Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 136 Extra Part Sibki Mau Coba?


__ADS_3

Aan tersenyum melihat Aruna menikmati pijatannya.


"Bagaimana Manda kak?"


"Alhamdulillah Manda bebas, besok kalau gak sibuk kita tengok Manda, kamu harus lihat perubahan Manda, perubahan yang sangat luar biasa."


"Alhamdulillah, aku senang Manda sembuh,"


"Apalagi aku, aku gak perlu pisah lagi sama istriku, aku tersiksa," ucap Aan menaikkan pijatannya ke arah lain.


"Disana tidak pegal Pak."


"Tapi aku pegal pengen kesini," goda Aan bermain dia area yang tidak pegal sama sekali.


"Apalagi di sini," tangan Aan naik ke daerah lain.


"Plus-plus ini!" rengek Aruna.


"Ini tidak gratis, kamu harus bayar," goda Aan, tangannya terus beralih ke kaki sebelahnya yang belum di pijat.


"Emm pamrih!"


"Bukan pamrih, secara kita sebulan lebih lho tidak …." Aan menarik turunkan alisnya mengkode pada istrinya.


"Pijat yang benar dulu," ucap Aruna.


Pijatan normal beralih pada pijatan nakal yang lain.


"Tukang pijat mesum!!" Aruna protes.


"Tapi kamu suka," goda Aan.


"Kakak ...." rengek Aruna.


"Jangan berisik, ketahuan yang lain kalau kita melepas peternakan," goda Aan.


"Gak capek apa?" Rengek Aruna.


"Jangan banya bicara! Layani aku," goda Aan.


"Apa?"


"Aku juga pengen di pijat, pinggang aku," rengek Aan sambil tengkurap.


"Iya sayangku, pasti bebeb ku pegal duduk menyetir sepanjang waktu." Aruna memijat bagian belakang Aan.


Aruna mengambil ponselnya.


"Hei ... pijit aku bukan pijit layar ponselmu," seru Aan.


"Aku mau kasih tau hasil meeting hari ini, aku tidak mengerti jadi aku rekam," Aruna memainkan rekaman pada ponselnya. Aan menikmati pijitan Aruna sambil menyimak rekaman rapat tadi siang lewat ponsel Aruna.


"Masya Allah, nikmat mana lagi yang kamu dustakan," ucap Aan merasa nyaman dengan pijatan istrinya.


"Pegel ya?"


"Banget …." jawab Aan.


"Selamat menikamati pijatan asal-asalan ini my hero."


"Dua hari ngantor sok inggris kamu, oh ya dapat salam kamu dari Alis, Danu, dan kedua orang tua Danu.


"Bagaimana keadaan mereka?"


"Alhamdulillah baik dan bahagia, kita kalah sama Alis dan Danu,"


"Kalah kenapa kak?"


"Mereka punya rumah sendiri, lah kita? Kita masih numpang, kadang numpang sama abah, kadang numpang sama bapak."


"Baguskan, kan uang kakak gak kepakai tuh, kita makan numpang juga." Aruna terkekeh.


"Perjalanan kakak lebih cepat, aku mengira kakak akan pulang lebih lama."


"Sangat mudah mencari rumah dukun itu jika kita di desanya, makanya cepat, secara kami ngebut," seru Aan.


Aan merubah posisi tiba-tiba.


"Kita sudah berkorban untuk pengantin baru, saatnya kita juga …."


Suasana mendadak hening. Setalah sebulan bekorban berpisah demi menolong orang lain. Malam ini mereka menolong keinginan mereka selama ini yang harus tertahan karena terpisah.

__ADS_1


***


"Nanti siang kamu ya yang ke kantor lagi, setelah subuh nanti aku mau tidur dulu, semalaman lho aku tidak tidur," ucap Aan.


"Siapa suruh pulang-pulang garap, harusnya pulang tadi malam tidur!" Aruna gemas, dia mencubit hidung Aan.


"Jangan nakal! Aku masih lapar lho, aku masih pengen makan kamu,"


"Emang sanggup?" Aruna menantang.


Aan bangun dari posisinya.


"Jangan bangunkan singa yang lapar yang sedang tertidur, kalau dia bangun, dia pengen makan, sekarang aku bangun, aku pengen makan kamu," Aan mengulangi tugasnya.


"Ya Allah," ringis Aruna pasrah.


"Jangan sentuh-sentuh lagi, ini sedang korslet tau," ucap Aan semakin mendalami kegiatannya.


Setelah mandi dan sholat subuh Aan berlabuh ke alam mimpi. Sedang Aruna menemui anak-anaknya, bermain sebentar denga ketiga anaknya sambil menunggu pengasuhnya mandi dan sarapan.


Setelah para pengasuh selesai Aruna sarapan dan langsung pergi ke kantor Aan bersama sopir yang ditugaskan Aan mengantar jemput Aruna.


****


Kejadian di rumah kontrakan Sibki.


Di rumah Sibki saat adzan subuh berkumandang mereka fokus dengan tujuan kewajiban mereka, Sibki tidak melihat kearah kasur Manda, begitu juga Tiar dan Suminten. Setelah membuka mata mereka langsung pergi ke kamar mandi yang ada di dapur bergantian. Sedang Sibki dan Sofyan langsung pergi ke mushalla.


Selesai sholat subuh di mushalla Sibki pulang dan masuk ke kamar Manda.


"Masya Allah! Ibu, umak! Manda di mana?" teriak Sibki.


Suminten dan Tiar yang sedang memasak di dapur langsung mematikan kompor mereka.


"Kami tidak tahu," ucap Suminten.


