Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 37* Pergi Bersama


__ADS_3

Aan berjalan berkeliling komplek majelis ta'lim mahabbah. Dia memandangi tanaman bunga bunga yang menghiasi taman majelis itu. Sedang Aruna berjalan santai sambil membaca buku juzz Amma yang diberikan Nurul untuk menghafal ayat-ayat pendek.


"Deguppbbbbb..." Aruna menabrak seseorang.


"Ma maaf tuan ... saya tidak melihat jalan," lirih Aruna


"Hei ... kamu ...? Huh ... kamu ini hoby banget ya nabrak orang, oh maaf, sepertinya kita impas," seru Aan.


Aruna tersenyum.


"Andika, panggil Aan," kata Aan mengenalkan diri dan mengulurkan tangannya


"Aruna ..." jawab Aruna sambil menangkup kedua telapak tangannya setentang dadanya.


"Oh ... maaf ... aku lupa ini majelis," seru Aan menarik tangan nya. "Hei ... giok itu?" Lirih Aan


"Apa kamu juga kena santet seseorang?" Tanya Aan.


"Ohhh ... ini? Ini ceritanya panjang, tapi ... kenapa anda tahu apa guna giok ini?" Kata Aruna.


"Almarhumah istriku, dia pernah memakai itu, setelah menjalani ruqyah pada ustadz Ali, sejak saat itu juga aku mengenal lebih dalam ustadz Ali. Istriku kena santet karena ada orang yang dengki pada istriku, hingga dia mati mengenaskan," terang Aan.


"Maafkan aku ..." lirih Aruna


"Tidak mengapa, aku sudah mulai bisa meng ikhaskan kepergiannya," jawab Aan.


"Saya permisi Tuan ... sepertinya saya terlambat ke rumah ustadz Ali," seru Aruna.


"Assalamu alaikum"


"Wa alaikum salam," jawab Aan.

__ADS_1


Sesampai rumah Nurul Aruna segera kedapur membantu Salha dan Umi fatma.


"Umi ... di luar ada Aan," ucap Nurul yang baru masuk ke area dapur.


"Oh ... Salha ...Aruna salah satu di antara kalian buatkan dua gelas kopi, sama bawa gorengan, Antarkan keluar," pinta Fatma.


"Biar Salha saja ya umi," pinta Salha.


"Terserah ... kalau kamu yang keluar, Maka Aruna yang kepasar soalnya barang barang dapur habis," seru fatma.


"Iya umi ..." jawab salha.


Salha menyeduh kopi untuk Ali dan tamunya.


Salha melihat Aruna dan umi sibuk bicara, hingga kesempatan Salha memasukan sesuatu ke kopi buat Aan.


"Aruna ... ini list belanjaan ini uangnya, kamu yang kepasar," pinta Fatma


Sedang Salha siap mengantar kopi dan gorengan yang tertata di nampan.


"Assalamu alaikum," sapa Salha halus menyapa Ali dan Aan.


"Wa alaikum salam," jawab Ali dan Aan.


"Ini kopi nya ... silahkan di lanjut, saya permisi," ucap Salha lembut dan mengucapkan salam kembali.


"Terimakasih Salha," ucap Ali dan Aan. Mereka menjawab salam Salha. Salha sudah menghilang dari ruang tamu.


"Boleh di minum ustadz kopi nya?" tanya Aan.


"Jangan!!!" Ada sesuatu yang aneh di kopi mu, ini ... minum saja kopi ku," seru Ali.

__ADS_1


Aan heran, namun dia lebih menurut perintah Ali. Setelah menyerumput kopi, Aan mulai bicara,


"Pak ustadz ... saya kemari ingin mengetahui siapa yang tega menyantet almarhumah istri saya, saya ingin tahu bukan dendam, tapi saya ingin jaga jaga, karena takut nantinya istri saya yang baru juga mengalami nasib yang sama," terang Aan.


"Aku mengerti ... Aku juga senang kalau kamu mau membuka hati untuk wanita lain," jawab Ali.


"Kamu masih simpan giok hijau yang pernah di pakai istrimu?" Tanya Ali.


"Masih ... saya simpan di kontrakkan," jawab Aan.


"Kamu pecahkan giok itu seberapa mampu kamu menjadikan gelang giok itu hancur, lalu kamu taburkan di makam istri mu, tabur dengan bunga, agar tidak mencolok," seru Ali.


"Apakah itu mengganggu istri saya pak ustadz ...?" Tanya Aan


"Tidak sama sekali, kamu tenang saja ... itu tidak mengganggu per istirahatan istrimu," jawab Ali.


"Kalo begitu saya pamit pak ustadz," ucap Aan


Setelah berpamitan Aan berjalan menuju kontrakannya. Dilihatnya di tepi jalan ada Aruna yang sedang menunggu Angkot. Tanpa pikir panjang, langsung saja Aan menghampiri Aruna.


"Assalamu alaikum Aruna," seru Aan


"Wa alaikum salam ka Aan," jawab Aruna.


"Kamu mau kepasar? Mau bareng ngga? Soal aku juga mau kepasar," lirih Aan.


"Nggak usah kak ... takut ngerepotin.... aku biasa kok naik angkot," jawab Aruna.


"hemmm ... gini aja ... kalau aku balik lagi kamu belum naik angkot, kamu bareng aja, kasian Nurul masaknya kesiangan kalau kamu lama kepasarnya," ucap Aan.


Aruna mengangguk. Segera Aan berlari menuju mobilnya, benar saja saat Aan sudah mengendarai mobil dan berhenti tepat di depan Aruna, Aruna belum dapat Angkot. Mau tidak mau Aruna masuk mobil Aan.

__ADS_1


__ADS_2