Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 146. Waktu Terus Berjalan


__ADS_3

Sejak melahirkan Fathiya, Aruna dan Aan tidak lagi tinggal di desa Jojo. Aan memboyong semua keluarganya ke kota di mana dia berasal. Aan dan Aruna tinggal di rumah besar milik almarhum kedua orang tua Aan.


10 tahun berlalu.


Setelah bermacam badai di lalui akhirnya mereka menjalani kehidupan 10 tahun terakhir ini penuh kebahagiaan. Sibki dan Manda di karuniai dua anak, anak pertama mereka laki-laki yang bernama Aizal dan anak kedua mereka bernama Aini.


***


Aruna dan Aan was-was. Karena ada keanehan dari Deli, Deli sering berbicara sendiri. Hingga mereka kembali ke majelis taklim Mahabbah untuk menemui Ali dan menginap di rumah Jojo. Akhirnya mereka menetap sementara di rumah Jojo.


Setelah mendengar keluh kesah Aan dan Aruna. Beberapa kali Ali meruqyah Deli. Namun tidak mendapat hasil yang memuaskan.


"Bagaimana ini ustadz?" Aruna cemas.


Ali menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan.


"Kamu tahukan asal Deli, manusia dari tanah akan kembali ke tanah, Deli … dia ada masalah di masa lalu, dia sendiri yang harus menuntaskan masalahnya, dia mempunyai tugas khusus, aku juga tidak tahu tugas Deli apa, yang aku tahu hanya membebaskan dia dari keistimewaannya."


"Kami kira Deli lepas dari pengaruh goib, karena dia sudah lepas dari keistimewaannya." Aruna menatap kosong kaarah depan. Perasaannya begitu kacau melihat keanehan Deli.


"Dia punya tugas, aku juga tidak tahu apa itu." Ali mengulangi ucapannya


"Kenapa kami harus ber urusan dengan alam goib lagi? Jujur … saya tidak tenang ustadz, apalagi perkara gaib ini mengganggu kehidupan Deli. Dia selalu tidak naik kelas, padahal dia anak yang pintar," keluh Aan.


"Deli anak yang pintar, karena para makhluk goib yang mengajarinya, dia tidak naik kelas karena tidak mengikuti pelajaran di sekolah dia," terang Ali.


"Apakah Deli bisa memutuskan hubungan dengan alam goib?" Tanya Aruna.


"Mahkluk halus itu ada di mana-mana, memutuskan? Entahlah Aruna, karena Deli berasal dari sana, kamu ingatkan kalau Deli bayi titipan?"


"Aku sangat sayang Deli," ringis Aruna.


"Iya ustadz, bagi kami dia anak kami, tidak ada bukti nyata kalau dia bukan anak kami," sambung Aan.


"Ikatan darah An, beberapa kali aku meruqyah Deli, dia memang seperti kita, dia memang bukan dari kalangan makhluk halus, tapi ada satu yang membuat Deli masih terikat dengan alam goib, aku tidak bisa bantu, hanya Deli sendiri yang mampu melepaskan itu. Itu tadi yang aku bilang tugas Deli. Sayang aku tidak bisa mengetahui apa tugas Deli tersebut."


"Jika Deli melakukan tugasnya, apakah dia bebas?" Tanya Aan.


"Sepertinya, karena hanya itu perkara yang membuat Deli pernah tersesat di alam sebelah, hingga perjalaan dia menjadi bagian dari kalian," ucap Ali.


"Semoga kita bisa mengetahui apa syarat yang membuat Deli bisa bebas dari ikatannya dengan alam goib, jujur aku tersiksa melihat pendidikan anakku terganggu dan terbengkalai," ringis


Setelah lama berbicara dengan Ali, akhirnya mereka semua pulang.

__ADS_1


Sesampai di rumah, Aruna dan Aan kaget mendengar Deli yang sangat fasih membaca Al-qur'an.


Perlahan mereka menuju kamar Deli.


"Assalamu alaikum sayang," sapa Aruna.


"Wa alaikum salam mama," Deli langsung salim pada Aan dan Aruna.


"Mama kaget, sekarang anak mama lancar banget ngajinya," puji Aruna.


"Aku belajar ngaji setiap malam sama teman aku Satia," ungkap Deli.


"Apakah teman Deli ada yang bernama Saza?" Tanya Aruna. Dia sangat takut kalau Deli berhubungan dengan siluman ular itu.


"Tidak temenan ma, tapi aku pernah melihat dia," jawab Deli.


"Sepertinya teman-teman Deli mahklus halus yang islam," bisik Aan.


"Deli sayang, bilangin dong sama teman-temannya agar tidak ganggu Deli, Deli ini harus fokus sekolah, sudah empat tahun Deli tidak naik kelas," pinta Aruna.


