
Setiap sudut rumah Sofyan dan Tiar teliti, tidak ada satupun hal yang mencurigakan mereka dapatkan. Sofyan meraih ponselnya. Untuk menelpon Sibki, panggilan terhubung.
Merasa urusan saat ini selesai Ali dan Ilyas pamit meninggalkan rumah Sibki.
"Assalamu alaikum sofyan,"
"Wa alaikum salam, Sibki kami sudah cari tapi tidak ada hal aneh,"
"Baiklah, kalau begitu kita akan temui bapak kamu, barangkali dia lebih tau," ĺirih Sibki.
"Jangan!!!" Teriak Manda.
"Jangan ganggu pikiran bapak dengan hal ini, kumohon," pinta Manda.
"Manda benar Sibki, bapak sudah berhenti dari dunia lamanya, sekarang bapak belajar sesautu yang batu, setidaknya jangan buat bapak pengen kembali pada masa lalunya," seru Sofyan yang samar mendengar teriakan Manda.
"Baiklah, kalau begitu kami akan fokus mengobati Manda dengan medis, karena ustadz Ali juga tidak menemukan hal aneh.
"Iya Sibki, aku akan sesekali mengunjungi kalian,
Assalamu alaikum," lirih Sofyan.
"Wa alaikum salam," jawab Sibki.
Paggilan telepon selesai.
"Kenapa kaka menikahiku? Aku hanya jadi beban dalam hidup kaka, lihat aku hanya terbaring ditempat tidur dan hanya mengenakan selimut,"
"Manda, jika hati sudah memilih, apapun akan diperjuangkan oleh si pemilik hati," ucap Sibki.
"Kaka sudah kabari keluarga kaka?"
"Astaghfirullah, aku terlalu tegang, aku lupa mengabari kalau aku menikah," ringis Sibki.
"Kabari mereka, jika mereka keberatan kaka harus kembalikan aku, ceritakan semuanya," pinta Manda.
"Keluargaku baik, mereka tidak akan berlaku seperti dugaan mu," Sibki memainkan ponselnya dan melakukan panggilan telepon dengan Aruna.
"Assalamu alaikum,"
"Wa alaikum salam Run,"
"Ada apa kak?"
"Aruna, aku bisa minta tolong? Aku melakukan kesalahan besar, ku harap kamu bisa membantuku minta maaf sama abah, umak, ibu dan bapak,"
"Apa maksud kaka?"
Sibki mulai menceritakan pernikahan sirinya dengan Manda dan hal buruk yang menimpa Manda.
"Astaghfirullah, kasian sekali Manda, aku akan bicara pada umak dan semuanya, nanti malam aku akan kesana sama kak Aan."
"Iya Run, minta bantuannya ya,"
"Iya kak, mereka pasti faham,"
"Sudah dulu ya Run, aku ada tugas lain,"
"Iya kak, titip salam buat kak Manda,"
"Iya, assalamu alaikum,"
"Wa alaikum salam."
…………………………………
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Manda.
"Aruna akan kesini nanti malam,"
"Jangan! Aku malu,"
"Jangan malu, Aruna bahkan pernah mengalami hal yang lebih buruk, 10 apa berapa aku lupa, orang yang mati karena menyentuhnya, ah sudahlah itu cerita lama,"
Sibki memasang beberapa aromaterapy di kamar mereka.
"Manda, bolehkah aku membantumu mengobati anu mu," ucap Sibki ragu.
"Makasih kak, tentu boleh, harusnya kaka mendapatkan yang lebih baik, tapi kaka …,"
"Kamu akan sembuh Manda, ini hanya ujian,"
"Apa aku sanggup?"
"Ini ujian kita berdua Manda, lihat sekarang aku harus menyentuh milikmu, apa aku sanggup," lirih Sibki.
"Kaka … sudahkan pintu kaka kunci? Aku takut pas kaka mengobati itu ada yang masuk.
"Sudah," jawab Sibki.
Dengan tangan gemetaran Sibki membuka penutup Manda. Sibki mulai mengoles obat pemberian dokter pada kewanitaan Manda.
"Maafkan aku," lirih Sibki sambil mengoles obat.
"Aku yang minta maaf, seharusnya kaka menikmatinya, malahan kaka harus mengobati itu," lirih Manda.
"Apakah sakit?"
"Tidak kalau aku hanya berbaring dan membiarkan pahaku terbuka seperti itu, hanya saja tidak enak, becek," jawab Manda.
