Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 57* Diculik


__ADS_3

"Apa itu???" Fatma sangat kaget mendengar bunyi pecah dari kamar Aruna.


"Hekkk haaah ...." dera nafas Nurul, Nurul bisa bernafas dengan lancar.


"Ali! Jangan bilang kalau Aruna ...." Fatma menerka-nerka.


"Umi ... saya harap umi sabar!" Seru Ali memotong ucapan Fatma.


Nurul mulai baikan, kini Ali berpindah ke bagian kepala Nurul,


"Nurul ... kalo kamu hafal ayat yang Aa baca, ikuti ya ..." pinta Ali.


Nurul menganggukan kepalanya, menjawab perkataan suaminya.


Ini sangat mudah bagi Ali, karena ini bukan santet yang serius.


Sedang Salha berdiri mematung melihat semua itu, dia sangat senang, karena dia menangkap aura kekesalan di wajah umi Fatma. Dia yakin jebakannya buat Aruna berhasil.


Nurul mulai stabil, setelah Ali selesai meruqyahnya, dia tidak lagi merasakan sakit kepala hebat dan nafasnya juga tidak sesak lagi.


Dengan perasaan yang hancur, Fatma berjalan menuju kamar Aruna. Fatma masuk kedalam dan mengacak acak isi kamar Aruna, dia sangat tertekan, melihat Nurul tersiksa karena santet. Dia sangat takut kehilangan Nurul, seperti dia kehilangan Maya. Tidak sengaja Fatma menyenggol lipatan sajadah dan mukena Aruna, boneka vodo itu pun tergeletak di lantai bersama mukena dan sajadah.


Kemarahan Fatma memuncak, saat melihat boneka Vodo bertulis nama Nurul berlilit benang hitam pada lehernya. Fatma memungutnya, dia berjalan keluar menuju Ali yang duduk bersama Nurul.


"Apa ini?!!" Teriak Fatma sambil melempar boneka vodo itu.


"Umi ... saya mohon sabar, dan tahan emosi umi.. biar Ali periksa dulu umi ...." lirih Ali lembut.

__ADS_1


Namun Fatma tidak bisa menahan emosinya.


"Umi ... saya bawa Nurul dulu ke kamar untuk istirahat," seru Ali.


Ali membantu Nurul berjalan menuju kamar mereka.


Setelah membantu Nurul berbaring di tempat tidur, Ali keluar menghampiri umi Fatma.


"Umi ... Ali harap umi bersabar ... Ali tidak yakin Aruna melakukan semua ini, saya akan cek boneka yang umi dapat dari kamar Aruna," lirih Ali mencoba memadamkan Amarah Fatma terhadap Aruna.


"Dia kan berasal dari desa yang warganya gemar santet, jelas umi marah melihat anak umi satu-satunya tersiksa karena disantet! Umi tidak mau kehilangan anak lagi, seperti umi kehilangan Maya!!!" teriak Fatma.


"Umi ... memang Aruna dari desa yang seperti itu, tapi Ali yakin Aruna tidak melakukan itu pada Nurul, Aruna sangat menyayangi Nurul umi ..." jelas Ali.


"Oh ... kamu membela Aruna ...? hemm ... jangan-jangan kamu berniat menikahinya?" ucap Fatma.


"Astaghfirullah ... umi ... tolong tahan emosi umi, sebelum Ali mengetahui kebenarannya. Jika memang Aruna pelakunya, kita akan introgasi sama-sama." jawab Ali.


Aruna sedari tadi berada di samping pintu rumah Nurul, dia bersembunyi karena beberapa kali dia mendengar umi Fatma menyebut namanya dengan nada Marah. Hatinya begitu sakit mendengar sangkaan buruk umi Fatma padanya.


Salha melihat kehadiran Aruna sengaja diam dan pura pura tidak tahu kalau Aruna mendengar semua itu. Dia melihat Aruna berlari ke arah jalan raya. Salha segera meraih ponselnya me sms seseorang mengabarkan posisi Aruna saat ini.


"Bagaimana keadaan kak Nurul?" Tanya Salha menyapa Ali yang nampak gusar.


"Dia baik, kamu istirahat saja," jawab Ali.


Salha pun berjalan menuju kamarnya, setelah masuk ia kunci pintu kamarnya. Rasanya ingin melompat saja, hari yang indah, satu umpan dua sekaligus dia dapat.

__ADS_1


Ali beranjak ke dapur membuatkan minuman buat Nurul, susu sapi murni satu gelas kecil, di campur dua sendok madu, untuk mengembalikan tenaga Nurul. Selesai membuatnya, Ali segera ke kamar Nurul untuk menyuruh istrinya minum.


***


Aruna bingung harus kemana, dia tidak mau pulang, dia tidak ingin orang tuanya melihat kesedihan diwajahnya. Aruna berjalan menyusuri jalan, air matanya terus mengalir.


Aan baru datang bekerja tersenyum melihat Aruna dari kejauhan menyusuri jalanan seorang diri. Aan memainkan kunci mobilnya, dia berpikir untuk menghampiri Aruna atau tidak. Kunci mobil yang dia mainkan terlempar kearah tanaman didekatnya.


Aan melihat-lihat ke tanaman mencari kunci mobil nya, disaat yang sama, sebuah mobil jeep melaju pelan membuntuti Aruna yang berjalan seorang diri itu. Karena keadaan memang sepi, segera salah seorang yang berada dalam mobil turun dan langsung membekap Aruna dengan sapu tangan yang sudah ditetesi obat bius.


Aruna mencoba melawan, hingga tangannya membentur sisi dari mobil jeep itu, hingga pecahlah gelang giok yang selama ini dia kenanakan, Aruna pingsan. Orang kedua dari mobil langsung membantu rekannya mengangkat tubuh kecil Aruna masuk ke mobil mereka. Sang sopir segera melajukan mobilnya, karena mangsa sudah mereka dapat kan.


Aan baru dapat kunci mobilnya, dia tersenyum, saat dia menegakkan wajahnya melihat kembali ke arah jalan, hanya melihat sebuah mobil jeep yang melaju cepat. Sedang Aruna tidak terlihat lagi di sana.


Aan berlari ke arah jalanan yang tadi dilalui Aruna. Dia baru sadar, mobil tadi menculik Aruna, karena ada sendal jepit Aruna dan pecahan giok yang biasa melingkar di tangan Aruna. Aan memungut semua nya, langsung berlari ke rumah ustadz Ali.


"Assalamu alaikum ustadz Ali!!" Teriak Aan.


Ali duduk santai di ruang tamu segera berjalan keluar.


"Wa alaikum salam ...." jawab Ali.


"Ustadz ... Aruna di culik!!" Lirih Aan sambil memperlihatkan sendal jepit Aruna, dan pecahan goik hijau.


"Di culik apa kabur?" Seru Salha baru keluar,


(*Flash back ...

__ADS_1


Salha langsung berbunga-bunga mendengar teriakan seorang laki-laki yang terdengar panik. Salha sangat mengenali suara itu, yah ... itu suara Aan. Salha sangat senang karena Aan hari ini berkunjung kerumah Ali.


Flash back off* )


__ADS_2