Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 135 Extra Part Sibki Apakah ini Mimpi


__ADS_3

Semua orang sudah larut dalam tidur mereka. Manda terbangun, karena merasa bagian kewanitaannya tidak sakit lagi, perlahan dia bangkit dari posisinya dan berjalan keluar kamar.


"Kak Sofyan?" Manda terkejut melihat kakaknya masih terjaga.


Sofyan menoleh kearah suara itu. "Manda? Kamu bisa bangun?" Sofyan kaget melihat Manda.


"Seluruh tubuhku gatal dan panas kak, aku pengen mandi ...."


"Apa bisa tunggu besok? atau kita tanya ustadz dulu," usul Sofyan.


Manda segera duduk di kursi yang tidak jauh dari Sofyan.


Manda memandang kesembarang arah, memikirkan apa yang telah terjadi padanya. "Kenapa ya kak ada orang yang setega ini? Selama ini aku tidak pernah jahat sama orang."


"Kalau orang sudah benci dengan kita, sebaik apapun kita pada orang itu, kebaikan kita tidak akan terlihat, kita tetap terlihat jahat di matanya, namun sebaliknya, jika orang sayang, walau kita buruk, mereka tetap melihat sisi terbaik dari kita. Lihat Bapak, Bapak sangat jahat, tapi semua orang yang Bapak jahati orang baik, mereka semua malah menolong Bapak dan rekan-rekan Bapak."


"Kita beruntung kak, bisa mengenal ustadz Ali dan juga kak Sibki, aku merasakan langsung bagaimana kasih sayang tulus semua anggota keluarga kak Sibki, apalagi Aruna yang senantiasa merawatku," ringis Manda.


"Iya, kita sangat beruntung," ucap Sofyan.


Mereka berdua membisu, membayangkan segala kebaikan orang-orang disekitar mereka.


***


Di rumah ustadz Ali.


Mobil yang di tumpangi Aan, Jojo dan Wahyu memasuki halaman rumah Ali. Setelah Jojo dan Wahyu turun, mereka menurunkan semua barang bawaan mereka dan mendekatkan barang mereka ke mobil Aan, Aan langsung memasukan mobil milik majelis ke parkiran yang tidak jauh dari halaman rumah Nurul.


"Alhamdulillah, sudah sampai dan kembali dengan selamat," ucap Ali.


"Assalamu alaikum ustadz," seru Wahyu dan Jojo. Mereka seera bersalaman dengan Ali.


"Wa alaikum salam," jawab Ali.


"Pak ustadz, maaf kami ganggu ya?" Ucap Aan.


"Tidak sama sekali, tadi aku sedang muthala'ah beberapa bab buat pengajian nanti, bagaimana?" tanya Ali.


"Alhamdulillah lancar ustadz, Manda bebas, hanya perlu langkah terakhir," ucap Jojo.


"Alhamdulillah, kalau begitu ayo kita kerumah Sibki, tapi sebentar aku kunci pintu dulu," seru Ali.


"Jangan lupa, kunci mobil saya juga pak ustadz" seru Aan.


"Iya," jawab Ali.


Setelah mengambil kunci mobil Aan dan mengunci pintu rumah mereka berjalan menuju rumah Sibki. Sedang Aan memasukan tas yang berisi pakaian kotor mereka kedalam mobilnya, lalu berlari mengejar Ali, Wahyu dan Jojo.


"Kenapa kita jalan kaki? Kan ada mobil saya," ucap Aan.


"Lama! Mobil kamu mesti di angetin dulu hampir tiga hari itu nganggur," seru Ali.


Mereka berempat terus melangkahkan kaki mereka menuju rumah Sibki.


"Assalamu alaikum," Jojo mengetuk pintu.


Di dalam rumah.


"Sudah jam 12 malam ini, kok ada tamu ya," gerutu Sofyan.


"Bukain kak, itu suara Bapak," pinta Manda.