"Aku akan ke Pak ustadz, ya Allah … jangan-jangan Manda pergi dalam keadaan linglung," Sibki sangat panik. Sibki langsung berlari menuju mushalla.


"Bagaimana ini," ringis Tiar.


Tiar dan Suminten berpelukan sambil menangis menyadari Manda tidak ada di tempat tidur.


"Ada apa? kenapa kak Sibki teriak? Aku sedang sholat di kamar sebelah," ucap Manda.


"Tadi malam setelah mandi semua penyakit kulitku hilang seketika," ucap Manda.


Suminten dan Tiar langsung memeluk Manda.


"Kita temui suamimu yang panik menemui ustadz Ali," seru Tiar.


"Harus?" tanya Manda.


"Kejutkan dia," seru Suminten.


"Sebentar aku mengambil kerudungku," ucap Manda


Setelah Manda memakai kerudungnya mereka bertiga berjalan menuju mushalla.


***


Di mushalla.


Sibki berdiri menanti Ali menyelesaikan sholat sunnat israq-nya.


Sofyan selesai lebih dahulu, dia heran melihat Sibki dengan raut wajah yang begitu panik. "Ada apa?"


"Aku ingin bicara sama ustadz penting," ucap Sibki.


"Manda?" Sofyan juga panik.


"Apalagi yang bisa membuatku panik seperti ini selain adikmu, dia mengalihkan duniaku," ringis Sibki.


"Kita sama-sama tunggu Pak ustadz," usul Sofyan.


Mereka berdua duduk lesehan di pelataran mushalla menunggu Ali yang masih menunaikan sholat sunnah.


"Assalamu alaikum, Sofyan, Sibki, ada apa?" tanya Ali.


"Wa alaikum salam," jawab Sibki dan Sofyan.


"Ustadz … Manda hilang," ringis Sibki.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?" Ali dan Sofyan bersamaan balik bertanya.


"Harusnya aku tidak membuka ikatan Manda, sekarang pasti Manda kelayapan dengan keadaan linglung, ustadz …." tangis Sibki pecah.


"Enak saja menuduhku kelayapan dalam keadaan linglung!"


Suara tegas itu berhasil mengalihkan perhatian Ali, Sibki, dan Sofyan.


"Dia?" Sibki tidak percaya dengan yang dia lihat.


"Saat kakak panik aku sedang sholat di kamar sebelah, dari jam tiga dinihari aku meng qadha sholatku," ucap Manda.


Sibki masih mematung.


"Kamu belum tahu kalau Manda sembuh?" tanya Sofyan.


"Kapan?" Sibki masih bingung.


"Tadi malam, saat Aan, pak Wahyu dan pak Jago kembali Manda sembih seperti sedia kala, seperti membuang kelilipan mata," terang Ali.


"Kenapa kalian tidak membangunkan aku?" Tanya Sibki.


"Mata kakak di mana? Kan kakak tidur di dekat tempat tidurku, kenapa kakak tidak menyadari saat kakak bangun pertama kali?" protes Manda.


Sibki masih mematung memandangi Manda.


"Sibki, Manda sudah sembuh," seru Suminten.


Air mata Sibki menentes melihat Manda yang benar-benar sembuh, dan ini bukan khayalannya.


"Terima kasih ustadz," Sibki memeluk Ali.


"Ingat terima kasih kepada Allah," Ali menepuk bahu Sibki halus.


"Sofyan, ratu kita sembuh," seru Sibki.


Sibki dan Sofyan juga berpelukan.


"Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah dan ihktiar semua orang." seru Sofyan sambil menggebuk halus punggung Sibki.


"Maaf aku mengganggu momen romantis antara ipar, tapi aku lapar, aku pamit pulang, bidadari sorgaku pasti sedang menungguku di rumah," sela Ali.


"Romantis? Ih jijik!" Sibki dan Sofyan bersamaan sambil melepas pelukan mereka.


"Assalamu alaikum," Ali meninggalkan mereka semua.


"Wa alaikum salam," jawab mereka semua.


"Ayo pulang, masakkan kami belum selesai gara-gara teriakan kamu Sibki," seru Suminten.


Sofyan dan Tiar berjalan lebih dulu, di ikuti oleh Suminten. Sedang Sibki dan Manda berjalan pelan berdampingan di belakang mereka.


"Kamu beneran sembuh?" Sibki masih tidak percaya.


"Alhamdulillah kak, lihat aku bisa jalan," jawab Manda.


"Kulitmu benar-benar sembuh tanpa bekas, bagaimana milikmu itu?"


"Alhamdulillah, benar-benar sembuh," jawab Manda.


"Yakin sembuh beneran?" Sibki ragu.


"Iya … beneran sembuh, mau coba?" Goda Manda.


Manda menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena malu keceplosan bicara. Lalu berjalan cepat menyusul Suminten, Tiar dan Sofyan yang berjalan di depan mereka.


Sibki berhenti melangkah mendengar pertanyaan Manda. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya lalu memijat tengkuknya, darahnya terasa mendidih mendengar perkataan Manda barusan. Sedang Manda sudah jauh berjalan didepan bersama yang lainnya.


Sibki menarik napas dalam dan menghembuskan tiba-tiba, senyuman selalu terukir di wajah Sibki. Dia segera berjalan menyusul yang lainnya.


****


Bersambung ...


*****


Next nya nanti ya ...


Rasanya sudah up banyak hari ini.


Terimakasih sudah setia dengan TGG

__ADS_1


🥰🥰🥰🤗🤗🤗😉


__ADS_2