
Deli dan Akhmad duduk di dalam sampan. Keduanya hanya diam tidak berani melakukan apa-apa. Entah darimana asap putih pekat itu berasal, hingga keadaan di sana diselimuti oleh kabut.
Saat kabut menyelimuti keadaan di sana. Seketika mereka berdua sama-sama kehilangan kesadaran. Di luar kesadarannya, Akhmad langsung menyerobot tanpa permisi, ia langsung melakukan hal itu, tanpa kesadaran penuh. Akmad melakukan tugasnya, tanpa melepas pakainan mereka, hanya menyingkap yang perlu saja.
Setelah menenggelamkan semua miliknya pada Deli, Seketika kesadaran Akhmad dan Deli kembali. Keduanya terkejut dengan keadaan saat ini. kedua pasang mata saling pandang, sama-sama bertanya dalam hati, kenapa mereka dalam posisi ini.
Jantung Ahmad berdetak tidak beraturan. Menyadari dirinya telah berkuasa atas tubuh Deli. Sedang Deli, hanya bisa menahan rasa sakit pada salah satu anggota badannya.
Akhmad menyadari Deli kesakitan akan keadaan ini. "Maafkan aku ...."
Deli diam tidak bisa menjawab. Ingin marah pun percuma.
Keadaan ini sungguh canggung. Mengingat ini salah satu tugas merekaz Akhmad harus memberanikan diri. "Kita lanjutkan ...." bisik Akhmad. Deli diam, tidak menyahut.
Akhmad berusaha melakukan sebisa dia. "Kami telah melakukan semua persyaratan, tolong angkat semua kutukan ini," ucapan Akmad seakan tertahan.
Akhmad terus mendalami kegiatan mereka. Terus menunaikan syarat yang diharuskan dilakukan di dalam sampan itu.
Dua orang itu larut dalam tugas mereka. Tanpa mereka sadari, air sungai yang tadi dangkal perlahan semakin dalam. Tebing batu pun perlahan menurunkan air sedikit demi sedikit dari atas sana, pertanda air terjun itu akan mengalir kembali.
KHembusan napas keduanya semakin memburu, saat Akhmad merasakan dirinya berada di puncak yang tertinggi. Perlahan Akhmad melepaskan miliknya dari Deli, Akmad kembali mengenakan pakaian bagian bawahnya. Berusaha mengatur napasnya, lalu berbaring kembali dalam sampan di samping Deli.
Entah angin apa yang berhembus, hingga membuat keduanya tidak sadarkan diri. Sampan yang tadi berada di atas Batu perlahan hanyut di bawa air. Karena air sungai semakin lama semakin dalam. Air terjun di tebing itu pun turun semakin deras. Namun sampan yang membawa sepasang suami istri itu tetap hanyut dengan santai.
****
Di tempat pemujaan.
"Bos!!! Air bos ada air datang!!!" Seru yang lain. Cepat bawa gadis-gadis itu ke seberang masukan mereka ke dalam helly sekarang!!!" Perintah Alet. Dia sadar kalau dia lengah, karena jika air datang artinya kutukan patah, rahasiapun akan segera terungkap.
Saat anak buah Alet berusaha mendekati para gadis yang terikat, warga desa langsung mengepung mereka. Sedang beberapa warga lain langsung melepaskan gadis-gadis tawanan Alet.
"Oh … selama ini kami kalian bodohi!! Kalian bilang kalau ini pemujaan, ternyata kalian menjual gadis desa ini!!" Teriak Ramu.
"Mbah!! Bereskan mereka semua!" Perintah Alet.
Tiba-tiba bermacam bunyi terdengar dari arah sungai dan air langsung menerjang apa saja yang berada di tempat bekas Aliran sungai tersebut.
"Alhamdulillah, ikatan darah sudah berhasil mematahkan kutukan Adeeva," ringis Pinah.
"Apalagi yang kita tunggu, serang!!!" Teriak warga yang bersembunyi di semak lainnya.