Sofyan berjalan ke arah pintu. "Wa alaikum salam," jawab Sofyan sambil membuka pintu.


"Bapak, ustadz, Aan, abah …." Sofyan senang sekali melihat empat orang yang datang.


"Boleh kami masuk?" tanya Ali.


"Tentu saja ustadz," ucap Sofyan.

__ADS_1


Mereka semua masuk kedalam rumah Sibki.


"Manda?" Seru semua orang.


"Assalamu alaikum," sapa Manda.


"Wa alaikum salam," jawab semuanya.


"Kamu sudah bisa bangun?" tanya Jojo. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Sejak tadi pagi rasa sakit yang selama ini saya rasakan mendadak hilang Pak, ini saya bisa jalan sendiri, tapi … seluruh tubuh saya gatal, pengen banget mandi," ringis Manda.


"Saya tidak beri izin karena takut penyakit kulitnya tambah parah," ucap Sofyan.


"Mana yang lain?" tanya Aan.


"Kak Sibki, ibu dan umak sedang tidur, selama ini mereka kelelahan menjaga saya, biarkan mereka semua tidur," ucap Manda.


"Ustadz, ini air pemberian dukun Eleng, kata Eleng buat Manda mandi," Wahyu memberikan sebotol air pada Ali yang sedari tadi dia pegang.


"Silakan mandi Manda, pakai air ini, campurkan saja kedalam ember mandi kamu." Ali memberikan botol yang dia terima dari Wahyu kepada Manda.


"Boleh mandi ustadz?" Manda kegirangan.


"Boleh," jawab Ali.


Dengan semangat Manda mengambil keperluan mandinya dan segera masuk ke kamar mandi.


"Ustadz, kata Keleng rambut yang berlilit pada foto ini di kubur, ini bagaimana ustadz" tanya Aan. Aan memberikan kantong plastik yang dia pegang pada Ali.


"Yah, dikubur, Sofyan, kubur saja rambut ini ditempat yang mudah," pinta Ali.


"Fotonya?" tanya Aan


"Fotonya cuci dulu ke air biar gambar Manda hilang dilembaran foto itu, gosok-gosok aja, nanti juga luntur," seru Ali.


"Aku mau ke dapur ambil pacul dulu," ucap Sofyan.


"Ini pelajaran bagi kita semua, hati-hati membuang rontokan rambut saat sisiran, karena dari rambut itu orang menyalah gunakan untuk mencelakakan kita," ucap Ali.


"Bukan rambut yang di potong ustadz?" Tanya Jojo.


"Rontokan rambut yang jatuh saat disisir itu lebih berbahaya daripada rambut yang sengaja dipotong, makanya hati-hati," ucap Ali.


"Baik ustadz," jawab semuanya.


Sofyan langsung mengubur rambut Manda. Sedang wahyu kembali membawa foto yang tidak ada lagi foto Manda, karena di gosok Wahyu di dalam air sabun hingga bersih.


"Nah kertas polos nya di apain ustadz?" Tanya Wahyu.


"Buang saja, itu sudah aman," ucap Ali.


Wahyu melempar kertas foto polos ketempat Sampah.


"Apakah ini mimpi?"


Semua orang menoleh kearah suara itu berasal. "Subhanallah," seru semuanya, saat melihat Manda baik-baik saja.


Plakkkk!


Pacul yang di pegang Sofyan bekas menggali tanah terlepas begitu saja saat melihat perubahan Manda.


"Alhamdulillah mantu kita bebas Wahyu," seru Jojo.


"Sihir memang--" Aan bergidik membayangkan tentang sihir.


"Perubahan yang luar biasa, akhirnya usaha kita semua membuahkan hasil," seru Jojo.


"Ini tidak mimpi Manda, besok aku akan menemui Bapak, pasti Bapak senang mendengar kesembuhan kamu," seru Sofyan.

__ADS_1


"Alhamdulillah kamu lepas Manda, sekarang aku bisa pulang dengan membawa kabar bahagia," sela Aan.


