Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 151


__ADS_3

Deli memikirkan perkataan Surya sebelumnya, tentang ikatan darah. Sambil mengunyah sarapan paginya, pikirannya melayang entah kemana.


"Nak lia …." sapa Pinah.


Deli tidak merespon. Pandangannya ter arah pada makanannya, namun bukan itu yang dia lihat.


Seketika sesuatu merasuki tubuh Pinah.


"Nak Lia .…" Pinah menyentuh pundak Deli.


Deli tersadar dari lamunannya. "Iya, ada apa mak?"


"Mikirin apa?"


"Aku tadi ke wilayah sungai mak, aneh ya, di luar desa ini sungai yang sama mengalir deras, kenapa di desa ini sungainya malah kering?"


"Itu semua karena kesalahan warga desa, di masa lalu mereka menghukum orang yang salah. Tidak ada yang tahu apa masalah inti dari semua itu, yang jelas saat warga desa menghukum sepasang suami istri itu, desa ini tidak lagi senyaman yang dulu." ucap Pinah.


"Mak, apa yang bisa membuat desa ini lepas dari kutukan?"


Pinah menengok keadaan sekitar. "Ikatan darah, jika keturunan Adeeva bisa mengungkap kejahatan yang selama ini tersembunyi, maka kutukan itu akan terangkat," bisiknya.


"Adeeva kan sudah meninggal, darimana keturunannya lahir?" Deli bingung.


"Janin Adeeva di selamatkan oleh makhluk goib yang berwujud separu ular, sejak janin itu di selamatkan, janin itu menjadi perburuan semua orang. Dengar kabar angin janin itu lahir dari rahim seorang wanita kepercayaan putri ular, menurut romor yang beredar, janin Adeeva adalah salah satu wanita yang memiliki tiga saudara kembar, dua perempuan dan satu laki-laki," bisik Pinah.


Deli melotot mendengar penjelasan Pinah. Pikirannya saat ini, dia hanya ingin pulang, dan menggali informasi dari kedua orang tuanya nanti.


"Mak, bolehkan nanti saya izin pulang dulu? Soalnya beberapa keperluan aku ketinggalan di kota," ucap Deli.


Seketika makhluk yang merasuki Pinah keluar dari tubuhnya.


"Apa nak Lia?" Tanya Pinah.


"Bolehkan saya pamit pulang? Saya akan kembali lagi kesini."


"Kamu urus saja sama ketua adat, masalahnya tidak mudah keluar masuk desa ini."


Deli kembali meneruskan sarapannya, baru sehari tinggal di desa ini, sangat banyak pertanyaan dalam pikirannya.


Matahari mulai meninggi. Di depan rumah Pinah, Surya sudah siap untuk menemani Deli memasuki hutan dengan alasan tugas KKN Deli. Dia juga di temani Ayan, sebagai utusan ketua adat desa Kayu Alam.


Setelah semua keperluan siap mereka bertiga segera memasuki hutan.


Di tengah hutan hanya ada mereka bertiga, mungkin ada lagi, namun mahkluk halus yang menghuni hutan itu.


"Sampai kapan sandiwara ini? Aku tahu kamu bukan mahasiswi," ucap Ayan.


"Sampai semua misteri ini terungkap," jawab Deli.


"Aku masih heran, kenapa kamu yang datang," rengek Surya.


"Aku juga malas berhubungan dengan makhluk goib, secara mamaku tidak suka," jawab Deli dingin.


"Kamu tahu Deli, jika memang ikatan darah itu dirimu, setelah semua rahasia ini terungkap, maka kamu tidak bisa meninggalkan desa ini, karena kamu adalah penjaga desa ini, hutan ini dan gunung ini selamanya," ucap Ayan.


"Apa?" Deli kaget.


"Iya, 'si ikatan darah' harus menetap di sini, melindungi desa ini dan gunung ini." Ayan mulai menceritakan ancaman yang datang ke desa Kayu Alam, ancaman dari pengusaha yang menginginkan kekayaan yang terkandung di pegunungan Naju.


"Apa hal itu bersangkutan dengan kematian sepasang suami istri yang bernama Adeeva dan Fauji?" Tanya Deli.

