah dan duduk di sofa tamu.


"Manda, itu ibu dan bapakku, yang itu umak dan abahku," ucap Sibki.


Manda menatap Sibki keheranan.


"Kalau di ceritakan panjang dan rumit, yang jelas aku punya dua ayah dan dua ibu," terang Sibki.


Mereka mulai berbicara santai,


"Papaaa," panggil si kembar, mereka berlari berhambur ke arah Sibki. Dena dan Deli dudul di dekat Sibki, sedang Rayyan di pangku Sibki.


Wajah Manda tegang mendengar kalimat 'papa' dari mulut ketiga anak yang mendekati Sibki.


"Mereka kembar?" tanya Elna.


"Iya mereka kembar tiga," jawab Sibki.


"Mereka anak-anakmu?" tanya Manda.


"Bukan, mereka keponakanku," jawab Sibki.


"Kenapa mereka memanggil kamu papa?" tanya Manda.


"Karena aku penyanyang anak-anak."


Seorang wanita datang dengan wajah penuh kemarahan. "Owh, begitu ya? Setelah kamu dapat yang baru kamu tidak mengakui kalau itu anak kamu?"


"Aruna! Kamu apa-apaan," bentak Sibki.


"Aruna? Kemana panggilan sayang buatku?" protes Aruna.


"Kakak tidak jujur dari awal, kenapa kakak tidak bilang kalau kakak punya anak?" Terpancar kekecewaan di wajah Manda.


"Manda, mereka bukan anakku, mereka keponakanku," ringis Sibki.


"Owh … keponakan? Aku kira kamu akan bilang tidak kenal," ucap Aruna.


"Mak, wanita itu kenapa?" tanya Sibki.


Suminten diam membisu.


"Kak Sibki, selesaikan dulu urusan kakak sama ibunya si kembar, aku tidak mau masuk kedalam hubungan yang belum selesai, aku tidak keberatan kalau kakak duda, tapi setidaknya ceritakan dari awal, sekarang aku kecewa." ucap Manda.


"Aruna, kamu--" sibki sangat geram.


Kak Elna, kita pesan taksi online apa ojek online?" tanya Manda pada Elna.


"Terserah saja Manda," jawab Elna.


"Jangan pergi Manda, kamu salah faham," ringis Sibki.


Manda dan Elna bangkit dari posisi duduk mereka dan meraih tas mereka.


"Umak, abah, ibu, pak … bantuin …," ringis Sibki.


Namun mereka semua membisu.


"Terima kasih atas sambutannya, kami pamit, kak Aruna, maaf ya aku sama sekali tidak tahu kalau kak Sibki punya ikatan dengan kakak, kami pergi, assalamu'alaikum," salam Manda.


"Wa'alaikum salam," jawab semuanya.

__ADS_1


Melihat Elna dan Manda pergi, Sibki duduk di sofa sambil meremas rambutnya menahan kekecewaannya.


__ADS_2