Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 81. Sulit melepas


__ADS_3

Setelah cukup puas bercanda dengan Wahyu dan Suminten. Aan menemani Aruna di kamarnya. Aan hanya duduk di tepi tempat tidur Aruna yang hanya muat satu orang itu. Dia terus memandangi Aruna yang masih sibuk memasukan baju -baju dan keperluannya untuk di rumah Aan nanti.


Bila teringat apa yang mereka lakukan dalam tenda di sungai sore tadi. Sangat sulit bagi Aan melepas senyumnya.


"Hemm," lirih Aan sambil menghentak-hentakkan pantatnya di kasur Aruna.


"Apa yang kakak lakukan?" Aruna heran melihat kelakuan Aan.


"Hem ... pantas saja umak memintaku membawamu, karena di sini tidak muat untuk kita berdua," lirih Aan sambil merebahkan tubuhnya di kasur Aruna.


"Awh!" Aan meringis.


"Kenapa?" Aruna panik mendengar Aan menjerit.


"Tidak ... ini lebih nyaman saat berbaring di batu daripada di sini," Aan bangkit dari posisi berbaringnya.


"Oh ya? Setidaknya di sini kering tidak basah!!" Jawab Aruna.


"Bukan kering atau basah ... tapi di sini aku sendiri, sedang di sungai aku dengan mu!!" Aan langsung menangkap tubuh Aruna dan memeluknya sangat Erat.


Aan mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Aruna. Persilatan lidah semakin dalam dan semakin serius. Sedang tangannya menjelajah kemana-mana.


"Aruna! Sudah siap sayang? Kasian nak Aan terlalu lama menunggu," teriak Suminten dari luar kamar Aruna. Aan sontak melepaskan pangutan dan pelukannya, karena kaget.


"Umak benar ... cepatlah ... biar kita melakukannya dengan benar," goda Aan, sambil menarik ujung kerudung Aruna.


Plak!!!


Aruna kaget karena Aan menarik ujung kerudungnya, hingga dia refleks memukul Aan. Aan menjerit, karena kaget.


"Aku pastikan.... aku akan membalas pukulan mu nanti!!" seru Aan sambil keluar kamar Aruna.


"Iih ... atuuut," Aruna mengejek.


***


Setelah selesai memasukan baju dan keperluannya, Aruna dan Aan pamit pada umak dan abahnya. Mereka berdua berjalan santai menyusuri jalan bata pres yang membentangi kawasan majelis. Tangan Aan menjinjing tas yang berisi keperluan Aruna.


"Aakkkkkk!!" Teriak Aruna histeris melihat kodok besar yang melompat lompat di depannya. Aruna bersembunyi di belakang Aan.


"Ada apa ini?" Seru Sibki yang juga menyusuri jalan yang sama.


"Kodok!!" Ringis Aruna.


"Dasar! Hei Aruna! Lebih besar tubuhmu dari kodok ini!!" Seru Sibki.


Sibki menangkap kodoknya dan meletakannya di bahu Aruna, kodok berbunyi nyaring di samping telinga Aruna.


"Akkkkk .... kakak! jangan ...!" Aruna menangis karena sangat ketakutan.


Buggg!!!


Aan melempar tas Aruna yang dia jinjing ke tubuh Sibki, karena sangat kesal dengan kelakuan Sibki. Sibki refleks menangkap tas yang dilempar Aan padanya. Kekesalan Aan pada Sibki memuncak, ditambah lagi ke isengan Sibki yang memasukan sambal ke mulutnya.

__ADS_1


Aan langsung melempar kodok yang masih betah berdiam di bahu Aruna itu jauh-jauh. Sibki tertawa puas mengerjai Aruna dan Aan hari ini.


"Hei sudah ... kodoknya sudah pergi, isengnya kakakmu itu semakin akut kalau ia tidak segera menikah," lirih Aan merapikan kerudung Aruna, dan menghapus Air mata Aruna dengan jarinya.


"Astaghfirullah hal A'Dziim. Apa kalian tidak punya kamar hingga harus bemesraan di sini?" lirih Nurul, dia dan Ali yang tiba-tiba ada di sana.


"Sudah pak Ustadz ... jangan meledek lagi ...." lirih Aan sambil mengambil tas Aruna yang ada di tangan Sibki.


"Kamu nggak mau stres kan?" lirih Aan menatap tajam pada Aruna.


"Assalamu Alaikum," ucap Aan langsung menarik tangan Aruna dari hadapan Ali, Nurul dan Sibki. Aruna terpaksa mempercepat langkahnya, karena Aan terus menariknya.


"Wa Alaikum salam," jawab Ali, Nurul dan Sibki.


Mereka tidak bisa menahan tawa lagi melihat Aan yang salah tingkah karena kedatangan mereka. Setelah Aan dan Aruna pergi, mereka bertiga berpisah, dan pulang kerumah masing-masing.