"Cuma mereka teman yang mengerti Deli, teman yang lain jahat sama Deli," ringisnya.


"Deli, lebih baik berteman dengan orang nyata, dari pada baik tapi goib," ucap Aruna.


Deli terdiam.


"Yah … mereka semua pergi," ringis Deli.


"Alhamdulillah ...." Aruna lega, karena para makhluk goib itu mau mengerti.


"Sayang, berteman dengan manusia saja ya, jangan berteman dengan mahkluk halus," pinta Aruna.


Semenjak malam itu kehidupan Deli menjadi normal. Pendidikan Deli juga lebih baik, dia tidak lagi tertinggal di kelas. Deli memang cerdas dari awal, namun dia terganggu saat sekolah karena asyik berteman dengan makhluk halus yang bisa dia lihat. Itu sebelumnya, namun setelah malam itu Deli tidak lagi berkomunikasi dengan mahkluk halus. Hingga dia bisa fokus belajar.


***


Mimpi Deli.


Sejak ber umur 18 tahun Deli mengalami mimpi yang aneh. Dia di kerumuni banyak orang.


"Tolong kami … lepaskan kami … hanya kamu yang mampu menolong kami," pinta orang-orang yang mengerumuni Deli didalam mimpinya.


Mimpi itu selalu datang berulang kali.

__ADS_1


Awalnya Deli menganggap ini hanya bunga tidur saja namun lama kelamaan mimpi itu mengusik pikirannya.


Hingga Deli sering menggambar keadaan yang dia lihat dalam mimpinya.


****


Dena.


Pendidikan Dena lancar tidak seperti Deli yang sering tidak naik kelas. Saat duduk di bangku SMA, Dena menjalin hubungan. Hubungan asmara dia dengan kekasihnya yang bernama Angga, hubungan asmara mereka terus berjalan indah seperti biasanya.


Saat menjelang ujian tiba-tiba Angga memutuskan hubungan seenaknya. Bukan sekedar memutuskan namun Angga juga menghina dirinya.


"Aku paling benci dengan orang yang memanfaatkan kekuasaan," ucap Angga.


"Apa maksud kamu?" Dena heran.


"Dasar idiot!!!" Bentak Angga.


Tanpa menjelaskan apa kesalahan Dena, Angga meninggalkan dia dan memutuskan hubungan dengan Dena.


***


Selepas lulus SMA Dena langsung pergi keluar negri karena patah hati. Dena yang terlanjur mencintai kekasihnya yang bernama Angga, demi melupakan Angga dia memilih pergi meninggalkan Tanah Air agar bisa melupakan semua dukanya.


Pergi dari tanah air dan fokus mengejar pendidikan membuat Dena tenang. Pulang pun jarang, hanya Aan dan Aruna yang mengunjungi dia ke luar negri. Sedang dengan saudaranya Dena hanya melakukan panggilan video. Karena Saudaranya tidak pernah ikut jika kedua orang tua mereka mengunjungi dia.


***


Dena yang menetap diluar negri untuk kuliah, dia ingin menjadi penerus bisnis Aan. Sedang Rayan masuk pesantren mengikuti jejak sahabatnya Ilham, anak Ali Nurul. Sedang Fathiya masih duduk di bangku SMA sekelas dengan Deli, karena Deli sering tidak naik kelas, hingga Deli sekelas dengan adik bungsunya, dia juga jadi siswi yang paling tua dikelasnya.


Namun tidak ada yang tahu kalau Deli dan Fathiya bersaudara, karena pihak sekolah menutupi identitas mereka. Dari awal Dena, Deli dan Rayan sekolah dintempat yang berbeda.


Sekolah tempat Deli dan Fathiya menempuh pendidikan milik Aan, papa mereka. Mereka meneruskan pendidikan mereka tanpa hambatan.


***


Saat Deli lulus SMA, dia lebih memilih membuka butik, mengembangkan bakat menggambarnya. Sedang Fathiya masuk pesantren mengikuti kakaknya Rayan yang betah mondok di pesantren.


Usaha Deli maju pesat, karena rancangannya laris manis terjual. Butiknya juga semakin ramai.


Tidak terasa Dena juga lulus dari fakultas dia meraih pendidikan dan wisuda lebih cepat karena prestasinya yang luar biasa. Akhirnya dia pulang membawa gelarnya dan siap meneruskan perusahaan Aan.


Dena yang kini jadi penerus Aan. Deli yang menjadi designer dadakan, hanya bermodal imajinasi dan bakat menggambar, tanpa pendidikan khusus, sedang Rayan memilih menjadi ustadz di pondok pesantren tempat dia belajar dulu. Fathiya juga sangat senang dengan pilihannya. Menjadi santri di pesantren yang sama tempat kakaknya pesantren dulu. Namun sekarang Rayan pengajar di pesantren itu, sedang Fathiya masih menjadi santri.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2