
Di rumah Sibki.
Manda memandangi keadaannya saat ini, heran dia tidak merasa apa-apa tapi tangan dan kakinya di ikat. Manda melihat Tiar tidak jauh dari posisinya. "Bu …, kenapa tanganku di ikat?"
"Beberapa minggu yang lalu kamu mengamuk sayang," ucap Tiar sambil melepaskan ikatan tangan Manda.
"Kok aku cuma merasa kalau aku habya tidur ya?" Manda terlihat berpikir.
"Itu karena kamu tidak sadar sayang, semua yang berlaku adalah suatu dari alam bawah sadarmu," ucap Suminten.
Setelah ikatan tangan di buka Manda perlahan berusaha duduk.
"Kamu bisa duduk? Secara kewanitaan kamu?" Tiar memastikan.
"Tidak terlalu sakit bu, malahan punggung aku yang pegal," ucap Manda. Manda duduk, perlahan dia menyandarkan badannya pada Sandaran tempat tidur.
Tiar dan Mastia saling pandang melihat keadaan Manda yang mulai normal.
"Assalamu alaikum," salam Sibki dan Sofyan bersamaan.
"Nah itu mereka datang, biar aku yang siapkan," Suminten bangkit dan langsung menemui Sibki dan Sofyan.
"Wa alaikum salam," jawab Suminten.
"Ini mak soto pesanan Manda, aku juga beli buat kita semua." Sibki menyerahkan kantong yang dia bawa pada Suminten.
"Iya, sini umak siapkan biar langsung di makan," ucap Suminten.
"Aku ikut bantu ya mak," ucap Sofyan.
"Ya sudah aku juga ikut bantu," seru Sibki.
Mereka bertiga berjalan ke dapur menyiapkan makanan yang dibeli Sibki. Tidak berapa lama mereka kembali membawa makanan yang sudah tersaji di mangkok.
"Manda, ini soto pesanan kamu, makan sekarang?" Sibki mendekat dengan membawa soto di tangannya.
"Mau kak, sini." Manda ingin menerima mangkok yang Sibki bawa.
"Gak mau di suapin lagi?" tanya Sibki.
Manda menggelengkan kepalanya pelan.
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada lirih.
Manda menerima mangkok yang Sibki bawa dan mulai menyuap makanan tersebut.
"Enak kak, makasih," ucap Manda.
Sibki dan semua orang tersenyun melihat Manda makan dengan lahap. Sibki menyodorkan lagi mangkok yang berisi soto karena mangkok di tangan Manda sudah hampir habis.
"Kalian?" tanya Manda.
"Makanlah, aku beli banyak," jawab Sibki.
Manda mengambil mangkok itu, dan menyatukan isi mangkok yang terdahulu dengan mangkok yang baru dia pegang.
"Entah kenapa perutku sangat lapar," ucap Manda.
"Kami juga," ucap Sofyan.
"Kalau lapar makanlah, kenapa memandangiku, dengan memandangiku kalian tidak akan kenyang!" seru Manda.
"Memang tidak kenyang, tapi bahagia, kamu tahu betapa tersiksanya kami melihat keadaan kamu sebelum ini, seminggu terakhir keadaanmu sungguh mengkhawatirkan."
"Terima kasih telah berjuang menjaga ku." Manda menatap semua orang bergantian, matanya nampak berkaca-kaca, melihat perhatian yang begitu besar tertuju padanya.
__ADS_1
"Ayo kita makan, soalnya aku ingin pergi setelah ini," sela Sofyan, dia langsung mengambil salah satu mangkok dan mulai memakannya.
Kakak juga makanlah," pinta Manda.
"Iya makan, ini." Tiar memberikan mangkok yang berisi soto pada Sibki.
Mereka semua makan bersama-sama.
Setelah selesai makan, Sofyan pamit lalu pergi dengan motornya. Suminten dan Tiar ke dapur membereskan bekas makanan mereka tadi.
Sedang Manda mematung memandangi permukaan kulitnya.
"Kulitku," ringis Manda.
"Biarlah, yang penting kamu sembuh," ucap Sibki pelan.
"Ini sangat mengganggu, apa wajahku juga?" Tanya Manda.
"Gak apa-apa, yang penting di sini tetap cantik." Sibki menunjuk bagian dada kiri Manda.
"Salah apa aku? Kenapa ada orang yang sejahat ini padaku?" ringis Manda.
"Sudah, sabar dan ikhlas, semoga kita bisa mengetahui orang yang tega melakukan ini pada kamu," ucap Sibki.
"Aku juga ingin tahu kak," ringis Manda.
"Bagaimana di sana," Sibki meng isyarat.
"Tidak sakit, tapi aku takut melihatnya," jawab Manda.