"Terimabkasih semuanya," ringis Manda.


"Astahgfirullah hampir setengah satu, ayo semuanya kita pulang," seru Ali.


"Bapak sama Abah pulang apa menginap?" tanya Aan.


"Kami ikut pulang saja, iyakan Wahyu?" Tanya Jojo.


"Iya kita pulang saja nak Aan," sahut Wahyu.


Ali, Aan, Wahyu dan Jojo pamitan pada Manda dan Sofyan.


Setelah mereka berempat pergi Sofyan berbaring di sofa panjang, sedang Manda pergi ke kamar kosong yang satunya. Semua orang di rumah itu larut dalam alam mimpi mereka.


***


Di halaman rumah Ali.


Setelah di rasa cukup menghangatkan mesin mobil, Aan pun segera melajukan mobilnya meninggalkan area rumah ustadz Ali. Mereka langsung pulang ke rumah tinggal mereka.


Dalam perjalanan.


"Abah pulang ke rumah saja nak Aan, kalau kamu terserah, karena Aruna menginap di rumah pak Jojo."


Seru Wahyu.


"Saya ke rumah Bapak aja Bah, soalnya banyak berkas di rumah Bapak," jawab Aan.


"Iya kamu benar An, dua hari ini Aruna jadi wanita karir dadakan," seru Jojo.


"Kasian Arunaku Pak, dia pasti capek, secara belum pernah bekerja keras seperti itu," ucap Aan.


"Biar dia tahu perjuangan kamu An," sahut Wahyu.


Hampir jam tiga pagi mereka sampai di rumah Jojo.


"Tas kamu tinggal saja wahyu, nanti pembantu kami yang cuci semuanya," seru Jojo.


"Terima kasih pak Jojo, saya bisa cuci sendiri," ucap Wahyu.


Setelah mengambil tasnya Wahyu berjalan kaki menuju rumahnya.


Sedang Aan dan Jojo turun menenteng tas yang berisi baju-baju dan keperluan mereka menuju rumah Jojo.


"Siapa ini Pak yang bukain pintu, jam 3 lho," seru Aan.


"Tenang, aku ada kunci." Jojo mengeluarkan kunci cadangan yang selalu dia bawa.


Setelah pintu terbuka mereka langsung masuk dan mengunci pintu kembali. Jojo langsung masuk ke kamarnya sedang Aan mengecek kamar ketiga anaknya.


Ketiga anaknya tidur nyenyak di jaga tiga pengasuhnya. Senyum terukir di wajah Aan melihat wajah polos anak-anaknya yang tertidur pulas. Aan menutup kembali pintu kamar itu perlahan dan berjalan menuju kamar Aruna yang ada di rumah Jojo.


Senyumnya kembali mengambang melihat Aruna yang tidur yang meninggikan posisi kakinya di atas bantal. Tidak jauh dari sisi Aruna terlihat minyak zaitun.


"Masya Allah, istriku kasihan sekali," gerutu Aan.


Aan langsung membersihkan dirinya dan mengganti bajunya. Selesai mandi dan ganti baju Aan duduk dekat kaki Aruna dan memijatnya dengan minyak zaitun yang ada di dekatnya.


Aruna perlahan membuka matanya karena pelayanan Aan.


"Kakak?" Suara Aruna terdengar serak, suara khas orang bangun tidur.


"Maaf ya, pasti pegel ya?" Aan terus memijat kaki istrinya.


"Maaf ya kak, aku memang payah, baru kerja sedikit saja seperti kerja berat saja aku, maaf ...."


"Sudah, diam!" Aan terus memijat kaki istrinya. "Bagaimana pelayanan ku?"

__ADS_1


"Luar biasa!" Aruna sangat menikmati pijitan Aan pada kaki jenjangnya.


Aan tersenyum melihat Aruna sangat menikmati pijatannya.


__ADS_2