__ADS_1


"Dari mana kamu tahu cerita itu?" Ayan terkejut dengan pertanyaan Deli.


"Aku tidak tahu," Deli tidak berani jujur.


"Tapi satu hal, sejak aku ber umur 18 tahun, aku sering melihat hal ini dalam mimpiku." Deli memberikan hasil gambarnya yang selama ini dia simpan.


Surya dan Ayan melihat hasil gambar Deli, yang Deli berikan pada mereka.


"Itu gambar lama ku yang sempat aku bawa, aku selalu menggambar apa yang aku lihat dalam mimpiku," ucap Deli.


"Apakah kamu keberatan kalau ini di bakar? Aku takut anak buah--"


"Bakar saja," Deli langsung memotong kata-kata Ayan.


Mereka segera membakar hasil gambar Deli yang selama ini Deli simpan. Demi menjaga rahasia mereka agar jangan sampai terbongkar. Bahaya jika hasil gambar Deli bila jatuh ketangan yang salah.


Lama pura-pura melakukan penelitian di dalam hutan, akhirnya mereka segera keluar dari hutan.


"Bisakah bantu aku keluar dari desa ini sebentar? Aku punya banyak pertanyaan kepada kedua orang tuaku," pinta Deli pada Surya.


"Baiklah, aku akan ikut dengan kamu ke kota, tapi jangan takut, aku tidak akan ikut kamu ke rumah kamu," ucap Surya.


***


Setelah semua izin beres Deli dan Surya berangkat ke kota bersama.


Sesampai di kota Surya menginap di penginapan menunggu Deli. Sedang Deli meneruskan perjalanan pulang ke rumahnya.


"Assalamu alaikum mah," sapa Deli. Dia terus melangkahkan kakinya, masuk kedalam rumah itu.


"Deli sayang …." Aruna berlari, saat menyadari siap yang datang. Dia langsung memeluk Deli. Baru beberapa hari di tinggal Deli dia sudah sangat tersiksa.


"Mama. papa mana?" Tanya Deli.


"Sebelum aku memenuhi janjiku pada papa, bisakah kalian menjawab pertanyaanku dengan jujur?" Raut wajah Deli terlihat begitu serius.


"Ini serius?" Tanya Aruna.


"Sangat mama, ini berkaitan dengan tugasku di desa itu," ucap Deli.


"Mari kita duduk untuk membicarakannya," ajak Aruna.


Mereka bertiga langsung menuju ruang tamu.


"Mama, papa. Selama ini mimpiku berkaitan dengan kejadian di desa itu, panjang ceritanya, yang jelas sepasang suami istri jadi korban, nama mereka Adeeva dan Fauji. Kutukan desa itu karena warga desa menghukum orang yang salah. Kata warga di sana, hanya 'ikatan darah' yang bisa melepaskan kutukan desa mereka. Salah satu warga di sana selalu memanggil yang mereka sebut ikatan darah, dengan upacara yang dia lakukan secara sembunyi-sembunyi. Tapi yang datang malah aku. Jika aku ' si ikatan darah' keturunan Adeeva dan Fauji, kenapa aku lahir dari rahim mama?" Tanya Deli.


Aruna dan Aan saling pandang. Rasanya tenggorokkan mereka tercekat, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata jua pun. Teringat akan ujian masa lalu, yang sangat kelam.


"Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur," pinta Deli.


"Dari manapun kamu, kamu adalah anak kami, kamu lahir dari rahim mama bersama Rayyan dan Dena," ucap Aruna.


"Bukan itu yang ingin aku dengar ...." rengek Deli.


"Apa kamu ingin mengingkari janji kamu pada papa, hingga kamu mengungkit hal ini?" Tanya Aan.


"Apapun jawaban kalian, aku tatap menepati janjiku nanti," ucap Deli.


"Kamu istimewa Deli, sebelum kamu lahir saja kamu sudah di perebutkan banyak orang," terang Aan.


"Tolong jawab pertanyaanku tadi ...." pinta Deli.

__ADS_1


"Jika kamu tahu, apa kamu ingin lari dari janji kamu?" Tanya Aan lagi.


