
Mastia membelai halus wajah Aruna.
"Cantik sekali calon mantu ku," lirih Mastia
Aruna tersenyum.
"Kapan kalian akan menikah Suli?" Tanya Mastia.
"Segera, jika ibu sehat, karena kami ingin AKAD NIKAH di majelis ustadz Ali," jawab Sibki.
Mendengar nama Ali wajah mastia berubah, dia merasa Ali meracuni anaknya, sehingga Sibki menolak melanjutkan usaha bapaknya dan lebih memilih mengabdi di majelis itu.
"Apa istimewanya sih, si Ali itu, hingga kamu ...."
"Aruna .... kamu lanjut istrahat, pasti kamu gerah kan," seru Jojo. sengaja memotong pembicaraan Mastia.
Aruna mengangguk, dan permisi pada semua orang, lalu meninggalkan kamar Mastia. Karena Aruna tahu mereka ingin menyelesaikan urusan mereka. Setelah Aruna pergi, Jojo melanjutkan kembali bicara mereka.
"Bu ... tolong jangan bahas masalah ini, bagi bapak kebahagiaan Suli lebih penting dari uang yang di hasilkan usaha jika di teruskan Suli," lirih Jojo.
"Terserah! Bapak sama Anak sama saja," gerutu Mastia.
Mastia sangat tidak suka pada Ali, karena Ali, Suli menjadi begitu cinta dengan kegiatan keagamaan. Bahkan rela menjadi Relawan di majelis itu, meninggalkan usaha yang Jojo bangun untuknya.
__ADS_1
Kebencian Mastia yang berlebih itu membuat penyakit dalam dirinya semakin subur, dan membuatnya semakin kehilangan kesehatan lnya. Namun hal ini tidak juga membuat Mastia berubah dan sadar sedikitpun.
Sibki dan Jojo meninggalkan Mastia di kamar nya. Mereka berdua duduk di ruang tamu. Sibki meraih ponselnya lalu melakukan panggilan video pada Ali, karena hampir magrib, Sibki yakin pak Wahyu pasti ada di mushalla.
Melihat panggilan Video yang tertera nama Sibki di layar. Ali mengedutkan keningnya merasa heran. Ini perdana Sibki melakukan video call pada nya. Ali menggeser icon video warna hijau.
Apakah ini restu dari sang pencipta atau apa, Ali sedang bersama pak Wahyu di kantornya menunggu waktu magrib
"Assalamu alaikum Sibki ...." sapa Ali.
"Wa alaikum salam ustadz Ali," sahut Sibki mulai merasa grogi.
"Tumben ... ada ap? Cepat katakan maksudmu, ntar magrib masuk waktu, eit ... tunggu ... hemm ... wajahmu itu menggambarkan kau sangat bahagia ...." seru Ali.
"Em ... ada pak wahyu ustadz? Ini masalah Aruna," lirih Sibki.
"Pak wahyu ... maaf ... saya mengutarakan niat saya lewat telepon, karena ini benar-benar darurat, gini pak Wahyu, em ... saya meminta restu pak Wahyu dan bu Suminten. Saya melamar Aruna anak bapak, dan Aruna juga sudah menerima lamaran saya," terang Sibki merasa lega, karena merasa menyampaikan maksudnya dengan jelas, menurutnya.
Namun di seberang sana, Ali dan Wahyu benar-benar kaget. Pikiran Ali dan Wahyu memikirkan bagaimana perasaan Aan? Ali dan Wahyu sangat berharap Aan dan Aruna menikah.
"Gimana pak?" Tanya Sibki memecah lamunan keduanya.
"Bapak ... cuma bisa kasih restu, kalau memang Aruna bersedia menerima lamaran nak Sibki," sahut Wahyu pasrah. Karena keputusan memang di tangan Aruna.
__ADS_1
"Alhamdulillah ... selebihnya nanti saya akan minta tolong ustadz Ali lewat telepon, sekarang mau magrib, assalamu alaikum," seru Sibki.
"Wa alaikum salam," jawab Ali dan Wahyu lemas.
Video Call ber akhir.
Sibki dan bapaknya merasa puas, karena Wahyu bukan orangtua yang egois, dan menyerahkan segala keputusannya pada Aruna.
Di majelis ....
Sungguh berat sholat magrib ini di jalani Wahyu, pikirannya, hanya di penuhi banyak pertanyaan buat Aruna. Sehingga Wahyu banyak melamun saat berada di mushalla. Dia terlanjur menyukai Aan yang sangat mencintai Aruna. Namun Aruna menerima pinangan Sibki. Walaupun Sibki juga baik, namun hatinya tidak enak pada Aan.
Setelah sholat isya, Wahyu dan Suminten pulang bersama. Sumi menangkap Aura kesedihan Suaminya, sangat jelas tergambar di wajah suaminya itu.
"Bah ... ada apa?" Tanya Suminten.
"Allah ... gusti ..., Aruna mak, Aruna menerima lamaran pria lain, bagaimana perasaan nak Aan, kita kan tahu nak Aan menyukai Aruna sejak dulu, sejak kita tinggal di rumahnya, kita banyak hutang jasa sama nak Aan mak ...." lirih Wahyu.
Suminten sangat kaget mendengar tutur suaminya barusan. Wahyu menceritakan bagaimana dia melakukan panggilan video dengan Sibki.
"Ini keputusan yg berat bah ... bagaimana pun Sibki dan Aruna memang dekat, mereka sering pergi bersama mengantar pesanan bunga, mana kita tahu bah ...."
"Bah ... jangan pernah melakukan kesalahan seperti orang tua abah buat dulu, memaksakan kehendak pada anaknya, hanya demi hutang jasa, biarkan Aruna memilih jalan hidupnya sendiri," lirih Suminten.
__ADS_1
Wahyu teringat masa lalu, saat dia di nikahkan paksa oleh orang tuanya, karena merasa hutang nyawa pada orang tua Wila. Yang mati karena menolong dirinya. Sehingga dia memaksa Wahyu menikahi Wila yang sebatang kara. Demi menyelamatkan Wila dari gangguan para pemuda di kala itu. Karena memang Wila cantik seperti Aruna.
Namun semua itu berakhir perpisahan, karena Wahyu dan Wila memang sama-sama tidak mencintai. Mereka menikah hanya karena menghormati keputusan orang tua Wahyu. Wila juga tidak berdaya menolak, sepeninggal orang tuanya, orang tua Wahyu lah yang merawat dirinya. Dan Wila meninggalkan Wahyu dengan cara yang sangat merugikan kehormatan Wahyu.