Seketika dinding pemisah goib yang selama ini di buat paranormal Alet runtuh, sang dukun tiba-tiba mematung, mulut dan matanya mengeluarkan darah. Saat dinding pemisah goib runtuh, semua warga melihat banyak kuburan yang ada di area pemujaan.
***
( Di sisi lain …
Rumah Alet dan beberapa lumbung Alet di lalap kobaran api, dalam rumah itu hanya ada istri Alet dan anaknya, semua anak buah Alet berkumpul di tempat pemujaan bersama Alet dan dukunnya.
"Tolong! Tolong .…"
Namun suara teriakan itu tidak ada yang mendengar, karena semua warga juga berkumpul di tempat pemujaan Alet.
Tidak ada yang menolong, istri dan anak Alet terbakar bersama rumah mereka.)
***
Alet bingung harus apa, dia kalah jumlah dengan warga. Alet berusaha ingin lari, namun semua warga sudah mengepung.
__ADS_1
"Jelaskan pada kami kubur apa ini!" Bentak Warga.
Alet tidak mau buka suara, warga terus mendesaknya dengan memukulinya tanpa ampun.
Itu kubur anak-anak yang selama ini kami culik!!! Kami menjual organ mereka," ringis Alet.
Kemarahan warga semakin menjadi-jadi. Mereka semua memukuli Alet dan para anteknya tanpa ampun.
Di puncak kemarahan mereka, datang wanita wujud separu ular dan separu manusia, ekor wanita itu menahan Sampan yang hanyut di bawa arus sungai yang mulai mengalir kembali. Sampan itu dia dorong dengan ekornya ke tepi sungai.
"Sang ikatan darah sudah memenuhi janjinya, kutukan Adeeva sudah patah, asal kalian tahu Adeeva dan Fauji tidak bersalah, mayat anak kecil yang ada di kolong rumah Adeeva adalah koban Alet dan sekutunya," ucap sosok itu.
Warga yang mendengar hal tersebut sangat menyesal karena termakan hasutan Alet.
"Serahkan Alet dan sekutunya padaku, akan aku pastikan mereka tersiksa," seru sosok itu.
Semua warga mendorong Alet dan anak buahnya kehadapan wanita itu.
"Ikatan darah … bangunlah, tugasmu sudah selesai,"
"Pras!!!" Air menciprat ke wajah Deli dan Akhmad yang tidak sadarkan diri dalam sampan.
Mereka berdua sangat terkejut, saat menyadari kalau saat ini mereka tidak berada di bawah air terjun itu lagi. Mereka semakin terkejut karena melihat seluruh warga ada di sekitar mereka.
"Deli, tolong jagalah pegungunan ini, gunung ini milik semua warga, lindungi gunung ini Deli," seru wanita berwujud separu ular itu.
Sebuah peti kayu ber ukuran sedang, dari mana asalnya, seketika ada di hadapan Deli.
"Itu semua surat-surat resmi pegunungan ini yang aku simpan. Sekarang kewajibanmu melindungi desa ini dan gunung ini."
Setelah menyerahkan hal itu pada Deli, sosok wanita berwujud separu ular itu menghilang bersama Alet dan sekutunya. Hanya jasad dukun itu yang tertinggal.
"Buang ke sungai," seru Ramu.
Beberapa warga ramai-ramai mengangkat jasad dukun pelindung Elet dan membuangnya kesungai.
Sorak-sorai terdengar begitu heboh di sungai tersebut. Warga bajagia, akhirnya kutukan Adeeva lepas.
"Adeeva, Fauji, maafkan kami semua," ringis Ramu.
"Abah Ramu, mohon bimbingannya agar kami bisa menjaga salah satu penyangga alam ini," ucap Deli.
"Kita jaga sama-sama pegunungan ini, untuk masa depan anak cucu kita," seru Ramu.
"Nak Lia, kamu sudah membebaskan kami dari kutukan Adeeva, adakah yang bisa kami bantu sebagai ungkapan terima kasih kami?" Tanya salah satu warga.
"Saya sangat senang bisa membantu, jujur saya tersiksa dengan mimpi saya melihat kalian dalam kesulitan, tapi … ada sih satu," ucap Deli.
"Apa itu?" Tanya Ramu.