"Aku tidak akan lari dari janjiku papa, percayalah, ini bukan alasanku untuk pergi dari kalian. Tapi satu hal, jika benar aku adalah janin Adeeva. Maka aku harus menetap di desa Kayu Alam. Siapapun yang papa jodohkan denganku, maka dia harus ikut aku, untuk menetap di desa itu," Deli meyakinkan papanya.


"Seserius ini?" Aruna cemas.


"Tolong …." Deli memohon agar Aan dan Aruna menjawab pertanyaannya.


"Mama tidak tahu dari mana mulai cerita ini, yang jelas salah satu makhluk halus menitipkan janin pada rahim mama, karena di alam dia, janin itu di buru oleh banyak orang, bahkan sampai janin itu lahir masih banyak orang yang memburunya," ucap Aruna.


"Perjuangan kami sangat besar Deli, bahkan kami sempat bercerai, karena orang-orang yang memburu kamu, mereka berhasil membuat kami terpisah, namun Tuhan berkata lain, setelah ujian panjang kami bisa bersama lagi." Aan melingkarkan tangannya di bahu Aruna.


"Jadi benar aku adalah si ikatan darah," Deli melamun.


"Tapi kamu anak kami," ringis Aruna.


"Apakah penderitaan kami masih kurang? Apa perjuangan kami masih belum cukup agar kamu akui, bahwa kami ini orang tua kamu?" Tanya Aan pada Deli.


"Tidak ada bukti nyata yang mengatakan kalau kamu bukan anak kami, kamu anak kami sayang," ringis Aruna.


"Aku memang anak kalian, tapi si ikatan darah ini harus menunaikan tugasnya, jika tugas itu selesai aku harus menetap di sana, menjaga gunung Naju dari incaran para pemburu harta perut bumi," ucap Deli.


Aruna menangis, karena Deli harus menjalani kehidupan di desa itu selamanya.


"Walaupun aku harus menjalani sisa kehidupanku di desa itu, aku tetap anak kalian, papa … carikan saja aku suami, tapi suami yang bersedia menghabiskan waktu di desa bersamaku," ucap Deli.


Aruna masih tidak bisa terima kalau Deli harus menjalani kehidupan di desa selamanya karena kewajiban 'ikatan darah.'


"Mama, ini garisan hidupku, relakan aku menjalani garisan yang sudah tergaris buatku." Deli memeluk Aruna.


"Kunjungi kami jika kamu nanti tidak sibuk menghitung kerikil di pinggir sungai," ringis Aruna.


Deli tersenyum dan mengangguk pelan. Mereka bertiga berpelukan.


****


Setelah mengetahui, siapa dirinya, Deli segera menemui Surya di penginapan, untuk menanyakan kapan akan kembali ke desa Kayu Alam.


***


Di penginapan, tempat Surya menginap.


Surya tengah santai di restoran yang ada di penginapan. Dia sengaja memilih meja di luar ruangan agar leluasa melihat pemandangan lalu lalang kendaraan yang melintasi tempat parkir di depan matanya tersebut.


Surya hampir tersedak, saat melihat seorang wanita yang tidak asing keluar dari mobil yang bagus.


"Adelia?" Gumam Surya saat melihat Deli berjalan ke arahnya. Dia segera meletakkan gelas kopi yang dia pegang, ke atas meja.


Tanpa permisi, Deli langsung duduk di kursi dekat Surya.


"Surya, ternyata benar aku adalah itu." Deli meng isyarat kalau dirinya adalah janin Adeeva.


"Kalau itu benar, besok pagi-pagi kita kembali ke desa, jangan sekarang soalnya kita akan sampai kemalaman jika kembali sekarang," ucap Surya.


"Aku setuju, baiklah aku kembali pulang lagi." Deli segera bangkit dari posisinya, dan pamit pergi.


"Kamu?"


Deli menghentikan langkah kakinya. "Aku kenapa?"


"Kamu bukan dari kalangan bawah, mobilmu …." ucap Surya lirih.

__ADS_1


"Ah sudahlah, sampai ketemu besok pagi." Deli meneruskan langkah kakinya. Deli terus pergi, dia tidak menghiraukan Surya yang masih mematung memandanginya.


***


__ADS_2