
Dalam Mushalla.
"Kata Tuan ... wanita yang dia kagumi itu janda ya pak ustadz?" Tanya Suminten.
"Iya ... dia mengakunya janda," jawab Ali.
"Pasti orang nya baik ya ... sangat terlihat tuan begitu menyukainya," ucap Wahyu.
"Iya ... dia memang baik, selama lebih setahun ini dia tinggal bersama istri dan mertua saya," terang Ali.
Ali bertanya banyak hal kepada mereka mereka.
*
"Hei ... apa Anda tidak mau menemaniku menemui saudara muslim kita yang baru?" tanya Aruna.
Aan teperanjat mendengar kata-kata Aruna. "Kamu mau?" Aan tersenyum sumringah.
Aruna mengangguk.
Mereka berjalan bersama menuju tempat di mana Ali dan lainnya masih berkumpul.
"Assalamu alaikum," ucap Aan dan Aruna.
"Wa alaikum salam ...." jawab semuanya.
Deggggghhhh
Deggg ...
Deggg ...
__ADS_1
Air mata mengalir begitu deras di pipi Aruna, Wahyu, dan juga Suminten. Saat menyadari siapa yang dilihat.
"Ya ALLAH ... umak .... abah ..." pekik Aruna, langsung berlari menuju Suminten dan Wahyu.
Suminten tidak bisa berkata, dia segera berdiri menyambut pelukan putrinya yang sangat dia rindukan selama ini, begitu juga Wahyu. Putrinya yang dia cari selama lebih dari setahun ini ada di depan matanya mengenakan baju muslimah.
Aruna memeluk Suminten, sedang Wahyu memeluk keduanya. Tangisan keluarga itu pecah, karena bisa bertemu kembali, setelah mengalami kepahitan yang luar biasa.
"Ya Allah ... terima kasih ... KAU pertemukan kami dengan anak kami ...." pekikan tangis Suminten.
Tidak Ada yang bisa berkata-kata. Hanya tangisan mewarnai pertemuan ini.
"Umak ... Abah, Aruna kangen kalian ...." ringis Aruna.
Semua baru mengerti kalau Suminten dan Wahyu orang tua Aruna dan ternyata Aruna lah yang mereka cari selama ini.
"Ekhhem ... kita lanjut di rumah, ya ...." pinta Ali.
"Umak ... abah ... kenapa bisa sampai kemari?" tanya Aruna.
"Cerita nya panjang sayang ... setelah malam pahit itu, kami pergi dari desa, untuk mencarimu, untung kami bertemu Tuan Andika dan kami bekerja di rumahnya selama ini," sahut Suminten.
"Ya Allah ... ternyata kita sangat dekat Mak ...." Aruna berusaha tersenyum.
"Kak Aan ... terima kasih ... selama ini kak Aan membantu umak dan abah Aruna," ucap Aruna memandangi Aan.
Aan membalas dengan menganggukan kepalanya.
"Tuhan mempertemukan kalian di saat yang sangat luar biasa!!!" Seru Ali.
"Iya ... Kami beberapa kali kemari tapi tidak pernah ketemu Aruna," jawab Wahyu.
__ADS_1
"Terima kasih Ustadz ... selama ini Anda membantu Anak kami," lirih Suminten
"Sama sama bu ... anak ibu juga membantu kami selama ini," jawab Ali.
Astaga ... jadi Aruna yang di sukai tuan Andika ...? Lirih hati suminten. Sambil memandangi Andika yang seperti kehilangan gaya.
"Tuan ... dia?" Tanya suminten meng isyarat ke Aruna.
Andika nyengir, dia tidak tahu harus apa, karena mengakui perasaannya ke orang tua wanita yang dia cintai. Sedang wanita yang dia cintai tidak tahu menahu tentang rasa cinta Aan yang tertuju padanya.
"Emm bik Sumi ... saya mau bicara sedikit." Aan menarik Suminten ke samping, memisahkan diri dari rombongan.
"Apa Tuan?" tanya Suminten.
"Bik ... saya mohon ... jangan cerita ke Aruna ya ... Aruna belum tau bi ... saya mohon bii ...." pinta Aan.
"Iya Tuan ... saya akan biarkan Aruna tahu, dari Tuan sendiri," sahut Suminten.
"Terima kasih bik ...." Aan kegirangan.
Mereka segera bergabung dengan rombongan ustadz Ali dan sekarang mereka sudah sampai rumah Nurul. Setelah mengucapkan salam, Nurul keluar menyambut suaminya Ali. Nurul langsung salim pada Ali.
"Wah ... banyak tamu ini ...." sapa Nurul sambil senyum.
"Iya ... ini bu Suminten dan suaminya Pak Wahyu, mereka yang tadi mengucap syahadat di mushalla," ungkap Ali.
"Masya Allah ...." ucap Nurul. Segera Nurul memeluk Suminten.
"Semakin cantik saja istri ustadz Ali." Suminten memandangi Nurul.
Nurul tersenyum pada mereka semua.
__ADS_1