Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 112. Penyesalan


__ADS_3

Aan terlihat berjalan ke arah pintu.


"Aan kamu mau kemana?" tanya Ali.


"Saya mau ketempat wudhu Pak ustadz," jawab Aan.


"Jangan berpikir untuk pergi! Apalagi kabur! Kalau kamu tidak kembali aku pastikan kamu akan menyesal!" tegur Ali.


Aan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia pergi undur diri meninggalkan ruangan Mushalla itu.


Aan langsung menuju tempat wudhu dan menumpahkai air matanya di sana. "Ya Allah … ini sakit! Aku tidak sanggup!"


Berulang kali ponsel Aan berbunyi, Aan melirik sedikit benda pipih persegi panjang itu, terlihat ada pesan dari Aruna dan Sibki. Namun Aan tidak membacanya dan menyimpan kembali ponsel kedalam sakunya.


Setelah puas menumpahkan rasa sakitnya Aan segera mengambil air wudhu. Selesai ditempat itu Aan menyeret kakinya kembali menuju mushalla. Melihat ustadz Hasan, ustadz Ali dan Wahyu duduk berhadapan hati Aan sangat sakit. Dia pun pergi meninggalkan mushalla tanpa pamit kepada siapapun.


Tidak lama setelah Aan keluar Kiki dan keluarga besarnya datang. Aruna dan Nurul langsung menyambut dia.


"Alhamdulillah … sampai jodohnya," sambut Nurul seraya memeluk Kiki.


"Alhamdulillah kak Nurul," lirih Kiki.


"Ayo kita duduk, lihat calon suami kamu sudah melotot nunggu lama-lama," ledek Aruna.


Mereka bertiga dan ibu Kiki duduk bergabung dengan umi Fatma, Mastia dan Suminten.


"Dia siapa?" tanya Suminten.


"Dia suster Kiki, perawat yang bertugas di klinik di sini, dia calon istri ustadz Hasan," jawab Aruna.


Kiki memperkenalkan diri pada Suminten dan Mastia. Dia langsung memeluk umi Fatma karena lama tidak bertemu.


"Semua orang sudah siap?" tanya Ali.


"Sepertinya sudah ustadz," jawab Sibki.


"Baiklah, kita mulai akad nikah ustadz Hasan dan Suster Kiki, setelah mereka menikah nanti ustadz Hasan yang akan menikahkan Aruna dan Aan," terang Ali.


"Pak Jojo atau pak Wahyu boleh?"


"Saya saja yang mencari Aan," jawab Jojo langsung.


"Maaf ya pak Jojo," ucap Ali


"Iya santai saja Pak Ustadz," jawab Jojo.


"Ayo Fazar dan Sibki ambil posisi yang nyaman, jadi setelah Pak Jojo kembali kita langsung ijab kabul," ucap Ali.


Jojo kembali kedalam musalla, dia langsung mendekati ustadz Ali. "Maaf pak ustadz, Aan tidak ada di tempat Wudhu," bisik Jojo.


"Nanti kita telepon, umi … telepon Aan," pinta Ali pada Nurul.


Sedang Ali melanjutkan akad nikah ustadz Hasan dan suster Kiki. Selama proses ijab kabul berlangsung Nurul berulang kali menelpon Aan, namun panggilannya tidak juga dijawab Aan. Proses ijab kabul pernikahan Kiki dan ustadz Hasan pun selesai. Mereka semua menikmati makanan yang sudah disediakan sambil menunggu kedatangan Aan. Lebih satu jam setelah akad nikah Aan masih tidak bisa dihubungi.


Beberapa orang suruhan Ali juga menyerah mencari Aan sejak tadi, mereka tidak menemukan Aan di rumah dekat majelis, ataupun di rumah Aan yang ada di komplek. Sibki sangat geram pada Aan. Apalagi melihat kehancuran di wajah Aruna.

__ADS_1


"Batalkan saja pak ustadz," ucap Aruna.


"Kami masih bisa menunggu," jawab ustadz Hasan.


"Batalkan saja, saya yakin dia tidak bisa menerima saya kembali, karena saya sudah pernah menikah dengan orang lain," ucap Aruna.


Aruna tidak bisa menutupi kehancurannya, air matanyanya menetes begitu saja. Berulang kali mengusap namun air matanya tidak mau berhenti. Aruna berbalik menggendong Rayyan dan pulang lebih dulu, meninggalkan semua orang.


"Sibki, sudahkah kamu beritahu Aan kalau dia akan menikah setelah ustadz Hasan," tanya Ali.


"Sudah pak ustadzd, ini …." Sibki memperlihatkan layar ponselnya.


"Astaghfirullah … dia tidak membaca pesan kamu," ucap Ali.


"Aan!" Gerutu kekesalan Sibki.


"Jangan salahkan Aan, aku yang ingin memberi dia kejutan, tapi …."


"Sudah Pak ustadz, Pak ustadz tidak salah," sela Suminten.


"Aruna juga mungkin benar, apa Aan masih bisa menerima dia, secara dia--" Mastia sengaja tidak melanjukan pembicaraannya.


