
Aruna masih tertawa melihat mimik kekesalan di wajah Aan, sedang Aan segera berjalan menuju pintu.
"Jangan biarkan pembantumu masuk, aku tidak pakai kerudung ini!" teriak Aruna.
Aan mengacungkan jempolnya ke udara.
Aan membuka pintu utama villanya, "ada apa?" tanya Aan.
"Enggak Tuan, kali aja Tuan perlu bantuan," ucap mang Tatang.
"Makasih mang, tapi saya tidak perlu bantuan, kalau saya perlu nanti saya akan kabari mang Tatang."
"Tapi Tuan?"
"Mang, saya disini sama istri saya."
"Istri?" Tatang heran.
"Iya, istri, saya nikah lagi sama istri saya yang dulu, minta pengertianya ya mang." Aan mengedipkan sebelah matanya.
"Kalau begitu saya pamit Tuan," ucap Tatang.
Aan mengangguk dan tersenyum, setelah Tatang pergi pintu kembali dia kunci dan melanjutkan aktivitas yang tertunda.
*****
Di majelis.
"Pak ustadz yakin akan menengok mantan dukun itu?" tanya Ilyas.
"Yakin, kita harus memberi mereka kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, lagian ini juga sudah terkumpul bantuan dari para donator untuk mereka, jika mereka mau menerima," ucap Ali.
"Kapan kita ke rutan (rumah tahanan) Pak ustadz?" Tltanya Safta.
"Sekarang, ayo semuanya," ajak Ali.
Ali, Safta, Sibki dan Ilyas segera masuk ke mobi, mereka menunu rumah tahanan di mana para mantan dukun itu mendekam.
Kini mereka sudah bertemu dengan pemimpin kelompok dukun itu, Darnawan namanya.
"Pagi Pak," sapa Ali.
Darnawan tersenyum kecut. "Kenapa kemari? Mau menertawakanku?"
"Tidak Pak, kami kemari ingin mengabarkan incaran bapak itu tidak memiliki kelebihan lagi," terang Ali.
"Aku tahu, walaupun masih juga percuma, karena kalian mengeluarkan semua ajian yang selama ini kamu raih."
"Kami kemari untuk membantu Bapak, kami sudah merenggut pekerjaan Bapak, jika Bapak mau menerima pekerjaan yang kami tawarkan, namun ini harus bekerja keras meneteskan keringat, tidak seperti dulu ongkang-ongkang kaki dapat duit," ucap Ali.
"Hanya aku?" tanya Darnawan.
"Tidak, kalian semua, kami sudah periksa kehidupan kalian sebelumnya, kalian petani yang hebat, jika kalian menerima bantuan kami, kami berharap kalian mau menjalani kehidupan selayaknya kebanyakan orang, tidak bergantung pada hal-hal yang mistis lagi."
__ADS_1
"Kami dalam penjara, mana mungkin kami bisa berladang di desa kami," seru Darnawan.
"Anak-anak dan istri kalian bisa menjalankan selama kalian masih di sini, sedangkan untuk kalian, pikirkanlah usaha apa yang mampu kalian lakukan dari dalam sini, kami akan bantu modal, jika kami bisa kami juga akan bantu jualkan atau sebagainya," ucap Ali.
"Apa ini sogokkan?"
"Sama sekali bukan, kami sudah merenggut pekerjaan kalian semua, apa salah? jika kami ingin membantu dengan memberi pekerjaan? Namun pekerjaan yang kami tawarkan tidak seenak pekerjaan kalian dulu," ucap Ali.
"Terima saja Pak, aku lelah ber urusan dengan mahkluk halus, izinkan kami hidup seperti kebanyakan orang," ucap seorang perempuan yang datang bersama permpuan lainnya.
"Manda?" Darnawan terkejut melihat penampilan anaknya yang memakai baju syar'i.
"Maaf Pak, selama ini aku hijrah tidak bilang-bilang Bapak, aku pakai pakaian ini ketika di majelis dan perkumpulan lain, saat pulang aku lepas kembali," ucap perempuan yang di panggil Darnawan Manda.
"Manda benar Pak, terima saja, kita kembali seperti dulu, Bapak berkebun lagi, kalau Bapak jadi dukun ibu gak yakin ada orang yang mau menikahi Manda," ucap perempuan satunya.
"Ada, aku .…" ucap Sibki tanpa kesadaran, dia terpana memandangi Manda.
Manda memandang ke arah Sibki, pandangan mereka bertemu, namun Manda segera mengalihkan pandangannya. Semua orang juga memandangi Sibki.
"Jangan cari gara-gara!" tegur Ilyas menutup mata Sibki dengan tangannya.