"Kak Sibki memang laki-laki bodoh, menikahi wanita sepertiku,"
"Iya, entah kenapa saat melihatmu di rumah tahanan waktu itu akal sehatku hilang, hanya kamu yang menari-nari disini," Sibki menunjuk bagian dahinya.
"Kaka memang luar biasa, pantas kak Sofyan selalu memuji kaka,"
"Bolehkah aku menciummu?" Tanya Sibki.
"Aku tidak melarang, tapi jangan menyiksa diri kaka, karena aku tidak mampu memuaskan kaka," Manda meng isyarat pada milik Sibki yang nampak kencang dari balik kain itu.
Sibkib terkekeh, "maafkan aku, aku pria normal, melihat saja ini pertama kali, sekarang aku malah menyentuhnya," ucap Sibki.
"Aku bahagia, tapi aku juga sedih, aku bahagia karena memiliki suami yang sangat baik seperti kaka, tapi aku sedih, laki-laki baik seperti kaka harus …,"
"Ssettss … sudah," Sibki meletakan jari di depan bibir manda.
"Apakah jari ini yang mengoles obat?" Ringis Manda.
"Bukan, aku mengoles dengan tangan kiriku, ini tangan kanan ku,"
"Hem … aku ingin tidur di samping istriku, apa boleh?"
"Aku tidak melarang tapi ada bau tak sedap ini, apa kakak tidak terganggu?"
"Tidak sama sekali," Sibki berbaring di sisi Manda.
"Baiklah, tapi cuci tangan kaka dulu," pinta Manda.
Sibki bangkit dan langsung menuju kamar mandi mencuci tangannya, selesai dia tidur di samping Manda.
"Aku izin memelukmu," lirih Sibki.
__ADS_1
Sibki berbaring miring sambil memeluk Manda.
***
Di rumah Jojo.
"Ada apa Aruna? Kenapa kamu meminta bapak dan abah pulang?" Tanya Jojo.
"Setelah aku bicara aku harap kalian semua maklum," ucap Aruna.
"Baik," jawab Jojo.
"Mbak, bawa mereka bertiga main di luar ya," pinta Aruna kepada ketiga pengasuh anak-anaknya.
"Iya bu," pengasuh dan anak-anak nya pergi ke arah luar.
"Pak, bu, abah, umak, ini masalah Sibki. Manda sakit, salah satu hal yang membuat Sibki menikahi Manda secara tiba-tiba," Aruna mulai menceritakan keadaan Manda dan pernikahan Sibki yang secara mendadak tanpa sempat memberi kabar pada orang tuanya.
"Kasian Manda," ringis Suminten.
"Bapak kesal Sibki tidak memberi tahu tentang pernikahannya, apa sulitnya menelpon orang tua," ringin Jojo.
"Pak …," lirih Aruna.
"Aku mau memberinperhitungan dengan Sibki, kamu Aruna bersiap, kamu sama bapak ketempat Sibki,"
"Aku mau pak, malah aku pengen membantu merawat Manda, tapi ekorku …," ringis Aruna meng isyarat ketiga anaknya.
"Anak-anakmu sudah biasa dengan pengasuh dan kami, jika kamu mau kesana boleh, tapi kalau nak Aan mengizinkan, kalau tidak biar umak yang merawat Manda," ucap Suminten.
"Aku saja mak, aku akan minta izin sama kak Aan, aku yakin Manda akan risih kalau umak atau ibu yang merawat dia,"
"Baiklah, telepon suami kamu, jika dapat izin bersiaplah," seru Mastia.
Aruna meraih telepon dan langsung menelpon Aan.
""""""""""""""""""
Di kantor Aan.
Seorang wanita masuk keruang kerja Aan di temani sekretaris Aan
"Assalamu alaikum pak Aan,"
"Wa alaikum salam,"
"Masih ingat saya?"
Aan mencoba memutar ingatannya.
"Saya Elna, saya teman calon istri Sibki,"
"Astaghfirullah, maafkan aku, aku benar-benar lupa," seru Aan.
"Tidak masalah pak,"
"Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Aan langsung.
"Saya punya pendidikan yg lumayan, saya seorang sarjana lulisan fakultas yang ternama di kota ini," Elna menyodorkan berkas dirinya.
"Hubungannya dengan saya?" Tanya Aan langsung.
"Saya ingin menjadi sekretaris anda pak Aan,"
Aan bingung mau menjawab apa, Aan memutar otaknya memikirkan cara halus menolak lamaran Elna yang melamar jadi sekeretarisnya.
__ADS_1