Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 27. Pertemuan Pertama


__ADS_3

Aruna duduk menghayati setiap hal yang dia lihat, sungguh jauh dari keadaannya selama ini, waktu dia di Desa.


Di desa, setiap kali Aruna menyusuri jalan desa, selalu saja para pemuda desa berusaha mengganggunya, dengan bermacam rayuan bahkan berani menyentuh Aruna.


Dari pria bujangan, duda, hingga ber istri selalu menggoda dan merayunya. Sejak itu Aruna di jauhi warga desa yang perempuan. Karena mereka menganggap Aruna penggoda.


Hanya Alis lah satu-satunya teman Aruna.


Sedang perempuan desa lain menjauhi dan membencinya.


Semenjak menjadi janda kegiatan Aruna mencuci di sungai menjadi tidak tenang lagi, karena para lelaki selalu datang ke sungai untuk menggoda dan merayunya. Bahkan sering terjadi keributan di sungai apabila para istri memergoki para suami mereka mendekati Aruna.


Bahkan Aruna mengalami dua kali Hal tragis yaitu diperkosa lelaki di kampungnya kejadian itu dua kali. Pertama, saat di rumahnya dan yang kedua di hutan saat ingin menuju Kebun abahnya. Tidak terasa air mata Aruna menetes mengingat kejadian yang menimpa dirinya sebelumnya.


"Assalamualaikum." suara salam seseorang mengejutkan lamunan Aruna


Aruna menjawab salam orang itu


"Wa alaikumsalam," sahut Aruna, Aruna langsung menghapus air mata nya.


"Maaf ... apa apa umi Fatma nya ada?" Tanya seorang laki-laki yang berdiri di teras rumah Nurul.


"Oh ada sebentar saya akan panggilkan, tapi anda siapa ya?" Tanya Aruna


"Oh maaf Bilang saja Aan mencari Umi," sahut pemuda itu

__ADS_1


Aruna tersenyum sambil mengangguk dan berjalan ke dalam rumah, untuk memanggil Umi Fatma. Umi Fatma keluar menemui pemuda itu, sedang Aruna langsung kekamarnya karena itu bukan urusannya. Umi Fatma mengobrol banyak dengan pemuda itu.


"Tadi siapa Umi?" tanya pemuda itu.


"Oh ... itu Aruna gadis Malang yang ditolong oleh Ustadz Ali," sahut Umi Fatma.


Selesai dengan urusannya Aan pun pulang dan sebelumnya pamit kepada Umi Fatma.


***


Pagi harinya setelah sholat sunat isyroq Aruna menuju kantor Ustaz Ali untuk menanyakan hal yang sangat penting bagi dirinya.


"Assalamualaikum Ustaz Ali," lirih Aruna.


"Wa alaikum salam," sahut Ustaz Ali


"Pak ustaz bukan maksud saya untuk tidak menghormati Pak ustaz tapi saya sungguh ingin melepas sesuatu yang ikatan yang ada pada diri saya," kata Aruna.


"Baik nanti setelah ba'da dzuhur kamu datang ketempat biasa saya meruqyah orang, kamu datang saja dalam keadaan berwudhu nanti kita akan ruqyah bersama-sama," sahut Ustaz Ali.


Aruna sangat bahagia mendengar dia akan diruqyah, karena dia sudah sangat tidak tahan dirinya berkaitan dengan sesuatu yang sangat tidak enak, yaitu sihir guna-guna dan siluman. Sangat bahagianya Aruna tidak melihat arah lagi dia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan tanpa melihat ke depan.


"Gubrak!!!" Karena menabrak seseorang hingga dia pun terpelanting ke lantai sedangkan orang itu terbanting ke samping.


"Maaf lirih orang itu." sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Aruna bangkit.

__ADS_1


Namun Aruna tidak meraih tangan laki-laki itu, dia berusaha bangkit sendiri dan berdiri sendiri.


"Tidak ... saya yang seharusnya meminta maaf, karena saya tidak melihat arah, Saya sangat bahagia jadi saya berjalan tidak melihat apa-apa. Maafkan saya, karena telah menabrak Anda," lirih Aruna.


Sedang Aruna terus menunduk.


Laki-laki itu baru menyadari kecantikan Aruna dia terpana dengan melihat wajah Aruna yang begitu ayu dan kulit yang begitu mulus dan putih bersih. Padahal dia pernah bertemu Aruna sekali, namun pertemuan kali ini wajah Aruna seakan mengalihkan kesadaran nya.


"Ehem ehem," suara batuk palsu Ustaz Ali mengagetkan laki-laki itu.


"Jaga hati jaga mata jaga telinga jaga hawa nafsu," kata Ustad Ali menyindir laki-laki itu.


"Maaf pak ustad," kata laki-laki itu malu dia pun segera menghampiri ustaz Ali.


Sedang Aruna kembali berjalan menuju rumah Nurul karena itu bukan urusan nya, juga pagi ini dia harus segera memasak, membantu Nurul, umi Fatma dan salha di rumah Nurul.


Sebenarnya Aan ingin menanyakan hal yang lebih jelas tentang Aruna. Namun dia malu. Lebih baik dia menyelesaikan urusannya saja dengan ustadz Ali.


Setelah urusannya dengan ustadz Ali selesai, Aan pun pulang, karena banyak pekerjaan menantinya.


***


Setelah waktu zduhur Ali menepati janji nya untuk meruqyah Aruna. Ternyata tidak semudah ini mengeluarkan mahluk gaib penunggu liang Aruna.


Namun Ali tidak ingin membebani pikiran Aruna dengan syarat yang harus dipenuhi jika ingin mengeluarkan penunggu itu dan Ali lebih memilih merahasiakan untuk sementara waktu. Dia terus meruqyah Aruna secara berkala.

__ADS_1


Aruna sering menjalankan Ruqyah, namun sebatas untuk melemahkan kekuasaan si penunggu liang pada tubuh Aruna. Agar tidak memakan korban, seperti kejadian sebelumnya di Desa.


__ADS_2