"Astaghfirullah … niat kasih kejutan malah kacau," ringis Ali.


"Sabar ya abi .…" Nurul berusaha menyemangati suaminya.


"Maafkan kami ustadz Hasan, gara-gara masalah ini--"


"Tidak apa-apa Pak, saya Faham," jawab Hasan memotong pembicaran Wahyu.


"Syarat utama? Apa itu?" tanya Jojo.


"Mengembalikan sesuatu yang hilang kembali pada tempatnya. Tempat Aan sebagai ayah dari anak-anaknya, dan mendapatkan kembali istri yang direbut secara halus dari sisinya, juga tempat Aruna sebagai istri Aan. Mengembalikan mereka kembali bersama," ucap Ali.


"Karena syarat itu belum dipenuhi, Deli masih di incar banyak orang," terang Ali.


Semua membisu. Andai Aan tidak pergi dan mudah dihubungi semua ini jadi lebih mudah.


"Kalau begitu kita boleh bubar, Sibki … tolong kamu ajak teman-teman ke kontrakan Safta dan Ilyas," pinta Ali.


Mereka semua saling bersalaman sebelum membubarkan diri.


"Selamat Kiki, kamu sudah menyandang status sebagai istri," ucap Nurul.


Kiki tersenyum dan langsung memeluk Nurul.


Setelah rombongan pengantin pergi. Semua orang yang ada di mushalla juga membubarkan diri.


****


Di rumah kontrakan Sibki.


Aruna menggelar kasur di ruang tamu rumah itu, dia berbaring sambil memeluk Rayyan yang sudah tertidur. Dia mencium Rayyan berulang kali, entah kenapa baginya Rayyan seperti Aan. Sosok yang selama ini sangat dia rindukan. Aruna tenggelam tidurnya membawa perasaan pilunya di tinggal mempelai pria saat akad akan dimulai.


Sibki, Suminten dan Mastia sampai di rumah itu, dalam gendongan mereka Deli dan Dena juga tertidur. Saat masuk kedalam rumah hati mereka miris melihat keadaan Aruna.

__ADS_1


"Sudah lah mak … bu …, aku akan memberi Aan pelajaran karena kejadian ini," Sibki menahan kemarahannya.


"Kami tidur dulu, sudah malam, kamu juga Sibki," ucap Mastia.


"Iya bu … aku akan tidur di kursi itu, aku takut ada yang macam-macam nanti malam," ucap Sibki.


Setelah membersihkan diri, mereka semua segera bersiap untuk istirahat, merehatkan badan yang letih.


***


***


***


Setelah pergi dari Mushalla Aan melajukan mobilnya menuju bandara. Kini dia tengah duduk dalam pesawat menunggu pesawatnya lepas landas, Karena pesawatnya masih Delay beberapa menit keberangkatannya. Aan memasang sabuk pengamannya, melihat tidak ada pramugari, dia memainkan ponselnya. Matanya langsung melotot membaca semua pesan yang masuk. Aan fokus pada pesan yang dia baca, tanpa menyadari pesawat yang dia tumpangi mulai lepas landas.


Pesan masuk.


"Kak, kakak yakin ingin memulai kembali kehidupan denganku?" Aruna.


"Kak Aan, tolong pikirkan matang-matang, kakak berhak memilih dan mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku," Aruna.


"Aan, bersiap malam ini setelah pernikahan ustadz Hasan dan suster Kiki kamu akan menikahi Aruna kembali, aku dan ustadz Ali sudah berhasil meyakinkan Aruna, agar dia mau kembali padamu," Sibki.


"Kak Aan … kakak di mana? Kami semua menunggu kakak, kenapa tidak mengangkat teleponku? Akad Nikah suster Kiki dan ustadz Hasan sudah selesai, kini giliran kakak dan Aruna, ustadz Hasan yang akan menikahkan kakak dengan Aruna, ini kejutan buat kakak, cepat kembali sebelum terlambat," Nurul.


Aan berkeringat dingin melihat banyak panggilan masuk di ponselnya dari Nurul, Sibki, Jojo dan ustadz Ali.


"Pak, tolong matikan ponselnya," pinta pramugari.


Aan terkejut melihat pesawat yang membawanya sudah berada di udara.


"Ponselnya Pak," Pramugari itu meminta Aan menonaktifkan handphonenya.


Aan mematikan ponselnya.


"Terima kasih kerja samanya," ucap pramugari.


"Bisa kembali?" pinta Aan.


Pramugari menggeleng,


"Astaghfirullah … apa yang aku lakukan," ringis Aan penuh penyesalan.


****


Bersambung...


****


Author gemetaran membaca komen kalian, rasa gak enak gimana... gitu. Demi kalian Author rela balap ngetik😁😁😁😁.


Oh ya, Author selalu kasih tanda di eps sebelumnya kemana cerita ini berlabuh. Ingat Bab "Dukun Gila?"


Ini sambungan cerita itu.

__ADS_1


__ADS_2