
Putri ular sangat menjaga janin Adeeva, namun dia kecolongan, saat dia sibuk melawan para pengikutnya yang berani menentangnya, seorang laki-laki yang mendapat kepercayaannya malah mengkhianatinya.
Burhan, laki-laki yang membuat putri jatuh cinta, namun laki-laki itu juga tega mengkhianantinya, karena berani mencuri janin yang selama ini dia jaga. Janin Adeeva mulai tumbuh jadi manusia di rahim istri Burhan.
Saat mengetahui hal itu. Putri ular tidak rela janin Adeeva lahir dari rahim Bayna. Putri terbayang akan sosok Aruna. Dia mengambil lagi janin itu. Lalu mengirimnya pada rahim Aruna.
Hingga bayi Adeeva lahir bersama anak-anak Aruna yang lain. Beruntung Aruna, Aan dan yang lain berhasil menuntaskan masalah saat bayi itu mulai hadir di rahim Aruna.
Karena syarat melepas kelebihan bayi itu adalah menuntaskan masalah besar kala bayi itu hadir. Permasalahan pertama kejahatan Saman, kedua Linda yang tidak bersalah, ketiga perpisahan Aan dan Aruna.
Syarat membebaskan bayi itu. Mengungkap rahasia besar, membebaskan dia yang tidak bersalah dan mengembalikan sesuatu yang hilang pada tempatnya. Saat Aruna kembali ke sisi Aan semua persyaratan itu terpenuhi. Kini bayi itu hanya manusia biasa. Namun ikatan darah siapa yang bisa memutuskan?
***
Seorang warga, asli desa itu selalu memanggil bayi Adeeva lewat pemujaan yang dia lakukan di sungai yang mengering. Dia mengirim pesan pada bayi Adeeva yang dia yakini bayi itu sudah tumbuh besar. Namun si pemanggil di bunuh oleh orang suruhan, orang yang tidak rela jika kutukan desa Kayu Alam lepas. Namun usaha memanggil bayi Adeeva dilanjutkan lagi oleh anak laki-laki orang itu. Tanpa di ketahui yang lainnya.
Bayi Adeeva itu memang tumbuh besar, dia adalah Adelia Tama Shidqia, salah satu putri kembar Aan yang kini sudah berada di desa Kayu Alam. Dia datang memenuhi panggilan orang-orang yang memintanya datang kedesa tersebut dan mengharap pertolongannya.
Namun tidak seorangpun tahu kalau Deli adalah 'si ikatan darah. Dia menyamar jadi Lia. Para penjaga perbatasan desa itu, hanya tahu kalau nama 'si ikatan darah' Deli, anak seorang pengusaha. Sebatas tahu, namun ketua mereka tidak bisa menemukan di kota mana Deli tinggal. Mereka berharap, bisa membunuh 'si ikatan darah' saat dia datang ke desa Kayu Alam.
Jati diri Deli disembunyikan oleh para makhluk halus yang menginginkan kedamaaian kembali untuk desa Kayu Alam. Tanpa Deli ketahui, ada surat-surat atas data diri orang lain sudah siap di dalam tasnya. Karena kalau desa Kayu Alam selamanya seperti ini. Para investor gila itu akan semakin mudah menghasut warga agar meninggalkan desa Kayu Alam. Mudah juga bagi para investor meruntuh gunung Naju, dan mengeruk kekayaan perut bumi yang ada di pengunungan Naju.
***
Suara kokokkan ayam, membuat mata yang tadi terpejam rapat, perlahan terbuka. Deli terbangun dari tidurnya, dia segera bangkit, dan melangkah menuju dapur. Di sana Deli melihat Pinah.
"Assalamu alaikum mak," sapa Deli.
"Wa alaikum salam, kita sholat subuhnya ke mushalla saja, karena air sulit di sini, sedang di mushalla air banyak, karena sumur di sana tidak kering," ajak Pinah.
"Iya mak, Lia mau bilas sedikit badan dulu biar segar," jawab Deli.
Setelah mereka siap, Pinah dan Deli berjalan bersama menuju mushalla yang tidak jauh dari rumah Pinah.
Deli dan Pinah langsung menuju tempat wudhu. Senyuman terukir di wajah Pinahz saat melihat seorang pemuda berjalan kearahnya.
"Assalamu alaikum nak Akhmad," sapa Pinah.
"Wa alaikum salam mak," jawab Akhmad, dia melirik sedikit kearah wanita yang baru selesai berwudhu, yang berdiri di samping Pinah. Tidak bisa di pungkiri, Akhmad terpesona dengan raut wajah wanita itu.
*Masya Allah, apakah ini manusia apa bidadari?
Astaghfirullah* ....
Akhmad segera menyadarkan dirinya. "Mak, saya duluan." Akhmad berjalan lebih dulu memasuki mushalla desa itu.
Merasa laki-laki itu sudah pergi, Deli segera menegakkan wajahnya, dia sengaja menunduk sedari tadi.
"Tadi nak Akhmad, dia juga dari kota, tapi dia menetap di sini karena pengen mengajari anak-anak di sini sampai bisa mengaji," ucap Pinah.
__ADS_1
Deli hanya tersenyum menanggapi cerita Pinah. Mereka segera masuk ke mushalla, untuk menunaikan sholat subuh berjamaah.
***
Sepulang dari mushalla Deli berjalan menuju tempat yang harusnya di aliri aliran sungai. Namun tidak ada air di bekas aliran sungai itu, yang terlihat hanya bebatuan besar yang tersuguh di sana.