"Aku telepon Aan dulu, dia sama abah dan bapak pergi mencari dukun itu untuk menebus kiriman itu, entah usaha siapa yang berhasil," ucap Sibki.
"Masya Allah, kalian?" ringis Manda.
"Kami semua cinta dan sayang padamu, semangat ya," Sibki membelai pucuk kepala Manda.
Sibki langsung menelpon Aan. Mendekatkan benda pipih persegi panjang itu ke sisi telinganya.
"Assalamu alaikum Sibki." Suara dari ujung telepon sana.
"Wa alaikum salam An. Aan, Manda sudah sadar, sadar dalam arti yang normal."
"Alhamdulillah …." seru Aan.
"Apakah kalian berhasil?"
"Kalau kamu belum sampai ditempat kamu artinya kami belum berhasil," ucap Aan.
"Semoga perjalan kalian lancar, itu saja yang ingin aku kabarkan, assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam," jawab Aan.
Sibki memutuskan panggilan telepon mereka.
****
Seharian ini Sofyan menghabiskan waktunya mengintai rumah Ifin yang baru. Hanya berhenti saat waktu sholat tiba. Kini hampir magrib, Sofyan segera kembali ke kediaman Sibki.
"Assalamu alaikum," ucap Sofyan,"
"Wa alaikum salam," jawab Suminten sambil membukakan pintu rumah.
"Sofyan, kemana saja kamu seharian ini," tanya Tiar.
"Ada tugas bu, maaf ya aku pergi seharian," ucap Sofyan.
__ADS_1
"Sudah, sana mandi dulu," seru Suminten.
"Iya makkk, makasih," Sofyan mengambil keperluan mandi dan langsung berjalan menuju kamar mandi.
Suasana hening.
Selesai melakukan kewajiban isya, mereka makan malam bersama, makan malam terasa lebih nikmat walau dengan lauk sederhana, karena Manda yang juga ikut makan bersama mereka. Selesai makan malam mereka bersantai dan berkumpul di kamar Manda.
"Alhamdulillah, cecar Manda juga sudah mulai mengering," seru Suminten
"Iya alhamdulillah mak, tapi kalau berbekas seperti ini aku malu mak,"
"Gak usah Malu, berapa banyak pun bekas itu kamu tetap cantik," ucap Sibki.
Sofyan mulai membuka mulutnya ingin berkata.
"Berani bilang istriku jelek ku santet dirimu," ucap Sibki.
Sofyan menahan ucapannya.
"Sudah beritahu ustadz Ali?" tanya Manda.
Semua orang saling pandang dan menggeleng bersamaan.
"Kalian jahat, aku sakit minta bantuan ustadz, aku mulai sembuh kalian lupa sama ustadz," Manda menggeleng.
"Aku kirim pesan saja, sudah malam tidak enak mengganggu ustadz" seru Sibki.
"Terserah yang penting kabari beliau," seru Manda.
Sibki mulai mengetik pesan di ponsel nya.
"Ustadz, mohon maaf 🙏🙏🙏
Saya terlalu tegang, saya lupa mengabari ustadz kalau Manda sejak tadi pagi baikan, maksud aku mulai normal, maaf Pak ustadz"
tidak lama ponsel Sibki berdering, terlihat di layar pesan balasan dari Ali.
"Alhamdulillah, berarti mereka menemukan dukun itu, semoga Manda benar-benar bebas."
Sibki membalas pesan dari Ali.
"Terimakasih pak ustdadz dan maafkan keteledoran saya,"
Ustadzd Ali membalas pesan Sibki denga emoticon mengedipkan mata sebelah(😉) dan tanda jempol.
"Ustadz memaklumi ketegangan kita semua," ucap Sibki.
"Aku mulai mengantuk, bolehkan aku tidur duluan?" tanya Sofyan.
"Tidur saja semuanya, aku juga mengantuk," ucap Manda.
Mereka semua mengambil bantal dan selimut, lalu tidur leseh di lantai.
"Kenapa di lantai? Kan ada kamar satu lagi?" tanya Manda.
"Kami biasa tidur di sini selama ini, ayo tidur," ajak Sibki.
"Tapi aku merasa menjadi ratu di sini, kalian di bawah aku diatas kasur," ringis Manda.
"Sudah kamu memang ratu kami," ucap Sibki dan Sofyan bersamaan.
"Ayo tidur, ini malam yang damai mulai kita rasakan, biasanya kita di hantui dengan nyanyian menyeramkan Manda," sela Tiar.
"Aku tidur di ruang tamu saja, aku takut malam-malam ratu itu bernafsu padaku," ucap Sofyan, dia bangkit membawa bantal dan selimutnya meninggalkan kamar Sibki dan menuju ruang tamu.
__ADS_1
Mereka semua mulai memejamkan mata mereka, merehatkan tubuh mereka yang lelah.