"Ada apa?" Sibki kaget dari lamunannya.
"Ayo geser, kasih Manda dan ibunya ruang untuk duduk," seru Ali.
"Terima kasih," ucap Manda. Dia dan ibunya segera duduk ditempat yang kosong.
"Pak, terima saja tawaran ustadz, ada yang Bapak belum rasakan jika Bapak belum taubat, kembali Pak," pinta Manda halus.
"Kabari kami nanti Pak, jika Bapak sudah punya jawaban," ucap Ali.
Sibki masih mematung memandangi Manda.
"Manda sudah punya calon?" tanya Ali.
Manda menggeleng. "Belum," jawabnya.
"Manda mau ta'arufan sama--" Ali meng isyarat kepada Sibki.
Manda memandang ke arah Bapak dan ibunya. Darnawan dan istrinya menganggukkan kepala mereka, tanda mereka setuju.
"Untuk saling kenal dulu boleh, tapi saya tidak jamin untuk bisa lebih," jawab Manda.
"Perkenalan itu lebih baik, silakan simpan nomer kamu di ponselku." Ali memberikan ponselnya pada Manda.
"Ustadzah Nurul?" Manda terkejut saat melihat walpaper layar ponsel Ali.
"Iya, dia Nurul istriku," ucap Ali.
"Astaghfirullah, Anda ustadz Ali? Maafkan saya sebelumnya saya lancang," ucap Manda.
"Simpan nomer kamu, biar yang melamun ini nanti menghubungi kamu," pinta Ali.
__ADS_1
Manda segera memasukan nomer ponselnya pada ponsel ustadz Ali.
"Ini ustadz, titip salam sama ustadzah, saya salah satu anggota remaja hijrah, saya sangat suka pada ustadzah Nurul." Manda mengembalikan ponsel Ali.
"Insya Allah disampaikan, kalau begitu kami pamit, kasian Sibki, bisa gila dia kalau lama-lama di sini," ucap Ali.
Sibki masih mematung memandangi Manda.
"Permisi semua, kami pamit, Safta Ilyas seret pemuda itu," pinta Ali.
Sibki masih memandangi Manda walau dirinya diseret dua sahabatnya, Ilyas dan Safta.
"Assalamu'alaikum," salam Ali.
"Wa'alaikum salam," jawab Manda dan ibunya.
Darnawan menatap kearah istri dan anaknya, heran dengan segala perubahan anak dan istrinya.
Ustadz Ali dan teman-temannya mulai menjauh.
"Kamu pakai susuk itu Manda?" Darnawan memastikan, karena merasa bingung dengan pemuda yang bernama Sibki, yang begitu terpesona dengan Manda.
"Tidak Pak, aku sudah buang semua yang Bapak masukan kedalam diriku," jawab Manda.
"Jadi pemuda itu?"
"Pemuda itu benar-benar suka pada Manda tanpa tarikan hal-hal goib, pemuda itu benar-benar jatuh cinta sama Manda, seperti kita muda dulu Pak," jawab istrinya.
"Ya sudah, kalau begitu restu Bapak menyertai keputusan kamu Manda, terima jika kamu memang mau, bukan karena bantuan yang mereka berikan."
"Iya Pak, Manda akan istiqharah minta petunjuk Allah," jawab Manda.
*****
Ali berhenti ketika melihat westafel untuk cuci tangan di sampingnya. Dia segera cuci tangan, lalu menampung air di telapak tangannya.
"Laa haula wala quwwata illa billah," Ali langsung menyapukan air yang ada pada telapak tangannya ke wajah Sibki.
"Astaghfirullah! Ada apa ini?" Sibki terkejut.
"Kamu yang ada apa? Kenapa?" Goda Ali.
"Lho, Manda dan?"
"Sudah, Manda bersedia ta'arufan sama kamu, ini aku sudah punya nomer ponselnya," ucap Ali.
"Beneran Pak ustadz?"
"Iya benar, tapi pulang dulu baru ku kasih," jawab Ali.
Sibki selalu tersenyum mengingat wajah Manda.
"Ayo semua pulang, Ilyas kamu yang menyetir, aku takut nabrak pohon yang tidak bersalah, jika Sibki yang menyetir," pinta Ali.
__ADS_1
Mereka semua meninggalkan rumah tahanan dan segera pulang ke majelis.
Setelah semua urusan di majelis selesai, Sibki segera pulang ke rumahnya untuk memberi kabar bahagia pada keempat orang tuanya, kalau dia akan menjalani proses ta'arufan dengan seorang wanita yang mencuri hatinya sejak pandangan pertama.