"Hei yang selalu memanggilku, kini aku datang, harus apa aku?" Ucap Deli pelan.
"Empp!!!" Seseorang memangup Deli dan membawanya ke semak.
"Diam, jika kamu diam aku akan melepaskan kamu," bisik orang itu. Perlahan dia melepaskan Deli.
"Apa!"
Orang itu langsung memangup mulut Deli lagi.
"Pelan-pelan saja bicaranya, kalau kamu tidak menurut, kamu tidak akan sampai pada misi kamu," bisik orang itu.
"Deli mulai faham, karena di depan sana ada beberapa orang berkeliaran.
"Mereka semua preman para investor yang ingin meruntuh gunung ini," bisik orang itu.
"Apa hubungannya dengan aku," bisik Deli.
"Ceritanya panjang, nanti aku akan ceritakan dari awal."
"Aku Surya, aku yang beberapa tahun ini memanggil kamu, sebelumnya ayahku, tapi ayahku sudah mati." Ada raut kesedihan di wajah laki-laki yang bernama Surya itu.
Deli dan Surya masih sembunyi di semak-semak menunggu orang-orang yang patroli itu pergi.
"Apakah masih ada orang yang berani melakukan pemanggilan untuk si ikatan darah?" Tanya salah satu preman di sana.
"Sejak Ayah Surya mati, tidak ada lagi yang melakukan pemanggilan itu, aku sering patroli di sini bersama Surya," ucap yang satunya.
...
(Deli memandang Surya.)
"Aku menyamar jadi salah satu dari mereka agar aku bisa melakukan pemnaggilan setiap malam, buktinya kamu datang," ucap Surya.
...
"Baguslah, tetap jaga kawasan ini jangan sampai ada warga yang melakukan panggilan pada 'si ikatan darah,' sebentar lagi urusan dan izin untuk bos kita siap. Jika izin sudah kita kantongi, pundi-pundi uang akan masuk ke rekening kita," seru yang lainnya.
"Bagaimana dengan gadis kota yang baru datang?"
"Dia hanya seorang pelajar yang harus melakukan tugas di sini. Dia bukan ancaman."
Merasa keadaan aman. Para preman itu meninggalkan area sungai itu.
__ADS_1
Surya memantau keadaan, setelah memastikan mereka semua pergi, Deli dan Surya keluar dari semak di mana mereka bersembunyi.
"Aku sudah datang, apa tugasku?" Tanya Deli.
"Kita cari tahu sama-sama, jujur aku juga tidak tahu bagaimana membuat kutukan ini patah," ucap Surya lemah.
"Dari cerita bapak aku, desa ini dulu sangat damai dan nyaman, namun sejak warga meng eksekusi sepasang suami istri penunggu gunung ini, desa ini perlahan mengalami krisis air bersih walau tidak kemarau." Surya mulai menceritakan tentang Adeeva dan Fauji.
Deli menyimak segala cerita Surya.
"Maaf sebelumnya, aku mempernalkan nama asli, padahal aku masuk desa ini memakai nama Lia, tapi itu tidak bohong, namaku Adelia Tama Shidqia,"
"Tidak masalah, jika mereka tidak tahu nama asli kamu, sangat mudah bagi kamu menunaikan misi kamu, ayo kita kembali, nanti dikira orang ngapain lagi kita berduaan di sini."
Saat Deli dan Surya keluar dari semak belukar, tidak sengaja Akhmad melihat mereka.
"Dasar!" gerutu Akhmad pelan.
***
Hari demi hari Deli jalani di desa itu, dia hanya berteman dengan Surya dan Ayan. Karena hanya dua orang itu yang setia membantu Deli.
Deli harus bersabar, karena dia tidak tahu harus apa.
Namun Surya senantiasa membantu dia mencari-cari petunjuk untuk mematahkan kutukan desa Kayu Alam.
Mereka tengah berkumpul dalam mushalla. Memikirkan langkah untuk kedepannya. Di depan sana, seorang pemuda fokus mengajari beberapa anak mengaji. Sedang Deli, Surya dan Ayan. Mereka duduk di bagian shaf yang biasa di pakai para perempuan untuk sholat.
"Lia, maaf sebelumnya, apakah kamu anak kandung ayah dan ibumu?" Tanya Surya.
"Apa maksud kamu?"
"Seseorang yang aku panggil itu adalah keturunan Adeeva dan Fauji, lalu yang datang kamu, jika kamu keturunan Adeeva bagaimana mungkin kamu keturunan asli kedua orang tau kamu?"
"Surya, setahuku aku anak kandung papa dan mamaku, aku punya saudara kembar," ucap Deli.
"Langkah awal kita kamu harus cari tahu jati diri kamu sendiri sebelum terjun lebih dalam," ucap Surya.
"Bisakah kalian kecilkan volome suara kalian? Aku tengah mengajar anak-anak?" Pinta Akhmad.
"Kamu cemburu?" Goda Ayan.
"Teruskan saja apa yang kalian mau." Akmad pasrah, dan membiarkan mereka semua dengan urusan mereka.
"Guru ngaji itu benar, ayo kita keluar," ajak Deli.
"Hanya tempat ini yang tidak pantau gerombolan preman desa Lia," ucap Ayan.
"Kalau begitu, kita bicaranya pelan saja, kasian anak-anak itu." Deli menunjuk ke arah anak-anak yang belajar mengaji.
__ADS_1