"Izinkan kami membangun pondok pesantren di desa ini," pinta Deli.
Akhmad melotot pada Deli.
"Bukankah itu mimpi kamu?" Tanya Deli.
"Membangun pondok bukan hal mudah Lia," seru Akhmad.
"Bagiku mudah, karena aku anak papa," seru Deli.
__ADS_1
Semua warga bahagia, bukan hanya kutukan di desa yang lepas, tapi mereka tidak perlu lagi mengirim anak gadis mereka ke luar desa.
"Tunggu, apa itu?" Seru warga ketika melihat dua buah hellycopter meninggalkan desa mereka.
"Itu tadinya transportasi kami untuk meninggalkan desa, karena kami akan di jual Alet itu," seru Arni.
"Kutukan desa ini sudah terangkat, bolehkan kami kembali ke kota? Hanya sebentar, aku ingin berkenalan dengan mertuaku, selain ingin mengenalkan suamiku pada papa dan mamaku, sebentar lagi saudara kembarku juga akan menikah, apakah kami bisa meninggalkan desa sebentar?" Tanya Deli.
"Sebentar tentu boleh, selamanya tidak bisa, karena kamu adalah pemilik pegunungan Naju ini Lia," seru Ramu.
"Namaku sebenarnya Adelia Tama Shidqia, maafkan aku karena aku berbohong, aku akrab di panggil Deli, tapi jika kalian nyaman memanggilku Lia juga tidak masalah," seru Deli.
Semua warga hanya tersenyum, mereka semua memeluk Deli bergantian.
Tiba-tiba warga mengangkat Deli dan membawa Deli ke arah sungai.
"Jangan melemparku ke sungai!!! Aku tidak bisa berenang," teriak Deli. Namun warga terlanjur melemparnya kedalam arus sungai yang mulai tenang.
Mendengar teriakan Deli tidak bisa berenang, semua warga beramai-ramai terjun untuk menolong Deli. Setelah menolong Deli mereka semua tertawa.
"Baru saja kami hampir melakukan kesalahan yang sama," seru salah satu warga.
Deli berusaha tersenyum walau dia sempat ketakutan karena sempat kelelep.
"Kami akan mengajari kamu berenang nak Lia," seru Ramu.
"Nanti Akhmad saja yang mengajari, biar lebih romantis," seru Surya.
"Tadi berasa gak?" Tanya Ayan iseng pada Akhmad.
Akhmad tidak menjawab, dia hanya melempar senyumnya.
"Sudah, nak Akhmad, ayo bawa pulang istrimu, bukankah kalian akan melakukan perjalanan panjang," seru Pinah.
Beberapa warga pulang bersama Pinah, Deli dan Akhmad, namun beberapa beramai-ramai main di sungai. Karena sangat lama mereka tidak pernah merasakan mandi di sungai yang ada di desa mereka.
Kehebohan masih terjadi di pinggir sungai, beberapa warga lain membereskan dan menghancurkan tempat pemujaan milik dukun yang selama ini melindungi Alet.
Warga yang kembali ke rumah sangat terkejut melihat rumah Alet rata dengan tanah.
"Sudahlah, pasti ini hukuman buat mereka semua," seru warga yang lain. Mereka tidak perduli dengan keluarga Alet. Karena selama ini mereka di tindas Alet dan kloninya.
Keajaiban terus terjadi. Sumur-sumur warga yang mengering perlahan di penuhi air. Kebahagiaan mulai menyelimuti desa Kayu Alam.
***
Empat orang pengusaha tambang yang tinggal di kota mengalami hal tragis, mereka mati mendadak, tidak ada satupun yang mengetahui sebab kematian mereka. Hingga wajah-wajah pengusaha itu menghiasi surat kabar dengan time line "Turut berduka cita".
***
Bersambung.
****
*Ih kok gini amat ceritanya, hambar!!!
** Mohon maaf, Author lagi kurang fit, niat mau lanjutin nanti takutnya gak sempat, demi ketenangan makanya Author balap biar End,
Author paling gak tenang kalau karya belum End, jadi maaf ya 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1