Setelah sampai rumah, Aan segera mengunci pintu dan melempar sembarangan tas yang dia pegang. Dia menggendong Aruna ke kamarnya, dia kembali menunaikan hajatnya di tempat yang nyaman.


***


Setelah Sholat subuh berjamaah berdua bersama istrinya, Aan sangat mengantuk, dia izin tidur lagi. Karena tadi malam dia dan Aruna hampir tidak tidur. Karena bekerja keras di tempat tidur mereka. Aan meminta Aruna menemaninya tidur lagi, Aruna terpaksa berbaring di samping Aan.


Namun Aruna tidak bisa tidur lagi pagi-pagi begini, sedang Aan sudah sangat nyenyak tidur.


Tok tok tok tok!


Samar Aruna mendengar suara ketokan pintu, dia bangkit dari tempat tidur sambil memakai kerudungnya. Dia langsung menuju pintu dan membukanya, ternyata Aslun, asisten Aan.


"Assalamu alaikum," lirih Aslun


"Maaf ganggu, saya cuma mau masak buat Sarapan," Aslun bingung memanggil Aruna sebutan apa, dia terbiasa memanggil Aruna, dengan nama. Namun sekarang Aruna istri majikannya.


"Nggak usah, kak Aslun silahkan kerja yang lain, saya aja yang masak,"


"Tat--tapi ...." lirih Aslun.


"Sudah ... silakan masuk," kata Aruna.


"Enggak deh Run eh maaf non apa nyah ya?" lirih Aslun.


"Aruna saja ... aku nggak gila hormat kak Aslun,"


"Hee iya deh ... Kalo kamu yang masak aku mau bantuin panen majelis saja gimana?" Tanya Aslun.


"Silakan," jawab Aruna


Setelah Aslun pergi, Aruna mengunci pintu dan masuk kedalam. Dia segera bergegas ke dapur membuat sarapan.


Aan sangat nyaman tidur, setelah menggeliat dan bergulung gulung bebas di tempat tidur, Aan perlahan membuka matanya. Namun ada bau masakan yang sangat menggoda. Aan bangun dan berjalan perlahan ke dapur. Matanya masih setengah berpejam.


Dia lupa kalau dia menikah, dia mengira Aslun yang memasak di dapur seperti biasanya. Aan duduk di meja makan dengan mata terpejam.


"Assalamu alaikum," Aruna menyambut Aan dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


Mata Aan langsung melek, karena kaget.


"Wa alaikum salam," Aan sedikit gagap.


"Pagi ... maaf aku tidak izin, tadi kakak sangat nyeyak tidur aku tidak tega membangunkan," seru Aruna sambil menata masakannya di meja makan.


Aan meletakan sikunya di meja dan menumpu wajahnya dengan telapak tangannya. memandangi Aruna di depannya, yang dia kira itu khayalannya.


"Masya Allah ... indahnya mimpi ini ya rabb," lirih Aan


"Maaf kak ... mau sarapan sekarang atau nanti?"


Namun Aan diam mematung, tidak bergeming tetap memandangi wajah Aruna.


"Kakk??"


Namun, Aan tidak juga bergeming dan merespon.


Pras! prash!


Aruna menncipratkan air ke wajah Aan.


"Aslun! Tidak bisakah aku menikmati khayalan indahku ini!!" Teriak Aan.


Aruna menutup kedua kupingnya, dengan kedua telapak tangannya.


"Maaf kak Aan, Aslun tadi izin bantu panen, karena aku nggak izinin dia masak pagi ini," jawab Aruna.


"Ini nyata?" Aan sungguh tidak percaya


"Boleh kah aku memukulmu?" Tanya Aruna.


"Silakan ... di mana kamu ingin," Aan berdiri dan membuka kedua tangannya.


Cups!!!


Satu kecupan halus dari Aruna mendarat di pipi Aan.


Aan mengurung tubuh Aruna dengan tangannya, Aruna terkurung dalam pelukan Aan. Aan menyerang bibir mungil istrinya.


Aruna menarik wajahnya, "Heii lepas ... aku lapar," lirih Aruna.


"Dalam mimpi? Mana ada lapar," seru Aan.


"Awhhhh," ringis Aan, karna Aruna mencubit pinggangnya.


"Ini nyata?!" Aan kegirangan.


"Cepat ... aku lapar," rengek Aruna.


Aan kembali mengulangi pangutan mereka, Aruna memukul bahunya hingga aktivitas mereka terhenti.


"Aku lapar," rengek Aruna.

__ADS_1


Aan Segera melepaskan pelukaknya, dia duduk di meja makan dengan semangat.


Mereka sarapan bersama.


__ADS_2